Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Tepat pukul tiga dini hari, suasana pondok pesantren masih diselimuti kegelapan yang pekat dan udara dingin yang menusuk tulang.
Di Kamar Pengabdian, sebuah ketukan pintu yang ritmis dan tegas terdengar memecah keheningan.
Tok! Tok! Tok!
Ustaz Damar, yang memang sudah terbiasa
dengan ritme ibadah sepertiga malam, saat itu sudah rapi dengan baju koko, sarung, dan pecinya.
Beliau bahkan sudah selesai mengambil air wudu sejak beberapa menit lalu.
Namun, pemandangan berbeda terlihat di atas dua kasur busa lainnya.
Adrian dan Bryan masih tampak tertidur pulas. Adrian meringkuk di balik selimutnya di pojok dinding, sementara Bryan yang bertubuh kekar terlentang dengan napas yang teratur.
Kelelahan fisik setelah beberapa hari di rumah sakit dan perjalanan jauh membuat keduanya benar-benar terlelap seperti tidak mendengar ketukan pintu.
Ceklek!
Pintu kamar yang tidak dikunci itu terbuka perlahan.
Sosok Abah berdiri di ambang pintu, memegang sebuah gayung kecil berisi air dingin khas pegunungan pesantren.
Melihat dua calon santrinya masih terbuai mimpi, Abah melangkah mendekat tanpa suara.
Byuur! Byuur!
Cipratan air dingin yang dicipratkan dengan tegas oleh Abah langsung mengenai wajah Adrian dan Bryan.
"Astagfirullah!" pekik Adrian, langsung terduduk tegak dengan mata membelalak kaget.
Jantungnya berdegup kencang karena sensasi dingin yang mendadak menyerang wajahnya.
Bryan pun tak kalah terkejut.
Sebagai mantan pengawal, instingnya sempat membuatnya waspada, namun begitu melihat sosok Abah yang berdiri di hadapan mereka dengan wajah berwibawa, Bryan langsung menurunkan ketegangannya dan menunduk hormat.
"Waktunya menghadap Allah. Lekas bersuci dan menuju masjid," ucap Abah tenang namun penuh penekanan, lalu berbalik meninggalkan kamar.
Ustaz Damar hanya melirik kedua pria itu dengan senyum tipis yang sarat akan sindiran, sebelum akhirnya melangkah lebih dulu menuju masjid pondok.
Dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya, Adrian dan Bryan bergegas bangkit.
Bryan langsung menyambar handuknya dan berlari menuju kamar mandi luar untuk mandi dan mengambil wudu.
Sementara itu, Adrian berdiri memandangi tangan kanannya yang masih terbungkus perban putih tebal akibat luka jahitan.
Dokter melarang keras perban itu terkena air agar tidak infeksi.
Mengingat kondisi darurat tersebut, Adrian melangkah mendekati tembok kamar yang bersih dan kering.
Ia menempelkan kedua telapak tangannya ke dinding kayu, meniupnya perlahan, lalu mengusapkannya ke wajah, dilanjutkan dengan mengusap punggung tangan kirinya menggunakan tangan kanan dengan sangat hati-hati.
Adrian melakukan tayamum sebagai pengganti wudunya pagi itu.
Meskipun tubuhnya menggigil dan hatinya masih kaget, ia memaksakan diri untuk segera bersiap, tidak ingin dicap sebagai lelaki pengecut di hari pertamanya.
Langkah kaki mereka bertiga menggema di lantai marmer masjid yang dingin.
Suasana pondok begitu khusyuk, hanya terdengar suara sayup-sayup lantunan ayat suci dari para santri yang sudah lebih dulu tiba.
Begitu sampai di area saf pria, Adrian segera mengambil posisi. Namun, matanya tidak bisa ia kendalikan.
Pandangannya secara alami tertuju ke arah saf wanita yang dibatasi oleh tirai tipis.
Di sana, di barisan depan, ia melihat sosok Fatma yang sedang duduk bersimpuh, mengenakan mukena putih bersih yang kontras dengan wajahnya yang masih tampak pucat namun bercahaya.
Fatma sedang duduk tenang di samping Umi, jemarinya memutar tasbih dengan khusyuk.
Jantung Adrian berdegup kencang, lebih kencang daripada saat ia dulu pertama kali melihat Fatma di pesta pernikahan mereka.
Ada ketenangan dan kedamaian yang terpancar dari diri Fatma—sesuatu yang selama ini berusaha ia renggut paksa, namun kini justru tampak sangat indah saat wanita itu berserah diri kepada Rabb-nya. Adrian terpaku, matanya seolah terkunci pada sosok Fatma yang terlihat sangat anggun dalam balutan mukena.
"Ayo, salat Tahajud dulu, Bos. Jangan melamun terus, nanti salatnya tidak khusyuk," bisik Bryan dengan nada datar namun sarkastis.
Bryan, yang berdiri tepat di samping Adrian, menyadari ke mana arah pandangan mantan bosnya itu.
Bagi Bryan, ini bukan saatnya untuk memuaskan mata, melainkan saatnya untuk memantapkan niat.
Adrian tersentak, ia segera memalingkan wajah dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Iya, iya," gumamnya pelan.
Ia mencoba mengatur napasnya yang tak beraturan.
Di bawah cahaya lampu masjid yang temaram, Adrian mulai menyadari bahwa kecantikan Fatma saat ini bukanlah kecantikan yang bisa ia miliki dengan harta atau paksaan, melainkan kecantikan iman yang justru membuatnya merasa semakin rendah diri.
Di sisi lain, Ustaz Damar yang berada di saf paling depan hanya berdiri tegak dengan tenang.
Beliau tidak menoleh ke belakang, namun hatinya pun tidak kalah bergetar.
Beliau tahu benar apa yang dirasakan Adrian, karena beliau pun tengah berjuang melawan hatinya sendiri agar tetap fokus menghadap Allah, alih-alih terdistraksi oleh keberadaan Fatma yang sangat ia cintai di saf wanita.
Masjid itu pun menjadi saksi bisu awal perjuangan mereka bertiga dalam menundukkan ego masing-masing di bawah cahaya Tahajud yang penuh rahmat.
Salat Tahajud dua rakaat telah selesai dilaksanakan dengan khusyuk.
Kini, suasana masjid beralih menjadi sesi murajaah dan tadarus sambil menanti masuknya waktu salat Subuh.
Para santri sibuk dengan mushaf masing-masing, melantunkan ayat-ayat suci yang memenuhi penjuru ruangan dengan harmoni yang menenangkan.
Tiba-tiba, Abah yang sedang duduk di kursi kecilnya memanggil dengan suara yang cukup tegas.
"Adrian, mendekatlah kemari."
Adrian yang sedang duduk bersila segera bangkit.
Dengan langkah sedikit ragu, ia mendekati Abah. Ia merasa keringat dingin mulai membasahi dahinya, terlebih saat menyadari puluhan pasang mata santri kini tertuju padanya.
"Bacalah satu surah dari Al-Qur'an," perintah Abah sembari menyodorkan sebuah mushaf yang terbuka.
Adrian menatap huruf-huruf Arab di depannya dengan perasaan panik.
Selama ini, hidupnya jauh dari sentuhan agama. Ia terbiasa berkutat dengan laporan keuangan, kontrak bisnis, dan rapat direksi, bukan tajwid atau makhorijul huruf. Ia membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali, tampak benar-benar tidak tahu harus membaca apa.
Dengan suara yang nyaris berbisik dan raut wajah penuh kepasrahan, ia berkata, "Abah... mohon maaf. Jujur saja, saya hanya hafal Qulhuwallahu ahad (Surah Al-Ikhlas)."
Suasana masjid yang tadinya khusyuk seketika berubah menjadi riuh rendah.
Para santri yang mendengar jawaban polos nan jujur dari Adrian tidak mampu menahan tawa mereka.
Suara tawa pecah dari berbagai sudut masjid, menggema hingga ke saf wanita.
"Hahaha, serius itu, Bos?" celetuk salah satu santri muda di saf belakang yang tidak bisa menahan geli.
Bryan yang duduk di saf pria bahkan harus menutup mulutnya kuat-kuat dengan tangan agar tidak ikut tertawa.
Bahkan di balik tirai saf wanita, terdengar samar suara kekehan santriwati yang mendengar jawaban lugu tersebut.
Adrian hanya bisa menunduk dalam-dalam, wajahnya merah padam karena malu.
Di hadapannya, Abah terdiam sejenak. Bahu beliau tampak berguncang hebat karena berusaha keras menahan tawa yang hampir meledak.
Beliau terbatuk pelan, mencoba menetralkan ekspresinya agar tetap terlihat berwibawa di depan santri-santrinya.
"Ya sudah," ujar Abah dengan suara yang masih agak tertahan karena menahan tawa.
"Kalau begitu, baca Qulhu itu dengan tartil. Mari kita dengarkan seberapa 'ikhlas' kamu membacanya di hadapan Allah."
Adrian menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
Ia mulai melafalkan surah Al-Ikhlas dengan terbata-bata, menyadari bahwa perjalanan pertobatannya di pondok ini memang benar-benar harus dimulai dari nol besar.
Abah menyimak dengan saksama setiap patahan kata yang keluar dari bibir Adrian.
Meskipun terbata-bata dan napasnya pendek-pendek, ada kesungguhan yang terlihat dari sorot mata pria yang sedang menunduk itu.
"Berhenti di situ, Adrian," potong Abah lembut saat Adrian keliru melafalkan hukum tajwid pada ayat terakhir.
"Pada kalimat 'walam yakul lahū', huruf nun sukun bertemu lam, jadi harus dimasukkan tanpa mendengung. Jangan dibaca 'lam yukun lahū'. Coba ulangi."
Adrian menelan salivanya ,lalu mencoba membetulkan bacaannya sesuai tuntunan Abah. Setelah selesai, Abah mengangguk pelan.
"Ya, tidak apa-apa. Lebih baik jujur dan mau belajar daripada pura-pura bisa. Sekarang, kembali ke safmu." Adrian bernapas lega, meski wajahnya masih menyisakan rona merah akibat tawa para santri tadi.
"Bryan, sekarang giliranmu. Maju," panggil Abah kemudian.
Bryan bangkit berdiri dengan tegap. Tanpa ragu, ia melangkah maju dan duduk bersimpuh di hadapan Abah.
Saat Abah memintanya membuka mushaf, Bryan menarik napas dalam, lalu mulai melantunkan Surah Al-Baqarah ayat 25 sampai 27.
Suara Bryan terdengar berat, tegas, dan stabil. Meskipun tidak seindah qari profesional, bacaannya sangat lancar dan makhrajnya tertata dengan baik—warisan dari kedisiplinan masa kecilnya yang sempat mengaji sebelum kerasnya dunia membentuknya menjadi seorang pengawal pribadi.
Adrian yang melihat dari safnya hanya bisa melongo, tidak menyangka mantan anak buahnya memiliki kemampuan mengaji yang jauh di atas dirinya.
"Bagus, pertahankan dan pelajari lagi hukum mad-nya," puji Abah yang membuat Bryan mengangguk takzim lalu kembali ke tempatnya.
Terakhir, pandangan Abah beralih ke saf paling depan.
"Damar, silakan."
Ustaz Damar maju tanpa perlu membawa mushaf.
Beliau duduk dengan punggung tegap namun kepala merunduk penuh rasa hormat.
Begitu beliau mulai membuka suara, suasana masjid mendadak berubah menjadi sangat syahdu.
Ustaz Damar sangat fasih dalam membaca rangkaian ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan irama nahawand yang mendayu namun penuh wibawa.
Setiap hukum tajwid, panjang pendeknya ketukan, hingga getaran makhorijul hurufnya terdengar begitu sempurna dan meresap ke dalam dada siapa pun yang mendengarnya.
Lantunan suaranya yang merdu bergema indah di setiap sudut masjid pondok.
Di balik tirai pembatas, Fatma mendengarkan lantunan itu dengan jemari yang mendadak berhenti memutar tasbih.
Jantungnya berdesir kelantang. Ia sangat mengenali suara itu—suara guru yang selama ini membimbingnya, namun kini suara itu terdengar membawa getaran perasaan berbeda setelah pengakuan jujur di rumah sakit beberapa hari lalu.
Sementara itu, Adrian hanya bisa mengepalkan tangan kirinya di atas lutut.
Ia merasa kian kerdil dan tertinggal jauh di garis awal persaingan ini.
Jarum jam di dinding masjid telah menunjukkan pukul setengah lima pagi.
Waktu fajar telah masuk, memutus keheningan malam dan menggantinya dengan semburat cahaya biru di ufuk timur.
Abah menutup mushafnya, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Pandangan sepuh itu kembali tertuju pada Adrian yang masih duduk termenung di saf belakang.
"Adrian, kemarilah. Berdiri di depan mikrofon, kumandangkan azan Subuh," perintah Abah, mengejutkan seisi masjid untuk kesekian kalinya.
Mendengar perintah itu, Ustaz Damar langsung menoleh cepat.
Beliau merasa khawatir jika kesucian panggilan salat ini terganggu oleh ketidakfasihan Adrian.
"Saya saja, Abah. Biar saya yang mengumandangkan azan agar irama dan makhrajnya terjaga," tawar Ustaz Damar dengan sopan namun sarat akan nada meremehkan kemampuan Adrian.
Mendengar tawaran Ustaz Damar, ego Adrian seketika tersulut.
Ia tidak mau terus-menerus terlihat lemah dan menjadi bahan tertawaan di depan Fatma.
Dengan tatapan mata yang mendadak tajam, ia membalas tatapan Ustaz Damar.
"Aku bisa," ucap Adrian tegas.
Laki-laki itu bangkit berdiri dengan sisa-sisa harga dirinya.
Dengan langkah mantap walau tangan kanannya masih terikat perban, ia berjalan maju ke depan mimbar, mendekati mikrofon perak yang terpasang di pilar masjid.
Adrian menarik napasnya dalam-dalam, mencoba mengingat-ingat nada azan yang sering ia dengar lamat-lamat dari jendela kantor mewahnya dulu.
Ia menempelkan telapak tangan kirinya ke telinga, lalu mulai membuka suara.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar..."
Suara Adrian menggema membelah kesunyian subuh pesantren.
Suaranya tidak selancar Ustaz Damar, nadanya terdengar sedikit kaku, bahkan ada getaran gugup yang sangat kentara di awal kalimat.
Namun, di balik kekandasan tekniknya, ada ketulusan dan kepasrahan yang mendalam dari seorang pendosa yang sedang mengetuk pintu ampunan Tuhannya.
Di balik tirai pembatas saf wanita, Fatma yang mendengarnya langsung mematung.
Jemarinya yang tengah memegang mukena seketika lemas.
Air matanya menetes tanpa bisa dibendung lagi.
Fatma sangat mengenali suara itu—suara yang biasanya dipenuhi keangkuhan, bentakan, dan makian yang memporak-porandakan batinnya selama ini. Namun subuh ini, suara yang sama tengah mengagungkan nama Allah dengan nada yang begitu bergetar dan penuh penyesalan.
Dada Fatma bergemuruh hebat; ada rasa tidak percaya, haru, sekaligus sisa-sisa trauma yang berbaur menjadi satu mendengar mantan suaminya melantunkan panggilan suci tersebut.