NovelToon NovelToon
Cerai Dulu, Aku Mau Pulang Warisi Triliunan

Cerai Dulu, Aku Mau Pulang Warisi Triliunan

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:487.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kartika

**Tiga tahun Arunika mengorbankan segalanya demi cinta—memutus hubungan dengan keluarga konglomeratnya sendiri demi menikahi Damar Notonegoro, pria dingin yang tak pernah benar-benar melihatnya.**

Sampai di pesta ulang tahun sang Eyang, ipar yang sedang hamil terjatuh ke kolam, dan Arunika dituduh sebagai pelakunya. Di depan seluruh keluarga besar, ia dipaksa bersimpuh minta maaf, dihina, dibiarkan berlutut semalaman di tengah hujan—dan Damar, suaminya, tak sedikit pun membelanya.

Malam itu Arunika berhenti menangis. *"Aku mau cerai. Tidak sepeser pun harta Notonegoro yang kuminta."*

Yang tak mereka tahu: perempuan yang mereka injak-injak ini adalah **putri Keluarga Prawira**—pewaris kerajaan bisnis triliunan. Dan ia pulang bukan untuk menyerah, melainkan untuk membalas semuanya.

Saat ia bangkit sebagai direktur Semesta Group, saat seluruh Jakarta menyadari siapa dirinya sebenarnya, satu per satu yang dulu meremehkannya mulai tersedak ludah sendiri. Bahkan Damar—mantan suami yang dulu begitu dingin—kini berlutut memohon rujuk.

Tapi terlambat. Karena kini ada **Mahesa Adiwangsa**, konglomerat muda paling berkuasa di kota ini, yang setiap hari mengirim mawar untuknya, yang berani berkata di depan semua orang:

*"Aku pilih kamu. Dan anakmu."*

Antara mantan suami yang menyesal dan pria yang mencintainya tanpa syarat, antara masa lalu yang ingin menyeretnya kembali dan masa depan yang menjanjikan dunia—

**Pilihan Arunika tak pernah goyah. Pertanyaannya: beranikah Notonegoro menanggung akibat telah melepaskan perempuan seperti dia?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

# Bab 31

## Dua Keluarga Berseteru

Tiga hari setelah Arunika kembali ke Jakarta, kopi di ruang rapat Semesta diganti menjadi teh jahe.

Tari tidak bertanya terlalu banyak. Ia hanya melihat Bu Arunika dua kali menutup hidung saat staf pantry membawa baki, lalu diam-diam mengubah pesanan minuman untuk seluruh ruangan agar tidak terlihat seperti perlakuan khusus.

"Terima kasih," kata Arunika saat gelas teh hangat diletakkan di depannya.

"Saya kira cuaca Jakarta sedang tidak bersahabat," jawab Tari datar.

Arunika menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil. Mereka sama-sama tahu alasan itu terlalu rapi. Namun pagi itu ada hal yang lebih mendesak daripada rasa mual singkat yang datang dan pergi seperti tamu tidak diundang.

Di layar ruang rapat, tiga laporan merah menyala.

Pertama, pemasok baja untuk proyek gudang pelabuhan tiba-tiba meminta peninjauan ulang harga, padahal kontrak baru ditandatangani dua minggu lalu. Kedua, bank yang biasanya cepat mencairkan fasilitas kredit operasional Semesta meminta dokumen tambahan dengan alasan pemeriksaan risiko. Ketiga, mitra distribusi di Cikarang menunda pengiriman karena ada "arahan internal" yang tidak berani mereka jelaskan secara tertulis.

Tiga hambatan itu muncul dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam.

Tari berdiri di samping layar. "Polanya terlalu bersih untuk disebut kebetulan."

"Notonegoro?" tanya salah satu manajer.

Arunika tidak langsung menjawab. Ia membaca ulang daftar nama perusahaan, bank, pejabat internal, dan konsultan yang tercatat di sisi kanan layar. Ada beberapa nama yang pernah ia lihat di laporan Pradana Media, beberapa lagi muncul dalam map lama Bramantyo tentang jalur bisnis Eyang Hardjo.

"Bukan Notonegoro secara resmi," katanya akhirnya. "Mereka tidak akan sebodoh itu."

Ruangan hening.

"Tapi jejaknya ada," lanjut Arunika. "Pemasok baja itu punya komisaris yang pernah duduk di yayasan keluarga Hardjo. Bank meminta dokumen tambahan setelah rapat dengan konsultan risiko yang sering dipakai Notonegoro Corp. Mitra Cikarang mendapat tekanan dari klien besar yang kontraknya bergantung pada proyek Damar."

Seorang direktur operasional mengusap pelipis. "Kalau semua jalur ini tertahan bersamaan, proyek kita bisa terlambat. Denda keterlambatan akan besar."

"Maka jangan biarkan mereka menentukan jam kita," kata Arunika.

Ia mengambil spidol dan berdiri. Geraknya tenang, meski tubuhnya terasa lebih cepat lelah daripada biasanya. Di papan putih, ia menulis tiga kolom: pasokan, dana, distribusi.

"Untuk baja, aktifkan pemasok cadangan dari Surabaya. Jangan tawar-menawar lewat telepon. Kirim surat resmi dan minta harga tetap berdasarkan volume tambahan Prawira."

Manajer operasional mengangkat wajah. "Volume tambahan?"

"Gudang pelabuhan bukan satu-satunya proyek kita. Semesta punya renovasi fasilitas di Gresik yang jadwalnya bisa dimajukan. Gabungkan kebutuhan. Kalau pemasok Jakarta ingin bermain harga, kita pindahkan keuntungan ke pemasok yang tahu cara menghormati kontrak."

Tari mencatat cepat.

"Untuk bank, jangan menunggu mereka selesai bermain takut," lanjut Arunika. "Kirim dokumen tambahan hari ini, lengkap dengan surat bahwa permintaan mendadak mereka akan dicatat dalam evaluasi hubungan kerja Semesta. Sementara itu, tarik sebagian dana jangka pendek dari rekening cadangan Prawira Jakarta. Bukan untuk dipakai semua, cukup untuk membuat bank tahu kita tidak sedang mengemis."

Seseorang di ujung meja tersenyum, tertahan.

Arunika menunjuk kolom ketiga. "Untuk distribusi, jangan marahi mitra Cikarang. Mereka hanya takut. Beri mereka pilihan aman: kirim sesuai kontrak, atau tulis alasan penundaan dalam surat resmi. Kalau mereka tidak berani menulis, kita pakai jalur Bekasi dan potong volume mereka bulan depan."

"Bu Arunika," kata manajer hukum, "itu akan terlihat seperti kita siap perang."

"Memang."

Satu kata itu membuat ruangan berhenti bernapas sejenak.

Arunika meletakkan spidol. "Tapi perang bisnis tidak dimenangkan dengan berteriak. Kita kirim surat, angka, jadwal, dan pilihan. Biarkan pihak lain yang tampak panik."

Di Menara Notonegoro, pada sore yang sama, Damar membaca laporan yang dikirim Bayu dengan dahi berkerut.

Semesta tidak goyah.

Pemasok baja yang semula diperkirakan akan menekan harga justru menghubungi Notonegoro Corp untuk meminta kepastian apakah hubungan mereka dengan Notonegoro akan tetap aman jika Semesta memindahkan volume besar ke Surabaya. Bank yang diminta memperlambat proses mulai khawatir kehilangan rekening korporat Prawira. Mitra Cikarang, karena takut diminta menulis alasan penundaan, akhirnya mengirim barang sesuai jadwal malam itu juga.

Damar menutup map.

"Siapa yang memberi arahan ini?" tanyanya.

Bayu ragu. "Ada beberapa jalur lama keluarga, Pak. Saya belum bisa memastikan semuanya."

"Jangan pura-pura tidak tahu."

Bayu menunduk. "Kemungkinan dari Eyang."

Damar berdiri, berjalan ke jendela. Jakarta di bawah sana terlihat padat, sibuk, tidak peduli pada orang-orang yang saling menekan dari balik ruang rapat mewah.

Ia seharusnya merasa lega bila Semesta terpojok. Dengan begitu, Arunika mungkin akan datang ke meja perundingan. Itu logika lama, logika yang dulu diajarkan keluarga kepadanya sejak kecil: tekanan menciptakan pilihan.

Namun yang muncul di dadanya bukan lega.

Yang muncul justru ingatan tentang Arunika di restoran, duduk tegak, berkata bahwa ia tidak membutuhkan kompensasi dari luka yang pernah ia derita.

Ponselnya bergetar.

Nama Eyang Hardjo muncul.

Damar mengangkat. "Eyang."

"Kamu sudah lihat laporan?"

"Sudah."

"Dia cepat," kata Eyang. Nadanya tidak memuji, tetapi juga tidak bisa menyembunyikan pengakuan.

"Karena dia memang memimpin Semesta, bukan hanya memakai nama Prawira."

Di seberang, ada jeda pendek.

"Kamu mulai bicara seperti orang luar, Damar."

Damar memejamkan mata. "Kalau rujuk yang Eyang inginkan, cara ini tidak akan membuatnya kembali."

"Kamu masih berpikir ini tentang membujuk istrimu?"

Kata istrimu membuat Damar membuka mata. Di kaca jendela, wajahnya sendiri tampak lebih lelah daripada yang ia inginkan.

"Dia bukan istri saya lagi."

Kalimat itu keluar pelan, seperti seseorang yang baru belajar membaca keputusan hukum setelah terlambat memahami maknanya.

Eyang tertawa dingin. "Kalau begitu, ingatlah bahwa dia sekarang berdiri di sisi keluarga yang bisa menjadi lawan. Pasar harus tahu Notonegoro tidak bisa dipermalukan tanpa akibat."

"Pasar juga akan tahu kalau kita menyerang terlalu jelas."

"Maka jangan jelas."

Sambungan terputus.

Damar tetap berdiri di depan jendela. Di tangannya, map laporan Semesta terasa terlalu tipis untuk menahan sesuatu yang sudah mulai runtuh dari dalam dirinya sendiri.

Keesokan harinya, Arunika menerima ringkasan pergerakan Notonegoro dari Tari sebelum makan siang.

"Mereka mundur dari tiga titik awal," kata Tari. "Tapi ada indikasi mereka menekan dua penyedia acara dan satu asosiasi industri."

Arunika mengangkat alis. "Acara?"

Tari meletakkan undangan berwarna krem di meja. "Malam penghargaan Asosiasi Properti dan Infrastruktur Jakarta. Semesta masuk daftar penerima apresiasi untuk proyek pelabuhan. Undangan sudah dikirim sejak bulan lalu, tetapi baru pagi ini panitia meminta konfirmasi ulang kursi dan daftar pendamping."

Arunika membaca nama acara itu. Industri, kamera, pengusaha, pejabat, media bisnis. Tempat yang sempurna untuk membuat orang tersenyum sambil menusuk.

"Siapa saja yang hadir?"

"Notonegoro Corp, Yayasan Wirahadi, Pradana Media, beberapa bank, dan Mahesa Arsenio."

Nama terakhir membuat jari Arunika berhenti sesaat di tepi kertas.

Mahesa.

Ia tidak mengatakan apa pun tentang itu.

"Kita hadir," kata Arunika.

Tari tidak terlihat terkejut. "Saya siapkan tim?"

"Tim kecil. Jangan terlihat seperti sedang takut."

"Baik."

Setelah Tari keluar, Arunika membuka pesan dari Sekar yang masuk sejak pagi: Jangan terlalu keras kepala. Kalau butuh orang untuk menampar secara sosial, aku punya sepatu yang cocok.

Arunika tertawa pelan. Rasa mual pagi itu sudah hilang, berganti lelah halus di punggung. Ia mengetik balasan pendek, lalu menyandarkan diri sesaat.

Di tempat lain, di sebuah salon privat di Kebayoran, Renata duduk di depan cermin sambil memperhatikan Vanya menelusuri daftar tamu malam penghargaan.

"Dia konfirmasi hadir," kata Vanya.

Renata menyentuh perutnya yang mulai tampak, lalu tersenyum lembut kepada bayangannya sendiri. Senyum itu akan terlihat anggun di depan kamera mana pun.

"Bagus," katanya. "Orang-orang sudah terlalu banyak memuji putri Prawira."

Vanya mencondongkan tubuh. "Kita pakai isu Damar?"

"Tidak langsung." Renata mengambil lipstik dari meja. "Perempuan seperti Arunika sulit diserang kalau kita terlihat menyerang. Biarkan dia berdiri di ruangan penuh orang yang pernah mendengar ceritanya. Lalu kita buat semua orang bertanya, apakah dia benar-benar korban, atau hanya perempuan yang pandai mengganti nama keluarga saat keadaan menguntungkan."

Vanya tertawa kecil. "Malam itu akan ramai."

Renata mengoleskan warna merah tipis di bibirnya.

"Ramai," ulangnya. "Dan kali ini, dia tidak akan punya ruang rapat untuk bersembunyi di balik angka."

1
Jetva
Hmmm....kenapa semua jd bisu Thooor...😔😔...
Jetva
Keluarga Notonegoro ga pux empedu...👹..benar" iblis...
Jetva
Notonegoro benar" ga tau malu...
Jetva
KELUARGA NOTONEGORO SAKIT JIWA...SDH CERAI BERARTI TINGGAL TANGGUNGJAWAB NAFKAH ..BUKAN MENGATUR KEHIDUPAN ANAK YG BAHKAN BARU BERUPA JANIN🤣🤣🤣SUNGGUH LUCU KELUARGA INI🤣🤣🤣APA KABAR RENATA YG LAGI BUNTING...🤔🤔🤔
Ervin Bata
jangan terlalu berputar-putar 🙏
Nany Susilowati
emang di ballroom kelihatan panggungnya../Shame/
Fauziah
terlambat menyesalkan
awesome moment
yaaccchhhh...hamidun dwh
awesome moment
notonegoro yg songong
awesome moment
udh jelas skrg. notonegoro tua tau prawira punya anak perempuan. tp g tau bhw tu nika. damar married sm nika yg diqra anak ART prawira. g pake nama blakang c. krn nikah kabur, nikah pake wali hakim. bintinya ttp prawira tp kn prawira buanyak. nama nika g bawa p pun. lari dri rumah. jd lengkip keoonan notonegoro
Noneng Gula: ohh gitu tohh
total 1 replies
awesome moment
rada g konsisten sm judulnya. anggap j bhw damar mengira nika adalah anak pembokat kelg prawira. jd dia hnya nunggu di luar rumah, nika g pake nama belakangnya, nikah tanpa restu tanpa nama kelg jd notonegoro anggap sbg asal usul g jelas. tp...jwaban bram jd g masuk akal. notonegoro tau asal nika tp msh merendahkan nika. jd makin mlencemg dri judul dunk
awesome moment
damar lupa ato brusaha lupa bhw nika anak konglomerat. tp...bisa jd krn nika milih damar jd damar ngerasa nika udh dibuang.
awesome moment
balik ke jakarta lg😄😄😄
awesome moment
😄😄😄laki2 sll syuka perempuan yg lemah dan lembut pdhl...manipulatif
awesome moment
mulai nyesel g n
awesome moment
nika pelampiasan nepsong damar g n,
awesome moment
perempuan mmg kdg jd oon krn cinta
mommy
terlalu dibuat dramatisir
Han Han
vany kalis hukum😂😂😂
Han Han
sibuk proses hukum tapi tiada yg dihukum😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!