NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Romantis
Popularitas:40.4k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Manusia Charming

"Bu Arumi... jujur ya, dari tadi pagi jantung saya rasanya mau copot karena kepikiran," bisik Tony penuh selidik, sepasang matanya melirik kanan-kiri dengan tegang. "Bagaimana hasil pertemuan Ibu dengan Ibu Shinta tadi? Ibu tidak diapa-apakan, kan? Apa yang sudah Bu Arumi lakukan sehingga pemboikotan dibatalkan pagi ini ya? Tolong bisiki saya sekarang sebelum Pak Rangga keluar ruangan, Bu."

“Owh!” Mulut Arumi membentuk huruf ‘O’. Dia sendiri kaget mengenai berita ini. “Nggak jadi dihentikan ya pendanaannya? Waaaahhh... Alhamdulillah kalau begitu.”

“Baru setengah jam yang lalu ada pesan dari bu Vina. Kalau Bu Shinta memberi Pak Rangga waktu tenggang seminggu untuk mencari Dana Cadangan. Itu waktu yang lebih dari cukup bagi kami bersiap-siap bu.”

"Rangga di mana, Ton?" tanya Arumi pelan.

Tony mengembuskan napas panjang, merapikan dasinya yang sedikit longgar. "Pak Rangga sedang di dalam bersama tim audit dan tim keuangan, Bu. Memeriksa kelengkapan dokumen untuk bersiap-siap membuat rencana cadangan dan strategi baru.” Tony menyentuh pinggul Arumi untuk mengarahkan wanita itu berjalan menuju ruangan pribadi Rangga. “Saya sengaja keluar sebentar untuk bikin kopi, suasana di dalam tegang banget seperti mau perang dunia. Ini baru agak cair setelah ada pemberitahuan dari Bu Vina. Tapi tetap saja kami belum bisa bersantai-santai sekarang."

Melihat gurat kelelahan di wajah asisten setia itu, Arumi tersenyum maklum.

Ruangan kerja pribadi milik Rangga saat itu sedang kosong.

Di sudut ruangan mewah tersebut, terdapat sebuah fasilitas bar pribadi minimalis yang dilapisi marmer hitam eksklusif.

Tony dengan gerakan yang luar biasa luwes mulai merebus air, mengambil cangkir porselen, lalu menyajikan secangkir teh chamomile hangat untuk Arumi. Arumi yang duduk di kursi bar tinggi hanya bisa memperhatikan jemari Tony yang bergerak begitu presisi dan elegan, persis seperti seorang profesional.

"Kamu luwes sekali, Ton. Pernah bekerja jadi bartender atau pelayan restoran sebelumnya?" tanya Arumi takjub.

Tony terkekeh ceria, pembawaannya yang supel dan kalem langsung mencairkan atmosfer. "Saya sudah menggeluti berbagai macam profesi dan mengikuti berbagai jenis pelatihan sertifikasi, Bu. Semua itu saya lakukan karena dari dulu saya bertekad untuk bisa terus mengikuti ke mana pun Pak Rangga bergerak. Bagi saya... Pak Rangga itu sosok yang sangat menarik."

Tony mencondongkan tubuhnya sedikit di atas konter bar marmer, beralih ke nada rendah yang sensitif. "Dia itu cerdas dan pekerja keras, Bu. Tapi sebenarnya... aslinya rapuh dan mood-mood-an banget. Pak Rangga itu dipaksa bangkit karena rasa sakit hatinya di masa lalu, tapi kalau sedang sendiri, dia itu gampang sekali depresi."

Tony mendesah pelan, menggelengkan kepalanya dengan ekspresi gemas yang kocak. "Bahkan ya, Bu... kalau Pak Rangga itu terlahir sebagai seorang cewek, sudah saya nikahi kali dari dulu, Bu. Saking gemasnya saya. Dia itu seksi tapi mellow. Kelihatan tegas dan sok kuat di depan media saham, tapi sebenarnya dia tidak bisa dibiarkan sendirian."

Pfftt!

Arumi seketika meledakkan tawa renyah yang lepas. Bahu wanita itu berguncang hebat mendengar curhatan dari mulut asisten pribadi calon suaminya.

Tony ikut tertawa lebar melihat respons Arumi, melambaikan kedua tangannya dengan panik. "Tapi saya bukan gay ya, Buuu! Tolong dicatat! Ini cuma perumpamaan saja loh, misalnya... misalnyaaaa!"

Arumi masih mengulum senyumnya, menyesap teh camomilenya hangat-hangat. "Lalu, bagaimana tanggapan Denny soal pernikahan ini?"

"Nah, itu dia!" seru Tony bersemangat. "Beberapa malam yang lalu, saya dan Denny sempat curhat berdua, membahas bagaimana Pak Rangga yang tiba-tiba menjelma jadi bucin akutnya Bu Arumi. Jujur ya Bu, saya kaget setengah mati. Soalnya, selama bertahun-tahun ini, Pak Rangga kalau digodain atau didekati cewek seksi di kelab... pilihannya cuma dua: kalau tidak nonjok tembok sampai tangannya retak, dia pasti bakal langsung menenggak obat penenang dosis tinggi."

Wajah Tony mendadak beralih serius, merendahkan suaranya ke tingkat yang paling intim. "Pernah ada satu kejadian darurat, Bu. Waktu itu obat penenangnya ketinggalan di mobil. Ada seorang wanita yang nekat mencium pipinya di ruang privat restoran. Pak Rangga langsung menolak kasar. Wanita itu menangis tersedu-sedu, dan pas si wanita berbalik badan hendak melangkah pergi... saya melotot melihat tangan Pak Rangga sudah memegang pisau steak tajam, bersiap menghujam punggung wanita itu dari belakang!"

Arumi menghentikan cangkir tehnya di udara, matanya membelalak kaku menatap Tony.

"Untung saya lihat, Bu! Jantung saya rasanya mau copot, deg-degan banget!" bisik Tony ekspresif, mengusap dadanya sendiri. "Detik itu juga langsung saya seret tubuh Pak Rangga ke ruangan lain. Eh... ujung-ujungnya malah saya yang kena gebuk sama dia sampai babak belur karena dia sedang hilang kendali. Untung setelah kejadian horor itu saya langsung kabur pulang ke rumah pacar saya, minta 'servis' manja dikit, hilang deh semua stres saya dunia akhirat. Makanya saya bilang, itu orang beneran tidak boleh dibiarkan sendirian tanpa pengawasan. Kalau lepas kendali, sudah bertransformasi jadi serial killer jatuhnya."

Arumi kembali meledakkan kekehan gelinya, mengagumi betapa setianya Tony menjadi tameng kewarasan Rangga selama ini.

Namun, di tengah kehangatan tawa domestik dan posisi tubuh Tony yang condong di atas konter bar marmer tersebut, sebuah bencana salah paham yang fatal sedang mengintai dari arah luar.

Rangga baru saja keluar dari ruang meeting. Karena sedang berusaha menyelesaikan evaluasi draf forex, tentu saja ia butuh Tony di sampingnya. Tapi pria itu tidak masuk ke dalam lagi setelah izin ke toilet tadi. Dan Rangga pikir ia juga sudah mumet dengan masalah kantor jadi dia juga izin ke peserta meeting untuk ke toilet sebentar. Tapi... ia mendadak menghentikan langkah kakinya tepat di depan kaca ruangan pribadinya.

Sepasang mata tajam sang CEO berumur 26 tahun itu melebar sempurna, menyajikan pemandangan yang menurutnya menyebalkan.

Arumi—calon istrinya yang semalam baru saja membuat jantungnya berdebar kencang—sedang duduk anggun di bar pribadinya, tertawa lepas bersama Tony. Bahkan dari sudut pandangnya, posisi tubuh Tony yang mencondongkan dada nampak seperti sedang melancarkan aksi tebar pesona yang intim.

Rangga membeku di tempat, seluruh pasokan oksigen di paru-parunya seolah menguap digantikan oleh rasa geram pekat yang membakar ulu hatinya. Di dalam rongga dadanya, harga diri sang Predator runtuh ke titik nadir, memicu rentetan omelan cemburu buta yang luar biasa sengit di dalam batinnya sendiri.

Sialan. Apa-apaan itu? Kenapa mereka berdua bisa kelihatan seakrab dan sebahagia itu di belakangku?! gerutu Rangga dalam hati, matanya memicing tajam menatapi senyuman manis Arumi dengan dada yang bergemuruh hebat.

Pantas saja... pantas saja selama seminggu ini si Tony itu selalu punya seribu satu alasan untuk ikut datang bertamu ke rumah Arumi! Bahkan sampai bertingkah manis minta dibuatkan porsi bekal makan siang setiap pagi! Ternyata dia diam-diam ada maunya toh sama calon istriku! Memanfaatkan pembawaannya yang sok untuk tebar pesona!

Rangga mendengus sebal dan mengepalkan kedua tangannya.

Arumi meletakkan cangkir teh chamomile-nya, menatap Tony dengan pandangan yang kian takjub. "Melihat semua keahlian serbabisa kamu, Ton... aku jadi penasaran. Bagaimana cerita awalnya kamu bisa bertemu dan bergabung dengan Rangga di kantor ini?"

Tony seketika terkekeh ceria, matanya berbinar-binar penuh semangat saat memorinya ditarik ke masa lalu. Ia mengelap konter marmer bar pribadi itu dengan gerakan santai.

"Waduh, kalau diingat-ingat lagi, itu murni takdir yang keliru tapi berkah, Bu," ujar Tony bersemangat. "Saya itu dulu awalnya masuk ke Red-Desmont cuma sebagai anak internship alias anak magang biasa. Padahal, saya ini baru saja menyelesaikan kuliah di Stanford University, ambil double degree. Saya bahkan sempat magang jadi asisten direksi di salah satu perusahaan finance di Amerika Serikat."

"Lalu kenapa kamu pulang ke Indonesia kalau kariermu di sana sudah bagus?" tanya Arumi penasaran.

"Masalah klasik, Bu. Visa saya waktu itu terkendala karena masih pakai visa pelajar, jadi terpaksa dideportasi secara halus untuk pulang," Tony mendengus geli, mengingat kebodohan masa mudanya. "Nah, pas sampai di Indonesia, ada budaya korporat yang aneh banget. Kalau IPK kita terlalu tinggi atau kita lulusan luar negeri, HRD perusahaan lokal itu malah ketakutan buat meng-hire kita. Alasan mereka klasik; takut kita bakal menuntut standar gaji yang kebesaran. Sialan, kan? Akhirnya, daripada menganggur, saya melamar magang di Red-Desmont dengan alasan formalitas untuk melanjutkan data disertasi saya."

Tony mencondongkan tubuhnya lebih dekat, wajahnya mendadak berubah masam bercampur jijik saat topik obrolan bergeser.

"Waktu itu, Red-Desmont masih berada di bawah kepemimpinan penuh Pak Agung. Dan jujur ya, Bu... dari hari pertama magang, saya sudah sebel setengah mati melihat tingkah lakunya Bintang. Saya ini... yah, saya akui saya ini tipe cowok red flag yang hobi ganti-ganti pacar dan main dunia malam. Tapi di mata saya, Bintang itu sudah bukan red flag lagi, Bu. Dia itu sampah!"

Arumi sampai menaikkan sebelah alisnya, terkejut mendengar seorang playboy melabeli wanita lain sebagai sampah.

“Bintang itu gilanya di luar nalar," bisik Tony ekspresif, merinding sendiri. "Ada satu hari di mana dia mendatangi kubikel waktu saya magang, lalu berbisik lempeng tanpa urat malu; 'Tony, kita kan sama-sama suka bercinta. Gimana kalau nanti malam kamu ikut bergabung main bertiga di hotel saya sama Pak Agung?' Fak lah, Mbak!! Bayangkan itu! Saya langsung pamit ke toilet dan muntah-muntah di sana. Saking mualnya saya!"

Arumi tidak bisa lagi menahan diri, ia kembali meledakkan tawa renyahnya mendengar umpatan frustrasi Tony.

"Makanya, Bu," lanjut Tony sembari ikut tertawa, "Pas Pak Agung akhirnya memutuskan untuk resign dini karena alasan kesehatan, saya adalah orang pertama yang sujud syukur di kantor ini. Eh... tak tahunya, posisi CEO langsung diambil alih oleh Rangga. Dan dia langsung membuat gebrakan gila di bursa saham! Pagi pertama dia masuk kantor, dia didampingi oleh Pak Denny. Dan yang pertama ia datangi adalah Divisi Legal."

Tony menghela napas takjub, tatapan matanya menyiratkan rasa hormat yang teramat dalam pada bosnya. "Di detik itulah saya bener-bener terkesima melihat visi bisnis Pak Rangga. Di dalam hati saya membatin; aku harus bantu anak ini mengacak-acak kantor ini. Tapi masalahnya, jabatan saya waktu itu cuma staf magang rendahan di bagian keuangan, Bu. Nggak punya akses apa-apa ke ruang atas."

"Terus, bagaimana bisa kamu mendadak melesat jadi asisten pribadinya?" kulik Arumi makin kepo.

Tony terkekeh miring, menunjuk gelas teh Arumi. "Pak Denny yang mengusulkan nama saya ke Pak Rangga untuk diangkat jadi asisten pribadi. Alasan Pak Denny waktu itu konyol dan se-simple itu, Bu. Katanya... karena kopi hitam bikinan saya rasanya enak banget di lidah mereka. Hahaha! Padahal ya, sebelum kuliah di Amerika, saya itu sempat iseng bekerja jadi barista di Dubai selama setahun. Cuma buat cari pengalaman saja, sih. Makanya saya tahu dikit-dikit teknik yang pas cara menyeduh dan memilih biji kopi premium."

1
Leni Pur indah sari
jangan di pancing Riaan.. tau2 besok udh jadi milik Rangga aja tu rumah sebelah..
neen
kheemm... gerah dan geli😄
Miss F
Rangga udh kecintaan SM mbak aruminto msh malu2 meong🤣🤣
Dede Maesaroh
🤣 kocak
Naftali Hanania
haredang ini mah....fisual sama kalimat2 nya.....bikin hilaf gak ni nanti..😍
Naftali Hanania
salut bgt sm om rangga. respek lah sekwbon lope2 nya...👍👍👍👍💖💖💖💖
Sahlendi Udiningrum
suka banget ma pasangan arumi rangga, menyalaa smuaaa💣
HilVi Tanurahardja💋
makasih upnya madam🥰
HilVi Tanurahardja💋
woaaaahh mantap ya rian
mamaqe
kodee ituuu kodeee...kan ada clue nya..sabaarrrr
mamaqe
duuhhh anak perawan malu2🤣🤣🤣🤣
mamaqe
Cian ranggaaaa
Lusi Amelia
Madame, 1 bab kureeeeng ini 🥹🤣🤣🤣🤣🤣
Dede Maesaroh
jadi nge bayangjn mas rangga🤣
Miss F
mbak arumii ngiler g liat isi dlm Rangga 🤣 angkat
Nur Aisyah
💪
Siti Rohmah
mau lagi💪
mery harwati
Rangga membalas kebaikan Arumi yang menyelamatkan perusahaan Rangga dari ancaman Bu Shinta dengan membelikan Rian mini market meski dengan alasan dicicil karena Rangga juga tau Rian keras kepala, bener² smart Rangga 👍
mamaqe
ta temenin rum...mamaq malah lg ngelap iler🤣🤣🤣
mamaqe
ranggaaa..mamaq bingung mo komen apa ttg kamu..luar biasa kamu tuhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!