Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. SBR
...~•Happy Reading•~...
"Terima kasih, Pak." Ucap Andri dengan hati lega. Dia sangat bersyukur, sebab tidak perlu banyak menjelaskan agar Gevaro menyetujui permintaan Janet.
"Asyer, bilang terima kasih, sama Om Varo." Andri mendekatkan layar ponsel ke Asyer. "Telima kasih, Om Valo." Asyer bicara sambil terisak.
"Iya, Asyer." Jawab Gevaro singkat. "Pak Andri, sampai ketemu. Kami siapkan tempatnya." Gevaro langsung pamit dan mematikan telpon. Dia tidak tahan mendengar suara serak Asyer. Jantungnya seakan berlari cepat.
Andri mengangkat Asyer. "Kenapa Asyer menangis?"
"Mama menangis, Papa. Oma bilang Asyel lihat Papa. Nanti Papa menangis juga."
"Tidak. Papa tidak menangis, kalau Asyer tidak menangis." Andri menghapus pipi Asyer dan mencium.
Asyer jadi berhenti menangis. Dia memeluk leher Andri dan hanya terdengar isakan kecil. "Asyel tidak menangis lagi, Papa."
"Nah, itu baru anak Papa yang pintar." Andri mengusap kepalanya yang bersandar di bahu. "Mari kita ajak Mama jalan-jalan. Supaya Mama berhenti menangis." Ucap Andri. Asyer langsung merosot turun dan berlari masuk ke kamar.
"Mama, jangan menangis lagi. Papa mau ajak jalan-jalan." Teriak Asyer sambil masuk ke kamar. Sontak Oma dan Mamanya melihat ke arah Andri yang berada di belakangnya.
"Benar mau jalan-jalan?" Tanya Bu Dessy.
"Iya, Ma. Tolong siapkan yang mau dibawa secukupnya..." Andri menjelaskan, kalau mereka semua boleh tinggal di tempat Gevaro.
Janet jadi terisak sambil memeluk Bu Dessy. "Terima kasih, Ma."
Bu Dessy menepuk punggung Janet yang mulai tenang. "Sudah. Sekarang siapkan keperluanmu dan Asyer." Ucap Bu Dessy lalu melepaskan pelukan.
Bu Dessy berjalan mendekati Andri yang masih berdiri dan mengusap lengannya. "Mama siapkan secukupnya saja. Aku bisa ke sini untuk ambil, kalau kurang." Bisik Andri. Bu Dessy mengangguk mengerti, lalu keluar kamar.
Janet berdiri mendekati Andri dan memeluknya. "Maafkan aku, Mas. Tadi sangat ..."
"Iya. Gak usah dibahas lagi. Alat perekam terlalu canggih." Ucap Andri sebagai isyarat, Asyer sedang mendengar mereka. "Rapikan secukupnya saja." Andri meneruskan sambil mengusap punggung Janet.
Janet segera melepaskan pelukan. "Iya, Mas." Dia ingat Asyer sedang mendengar mereka.
"Dek, sebelum dimasukan ke koper, catat kebutuhan dulu. Supaya tidak dimasukan semua." Andri mengingatkan sambil menuju kasur lipat.
"Mas, kalau masih mau tidur, di atas saja. Biar kasurnya aku pakai buat letakan pakaian kita." Ucap Janet yang melihat Andri ambil ancang-ancang mau tidur.
"Untung bilang. Aku sudah mau ambil gaya." Andri naik ke atas tempat tidur dan berbaring.
"Papa ke sana. Asyel mau tidul juga." Asyer ikut naik dan berbaring di samping Andri.
"Asyer lelah juga?"
"Iya, Papa. Asyel lelah menangis." Ucapan Asyer membuat Andri tersenyum dan memeluknya.
Janet tidak bisa berkata-kata melihat kasih sayang di antara mereka. 'Itulah mengapa, aku tidak mau menjauhkan Asyer darimu, Mas.' Bisik hati Janet yang mulai penuh. Dia segera mencatat yang akan dibawa ke tempat Gevaro, agar air matanya tidak kembali tumpah.
~▪︎▪︎
Di tempat lain ; Devan sedang menuju ruang makan. "Mana Meghan?" Tanya Bu Brenda yang sedang menunggu di meja makan.
"Masih tidur, Mi." Ucap Devan sambil duduk di depan Maminya.
"Ini sudah jam berapa? Kalian tadi malam pulang jam berapa?"
"Lumayan larut, Mi. Gak lihat jam lagi."
"Mami sudah bilang, kalau hari kerja, gak usah keluar party. Opamu sedang memperhatikan kalian."
"Ya, mau gimana, Mi. Teman adakan party hari kerja. Gimana hasil kemarin, Mi." Devan mengalihkan topik pembicaraan dari kehidupan mereka ke Janet.
"Bagus, kau ingatkan. Sekarang tidak bisa ketemu Janet di kantor. Kemarin Devin sangat marah. Jadi kau hati-hati dengannya."
"Kenapa dia marah? Apa hubungannya dengan Janet? Aku cuma mau ambil hadiah Mami." Ucap Devin santai.
"Fokus pada Meghan. Kau yang mau menikah dengannya." Bu Brenda ingat ancaman Gevaro.
"Devin bilang apa, Mi?" Devan curiga. Dia ingat yang dikatakan Janet sebelum pergi, kalau sedang hamil.
'Apa benar dia hamil waktu itu? Tapi dia terlihat tidak seperti orang yang sudah punya anak.' Devan membatin. Dia ingat tubuh Janet dalam ruang kerja Gevaro.
"Tidak usah pikirkan Devin. Fokus programkan punya anak. Opa tidak sesabar Mami." Bu Brenda serius memperingati Devan.
"Sudah lakukan, Mi. Aku lagi konsentrasi tangani masalah perusahaan." Devan menutupi niat hatinya. Tubuh Janet terus terbayang di benaknya.
"Mami bantu ambil Janet dulu. Jangan sampai dia lakukan ancamannya dan Opa tahu. Bisa kacau semua." Devin membuat alasan, agar dibantu Maminya.
"Dia kerja apa di kantor itu?" Bu Brenda ingat ancaman Gevaro.
"Tidak tahu. Dia masuk bawah kopi ke ruang kerja Devin. Mungkin office girl." Devan menebak, tapi hatinya ragu melihat penampilan Janet dan sikap Gevaro padanya. Hatinya tiba-tiba terasa panas ingat cara Gevaro memperlakukan Janet.
"Kau minta tolong apa sama Devin?" Bu Brenda ingat yang dikatakan Gevaro.
"Tidak minta tolong. Cuma mau bertemu dengannya. Aku pingin tahu, sebab ada yang bilang dia seperti bunglon. Pindah-pindah tempat kerja." Devan menyembunyikan niat bertemu Gevaro dan penyamarannya.
"Kau tahu dari mana kalau dia pindah-pindah? Bukannya dia selama ini tidak di sini?"
"Tahu dari salah satu kolega perusahaan yang baru. Mereka sulit bertemu dengannya, makanya minta tolong aku menemui dia." Devan mengarang cerita.
"Eh, malah bertemu dengan Janet di sana. Mengapa Mami tidak bisa bertemu dengannya?" Devan mengalihkan. "Bukannya aku sudah kasih Marco ke Mami?"
"Dia tidak berguna. Mami gak tahu, dia salah kenal. Dia kira Devin itu kau...." Bu Brenda cerita yang dikatakan Marco.
"Berarti Devin sudah tahu kita ada di balik Marco yang mau bicara dengan Janet?" Devan terkejut.
"Iya. Devin sudah tahu semuanya. Jadi jangan ke kantornya lagi untuk keperluan apa pun. Dia akan tuntut Marco dan kita. Kau pasti tahu akibatnya?"
"Dia selalu ikut campur dengan urusan orang. Apa hubungan dia dengan Janet, hingga mau tuntut?" Devan kembali bertanya tentang hubungan Gevaro dan Janet. Hatinya geram dan panas, seakan terbakar.
'Eh, jangan sampai Janet hamil dan benaran punya anak?' Devan terkejut dengan pikirannya. 'Mungkinkah Devin tolong Janet waktu itu?' Devan tiba-tiba merasa panik.
"Makan. Mengapa tanganmu salah ambil lauk?" Bu Brenda jadi memperhatikan tangan Devan.
"Sekarang Marco ada di mana?" Pikiran Devan tidak berada di ruang makan. Selera makannya menguap oleh rasa khawatir tentang Gevaro, Janet dan kehamilannya.
"Mami mengusirnya pergi. Tidak ada gunanya." Bu Brenda mengibaskan tangan.
"Mamiii... Mengapa tidak tahan dia di sini? Mami tidak tahu, aku sulit cari orang itu? Mungkin sekarang belum berguna, tapi nanti ada gunanya." Devan bicara dengan nada yang dinaikan dan keras, membuat Maminya terkejut.
Devan sudah punya rencana dengan Marco setelah melihat perubahan penampilan Janet. Gairah masa lalu mulai bergelora dan menggoda, sehingga dia mau lakukan apa saja agar bisa bersama Janet seperti lima tahun lalu.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...
Asyer pasti senang bisa belajar renang secara anak kecil pasti suka mainan air.
aku bacanya senyum senyum dari tadi😂
wah andri beneran nih udah mengikhlaskan janet untuk gevaro,
beneran nih ngga nyesel, . biarin ngga bisa melakukan kewajiban suami istri.. tapi selama 4 tahun beneran ngga ada cinta nih.. ❣️
babang gevaro ditunggu 🙊