Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.
Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.
Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.
Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.
Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.
Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema Di antara Genderang Perang
Datuk Lagang terdiam, bahunya lunglai saat ia menghela napas panjang. "Saat itu... Datuk panik. Datuk mencemaskan keselamatan Putri. Dan jujur saja, Datuk melihat percikan Siampa dalam dirimu. Datuk bertaruh pada nalurimu."
Datuk Lagang tahu, Mak Rangkayo tak mungkin diam saja melihat cucunya di ambil paksa sebagai upeti, tapi dia juga tahu dilema Kerajaan kecil seperti Dharmapuri.
Jadi dia Sena bisa membantu jika Pasukan Harimau gagal. Tapi Lagang benar-benar tak bisa menjelaskan maksudnya pada Sena, ia bisa mengerti, Sena merasa di manfaatkan olehnya.
Puti Kirai terpaku, ia tak tahu harus mendukung siapa?
Mak Rangkayo, yang sejak tadi mengamati dengan tenang, duduk di kursi bambu dekat dipan. Ia menyilangkan tangan, menatap Sena dengan binar mata yang sulit ditebak.
"Aku tahu, Nak. Kau sedang bertanya-tanya, kenapa aku—seorang nenek—hanya diam saat cucuku dibawa paksa, padahal aku punya pasukan yang ditakuti Singasari, bukan?"
Mak Rangkayo tahu pertanyaan Sena sebenarnya bukan untuk Datuk Lagang, tapi untuk sang Induk Harimau sendiri.
Sena diam, rahangnya mengeras, menolak memberikan jawaban.
Di sudut ruangan, Puti Kirai menunduk. Sebenarnya, saat disekap dulu, ia sudah menyiapkan belati kecil di balik stagennya—ia yakin Pasukan Harimau akan datang. Namun, yang muncul justru pemuda asing yang kini tampak begitu besar dan misterius di matanya.
"Aku adalah Ibu Suri Dharmapuri, aku juga sang Induk Harimau," Mak Rangkayo membuka tabir jati dirinya, suaranya begitu dalam dan berwibawa.
"Tapi aku tak bisa menggerakkan pasukan Harimau sesuka hati. Dharmapuri sudah dalam genggaman Singasari. Jika Harimau muncul terlalu cepat, hutan ini akan dibakar habis sebelum kita sempat melawan."
Ia membenarkan posisi duduknya, mencondongkan tubuh ke arah Sena. "Tapi jangan kira aku diam saja melihat darah dagingku dijadikan upeti. Pasukan Harimau sudah bergerak ke Pos Batang Arau sebelum kau tiba, tapi penjagaan Bhayangkara terlalu rapat. Kami terpaksa mengalihkan operasi ke Pelabuhan Muaro Jambi."
Sena melirik sekilas, rasa ingin tahu mulai mengalahkan amarahnya.
"Apa kau masih ingat Malin? Ketua kuli panggul di pelabuhan itu?" tanya Mak Rangkayo.
Sena tersentak. Nama itu seperti hantaman godam yang menghantam samping kepalanya. Wajah Uda Malin yang kasar namun tenang terlintas di benaknya.
Mak Rangkayo tersenyum puas melihat reaksi itu. "Dia adalah salah satu mata paling tajam milik Pasukan Harimau. Malin sudah tahu kedatangan kalian bahkan sebelum kalian sempat membuka mulut meminta pekerjaan."
"Kau kira Bhayangkara itu bodoh? Tidak mengecek setiap jengkal dermaga?" pancing Mak Rangkayo lagi, menggugah logika Sena.
Sena memicingkan mata. Karena dirinya yakin rencananya sempurna.
"Kami yang menyingkirkan perahu di bawah dermaga saat patroli Bhayangkara menyisir, lalu mengembalikannya tepat saat kau butuh jalur pelarian," Mak Rangkayo menghirup napas dalam, seolah menikmati kemenangan narasinya.
"Kami tahu, pasukanku tak bisa melakukan operasi senyap sebersih dirimu. Kami kagum pada aksi 'Siampa Lembah Harau'. Bahkan setelah misi selesai, kami selalu membayangi kalian dari balik semak, siap melesatkan anak panah jika keadaan menjadi kritis."
"Terutama dirimu, Sena... Naluri itu sungguh langka. Kau bahkan bisa merasakan keberadaan pasukanku yang bersembunyi di pekatnya hutan, bukan?"
Kata-kata Mak Rangkayo membuat Puti Kirai tersentak. Ia teringat saat mereka berada di Rawa Seribu, Sena beberapa kali menoleh ke belakang dengan waspada. Ternyata saat itu Sena sudah merasakan napas Pasukan Harimau.
Kirai menelan ludah, dadanya bergemuruh. Dalam bayangannya, Sena kini bukan lagi remaja biasa, melainkan calon sosok Mahapatih gagah dengan jubah merah yang berdiri tegak di samping singgasananya kelak.
Mak Rangkayo melirik cucunya yang sedang meremas gaun sambil senyum-senyum sendiri. Sang nenek hanya bisa menggeleng pelan melihat Kirai yang sudah hanyut dalam khayalan asmara.
Mak Rangkayo bangkit dari kursi bambunya, melangkah mendekat hingga ia berdiri tepat di samping dipan.
Bayangannya jatuh menutupi tubuh Sena, memberikan kesan otoritas yang tak terbantahkan.
"Sena," suara Mak Rangkayo kini berubah, lebih berat dan penuh penekanan. "Aku tidak memintamu menjadi prajurit biasa. Dharmapuri sudah punya cukup banyak orang yang bisa memegang tombak di garis depan. Tapi kami kekurangan satu hal..."
Ia berhenti sejenak, matanya menatap tajam ke arah kalung batu hitam yang masih digenggam erat oleh Sena.
"Kami kekurangan seseorang yang tahu bagaimana cara menang dalam perang yang tak terlihat. Seseorang yang tahu bahwa terkadang, satu nyawa yang diambil dalam gelap bisa menyelamatkan seribu nyawa di bawah terangnya matahari."
Sena mendongak, matanya beradu dengan mata tua Mak Rangkayo yang penuh api. "Anda ingin hamba bergabung dengan Pasukan Harimau?"
"Benar." jawab Mak Rangkayo tegas.
Sena mengepalkan tangannya di atas kain dipan. Matanya yang tadinya meredup kini berkilat tajam, menatap langsung ke manik mata Mak Rangkayo tanpa rasa takut.
"Hamba menolak," suara Sena parau namun terdengar kokoh di tengah keheningan bilik.
…......................
Sementara itu, jauh dari kedamaian semu di balik bilik bambu, suasana di Balairung Dharmasraya terasa mencekam. Aroma dupa yang biasanya menenangkan kini kalah oleh bau karat logam dari baju zirah yang beradu.
Anabrang berdiri tegak di depan peta kulit yang terbentang di atas meja jati. Matanya yang dingin menelusuri setiap lekuk garis Lembah Harau.
Kegagalan di pelabuhan dan hilangnya Puti Kirai bukan hanya sekadar kehilangan tawanan baginya, melainkan penghinaan terhadap panji-panji Singasari.
"Status Pos Garnisun Harau naik menjadi Pos Tempur, efektif mulai malam ini," suara Anabrang menggelegar, kering dan tanpa ampun.
Seorang perwira menengah di depannya menunduk dalam. "Sesuai perintah, Gusti. Bagaimana dengan kekuatan tambahan?"
"Tambahkan satu peleton infantri penuh. Dan satu regu Bhayangkara elit ke sana," Anabrang menoleh, menatap langit malam ke arah Harau.
"Mereka bukan rakyat biasa; mereka adalah pemburu. Perintahku hanya satu: sisir setiap jengkal lembah, bakar setiap gubuk yang mencurigakan, dan cari di mana sarang Harimau itu berada."
Anabrang mengepalkan tangannya di atas peta, tepat di titik pusat Lembah Harau. "Aku ingin melihat, seberapa lama harimau-harimau itu bisa bersembunyi saat hutannya mulai terbakar."
Genderang perang mulai ditabuh dari kejauhan. Di satu sisi, seorang pemuda baru saja diminta untuk kembali menggenggam senjata, sementara di sisi lain, mesin perang terbesar di Nusantara mulai bergerak untuk melumatnya.