Rizky Adhitya adalah seorang penulis novel miskin yang hidupnya penuh kegagalan karena karyanya selalu ditolak. Namun, takdir berubah saat ia terbangun di dalam tubuh seorang Antagonis kaya raya dengan nama yang sama di dunia novel buatannya sendiri. Alih-alih mengikuti alur asli yang menakdirkannya mati mengenaskan di tangan sang protagonis, Rama Wijaya, Rizky memilih untuk menikmati kehidupan mewahnya dengan santai.
Berbekal "System Menghamburkan Uang" dan Kartu Hitam Tanpa Batas, Rizky yang kini berkepribadian periang mulai melakukan aksi gila. Ia membeli perusahaan penerbitan hanya untuk mencetak novel-novel lamanya yang dulu ditolak, hingga menggunakan artefak legendaris seharga triliunan hanya sebagai pengganjal pintu kantor asistennya, Rafa Ariyanto.
Aksi "trolling" finansial ini menghancurkan reputasi Rama, sang hero munafik yang kehilangan semua panggungnya. Sementara itu, tunangannya, Aprillia Rahma, yang semula sangat membencinya, mulai jatuh hati pada sosok Rizky yang baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Futami Rizuryu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Pahlawan yang Terbeli dan Bom Uang Tunai Sepuluh Miliar
Pagi itu, Panti Asuhan Kasih Bangsa tampak lebih sibuk dari biasanya. Halaman yang biasanya hanya diisi suara tawa anak-anak yang mengejar bola plastik, kini dipenuhi oleh deretan kursi lipat dan tenda kain berwarna putih. Beberapa kamera dari stasiun televisi lokal dan wartawan media daring sudah bersiap di posisi masing-masing. Di tengah panggung kecil yang dihiasi spanduk bertuliskan "Berbagi Kasih Bersama Rama Wijaya: Menebar Literasi untuk Masa Depan", sang tokoh utama asli kita sedang berdiri dengan senyum yang dipoles sempurna.
Rama Wijaya mengenakan kemeja putih sederhana dengan lengan yang digulung hingga siku—pencitraan klasik seorang pahlawan yang merakyat. Di sampingnya, tumpukan 500 eksemplar novel terbarunya tertata rapi, siap dibagikan. Di atas meja kayu, sebuah plakat simbolis bertuliskan nominal "Rp 100.000.000,-" tampak berkilau di bawah sinar matahari,.
"Anak-anak sekalian," Rama memulai pidatonya dengan nada suara yang berat dan penuh empati yang dibuat-buat. "Pendidikan adalah jendela dunia. Melalui buku-buku yang saya tulis ini, saya ingin kalian bermimpi besar. Saya tidak datang ke sini sebagai orang kaya, tapi sebagai kakak yang ingin melihat kalian sukses."
Wartawan mulai memotret. Flash kamera menyambar-nyambar wajah Rama yang tampak suci. Namun, di balik kerumunan, sebuah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam pekat membelah jalanan sempit depan panti, diikuti oleh iring-iringan sepuluh truk kontainer besar bertuliskan logo "Adhitya Group",.
Brak!
Pintu Rolls-Royce terbuka. Rizky Adhitya keluar dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya. Ia mengenakan kemeja sutra berwarna cerah yang harganya mungkin cukup untuk merenovasi seluruh panti asuhan tersebut. Di belakangnya, Rafa Ariyanto menyusul dengan langkah gontai, wajahnya tampak seperti orang yang tidak tidur semalaman karena menghitung logistik mendadak,.
"Tuan Muda, tolong..." bisik Rafa pelan, keringat dingin membasahi pelipisnya. "Sepuluh truk mainan? Dan sepuluh miliar tunai? Bank pusat hampir menelepon kepolisian karena saya menarik uang tunai sebanyak itu dalam satu jam!".
Rizky hanya tertawa periang. Ia menepuk bahu Rafa dengan keras. "Tenanglah, Rafa! Bukankah System bilang aku harus bersenang-senang? Dan melihat wajah Rama yang munafik itu melongo adalah kesenangan tingkat tinggi bagiku!",.
Rizky melangkah maju, membelah kerumunan wartawan yang mendadak bingung. Perhatian kamera yang tadinya tertuju pada plakat 100 juta milik Rama, kini beralih pada sosok sultan yang baru datang ini.
"Maaf, maaf! Apa acaranya sudah mulai?" Rizky berseru sambil melambai ke arah panggung dengan sangat tidak sopan namun penuh karisma,.
Rama Wijaya membeku. Senyum malaikatnya goyah sesaat. "Rizky? Apa yang kamu lakukan di sini? Ini acara amal, bukan tempat untuk pamer kemewahan."
"Oh, tentu saja aku tahu ini acara amal!" Rizky melompat naik ke panggung tanpa undangan. Ia berdiri tepat di samping Rama, membuatnya tampak seperti pengusaha elit di samping seorang relawan miskin. "Aku mendengar kamu menyumbang seratus juta? Wah, Rama, kamu baik sekali. Itu cukup untuk membeli... umm, mungkin ban cadangan mobilku?",.
Kerumunan wartawan mulai berbisik-bisik. Rama mengepalkan tangannya di balik punggung. "Uang bukan segalanya, Rizky. Yang terpenting adalah niat dan buku-buku literasi ini."
Rizky pura-pura terkejut. "Buku? Ah, benar! Buku-buku plagiatmu itu?". Rizky menoleh ke arah sepuluh truk yang kini sudah terparkir rapi menutupi gerbang panti. "Rafa! Buka pintunya!".
Atas instruksi Rizky, para staf yang ia sewa dengan gaji harian selangit membuka pintu kontainer. Ribuan kotak mainan bermerek internasional tumpah ruah. Tidak hanya itu, Rizky memberikan isyarat pada tim keamanan pribadinya untuk membawa lima koper besi besar ke atas panggung.
Ctek!
Rizky membuka koper-koper tersebut di depan kamera. Isinya adalah tumpukan uang seratus ribu rupiah yang masih baru dan terikat rapi. Totalnya? Sepuluh Miliar Rupiah tunai.
"Rama, seratus jutamu itu sangat menyentuh hati," kata Rizky sambil melempar seikat uang tunai ke atas meja Rama seolah-olah itu adalah sampah. "Tapi anak-anak ini butuh masa depan yang nyata. Selain mainan ini, aku sudah menyiapkan seribu paket beasiswa penuh sampai tingkat universitas untuk seluruh anak di panti ini dan panti-panti sekitarnya. Semua dibayar tunai hari ini juga menggunakan kartu ini!".
Rizky mengacungkan Kartu Hitam Tanpa Batas miliknya ke arah kamera.
[Ding! Sabotase Plot Berhasil!] [Anda telah menghancurkan 'Momen Heroik' Rama Wijaya secara total.] [Tingkat Kepuasan Inang: 100%] [Hadiah: Peningkatan Atribut 'Kekuatan Fisik' (Level 1) dan Skill Pasif: 'Deteksi Kebohongan'.]\,.
Rama Wijaya gemetar hebat. Wajahnya merah padam. "Rizky, kamu tidak bisa membeli segalanya dengan uang! Anak-anak ini butuh ilmu!"
"Ilmu?" Rizky menyeringai. Sebagai mantan penulis gagal, ia tahu betul kualitas tulisan Rama. "Aku sudah membeli perusahaan penerbitan ibuku kemarin. Dan tebak apa? Aku sudah menarik semua buku Rama Wijaya dari pasar karena isinya hanya sampah plagiasi. Sebagai gantinya, aku menyumbangkan sepuluh ribu eksemplar novel yang benar-benar ditulis dengan darah dan air mata oleh penulis-penulis yang selama ini kalian tindas!",.
Wartawan kini benar-benar menggila. Mereka meninggalkan Rama dan mengerumuni Rizky. "Tuan Muda Rizky! Apakah ini berarti Adhitya Group akan beralih ke sektor filantropi secara masif?" "Tuan Muda, dari mana asal uang tunai sepuluh miliar ini?"
Di tengah kekacauan itu, sebuah mobil sedan mewah berhenti di kejauhan. Aprillia Rahma keluar dari mobil, menatap pemandangan di panggung dengan mata terbelalak. Ia datang karena mendengar Rama akan mengadakan acara amal, berpikir untuk mendukung "pahlawan" yang ia kagumi. Namun, yang ia lihat justru tunangannya yang "jahat" sedang dikerubungi anak-anak panti yang tertawa bahagia sambil memeluk mainan mahal, sementara Rama berdiri sendirian di sudut panggung seperti pecundang,.
"Rizky... apa yang sebenarnya terjadi padamu?" gumam April. Ia merasakan debaran aneh di jantungnya—bukan rasa takut yang biasa ia rasakan, melainkan rasa penasaran yang luar biasa mendalam melihat Rizky yang tampak begitu periang dan bebas,.
Rizky melihat April di kejauhan. Alih-alih mengejarnya seperti Rizky yang dulu, ia hanya melambaikan tangan dengan santai dan kembali membagikan uang tunai kepada pengurus panti seolah-olah itu adalah selebaran brosur,.
"Rafa!" teriak Rizky. "Kenapa kamu masih berdiri di sana dengan wajah menderita? Ayo ikut bagikan mainan ini! Kalau uangnya kurang, bilang padaku, aku masih punya banyak di kartu ini!".
Rafa hanya bisa menghela napas panjang sambil membagikan robot-robot mahal. "Saya lebih suka menjadi asisten penulis miskin daripada asisten sultan gila ini. Jantung saya tidak kuat..." namun di balik keluhannya, Rafa tidak bisa menahan senyum melihat betapa puasnya Rizky hari ini.
Rama Wijaya mencoba menyelamatkan mukanya. "Rizky, ini belum berakhir! Kamu hanya mengandalkan harta orang tuamu!".
Rizky berhenti sejenak, menoleh pada Rama dengan tatapan yang tiba-tiba menjadi sangat tajam—tatapan seorang penulis yang tahu akhir dari karakter antagonis munafik. "Harta orang tuaku? Rama, uang sepuluh miliar ini tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang akan aku lakukan pada kariermu minggu depan. Selamat menikmati sisa-sisa panggungmu, karena mulai hari ini, akulah sutradara di dunia ini.",.
Rizky melangkah turun dari panggung, mengabaikan Rama yang kini benar-benar diabaikan oleh media. Baginya, menghamburkan sepuluh miliar hari ini bukan soal uang, tapi soal mengirimkan pesan: Jangan pernah bermain pahlawan di hadapan seorang pria yang bisa membeli takdirmu dengan sekali gesek kartu,.
[Ding! Misi Tambahan Selesai: Membuat Heroine Kebingungan.] [Hadiah: Poin Hedon +5000!].
Rizky masuk ke mobilnya dengan perasaan yang sangat ringan. "Rafa, ayo pergi. Aku lapar. Mari kita cari restoran paling mahal yang bisa kita beli sekalian bangunannya hari ini!"
"Tuan Muda, tolong berhenti..." keluh Rafa, namun ia tetap menginjak pedal gas, meninggalkan panti asuhan yang kini berubah menjadi taman bermain paling mewah di kota itu,.