NovelToon NovelToon
Menyamar Demi Kamu

Menyamar Demi Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Idola sekolah
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Umi Nurhuda

Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.

Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.

Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.

​Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.

Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Perasaan & Realita

​Hampir setengah jam Nuha menghabiskan waktu untuk menyelesaikan sketsanya. Di atas kertas putih itu, guratan pensilnya perlahan membentuk siluet wajah Naru. Meski gambar itu hampir selesai, jemarinya masih bergerak, menggaris tegas beberapa bagian penting.

Bibirnya mengulas senyum, matanya melembut menatap hasil karyanya. ​"Hei, Hawa ... gimana bisa ya, ada cowok yang punya tatapan segalak kakak, tapi disaat bersamaan bisa terasa seneduh ini?"

​"Hu-um, dia beneran ganteng."

​Deg.

Tangan Nuha mendadak berhenti mendengar penuturan polos jiwa imajinernya. Pensil di genggamannya bergetar ringan sebelum akhirnya ia letakkan di atas meja dengan canggung. "Tapi ... aku bahkan nggak tahu siapa namanya. Apa kita bakal ketemu lagi, besok?"

"Mungkin."

Menangkap semburat kesedihan yang mendadak runtuh di wajah kembaran nyatanya, Hawa mencoba menenangkan. "Aahh ... Jangan khawatir, Kapten. Ingat apa katanya kemarin, ekhem!" dehemnya.

Nada suaranya diubah menjadi lebih dalam khas suara cowok, "Apa pun yang terjadi, hadapilah, Nuha. Jangan lari. Karena kalau kamu lari, aku nggak mau kamu kena bahaya lagi. Aku percaya padamu. Keputusan apa pun yang kamu ambil, aku bersumpah akan selalu ada di belakangmu.”

"Lebay kamu ih," kekeh Nuha dengan mengibas-ibas udara mengusir Hawa yang membuat pipinya jadi merona. Tapi memang benar, moment itu membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda.

Kalimat itu memicu memori di kepalanya. Ia ingat betul bagaimana napas Naru yang memburu saat membopongnya ke UKS, dan bagaimana sepasang mata intens itu menatap lurus ke jalan koridor. Rasanya hangat dan begitu nyata.

​Nuha menunduk,

menatap telapak tangannya yang kini terbalut kasa putih dengan rapi. Luka gores di lengannya masih terasa perih, menganga basah oleh obat oles yang mulai mengering.

Ada rasa bingung yang menyelinap, "Kenapa dia bisa bilang 'aku percaya padamu' di saat aku sendiri bahkan nggak pernah yakin sama diri aku sendiri? Gimana bisa dia tahu tentang aku?"

​Hawa menghela napas pelan, tidak ingin membiarkan Nuha terlalu keras berpikir. "Ya sudah, tidur gih. Besok harus sekolah. Kalau Kakak sampai tahu kamu terluka gara-gara ngayal lagi, apalagi sampai bolos, bisa habis kamu dimarahin."

​"Hehe, iya. Pokoknya rahasia ya, jangan sampai ketahuan Kakak," Nuha memaksakan senyum kecil lalu menarik selimutnya hingga sebatas dada. Ia memeluk gulingnya erat-erat, mencoba mencari posisi nyaman.

​Saat membenamkan wajahnya di bantal, indra penciumannya tanpa sengaja menangkap sisa aroma yang familier. Nuha bergumam sangat lirih, hampir seperti bisikan angin, "Wangi ..."

​Kepalanya kembali melayang pada dekapan hangat Naru siang tadi. Aroma parfum maskulin yang mewah namun menenangkan itu seolah masih tertinggal di indra perasanya. Kalau dia sewangi ini, aku ingin banget memimpikannya malam ini.

​"Kamu bilang apa, Nuha?" tanya Hawa yang samar-samar mendengar gumaman itu.

​Nuha buru-buru memejamkan mata, menyembunyikan semburat merah di pipinya. "Nggak ... nggak ada apa-apa."

Malam itu, rangkaian bayangan skenario yang ingin ia datangi di dalam tidurnya, memberikan sugesti kuat pada pusat kesadarannya sendiri. Ketika kesadarannya perlahan meredup, sebuah lucid dream pun tercipta atas kendali penuh pikirannya.

Nuha benar-benar tenggelam dalam mimpi yang begitu indah. Di dalam tidurnya, ia membawa dirinya kembali ke tempat di mana dekapan hangat dan aroma menenangkan itu nyata, melindunginya dari segala badai yang melelahkan.

9 Jam Nuha bermimpi ...

Hingga pagi menjelang, realitas yang jauh lebih kejam dari sekadar mimpi buruk merusak kedamaian. Bayangan Sifa mendadak muncul di tengah kegelapan, menangis dan memohon berulang kali, "Nuha, bantu aku bisa jadi waketos Dilan ... bantu aku, Nuha ... bantu aku!"

Suara itu bergema, saling bersahut-sahut sebelum akhirnya terpotong oleh gaung suara Dilan yang berat dan mengintimidasi, "Jadilah pacarku ... jadilah pacarku!"

Suara-suara itu terus berputar, mencengkeram kepalanya hingga memaksa mimpi indah itu retak berantakan, dihantam badai kecemasan yang tiba-tiba menggulung alam bawah sadarnya.

"TIDAAAKKK!!!"

Paginya, sampai di sekolah ...

"Aduh, kepalaku pusing."

​Baru juga Nuha jalan ke kelas setelah dari parkiran, seorang siswi junior mendadak lari ke arahnya memohon pertolongan. Belum sempat bertanya ada apa, tangannya sudah ditarik paksa, diseret menuju koridor bangunan sekolah yang sepi.

​"Tolong temenku, Kak!"

​Begitu sampai di depan sebuah gudang tua, bukannya penjelasan yang didapat, punggung Nuha malah didorong keras dari belakang. Tubuhnya terhuyung masuk ke dalam gudang yang pengap dan gelap.

​Brak!

"Eh? Hei!!"

​Pintu kayu di belakangnya langsung ditutup rapat dan terdengar suara kunci diputar dari luar. Nuha panik setengah mati, "Apa ini? Buka pintunya!" teriaknya seraya menggedor pintu sekuat tenaga.

Hawa mengerang frustrasi, "Waduh, sial banget! Kita dijebak, Nuh! Gimana nih? Cepet teriak minta tolong!"

​"Dijebak? Siapa yang--"

​Di bawah kepulan asap rokok, Dilan muncul dan menghampirinya santai. Cowok berambut platinum blonde yang super narsis itu tersenyum licik, "Imut, coba lihat apa yang sedang kami lakuin? Mau gabung nggak? Asik lho ..."

Nuha membelalak terkejut melihat dua anak buahnya sedang mengikat tangan dan kaki seorang siswi di atas lantai semen yang dingin. "Apa yang kamu lakuin sama dia?! Kenapa kamu mengikatnya?!" bentaknya.

"Hahahaha," tawa Dilan meremehkan.

Nuha berusaha menyadarkan meski suaranya tertelan-telan, ​"Kamu mau merusak citra kamu sendiri?! Lepasin dia! Kamu itu calon ketua OSIS, harusnya bisa jadi panutan, bukan malah bertindak kriminal kayak gini!"

Sialnya,

Dilan justru memberi penawaran gila, "Cewek itu bakal gue lepas kalau lo mau jadi pacar gue sekarang juga."

"Aku nggak bakal mau!"

Penolakan Nuha membuat Dilan jengkel, ia langsung memberi kode ke anak buahnya untuk mulai melecehkan si korban. "Dika, Bagas ... lepas kancing seragamnya. Tarik roknya sekalian. Buat dia bu.gil dan sebar fotonya!"

​"Jangan, Kak ... Jangan lakukan itu! Saya mohon!" tangis siswi itu pecah, jeritan histerisnya menggema di sudut gudang, memohon ampun dengan tubuh yang meronta hebat.

​Dilan justru menyeringai. Ini adalah momen yang ia tunggu. Ia melangkah mendekati korban, mencengkeram dagu gadis itu dengan kasar sebelum mencium bibirnya dengan paksa.

"Lihat kan, Imut?" ucapnya tenang, seolah baru saja melakukan perbuatan mulia. "Gue masih punya hati nurani untuk mengampuni orang yang tahu diri. Bilang, siapa yang paling baik di sini?"

​Siswi itu, yang masih terguncang hebat, terisak pelan namun terpaksa mengangguk. "Ka ... Kak Dilan baik. Terima kasih, Kak ..."

​Dilan tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat narsistik. Ia menoleh kembali ke arah Nuha, merapikan lengan kemejanya dengan angkuh. "Nah, imut, lihat sendiri kan? Gue punya kuasa buat bikin neraka, tapi gue milih buat kasih belas kasihan. Itu karena gue tertarik sama lo. Jadi, masih mau keras kepala?"

​Sebelum melangkah pergi meninggalkan gudang, Dilan sempat lewat di samping Nuha. Dia membungkuk dan berbisik tepat di telinga Nuha dengan aroma rokok yang bikin mual. "Gue kasih lo waktu dua hari. Terima jadi pacar gue atau teman-teman lo, bahkan LO SENDIRI yang bakal kena akibatnya."

​Begitu pintu gudang akhirnya terbuka dan Dilan pergi, ultimatum dua hari itu langsung berputar-putar di kepala Nuha seperti monster. Di tengah rasa panik, ego kecilnya sempat berharap pria misterius yang dia temui kemarin tiba-tiba datang menolongnya.

Tapi akal sehatnya langsung menampar khayalan itu, buat apa berharap pada orang asing yang namanya saja tidak dia tahu?

"O ya,"

Dilan melemparkan ponsel touchscreen 3 inch-nya ke arah Nuha, "Gunakan ponsel ini. Gue mau kita bisa saling berbalas pesan. Sekali lo mengabaikannya, hidup lo berakhir di tangan gue!"

Tangan Nuha gemetar dan penuh keringat dingin, "Hawa, aku harus apa sekarang? Apa aku harus menyerah dan terima tawaran gila Dilan? Hawa ... tolong, bantu aku menyelesaikan ini. Otakku mau pecah."

​Hawa menjawab dengan nada yang jauh lebih tenang namun tegas, "Kamu nggak boleh lari, Nuha. Ingat pesannya kemarin? Kalau kamu lari, kamu cuma bakal membiarkan bahaya lain menjebakmu."

​"Lalu aku harus apa?!"

​"Mungkin, langkah pertama yang harus kamu lakuin adalah menolong siswi yang jadi korban tadi," tawar Hawa, mencoba menarik Nuha kembali pada pijakan realita.

"Seenggaknya, bawa dia lepas dari trauma dan pastikan dia aman dulu. Kita selesaikan masalah ini dari hal nyata yang ada di depan mata kita sekarang."

.

.

. Next》Bab 13. Sampai jumpa besok 👋

1
Surya Alfian
WKWKWK "BAMBANG" gue ngakak.
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
Surya Alfian
gue kira mau dicipok ini ciwi, deg-degan woy!! 😳❤️ Kelihatan kalau dia udah mulai jatuh hati tanpa sadar.
Surya Alfian
Gue jadi pengen tahu pas Kakeknya nanti turun tangan bakal segila apa. 🍿😏
Surya Alfian
Ending-nya manis banget, asli bikin senyum. 😆💕 Waduh, fix ini mah udah masuk fase salah tingkah. 😂🌸
Surya Alfian
Scene Muha sama Nuha di meja makan tuh adem banget. 🥹☕ Kakaknya galak tapi kelihatan banget sayangnya tulus, sementara Nuha polos banget sampai bikin gue senyum-senyum sendiri. Chemistry kakak-adiknya enak dibaca.
Surya Alfian
Wkwkwk Naru ini licik level dewa.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Surya Alfian
😭📖 Doa Naru ke kakeknya kerasa tulus banget. Gue fix lanjut baca cuma buat tahu kenapa dia sampai harus minta "kebebasan". 🚀
Surya Alfian
🤔❤️ Dia perhatian banget sampai hafal detail-detail kecil tentang Nuha, tapi kalimat "cuma gue yang boleh memahami dia" itu vibes-nya agak posesif. Gue jadi penasaran dia bakal jadi green flag atau malah red flag nantinya. 👀
Surya Alfian
Dilan akhirnya kena mental. 😮‍💨👏
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
Muft Smoker
mereka lucuu kan ,, 😂😂😂😂 ,,



kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Mega Siregar
padahal sebagai seorang dokter jiwa seharusnya tahu bahwa memanjakan anak tanpa ada kasih sayang dan perhatian dan pengajaran tentang hidup dari orang tua, hanya membuat seorang anak menjadi rusak
ginevra
ketikannya.... sumpah alay banget ini dilan....
ginevra
kakeknya keterlaluan sih... nggak heran baru jadi nggak betah. kasih kelonggaran dikit lah ...
Xlyzy
sumpah keterlaluan banget, pengen tak ketuk pala nya pakek martil
Xlyzy
Jahat ih kalian jangan gitu lah aku ketuk nih kening nya kalau nakal
Filan
gimana kalau diajak pacaran sama Naru? apa dia ga mikir ke sana?
Kan dia suka sama Naru.
Miu.Nuha: iya nanti dilemanya disitu...
Nuha blm sadar kalo dia suka, dia cuma lagi seneng2nya jatuh cinta #eh
total 1 replies
Filan
btw, Muha ini emang gampang marah juga ya.
Filan
ya ampun, tidur dua hari?
Filan
'persahabatan' yang punya arti lain,
Filan
tanggung jawabnya macam apa, aslinya lu ga punya apa-apa.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!