"Lima tahun pengabdianku dibalas dengan pengkhianatan menjijikkan di atas ranjang hotel."
Gaby Fritzyara hancur saat memergoki Gavin, tunangannya, berselingkuh dengan Luna adik kandungnya sendiri. Bukannya dibela, sang Ayah justru membuangnya dan menyebut Gaby sebagai anak tidak berguna.
Namun, badai besar datang menjemputnya. Edgar Emiliano Addison, sang Iblis Korporat sekaligus ayah kandung Gavin, mengulurkan tangan. Bukan untuk menghibur, tapi untuk menjadikannya seorang Ratu.
"Jadilah istriku, Gaby. Mari kita buat mereka merangkak di bawah kakimu."
Kini, Gaby kembali sebagai Nyonya Besar Addison. Ia bukan lagi wanita penurut yang bisa diinjak-injak. Ia kembali untuk melakukan audit berdarah pada hidup Gavin dan menghancurkan masa depan Luna.
Bagi Gaby, tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat mantan tunangannya bersimpuh, mencium tangannya, dan memanggilnya dengan satu sebutan baru: "MAMA."
bukan buku ****-****...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arenna Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU
Malam semakin larut di Paris, namun keindahan kota ini justru baru benar-benar hidup ketika kegelapan telah berkuasa penuh. Setelah momen manis di atas jembatan Pont des Arts, Edgar tidak langsung membawa Gaby kembali ke hotel. Pria matang itu memiliki satu kejutan lagi untuk menutup hari pertama mereka di Paris dengan sempurna.
Maybach hitam mereka berhenti tepat di sebuah dermaga privat di sepanjang tepian Sungai Seine. Di sana, sebuah kapal pesiar mewah berukuran sedang yang telah didekorasi menjadi restoran privat terapung sudah bersiap untuk berlayar. Kapal itu diterangi oleh ratusan lampu kecil kekuningan yang memberikan kesan hangat dan sangat romantis di atas air.
"Kita akan makan malam di atas kapal, Mas?" tanya Gaby, matanya berbinar menatap kapal mewah yang seluruh areanya tampak kosong tanpa ada pengunjung lain.
"Ya, Sayang. Menikmati hidangan Prancis sambil berlayar membelah jantung kota Paris adalah salah satu cara terbaik untuk menutup malam," jawab Edgar lembut. Ia keluar dari mobil terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Gaby turun.
Begitu mereka melangkah ke atas dek kapal, seluruh kru kapal yang mengenakan seragam pelaut formal membungkuk hormat. Manajer restoran terapung itu langsung menyambut mereka dengan senyuman paling ramah.
"Selamat malam, Tuan Besar Edgar, Nyonya Besar Gaby. Suatu kehormatan bagi kami bisa melayani pelayaran privat Anda malam ini. Meja terbaik di bagian dek depan telah kami siapkan," ucap sang manajer dengan takzim.
Edgar menuntun Gaby menuju meja makan bundar yang terletak di area dek terbuka yang dilindungi oleh dinding kaca transparan. Dari posisi ini, mereka bisa melihat pemandangan kastel-kastel tua Paris dan jembatan-jembatan bersejarah yang menyala terang dari jarak yang sangat dekat seiring dengan kapal yang mulai bergerak perlahan membelah arus Sungai Seine.
Atmosfer di dalam dek kaca itu terasa begitu intim. Alunan musik jazz instrumental mengalun lirih dari pengeras suara tersembunyi, berpadu dengan suara kecipak air yang lembut di lambung kapal. Edgar melepas jubah panjangnya, menyisakan sweter rajut hitam kerah tingginya yang semakin menonjolkan bentuk tubuhnya yang atletis dan matang.
Ia duduk berhadapan dengan Gaby, namun tangannya tidak pernah benar-benar menjauh. Edgar meletakkan satu sikutnya di atas meja, menopang dagunya sambil menatap Gaby dengan pandangan mata elang yang tidak pernah beralih sedikit pun sejak mereka duduk.
Gaby yang menyadari tatapan intens suaminya mulai merasa pipinya menghangat. Ia berpura-pura sibuk merapikan serbet kain di pangkuannya untuk menutupi rasa gugup yang mendadak menyerang akibat tatapan "bucin" Edgar yang semakin terang-terangan.
"Mas... kenapa terus menatapku seperti itu?" tanya Gaby akhirnya, memberanikan diri menatap balik sepasang manik mata legam suaminya.
Edgar menyunggingkan senyuman tipis, sebuah senyuman yang sarat akan pesona maskulin yang mematikan. "Aku hanya sedang berpikir, bagaimana bisa aku melewatkan waktu lima tahun dalam hidupku tanpa mengetahui keberadaan wanita secantik dirimu, Gaby."
"Mas Edgar berlebihan," bisik Gaby, menunduk dengan senyuman malu-malu.
"Lima tahun lalu aku hanyalah seorang wanita biasa yang sibuk bekerja di balik meja audit. Tidak ada yang istimewa dari diriku saat itu."
"Kamu salah," potong Edgar, suaranya mengalun berat dan dalam, penuh dengan penekanan yang mutlak. "Kamu selalu istimewa, Gaby. Hanya saja, pria bodoh di masa lalumu itu terlalu buta dan murah untuk menyadari berlian apa yang sedang ia genggam. Dan aku sangat bersyukur atas ketololannya, karena berkat itu, sekarang berlian ini menjadi milikku sepenuhnya."
Edgar mengulurkan tangannya di atas meja, membuka telapak tangannya. Gaby tersenyum manis, lalu meletakkan tangan kecilnya di atas telapak tangan Edgar. Detik itu juga, Edgar langsung menggenggamnya dengan erat, mengusap punggung tangan Gaby yang lembut menggunakan ibu jarinya.
"Mulai sekarang, hilangkan semua pikiran bahwa kau adalah wanita biasa, Gaby," lanjut Edgar, matanya mengunci pandangan Gaby dengan intensitas yang mampu membuat jantung wanita itu berdegup maraton. "Di mataku, di dalam hidupku, dan di dalam seluruh kekaisaran Addison, kau adalah pusatnya. Kau adalah ratuku, dan semua yang kulakukan adalah untuk memastikan kau tetap bersinar di tempat tertinggi."
Mendengar bait demi bait kalimat yang keluar dari bibir Edgar, Gaby merasakan dadanya dipenuhi oleh rasa bahagia yang begitu sesak hingga matanya kembali berkaca-kaca. Perlakuan Edgar yang begitu mendewakannya ini benar-benar menjadi obat penawar terbaik atas semua luka batin yang pernah ia rasakan dulu. Bersama Edgar, ia tidak perlu lagi meminta perhatian, ia tidak perlu lagi mengemis untuk dihargai. Pria matang ini memberikan semuanya secara sukarela, bahkan dalam jumlah yang jauh lebih banyak dari apa yang pernah ia bayangkan.
Hidangan makan malam bergaya fine dining mulai disajikan satu per satu oleh pelayan pribadi. Mulai dari hidangan pembuka berupa foie gras premium dengan saus beri yang manis, hingga hidangan utama berupa lobster thermidor yang dimasak dengan sempurna. Setiap kali hidangan datang, Edgar dengan penuh perhatian memastikan Gaby mencicipi bagian terbaik terlebih dahulu.
Kapal pesiar mewah itu terus berjalan membelah malam, melewati katedral Notre-Dame yang megah dengan sorotan lampu arsitekturalnya yang dramatis. Saat kapal berputar arah untuk kembali ke dermaga, Menara Eiffel kembali terlihat di kejauhan, berdiri dengan anggun sebagai latar belakang malam yang sempurna.
Edgar bangkit dari duduknya, lalu menarik tangan Gaby dengan lembut. "Ayo kita ke dek luar sejenak, Sayang. Udara malam ini bagus untuk melihat Eiffel tanpa batas kaca."
Gaby menurut. Mereka melangkah keluar menuju dek terbuka di bagian belakang kapal. Angin malam Paris langsung menerpa wajah mereka, terasa dingin namun menyegarkan. Sebelum Gaby sempat menggigil, Edgar sudah berdiri di belakangnya, membuka jubah panjangnya yang tadi sempat ia ambil, lalu melingkarkannya di sekeliling tubuh Gaby, mendekap istrinya dari belakang hingga tubuh mereka benar-benar menempel tanpa jarak.
Gaby menyandarkan punggungnya pada dada bidang Edgar, merasakan kehangatan tubuh suaminya yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Kedua tangan Edgar bertumpu di atas pagar pembatas kapal, mengunci tubuh mungil Gaby di dalam kuasanya yang protektif.
"Mas..." bisik Gaby lirik, menatap pantulan lampu-lampu kota yang menari di atas permukaan air Sungai Seine.
"Ya, Sayang?"
"Aku sangat bahagia," ucap Gaby tulus, memalingkan wajahnya sedikit ke samping agar bisa menatap wajah Edgar dari bawah. "Terima kasih karena sudah membawaku ke sini. Terima kasih karena sudah memilihku untuk menjadi istrimu."
Edgar menundukkan kepalanya, menatap bibir manis Gaby yang sedikit terbuka karena hembusan napas hangat di udara dingin. Kilat posesif kembali menguasai mata elang sang penguasa Addison.
"Bukan aku yang memilihmu, Gaby... tapi takdir yang menuntunmu ke pelukanku karena tahu hanya aku pria yang mampu menjagamu dengan layak," bisik Edgar serak tepat di depan bibir Gaby. "Dan kebahagiaanmu ini baru permulaan, Nyonya Addison. Aku akan memastikan setiap hari dalam hidupmu ke depan akan dipenuhi oleh momentum seperti ini."
Edgar mempersempit jarak yang tersisa, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang lambat, dalam, dan teramat penuh perasaan di bawah saksi bisu keindahan malam Paris. Ciuman Edgar kali ini tidak menuntut dengan gairah yang terburu-buru, melainkan sebuah kecupan panjang yang sarat akan janji setia dan perlindungan mutlak yang tidak akan pernah bisa diganggu gugat oleh siapa pun di dunia ini. Gaby memejamkan matanya, menikmati setiap detak candu yang diberikan oleh sang sugar daddy, tahu bahwa di dalam dekapan hangat pria mahal ini, hidupnya telah benar-benar sempurna.