seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Sebelum ketiganya melangkah keluar pintu untuk berangkat sekolah, Athur menahan mereka sejenak di ruang makan. Pria itu memberikan isyarat mata ke arah pintu depan.
Tepat saat itu, pintu rumah terbuka tanpa diketuk. Evan melangkah masuk tanpa permisi dengan gaya casual andalannya—mengenakan jaket denim, kacamata hitam yang bertengger di hidung, dan senyuman yang sok ganteng sekaligus sok akrab. Meski penampilannya urakan khas petinggi mafia, sebenarnya jiwa Evan tidak kalah lembut dan perhatian jika sudah menyangkut orang-orang terdekat Athur.
"Halo, penghuni istana baru! Wah, aromanya menggoda iman banget nih," seru Evan langsung nyelonong masuk ke ruang makan.
Tanpa basa-basi atau rasa canggung sedikit pun, Evan langsung mengambil posisi duduk bersila di atas lantai beralaskan tikar, lalu mencomot sisa tempe goreng di piring dengan santai. Sejenak, matanya sempat mengerjap heran melihat pemandangan di depannya. Rumahnya sudah berlantai dua dan bagus, tapi keluarga unik ini ternyata masih sangat nyaman mempertahankan tradisi makan lesehan di atas tikar.
"Lu berdua ini emang pasangan serasi ya. Rumah udah ada sofa mahal, tetep aja setianya sama tikar kontrakan," goda Evan sambil terkekeh menatap Athur dan Rara yang langsung salah tingkah.
Athur hanya mendengus malas, tidak menanggapi ledekan sahabatnya. "Mana barangnya, Van?" tagih Athur datar.
"Santai, Bos. Gak sabaran amat," sahut Evan. Ia membuka tas selempangnya lalu mengeluarkan tiga bingkisan kado yang dibungkus sangat rapi, kemudian menyodorkannya ke hadapan Athur.
"Nih. Perintah Bos Besar sudah dilaksanakan dengan selamat."
Athur menerima bingkisan itu, lalu membagikannya kepada Rara, Fino, dan Nina. "Ini untuk kalian. Sebuah handphone baru agar kalian mudah berkomunikasi dan memberi kabar jika ada situasi darurat di sekolah," ucap Athur dengan suara beratnya yang tegas namun sarat akan perhatian.
Mata Nina seketika berbinar-binar menatap kotak handphone merek premium di tangannya. Selama belasan tahun hidupnya, jangankan memiliki handphone sebagus ini, untuk membeli paket data saja mereka dulu harus berpikir dua kali. Rasa haru dan bahagia yang membuncah membuat pertahanan emosi gadis lugu itu runtuh.
Saking senangnya, Nina langsung melompat kegirangan. Tanpa sengaja dan murni karena refleks kebahagiaan yang teramat sangat, Nina langsung berbalik dan memeluk erat tubuh tegap Evan yang kebetulan duduk tepat di sampingnya.
"Terima kasih banyak, Bang Evan! Terima kasih, Mas Athur!" seru Nina bersemangat sambil menitikkan air mata haru di pundak jaket denim Evan.
Evan seketika membeku di tempat. Potongan tempe goreng yang baru mau masuk ke mulutnya tertahan di udara. Jantungnya berdegup kaget, sama sekali tidak menduga akan mendapat pelukan seerat dan setulus itu dari seorang gadis remaja yang begitu polos.
Fino yang awalnya tidak kalah kegirangan—bahkan sudah sibuk membolak-balik kotak handphone barunya dengan senyum tengil—mendadak menghentikan aktivitasnya. Sepasang mata jeli milik Fino itu langsung melebar sempurna saat melihat pemandangan di sampingnya. Nina, kembaran kelas sembilannya yang paling lugu, sedang memeluk pria asing dari dunia hitam!
Detik itu juga, mode Fino langsung berubah 180 derajat. Cengiran gembiranya lenyap, digantikan oleh wajah posesif tingkat dewa dengan kerutan dalam di dahinya.
"EHEM! WOY, NiNa! LEPASIN GAK!" gertak Fino dengan suara yang sengaja diberatkan, langsung maju merenggut kerah belakang baju Nina agar pelukan itu terlepas.
Fino berdiri tegak, memasang badan di depan Nina, lalu menunjuk wajah Evan dengan pandangan mengancam yang sangat serius namun terlihat kocak karena ia hanya mengenakan seragam sekolah.
"Heh, Bang Evan yang sok ganteng! Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan ya! Biarpun lu temannya abang ipar gue, kalau lu berani macam-macam atau genit sama kembaran gue yang polos ini, gue pastikan biskuit premium di kulkas itu bakal berubah jadi amunisi buat nimpuk kepala lu! Paham?!"
Evan yang baru saja tersadar dari keterkejutannya langsung menaikkan sebelah alisnya, menatap remaja posesif di depannya itu dengan pandangan geli. Sementara Rara hanya bisa menepuk dahinya pelan melihat kelakuan protektif Fino, dan Athur kembali menyunggingkan senyuman miring yang sangat tipis, menikmati drama pagi hari yang penuh warna di rumah barunya.
Pemandangan pagi di teras rumah baru itu mendadak terasa begitu hangat dan langka. Sebelum melangkah keluar, Rara berbalik menatap Athur. Jantungnya berdegup kencang, menentang rasa canggung yang tersisa dari malam tadi. Dengan gerakan yang sedikit malu-malu, gadis itu menjinjitkan kedua kakinya, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di pipi sang suami sebagai tanda terima kasih atas hadiah handphone baru mereka.
Athur sempat terpaku sesaat. Sepasang mata elangnya melebar sekejap, merasakan kehangatan bibir tipis Rara yang menempel di kulit pipinya. Untuk pertama kalinya, rona merah tipis yang sangat langka ikut terbit di tulang pipi tegas sang bos mafia yang biasanya sedingin es batu. Rara yang menyadari perubahan ekspresi suaminya langsung menunduk dalam-dalam, menangkup kedua pipinya sendiri yang sudah merah padam layaknya kepiting rebus.
"Uhuy! Pemandangan pagi yang sungguh tidak ramah untuk kesehatan mata jomblo!" seru Fino langsung heboh, memecah keheningan dengan tawa puasnya.
Fino langsung memasang wajah tengil andalannya, menyikut lengan Evan yang berdiri di sebelahnya. Evan pun tidak mau kalah, ia langsung menurunkan kacamata hitamnya ke ujung hidung demi menatap dua sejoli itu dengan pandangan meledek yang luar biasa menyebalkan. Kedua pria itu langsung kompak mengeluarkan siulan menggoda yang nyaring.
"Aduh, aduh... Bos Besar kita yang biasanya sangar, pagi-pagi mukanya kok mendadak nge-blush mirip stroberi ya, No?" pancing Evan dengan volume suara yang sengaja dilaungkan.
"Iya, Bang! Asli, gue pikir tadi ada gempa lokal, ternyata cuma efek gempa di hati Kak Rara sama Abang ipar," sahut Fino bersedekap dada sambil menaikkan alisnya naik-turun dengan gaya yang sangat menyebalkan.
"Besok-besok kalau mau cium pipi, tolong kasih aba-aba ya, Kak. Biar rakyat jelata seperti kami bisa siap-siap pakai kacamata hitam biar gak silau sama keuwuan kalian!"
"Fino! Bang Evan! Diam nggak!" pekik Rara dengan suara melengking panik, tangannya yang tidak diperban refleks memukul lengan Fino karena saking malunya ditertawakan di depan umum.
Athur berdeham keras, mencoba mengembalikan wibawanya yang mendadak runtuh. Ia menatap Fino dan Evan dengan sorot mata yang menajam, namun tangannya justru bergerak merengkuh pinggang Rara dengan posesif, menarik istri kecilnya itu agar lebih dekat ke tubuh tegapnya. Tindakan perlindungan Athur yang
terang-terangan itu justru membuat Fino dan Evan semakin kegirangan memperpanjang ledekan mereka.
"Wah, mulai protektif nih! Jangan ditarik terus Bang, nempel banget itu kayak perangko kontrakan!" goda Fino lagi sambil tertawa terbahak-bahak.
Setelah puas puas mengacaukan ketenangan sang kakak, Fino langsung menarik tas ransel Nina. "Yuk, Nin, kita berangkat sekarang. Sebelum Bos Besar mengeluarkan jurus mata lasernya dan kita beneran berubah jadi obat nyamuk gosong di sini," ajak Fino menarik kembarannya menuju garasi untuk mengambil motor bebek sekon mereka.
Di teras, Evan mendadak merinding saat Fino sudah menjauh. Ia baru sadar kalau dirinya telanjur kelewatan meledek. Ia buru-buru melirik Athur, takut kalau ledekannya tadi memicu sisi garang sang bos mafia yang terkenal tanpa ampun di dunia hitam. Namun lagi-lagi, keajaiban terjadi di depan matanya.
Rara dengan gerakan cepat menyentuh dada tegap Athur, jemari mungilnya merapikan kerah jaket kulit suaminya sambil tersenyum sangat manis—sebuah gestur sederhana dari sang 'pawang' yang seketika meluluhkan total aura singa di dalam diri Athur. Amarah Athur mendadak menguap begitu saja, digantikan oleh tatapan melembut yang mengunci wajah cantik istrinya, membuat Evan hanya bisa mengelus dada lega karena lolos dari maut pagi ini.