Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. SBR
...~•Happy Reading•~...
Gevaro ikut terhanyut dalam emosi dan rasa haru Andri. Dia ingat apa yang diceritakan Kabag personalia tentang kecelakaan kerja yang dialami Andri beberapa tahun lalu. Sehingga dia tidak bisa berkata-kata.
"Maaf, Pak. Kembali ke Janet, saya ingin menambahkan sedikit. Agar anda tidak salah mengerti kami." Andri ingat niatnya untuk bertemu Gevaro.
"Silahkan. Terima kasih." Gevaro membuka tangan, mempersilahkan. Dia masih ingin mengetahui lebih banyak tentang kehidupan Andri dan Janet.
"Sebelum saya teruskan yang tadi, saya perlu tegaskan satu hal. Janet tidak minta tolong untuk saya nikahi. Tidak ! Dia cuma minta tolong cari tempat kost. Cuma itu !" Ucap Andri penuh tekanan. Dia ingin Gevaro mengingat hal itu.
"Kami menikah karna faktor sebab akibat dari permintaan itu. Saya ingin mengatakan ini kepada anda, agar tidak ada praduga negatif. Sehingga motivasi saya menolong Janet berada di area abu-abu. Saya kira anda mengerti." Gevaro mengangguk.
"Saya lanjutkan cerita yang terputus. Setelah urusan rumah sakit selesai, kami kembali ke mobil. Saya tanya, mau ke mana, saya akan antar."
"Dia bilang bisa antar dia cari tempat kost, tanpa aplikasi."
"Saya terpaksa mengiyakan, karna kondisi. Saya tanya, mau di pusat kota atau di pinggir kota. Dia pilih di pinggir kota."
"Akhirnya saya bawa ke pinggiran kota ke arah rumah, jadi sekalian saya pulang. Tapi dia terus gelisah di belakang dan menangis tanpa suara. Air matanya terus mengalir dan dia cuma menghapus dengan punggung tangan."
"Saya memberikan kotak tissu dan mengajak bicara. Saya berpikir, Janet tidak boleh dibiarkan sendiri di tempat kost."
"Saya bilang, kalau cari tempat kost malam begini, bisa-bisa tidak dibukain pintu atau ada yang berpikir negatif, dan banyak pertimbangan yang saya ajukan. Termasuk saya bilang, kondisi saya sangat lelah. Tidak bisa mengantar ke berbagai tempat."
"Bagaimana kalau malam ini tidur di rumah kami, nanti besok pagi baru cari. Dia tidak menjawab, tapi melihat saya dengan wajah ketakutan. Saya bilang, di rumah ada Mama saya."
"Dia mulai mengerti setelah saya jelaskan panjang lebar. Saya tahu, dia ragu menerima. Tapi kondisi memaksa dia menerima."
"Setelah tiba, saya bangunkan Mama, supaya Janet percaya yang saya bilang dan dia bisa tidur. Saya tidur di sofa dan membiarkan dia tidur di kamar."
"Tapi mungkin dia belum tidur, atau mau keluar kamar, dia mendengar percakapan kami. Karna terdengar isakan. Saya cuma bilang ke Mama, biarkan Janet istirahat malam ini, karna lagi hamil. Besok baru saya jelaskan, karna lelah."
"Besoknya saya khawatir, karna sudah lewat jam delapan dia belum bangun. Saya masuk ke kamar untuk melihat keadaannya. Saya terkejut melihat posisi tidurnya yang tidak umum."
"Saya menepuk pundaknya untuk mengecek. Dia kaget bangun dengan rambut masih berantakan dan mata tertutup seperti zombi dan tiba-tiba dia tumbang seperti pohon. Saya langsung menahan kepalanya dengan kedua tangan."
"Saya tersentak dan menyadari, dia masih kanak-kanak. Tapi harus alami kondisi orang dewasa. Singkatnya, saya minta bangun mandi, sarapan, dan pergi cari tempat kost."
"Dengar tempat kost, matanya terbuka lebar dan langsung turun dari tempat tidur. Saya terpaksa terus ingatkan, lagi hamil."
"Setelah keluar, saya bawa ke taman..." Andri menyebut nama taman. Gevaro mengangguk, karena tahu taman yang dimaksud.
"Kami duduk di situ. Saya tanya, apa yang terjadi. Mengapa bisa hamil. Kalau perlu saya cari orang yang menghamili, akan saya cari. Supaya dia tidak sendiri menanggungnya."
"Tiba-tiba dia meneteskan air mata dan menceritakan bagaimana dia dibawa Papanya ke seorang Mami dan diberikan kepada anaknya sebagai hadiah ulang tahun."
"Dia dijadikan alat untuk membayar hutang dan kemudian jadi alat pemuas nafsu be...." Andri tidak meneruskan tapi melihat Gevaro.
"Sebutkan saja bejatnya." Gevaro mengatakan dengan rahang yang keras.
"Ya, saya tidak bisa menggambarkan emosi saya saat itu. Kami duduk lama di taman dan saya sudah tidak berniat cari tempat kost. Saya cuma berpikir, bagaimana cara menyelamatkan Janet dan bayi yang tidak berdosa dalam kandungannya."
"Saya bertanya usianya. Dia bilang baru saja berusia 20 tahun. Saya sedikit lega, usianya cukup dewasa. Saya bilang, kau lebih baik tinggal dengan kami. Tapi menikah dengan saya berusia 31 tahun."
"Kenapa harus menikah, karna dia sedang hamil. Pertama, apa kata orang melihat ada gadis muda hamil dalam rumah. Kedua, pikir saya, setelah Janet berstatus menikah, orang-orang itu termasuk Papanya tidak punya hak lagi untuk menjadikan dia alat bayar. Ketiga, status anaknya di akte kelahiran tidak akan tertulis anak tidak berbapak."
"Anda bisa membayangkan seorang anak dengan status itu berada di ruang publik." Gevaro mengangguk, pelan, hampir tidak terlihat. Sebab sedang meredam emosinya. "Dia mungkin akan dibully temannya atau perlakuan buruk lainnya." Andri melanjutkan.
"Janet terpaksa menerima solusi yang ditawarkan. Saya tidak bisa menceritakan hari-hari setelah itu. Malam-malam dia menangis dalam diam menahan sakit, hingga melahirkan."
"Hari ini saya melihatnya lagi, saat dia bilang tadi Papa ke kantor dan memegang tangannya. Dia tidak menangis, tapi seluruh tubuhnya gemetar. Saya menyadari, statusnya sudah menikah tidak bisa menolongnya dari kondisi yang pernah dialami di masa lalu. Ada orang kuat di baliknya." Andri berhenti berkata-kata.
"Itu pun yang saya pikirkan. Saya mengundang anda malam ini, selain ingin tahu detail yang dialami Janet. Saya mau kita membahas untuk cari solusi yang tepat atasi kejadian yang akan dialami Janet selanjutnya."
"Kalau untuk saya sendiri, bisa langsung minta pengacara menuntut orang-orang itu dan biarkan hidup di penjara. Tapi tidak semudah itu setelah saya teliti peristiwa yang menimpah Janet."
"Sekarang ada keluarganya. Saya harus berunding dengan anda. Saya tidak mau tindakan saya akan memperburuk keadaan kalian."
"Karna kalau saya mengajak kalian menuntut secara hukum, keluarga kalian akan terekspos ke publik. Apakah anda tidak keberatan? Apa anda bisa terima kalau itu terjadi?" Gevaro bertanya serius mengingat Janet dan anaknya.
"Tadinya saya berpikir itu jalan yang bisa ditempuh. Tapi setelah ada Asyer, saya jadi takut menempuh jalan itu. Walau mereka dikurung, mungkin kaki tangan mereka bisa mencelakai Janet dan Asyer."
"Dan saya tidak punya kekuatan untuk menolong mereka berdua, kalau sudah berhubungan dengan orang licik dan jahat."
"Sekarang saya sangat khawatir, Janet diculik dan tebusannya adalah Asyer. Atau sebaliknya. Hidup mereka berdua bisa terancam dan Asyer masih sangat kecil."
"Memang darah saya tidak mengalir dalam tubuh Asyer, tapi saat saya mengangkat dan menggendong dia dengan kedua tangan ini, dia adalah anak saya." Andri menunjukan kedua tangannya.
Gevaro seperti dipecut, saat mendengar Andri mengatakan darahnya tidak mengalir di tubuh Asyer.
Gevaro memahami arti kalimat itu baginya. Bukan garis rahang keturunan saja yang diwariskan pada Asyer. Tetapi juga darah yang mengalir di tubuh Asyer sama dengannya.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...