NovelToon NovelToon
Candu Ragamu

Candu Ragamu

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Dark Romance / Obsesi
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Syela

Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Small Heartbeat

The Hamptons 🇺🇸

Pantai Timur

Mereka memasuki grand foyer mansion tersebut, Denzel dan para asisten lapangan mengikuti di belakang. Ruangan yang megah itu langsung menyambut mereka dengan semburat aroma kayu tua yang identik. Lantai-lantai mengilap bersih, tampak jelas di sana terpantul bayangan lampu gantung kristal perak luster yang menggantung tinggi di langit-langit.

Dindingnya dihiasi dengan lukisan terbentang memanjang pantai timur dari abad ke-19. Di sisi kanan, menjulang tangga spiral dengan pegangan besi berukir, yang mengarah ke lantai atas yang terlihat masih belum selesai direnovasi.

Tepat di tengah area aula, jendela-jendela besar bak membingkai panorama laut biru yang luas, sebuah pemandangan yang seharusnya sungguh menenangkan. Seandainya saja Emily tidak begitu terusik oleh Raphael yang sejak tadi berjalan terlalu dekat di sisinya.

"Helo? Bisakah kau berjalan sedikit menjauh?" bisik Emily tajam tanpa berhenti melangkah, menoleh sekilas padanya. "Aku bisa merasakan tanganmu sengaja menyentuhku, Raphael."

"Dan itu masalah?"

Emily mendengus jengah dan menatapnya sinis sepenuhnya. "Tentu saja masalah! Masalah besar! Aku sudah katakan kalau aku tidak ingin orang mengira aku datang ke sini sebagai wanita simpananmu. Apa kau tidak lihat tatapan mereka saat kau berdiri terlalu dekat denganku?" Tangannya menepis lengan pria itu dengan tegas, mendorong sedikit tubuhnya agar menjauh.

Namun dunia seolah gemar mempermainkan wanita itu. Baru beberapa langkah setelah ia mempercepat langkah demi menjauh dari Raphael, hak stiletto-nya terselip di lantai yang licin. Tubuhnya oleng ke depan. Hampir-hampir ia terjatuh di hadapan Denzel dan para staf jika saja tangan besar Raphael tidak lebih dulu menahan, melingkari pinggang rampingnya dengan cepat dan kuat, menariknya langsung ke dada bidangnya.

Sejenak, dunia di sekeliling mereka bagai membeku. Napas Emily tercekat di tenggorokan ketika dadanya membentur dada bidang Raphael. Jarak di antara mereka terkikis habis, begitu dekat hingga Emily bisa merasakan detak jantung pria itu yang berdegup stabil namun kuat tepat di bawah telapak tangannya yang tanpa sadar mencengkeram kemeja Raphael.

Mendadak, udara di antara mereka terasa begitu berat dan menipis. Aroma maskulin Raphael, yang merupakan perpaduan pekat antara cologne mahal dan aroma tembakau tipis, menyerbu indra penciuman sang wanita. Kontras dengan itu, aroma manis yang lembut dari tubuh Emily merebak perlahan, bagai racikan wewangian alami yang tercipta khusus untuk menggoyahkan konsentrasi pria sekeras Raphael.

Mata mereka bertemu.

Sepasang mata almond milik Emily menatapnya dari jarak yang teramat dekat. Dan untuk pertama kalinya, dalam tatapan tersebut, Raphael melihat sesuatu yang tidak ia pahami—sebuah kilatan emosi yang secepat kilat mendatangkan getaran asing di dalam dadanya.

Getaran itu bukan karena hasrat, sebagaimana yang biasanya ia rasakan tiap kali menatap wanita cantik. Ia tahu betul seluk-beluk gejolak itu, tubuhnya telah mengenal sensasi fisik itu ribuan kali sebelumnya bersama wanita lain. Tapi, sensasi yang kali ini menyengatnya sungguh berbeda.

Sepasang mata Emily seolah menyimpan labirin misteri yang menyeret Raphael ke sebuah tempat yang asing. Di balik ketegasan dan dinginnya pandangan wanita itu, terselip sebuah kerapuhan dan rahasia yang seolah memohon untuk dipecahkan. Sebuah kehampaan yang kontradiktif—aneh, namun luar biasa memikat hati akal sehatnya.

Raphael merasa seperti sedang berhadapan dengan refleksi dirinya sendiri, sosok yang tampak kokoh dan tak terkalahkan di hadapan publik, namun sebenarnya begitu hampa di palung jiwa yang paling dalam. Dan untuk sesaat, tepat di detik itu, jantung Raphael berdesir tajam, merasakan sesuatu yang menyerupai kerinduan.

Sebuah kerinduan tanpa nama, yang tiba-tiba membelit dadanya dengan begitu erat dan membuat seluruh tubuhnya yang egois ingin menahan momen kebersamaan itu sedikit lebih lama lagi.

Emily lebih dulu tersadar dari lamunan aneh mereka. Ia menegakkan tubuhnya cepat-cepat, merapikan rambut dan roknya tanpa kentara gugup. Raphael pun ikut meluruskan postur, menyelipkan kedua tangannya ke saku jasnya untuk menutupi kegugupan yang jarang ia alami.

"See?" ujarnya tenang, meski ada guratan senyum nakal di bibirnya. "Jauh dariku hanya membuatmu dalam masalah, Emily. Tak ada salahnya jalan berdampingan. Kau akan lebih aman begitu."

Emily berdecak, memutar bola matanya malas. "Aman dari apa? Yang ada kau akan mengambil kesempatan bila di dekatku."

Raphael tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan senyum miring yang sulit diartikan, kemudian melangkah santai kembali di sisi wanita tersebut. Emily pura-pura tidak memedulikan kehadirannya, tapi pria itu tahu bahwa Emily tidak mengusirnya kali ini. Dan Raphael, entah mengapa, pun rasanya sama sekali tidak ingin diabaikan saat ini.

Selama hampir satu jam, mereka akhirnya telah mengelilingi mansion tersebut. Denzel tampak sangat puas, bahkan di beberapa titik ia berhenti hanya untuk memandangi detail interior yang memang dipilih dan diawasi langsung oleh Emily. Setiap lengkung ukiran, perpaduan warna, dan permainan cahaya tampak sempurna.

"Luar biasa," ujar Denzel akhirnya, tangannya bertepuk kecil. "Saya tidak pernah membayangkan hasil akhirnya akan sesempurna ini. Kalian semua sungguh profesional. Dan aku akui, Nona Cooper... saya berutang banyak pada selera dan kinerja Anda."

Emily hanya tersenyum kecil. "Terima kasih, Tuan Osborn. Kami hanya berusaha menampilkan yang terbaik."

Denzel mengangguk, lantas kemudian menatap keduanya dengan ekspresi berubah sedikit lebih serius. "Saya akui, awalnya saya sempat ragu, mengingat... hmm, beberapa rumor belakangan."

Emily menegakkan tubuhnya. "Rumor?"

"Ah, Anda pasti tahu," Denzel berdeham pelan, mencoba terdengar sopan. "Tentang perusahaan Anda yang kabarnya sedang dipertanyakan integritasnya. Skandal dengan Andrew Paco telah menyeret nama Anda cukup jauh ke ranah publik, Nona Cooper. Dan—"

Ia menatap Emily sejenak, ragu untuk melanjutkan, namun tetap melakukannya, "—ada juga gosip bahwa kesuksesan Anda bukan semata karena kemampuan memimpin, melainkan karena kedekatan Anda dengan beberapa pria berpengaruh, termasuk hubungan intim dengan mereka. Bahwa Anda sengaja memanfaatkan koneksi non-bisnis itu untuk membangun nama perusahaanmu. Terlebih lagi, Anda masih sangat muda untuk menanggung warisan besar dari mendiang ayahmu, bukan begitu?"

Udara di ruangan itu secepat kilat terasa menyesak. Terdiam membisu, Emily merasakan rahangnya mengeras. Sekilas, bayangan marah melintas di matanya. Ia menelan ludah keras-keras, berusaha menahan emosi yang mendidih di dalam dada. Biadab. Bahkan hingga klien besar seperti Denzel pun mendengar kebusukan palsu yang disebar Andrew.

Raphael yang sejak tadi berdiri di sampingnya dan mendengar semua itu, bisa merasakan sesuatu berubah di sorot mata Emily.

"Dengan segala hormat, Denzel," ucapnya seraya tersenyum menelengkan kepala menatap pria di hadapan mereka. "Kita sudah saling mengenal dari lama. Dan aku tahu kau orang yang cerdas. Aku yakin juga kau tahu, tidak semua yang beredar di publik itu benar.”

Raphael melanjutkan. “Skandal murahan itu hanyalah permainan kotor seseorang yang ketakutan kehilangan pamornya. Nona Cooper adalah wanita yang berdedikasi penuh pada pekerjaannya. Ia tahu apa yang dia lakukan, dan—"

Raphael menoleh pada Emily sejenak, bibirnya membentuk lengkungan tipis—"dia melakukannya dengan sempurna."

Denzel mengangkat alis, tapi tidak membantah.

Raphael melanjutkan, berujar penuh yakin dengan suaranya yang lebih tegas. "So, don't worry. It won't affect anything. What you see here is only one of many of her best works. She's brilliant, professional, and far from the nonsense people like to spread." Ia menyunggingkan senyum kecil. "Maybe next time, if you don't mind, you could tell your colleagues in France about what you saw today.. to make sure everyone knows how wrong they were."

Terdiam sejenak Denzel, sebelum akhirnya tertawa pelan. "Kau benar, Raphael. She does seem like the real deal. I'll make sure to tell them."

Terpaku Emily di tempatnya. Hatinya berdebar aneh. Entah itu karena lega, entah itu karena kaget, atau karena sesuatu yang tak bisa ia definisikan. Perasaan tertekan yang sempat menyeretnya karena skandal sialan itu mendadak sirna begitu saja. Seolah ada sesuatu yang menyalakan kembali nyalinya yang dipadamkan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa diakui. Bahwa kerja kerasnya benar-benar divalidasi hasilnya, bukan sekedar bahan cemoohan para pria angkuh yang selama ini meragukan kemampuannya.

Baru disadarinya, sejak tadi tangan Raphael sudah melingkar di pinggangnya, entah sejak kapan. Ia seharusnya menepisnya, tapi entah mengapa tak ia lakukan. Pandangannya terpaku pada wajah pria itu. Ketika ia berbicara tadi, ucapannya terdengar begitu tulus. Atau hanya akal bulus?

Denzel mengulurkan tangan. "Baiklah, aku harus pergi. Helikopter sudah menunggu. Aku minta maaf tak bisa kembali bersama kalian berdua ke kota."

Raphael menyambut tangannya untuk berjabat, bergantian dengan Emily mengangguk sopan. "Tentu, Tuan Osborn. Terima kasih atas kepercayaannya."

1
Mita Paramita
Emily is annoying when she's drunk, but Raphael is busy pouncing on her while she's in that state.🤣🤣🤣
Syelaruzz: 🤭 Yoii
total 1 replies
Mita Paramita
Annoying day for Raphael🤣🤣🤣
Syelaruzz: Wkwkwk always
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Raphael 💪💪💪
Syelaruzz: Hehehe🙏
total 2 replies
Mita Paramita
jelas Emily nolak kn dia suka nya sama reynard 🤣🤣🤣
Syelaruzz: Wkwkwk benar 👍😍
total 1 replies
Mita Paramita
jangan sampai dua saudara ini rebutan Emily 🤣🤣🤣
Syelaruzz: Wkwkwk bau-baunya sih bakal begitu yaaa
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor yang banyak 🤣🤣🤣🔥🔥🔥
Syelaruzz: Wkwk diusahakan terus ya kak..😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Syelaruzz: Iya kak, thank you dukungannyaa
total 1 replies
Mita Paramita
Emily mulai naksir nih sama Raphael 🤣🤣🤣
Syelaruzz: Hmm wait and see 🤭
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪
Emily panik 🤣🤣🤣 tenang aja Raphael udah bucin tuh tinggal Emily aja yang harus terima
Syelaruzz: Panik dia karena udah kemusuhan wkwk
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
😍😍😍
Mita Paramita
Raphael licik nih menjebak Emily 🤣
Syelaruzz: Belum puas dia 🤣
total 1 replies
pinpin
ada udang dibalik batu nih rapael wkwk
Syelaruzz: wkwkwk iyaa nih
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Syelaruzz: 😍 Yoi kak
total 1 replies
Mita Paramita
Ralph lagi curhat nih 🤣🤣🤣
Syelaruzz: Iya nih, gak mood dia hahaha🤣
total 1 replies
Mita Paramita
semangat Emily 💪 Ralph terlalu memaksa kn Emily jadi takut 🤣🤣🤣 lanjut Thor 💪💪💪
Syelaruzz: Wkwk iya nih Raphael mau enaknya doang
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Syelaruzz: Okay😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor semangat nulisnya 🔥🔥🔥 ceritanya bagus
Syelaruzz: Thank you kak semoga betah😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Syelaruzz: 😍💪 siap
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor double up 💪💪💪
Syelaruzz: 😍💪 Thank you kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!