NovelToon NovelToon
PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:28.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).

Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.

Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 31

Dunia Fana – Jalan Setapak Desa Angin Lembut.

Kepala Desa Gou tertawa renyah, mengelus janggut putihnya yang tipis. Ia sama sekali tidak merasakan jurang kematian yang tersembunyi di balik senyum ramah Cendekiawan Wu.

"Oh, jadi Tuan Sarjana sedang mencari A-Hao!" seru Kepala Desa Gou, menunjuk ke arah jalan setapak yang diapit oleh rimbunnya pohon bambu. "Benar sekali, tadi pagi saya memberikan sebuah biji keras bersisik yang jatuh dari langit kepadanya. Pemuda buta itu memang suka mengumpulkan barang aneh. Rumahnya ada di ujung jalan ini, gubuk berpagar bambu dengan pohon persik di halamannya."

"Pemuda buta?" Mata kelabu Cendekiawan Wu sedikit menyipit, menyembunyikan kilatan cahaya dari Kekacauan Purba. "Sungguh menarik. Terima kasih atas petunjuk Anda, Tetua."

Cendekiawan Wu menangkupkan kedua tangannya, lalu melangkah menyusuri jalan setapak tersebut. Setiap kali ujung sepatu kainnya menyentuh tanah, hukum ruang dan waktu di bawahnya secara halus terdistorsi, melipat jarak ribuan langkah menjadi satu pijakan tanpa memicu fluktuasi Qi spiritual sedikit pun.

Ini adalah penyamaran yang mutlak. Bahkan Tatanan Langit (jika masih ada) tidak akan menyadari kehadirannya.

Di Atas Dahan Bambu Kuno.

Angin senja berhembus menembus dedaunan. Namun, Lu Bai dan keempat elit Transformasi Dewa (Soul Transformation) yang sedang berjaga mendadak merasakan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang mereka.

"Kak Lu Bai..." Hong Hua berbisik, kipas di tangannya bergetar hebat. "Apakah kau melihat cendekiawan berbaju abu-abu yang sedang berjalan ke arah gubuk Tuan Besar?"

Lu Bai memfokuskan mata batinnya, mengerahkan seluruh esensi jiwanya untuk menatap pria itu. Tiba-tiba, Lu Bai terbatuk pelan, setetes darah merembes dari sudut bibirnya.

"Jangan tatap dia dengan Mata Spiritual!" desis Lu Bai dengan wajah pucat pasi. "Di mataku, dia hanyalah manusia fana tanpa akar spiritual. Tapi... insting pedangku berteriak bahwa jika aku memandangnya sedetik lebih lama, jiwaku akan tersedot ke dalam ketiadaan tanpa akhir!"

Hei Gen menelan ludah, menggenggam belatinya erat-erat. "Kekuatan yang tidak memancarkan Qi, namun bisa menutupi langit... Itu bukan kultivator. Itu adalah perwujudan Avatar dari Jurang Kekacauan!"

Kelima Penjaga Teratai itu terpaku, tak mampu bergerak seinci pun. Hukum rimba alam semesta menekan jiwa mereka, membuat mereka hanya bisa menjadi penonton bisu dari pertemuan dua sosokyang berada di luar jangkauan pemahaman para dewa.

Dunia Fana – Halaman Gubuk Keluarga Shi.

Srek... Srek... Srek...

Suara sapu lidi yang menyapu daun kering terdengar berirama. Shi Hao, sang Kaisar Asura yang kini berwujud petani fana, sedang menyapu halaman depannya. Kain rami putih menutupi mata kirinya, sementara tangan kanannya bergerak dengan ketelatenan yang melampaui teknik pedang mana pun di Tiga Ribu Dunia.

Langkah kaki Cendekiawan Wu terhenti tepat di depan pagar bambu yang hanya setinggi pinggang.

Senyum hangat di wajah sang cendekiawan perlahan membeku. Mata kelabunya yang mampu menembus ilusi semesta menatap lurus ke arah halaman belakang gubuk tersebut.

Di sana, di sebuah tiang bambu tempat menjemur pakaian, tergantung seekor burung botak berkulit merah yang diikat kakinya. Burung itu sesekali berkedut, sementara seekor anjing hitam besar (Hitam Satu) berbaring malas di bawahnya, menunggu burung itu jatuh untuk dijadikan mainan kunyah.

Hati Cendekiawan Wu, yang terbuat dari esensi Kekacauan Purba dan tidak pernah bergetar selama jutaan zaman, mendadak menciut.

"Kagendra..." batin Cendekiawan Wu menjerit tanpa suara. "Salah satu Seratus Raja Leluhur... entitas yang menyantap galaksi sebagai makanan ringan... diikat dengan tali rami jemuran dan dijadikan tontonan anjing?!"

Untuk pertama kalinya, Cendekiawan Wu merasakan keraguan. Pria buta yang sedang menyapu di depannya ini benar-benar tidak memiliki satu tetes pun Qi bawaan. Namun, pemandangan absurd di pekarangan ini adalah bukti dari teror yang melampaui logika.

Menyadari ada yang berdiri di luar pagarnya, Shi Hao menghentikan sapu lidinya. Ia menoleh ke arah gerbang kayu, mengukir senyum ramah yang sangat tulus.

"Maaf, pagarnya tidak dikunci. Apakah Tuan tersesat?" sapa Shi Hao.

Cendekiawan Wu segera menguasai dirinya. Ia menekan seluruh hawa keberadaannya hingga menjadi sebongkah debu fana, lalu menangkupkan tangannya seraya tersenyum hormat.

"Permisi, Tuan," kata Cendekiawan Wu, suaranya mengalun penuh tata krama. "Nama saya Wu, seorang cendekiawan pengelana yang gemar mengumpulkan catatan tentang flora dan tumbuhan langka. Kepala Desa mengatakan bahwa Anda baru saja mendapatkan sebuah biji aneh yang jatuh dari langit. Apakah saya boleh melihatnya sekilas untuk memuaskan rasa penasaran saya?"

Shi Hao menyandarkan sapu lidinya ke pohon persik, lalu berjalan mendekati gerbang.

"Ah, Tuan Wu. Silakan masuk," Shi Hao membuka gerbang bambu itu, mempersilakan sang Avatar Kekacauan untuk memasuki wilayah kekuasaannya. "Biji itu sudah saya tanam di halaman belakang. Sayang sekali, tunasnya masih terlalu kecil. Anda mungkin akan kecewa karena bentuknya hanya seperti rumput liar biasa."

"Tidak apa-apa, sebuah kehormatan bagi saya," Cendekiawan Wu melangkah masuk.

Saat ujung sepatunya melewati garis pagar bambu...

DZZZT!

Cendekiawan Wu merasakan tekanan yang tak kasat mata menjepit seluruh panca indranya. Ini bukan formasi sihir, melainkan Hukum Kemanusiaan (Mortal Dao) yang telah mengubah pekarangan ini menjadi domain. Di dalam pagar ini, sihir tidak berlaku, keabadian hanyalah lelucon, dan setiap langkah terasa seberat memikul gunung besi fana.

Cendekiawan Wu mempertahankan senyumnya, meski punggung jubah abu-abunya mulai dibasahi keringat dingin. Ia mengikuti Shi Hao duduk di kursi rotan di teras depan.

"Istriku, kita kedatangan tamu terpelajar dari Ibu Kota," panggil Shi Hao ke arah dalam gubuk. "Tolong seduhkan teko teh yang baru."

"Baik, Suamiku," sahut suara lembut nan anggun dari arah dapur. Tak lama, Gu Qing Yi melangkah keluar, membawa nampan kayu berisi teko tanah liat yang mengepulkan uap hangat dan dua cangkir bambu.

Mata kelabu Cendekiawan Wu melirik Qing Yi. Raja Dewa. Avatar itu segera mengenalinya. Namun, yang membuatnya bergidik adalah fakta bahwa seorang Raja Dewa rela mengenakan celemek rami dan menyeduhkan teh layaknya pelayan fana untuk pria buta ini!

Qing Yi meletakkan cangkir bambu di depan Cendekiawan Wu, lalu menuangkan teh yang memancarkan aroma bunga melati yang sangat pekat.

"Silakan dinikmati, Tuan Wu," ucap Qing Yi dengan senyum manis, namun matanya yang memancarkan cahaya hijau keemasan memberikan peringatan tajam: Lakukan satu gerakan yang salah, dan aku akan membakar jiwamu dengan Api Teratai Surgawi.

Cendekiawan Wu hanya membalas dengan anggukan sopan. Ia menatap cangkir teh bambu di depannya.

Di mata fana, itu hanyalah teh melati biasa. Namun bagi mata Kekacauan Purba miliknya, air di dalam cangkir itu mengandung Esensi Dao Air Surgawi, dan daun tehnya membawa Jejak Kemanusiaan Tertinggi. Jika ia meminumnya, Inti Kekacauannya akan berbenturan langsung dengan Mortal Dao milik Shi Hao di dalam tubuhnya sendiri!

"Mengapa Tuan Wu tidak meminumnya? Apakah teh desa kami terlalu pahit untuk lidah orang kota?" tanya Shi Hao santai, meniup teh di cangkirnya sendiri lalu menyeruputnya perlahan.

Cendekiawan Wu tertawa pelan, mencoba mengulur waktu. Ia secara diam-diam memusatkan secercah esensi Kekacauan di matanya, berniat menggunakan Tatapan Penembus Kehampaan untuk mengintip menembus dinding gubuk dan melihat posisi pasti dari Benih Surga di halaman belakang, bersiap untuk mencurinya dan melarikan diri dalam satu tarikan napas.

"Teh ini terlihat sangat nikmat, Tuan," kata Cendekiawan Wu, sementara mata kelabunya mulai berputar, melepaskan riak energi purba yang sangat samar. Pemandangan dinding kayu di depannya mulai tembus pandang. Ia bisa melihat cahaya zamrud dari Benih Surga yang mengakar di halaman belakang—

TAK.

Suara yang sangat ringan dan fana.

Shi Hao meletakkan cangkir bambunya kembali ke atas meja rotan.

Tepat saat dasar cangkir bambu itu menyentuh meja... sebuah gelombang Dao yang sangat sunyi menyapu seluruh pekarangan.

PRANG!

Di dalam Laut Kesadaran Cendekiawan Wu, mata batin yang baru saja ia buka untuk mengintip langsung pecah berkeping-keping!

Tatapan Penembus Kehampaan miliknya hancur lebur hanya oleh suara ketukan cangkir teh fana. Cendekiawan Wu mendengus keras, setetes darah kehitaman nyaris menetes dari hidungnya, namun ia buru-buru menelannya kembali agar penyamarannya tidak terbongkar.

"Angin sore ini sepertinya membawa debu ke mata Tuan Wu," ujar Shi Hao, suaranya masih sangat lembut, namun nadanya kini membawa bobot yang bisa meremukkan Langit Tertinggi. "Di rumah ini, tamu yang sopan hanya melihat apa yang disajikan di atas meja. Mengintip pekarangan belakang tanpa izin... adalah kebiasaan buruk yang bisa membuat mata seseorang menjadi buta."

Shi Hao sedikit memiringkan kepalanya, seolah menunjuk pada kain putih yang menutupi mata kirinya. Sebuah ancaman yang sangat halus, namun mematikan.

Napas Cendekiawan Wu tertahan. Pria buta ini... pria ini tahu persis siapa dirinya, apa yang ia cari, dan apa yang baru saja ia coba lakukan! Dan pria ini menggagalkan sihir tingkat leluhur hanya dengan meletakkan secangkir teh!

Cendekiawan Wu menyadari satu kebenaran yang mengerikan: Ia tidak akan bisa mencuri benih itu hari ini. Faktanya, jika ia tidak meminum teh di depannya dan menunjukkan sikap tunduk, ia mungkin tidak akan pernah bisa keluar dari gerbang pagar bambu itu hidup-hidup.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Cendekiawan Wu mengangkat cangkir bambu tersebut.

"Anda benar, Tuan. Penglihatan saya memang sering kabur belakangan ini," ucap Cendekiawan Wu, memaksakan senyum fana di wajahnya yang pucat. "Teh ini... saya akan menikmatinya dengan rasa syukur."

Sang Avatar Kekacauan mendekatkan cangkir itu ke bibirnya, lalu menenggak teh melati panas tersebut.

Begitu cairan fana itu mengalir ke kerongkongannya, Mortal Dao yang kuat langsung merangsek masuk ke dalam tubuhnya, mengunci setiap simpul energi purba, dan membakar Inti Kekacauannya dengan rasa sakit yang melampaui Kesengsaraan Surgawi.

Cendekiawan Wu tetap tersenyum, meski di dalam jiwanya, ia sedang disiksa oleh jutaan pedang kasat mata.

Shi Hao tersenyum puas melihat tamunya menghabiskan tehnya.

"Bagus. Berhubung Tuan Wu menyukai tehnya, mengapa tidak menginap sebentar? Kebetulan, atap kandang ayam kami di belakang butuh diperbaiki," tawar Shi Hao dengan nada polos yang menyembunyikan jebakan. "Setelah atapnya selesai, saya akan mengizinkan Anda melihat tunas rumput itu dari dekat."

Cendekiawan Wu, yang Inti Dao-nya sedang direbus hidup-hidup oleh teh tersebut, membelalakkan matanya. Kaisar Asura ini tidak hanya melarangnya pergi, tapi juga berniat menjadikannya tukang kayu gratis untuk kandang ayamnya!

1
HINATA SHOYO
masuk..kehalaman.perkarang rumah.sihaou kelar hidup mau sekuat appn tdk artinya di mata sihaou🤣🤣🤣🤣
saniscara_Patriawuha
mantaffffff...
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Purnama Servis Kamera Demak
Jadi kan tetangga sebelah yang baik thor
OldMan
🤣🤣🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
HINATA SHOYO
seru2.sgera up tor gaskeennnnnn💪💪💪💪💪3
saniscara_Patriawuha
sikattttt sudahhhhh manggg minnnn
saniscara_Patriawuha
gassssd pollll manggg surrrrrr....
OldMan
kereen baget ceritanya 🤣🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
nadin al adiyaat syamn
jadi slice of life
HINATA SHOYO
gk ada harga.dirinya kalian di hadapan raja.sgla monster🤣🤣🤣
saniscara_Patriawuha
gassddd polllll deuiiiii....
saniscara_Patriawuha
gassss polllll....
HINATA SHOYO
cari penyakit masuk ke.halaman raja segela monster kelar hidupmu🤣🤣
Arinto Ario Triharyanto
wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!