Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 021
Kho Yanting mengirim pesan tepat pukul lima sore.
`Portofoliomu sudah saya baca. Kalau kamu punya waktu, saya ingin berdiskusi langsung. Pacific Place, jam tujuh?`
Meiran membaca pesan itu di dalam mobil, dalam perjalanan keluar dari kampus. Di luar jendela, lalu lintas SCBD mulai padat. Lampu-lampu gedung menyala satu per satu, memantul di kaca mobil seperti garis emas yang terlalu rapi.
Sari duduk di kursi depan, masih membaca dokumen Lim Group di tablet.
"Bu Lim, jadwal malam ini kosong setelah pukul enam tiga puluh."
Meiran menatap pesan Yanting.
"Kosongkan tetap kosong. Aku ada makan malam singkat."
Sari menoleh sedikit. "Dengan Pak Kho?"
"Kamu membaca layar ponselku?"
"Tidak. Saya membaca pola."
Meiran hampir tertawa. "Kamu belajar dari orang yang salah."
Pacific Place tidak jauh dari kampus, tetapi suasananya seperti dunia lain. Restoran di lantai atas dipenuhi lampu hangat, suara sendok menyentuh piring, dan percakapan pelan orang-orang yang terbiasa berbicara sambil menghitung nilai proyek.
Yanting sudah menunggu di meja dekat jendela.
Ia berdiri ketika Meiran datang. Tidak terlalu cepat, tidak berlebihan. Jasnya abu-abu gelap, kacamatanya menangkap pantulan lampu kota.
"Meiran."
"Ko Yanting."
"Terima kasih sudah datang."
"Aku penasaran dengan diskusi materialmu."
Yanting tersenyum. "Aku memang ingin membahas material. Tapi bukan hanya itu."
Meiran duduk.
Pelayan datang membawa menu. Yanting tidak memesan untuknya. Ia hanya merekomendasikan beberapa makanan ringan, lalu membiarkan Meiran memilih sendiri. Detail kecil itu membuat Meiran menaikkan penilaian satu tingkat. Pria yang tahu kapan tidak mengambil keputusan untuk orang lain selalu lebih berbahaya daripada pria yang hanya terlihat sopan.
Mereka membahas portofolio selama dua puluh menit.
Yanting memberi komentar tajam tetapi tidak merendahkan. Ia menyukai riset pengguna Meiran, mengkritik pilihan material, dan menawarkan akses ke perpustakaan digital Kho Group untuk referensi ruang publik.
Semua terdengar profesional.
Sampai ia menutup map.
"Sekarang bagian yang tidak terlalu profesional," katanya.
Meiran meletakkan gelas air. "Aku mendengarkan."
"Aku tertarik padamu."
Kalimat itu datang tanpa musik, tanpa bunga, tanpa jeda dramatis. Justru karena itu, Meiran tidak bisa menertawakannya.
Yanting menatapnya dengan tenang. "Bukan hanya pada desainmu. Pada cara berpikirmu, caramu menangani kritik, dan caramu tetap berdiri saat orang mencoba menarikmu ke drama mereka."
"Kamu cukup cepat mengambil kesimpulan."
"Aku cukup tua untuk tahu kapan seseorang menarik perhatian."
Meiran menatap pemandangan kota di luar jendela.
Di kehidupan sebelumnya, Yanting datang ketika ia sudah terlalu lelah untuk percaya pada niat baik siapa pun. Pria ini menawarkan bantuan, ruang, bahkan kesabaran. Ia tidak pernah memaksa. Justru itu yang membuatnya terasa berbahaya.
"Aku sedang tidak mencari hubungan," kata Meiran.
"Aku tahu."
"Dan hidupku rumit."
"Aku juga tahu."
"Kamu tidak tahu semuanya."
Yanting tersenyum tipis. "Maka izinkan aku mengenalnya pelan-pelan."
Meiran kembali menatapnya.
"Ini bentuk lamaran kerja atau lamaran perasaan?"
"Pernyataan niat." Yanting melipat tangan di atas meja. "Aku ingin mengejarmu dengan cara yang pantas. Kalau kamu menolak, aku akan berhenti. Kalau kamu belum menjawab, aku akan menunggu selama masih diperbolehkan."
Bahaya.
Pria ini tahu kata batas.
Meiran lebih mudah menghadapi Hafeng yang meledak daripada Yanting yang rapi.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Hafeng.
`Besok buku referensi jam yang sama?`
Meiran menatap layar sebentar.
Yanting melihat arah matanya, tetapi tidak mencoba membaca.
"Lo Hafeng?" tanyanya.
Meiran mengangkat alis.
"Aku menebak dari ekspresimu."
"Ekspresiku apa?"
"Seperti seseorang yang baru menerima masalah yang tidak ingin ia akui sebagai masalah."
Kali ini Meiran benar-benar tertawa pelan.
"Kamu berbahaya, Ko Yanting."
"Aku akan menganggap itu pujian."
Meiran membalas pesan Hafeng.
`Jam yang sama. Jangan terlambat.`
Beberapa detik kemudian, Hafeng membalas.
`Aku tidak pernah terlambat.`
Meiran menyimpan ponsel.
Yanting tidak menanyakan isi pesan itu. Ia hanya berkata, "Aku tidak akan memintamu menjawab malam ini."
"Jawabanku mungkin tetap sama."
"Mungkin." Ia mengambil gelasnya. "Tapi aku bukan pria yang takut pada kemungkinan."
Meiran menyandarkan punggung ke kursi. "Kamu tahu aku dekat dengan Hafeng."
"Aku tahu kamu dan dia punya sejarah yang rumit."
"Itu bukan jawaban."
"Jawaban lengkapnya, aku tahu dia sedang berada di sekitarmu. Aku juga tahu Soe Wanyu sedang berusaha mempertahankan tempat lamanya." Yanting menatapnya tenang. "Aku tidak tertarik menjadi pria yang masuk karena perempuan sedang marah pada pria lain."
Meiran diam.
Yanting melanjutkan, "Kalau suatu hari kamu memilihku, aku ingin itu karena kamu melihatku. Bukan karena aku berguna untuk membuat orang lain cemburu."
Kali ini Meiran tidak langsung punya jawaban.
Terlalu banyak pria dalam hidupnya bergerak dengan ego lebih dulu. Hafeng dengan penolakan, Chiko dengan candaan, bahkan beberapa pewaris konglomerat yang pernah ia temui di kehidupan lama dengan rasa memiliki sebelum mengenal. Yanting berbeda. Ia meletakkan batas sebelum Meiran memintanya.
Itu membuatnya lebih sulit dipakai.
Dan lebih layak dihormati.
"Kamu sangat percaya diri," kata Meiran akhirnya.
"Tidak. Aku hanya tidak ingin membuang waktumu dan waktuku dengan permainan murahan."
"Padahal permainan murahan kadang efektif."
"Untuk menarik perhatian, iya. Untuk membuat orang tinggal, tidak."
Meiran menatap pria di depannya lebih lama.
"Kalau aku memberimu izin mengejar, aku tidak menjanjikan apa pun."
"Aku tidak meminta janji."
"Dan aku bisa menghentikannya kapan saja."
"Kamu harus bisa menghentikannya kapan saja."
Jawaban itu tepat.
Meiran mengambil gelasnya. "Baik. Kamu boleh mencoba, Ko Yanting."
Yanting tersenyum, kali ini lebih jelas daripada sebelumnya.
"Terima kasih atas izinnya."
"Jangan berterima kasih terlalu cepat. Aku bukan orang yang mudah didekati."
"Aku sudah menduganya."
Makan malam berakhir tanpa sentuhan tangan, tanpa janji, tanpa drama. Namun ketika Meiran keluar dari restoran, sebuah mobil hitam berhenti di lobi mall.
Sari mengirim pesan.
`Bu Lim, ada foto Anda dengan Pak Kho di grup kampus. Sepertinya diambil dari area restoran.`
Meiran membuka grup.
Foto itu tidak terlalu jelas, tetapi cukup: Yanting berdiri di sampingnya di depan restoran, sedikit menunduk mendengarkan, sementara Meiran tersenyum.
Komentarnya sudah berjalan.
`Kho Yanting beneran ngejar Meiran?`
`Hafeng lihat ini belum?`
`Wanyu baru upload bekal, sekarang Meiran makan malam sama Yanting. Seru.`
Ponsel Meiran kembali bergetar.
Hafeng.
`Kamu masih di luar?`
Meiran menatap layar, lalu tersenyum kecil.
Yanting berdiri di sampingnya. "Sepertinya malam ini tidak akan selesai di sini."
"Sepertinya begitu."
**【Sistem Predator】Variabel rival aktif: Kho Yanting menyatakan niat mengejar Host secara sadar dan terbuka.**
Malam Jakarta tiba-tiba terasa jauh lebih ramai dari biasanya malam ini.
Di layar ponsel, Hafeng mengirim pesan kedua.
`Pulang pakai siapa?`