Arya Mahendra, seorang Kaisar Immortal dari Alam Semesta Atas, dikhianati saat melewati Kesengsaraan Surgaw. Alih-alih mati, jiwanya terlempar kembali ke masa lalu, masuk ke dalam tubuhnya sendiri saat ia masih menjadi mahasiswa miskin berusia 19 tahun di Bumi yang sering ditindas dan kehilangan keluarganya karena konspirasi konglomerat lokal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setetes Cairan Dewa, Mengguncang Para Ahli
Ruang VIP di lantai lima Paviliun Baicao didesain dengan kemewahan yang mampu membuat konglomerat biasa menahan napas. Karpet bulu domba asli dari pegunungan Tibet, lukisan kaligrafi dari dinasti kuno, dan meja teh yang dipahat dari sebongkah batu giok utuh menghiasi ruangan tersebut.
Namun, Master Qin Mufeng sama sekali tidak mempedulikan semua kemewahan itu. Pria tua yang dijuluki "Tangan Dewa Medis" di seluruh provinsi itu kini berdiri dengan tangan gemetar, menatap botol kaca kecil di atas meja giok seolah sedang memandangi pusaka dewa yang turun dari langit.
Arya duduk santai di sofa kulit seberang meja, menyilangkan kaki sambil menyesap teh krisan kualitas premium yang disajikan khusus untuknya. Wajahnya setenang air di danau beku.
"L-Luar biasa... Ini benar-benar tidak masuk akal," gumam Master Qin. Ia baru saja menggunakan jarum perak penguji racun dan kaca pembesar khusus, namun akal sehat fana yang ia pelajari selama tujuh puluh tahun hancur lebur di hadapan tiga tetes cairan hijau tersebut. "Tidak ada ampas. Tidak ada racun pil. Kemurnian energi kehidupannya mencapai seratus persen! Bahkan pil legendaris dari Kuil Obat Kuci di Ibukota tidak memiliki kemurnian sekental ini!"
Master Qin menelan ludah, menatap Arya dengan sorot mata penuh pemujaan layaknya seorang murid yang memandang guru sucinya.
"Tuan muda... ah tidak, Tuan Senior! Mohon pencerahan Anda, dari relik kuno mana Anda mendapatkan Elixir Kehidupan ini?"
Bagi Master Qin, mustahil pemuda berusia sembilan belas tahun di depannya ini meracik obat tersebut. Ia yakin Arya pasti merupakan murid inti dari Sekte Tersembunyi yang baru saja turun gunung, atau seseorang yang tidak sengaja menemukan makam alkemis kuno.
Arya meletakkan cangkir tehnya dengan pelan. Suara benturan keramik yang pelan itu entah mengapa membuat jantung Master Qin berdegup kencang.
"Relik kuno?" Arya mendengus pelan, suaranya sedingin es. "Itu hanyalah cairan sisa dari pemurnian yang kubuat semalam. Berhentilah mengais asal-usulnya. Katakan padaku, berapa nilai cairan ini di tempatmu?"
Mendengar kata 'kubuat semalam' dan 'cairan sisa', otak Master Qin seolah meledak. Kakinya lemas hingga ia nyaris jatuh berlutut. Cairan dewa seperti ini dia sebut cairan sisa?! Dan dia meraciknya sendiri?! Master Alkemis tingkat apa monster muda ini sebenarnya?!
Tidak berani memancing kemarahan eksistensi yang mengerikan ini, Master Qin segera membungkuk dalam-dalam.
"Tuan, mengukur cairan dewa ini dengan mata uang fana adalah sebuah penghinaan. Tapi jika harus dinilai, satu tetesnya berharga setidaknya lima puluh miliar rupiah di pasar gelap. Namun..." Master Qin menelan ludah, "Malam ini, Paviliun Baicao akan mengadakan Lelang Agung Tahunan."
Master Qin melanjutkan dengan nada penuh hormat, "Seluruh petinggi dari Empat Keluarga Besar provinsi, serta utusan dari beberapa Sekte Tersembunyi, akan hadir. Jika Tuan bersedia melelangnya malam ini, saya berani menjamin harganya akan menembus ratusan miliar, bahkan mereka akan rela menukarnya dengan pusaka atau herbal langka yang Tuan inginkan."
Arya sedikit menyipitkan matanya. Uang memang penting, tetapi di atas segalanya, ia membutuhkan herbal dengan energi spiritual murni dan batu giok tingkat tinggi untuk membangun Array Pengumpul Roh yang sejati. Lelang ini adalah kesempatan sempurna.
"Baik. Masukkan ketiga tetes ini ke dalam daftar lelang utamamu," putus Arya.
"Terima kasih atas kepercayaannya, Tuan!" Master Qin segera merogoh sakunya dengan tangan bergetar, mengeluarkan sebuah kartu pipih berwarna hitam legam bertatahkan ukiran naga emas. "Ini adalah Kartu VIP Hitam Tertinggi Paviliun Baicao. Dengan kartu ini, Tuan bisa mengakses ruangan VIP Nomor 1 di lelang malam ini, dan seluruh pembelanjaan Tuan hingga sepuluh miliar pertama akan ditanggung oleh Paviliun kami sebagai tanda penghormatan."
Arya mengambil kartu itu tanpa mengucapkan terima kasih, bangkit berdiri, dan berbalik menuju pintu. Di Alam Atas, sebuah sekte besar bahkan rela memberikan seluruh kekayaan perbendaharaan mereka hanya demi satu senyuman dari Lin Tian. Kartu hitam fana ini bukanlah apa-apa.
"Siapkan lelangnya dengan baik," ucap Arya dingin sebelum menghilang di balik pintu kayu mahoni.
Baru setelah Arya benar-benar pergi, Master Qin berani menghembuskan napas yang sedari tadi ditahannya. Punggung bajunya telah basah oleh keringat dingin.
Tiba-tiba, pintu ruangan VIP terbuka dengan kasar. Seorang pria paruh baya dengan aura membunuh yang tajam melangkah masuk, menggendong seorang lelaki tua renta yang wajahnya sepucat mayat, bernapas tersengal-sengal di ambang kematian.
"Master Qin!" teriak pria paruh baya itu dengan panik. "Jantung Ayahku mulai berhenti! Mana Akar Teratai Salju berusia tiga ratus tahun yang kau janjikan?! Keluargaku bersedia membayar berapa pun!"
Master Qin menatap lelaki tua yang sekarat itu, lalu melirik ke arah botol kaca kecil berisi cairan hijau milik Arya. Senyum yang sulit diartikan terbentuk di wajah sang Master Alkemis. Malam ini... lelangan ini akan menjadi arena pertumpahan darah.