Karena jalan yang lama sudah tidak bisa digunakan. Maka dibuatlah jalan yang baru. Sebuah jalur baru untuk para pemudik yang selalu rindu ingin pulang ke kampung halaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Babat Alas
"Aku pikir mau dibangun jembatan",
"Kalau jalan yang rusak kemarin disambung pakai jembatan ya tidak bisa",
"Memangnya kenapa?",
"Bukannya akan lebih mudah dan mengirit biaya?",
"Kalau dibuat jembatan di area terjadinya sinkhole, dikhawatirkan akan terjadi tanah ambles yang sama",
"Bahkan bisa lebih luas dan parah melebar",
"Rawan",
"Malah bisa rugi dua kali",
Oscar, Betok dan Patin ikut bekerja dalam pembuatan jalan baru bersama warga yang lain yang mau bergabung.
Rute atau jalur jalan yang baru akan mengambil wilayah hutan.
Membelah melalui hutan dan pohon-pohon.
Sudah dilakukan survei dan perhitungan yang matang.
Jalur baru yang akan dibuka bisa menjadi solusi cepat untuk orang-orang yang segala aktifitasnya terhambat karena jalan raya yang kemarin putus.
Jarak tempuhnya dipilih yang paling aman dan terjangkau antara tempat pusat keramaian yang satu dengan pusat kota yang lain.
Mereka akan melakukan babat alas. Pembukaan lahan.
Terdapat banyak pekerja. Termasuk orang-orang dari kampung yang terdampak lubang raksasa.
Di dalam rombongan pekerja yang datang dari berbagai daerah itu ada mereka bertiga.
Oscar, Betok, dan Patin yang juga mengajak saudaranya yang bernama Belang.
"Syukurlah pekerjanya banyak",
"Kalau seperti ini bisa cepat selesai",
"Memang sengaja pakai tenaga pekerja yang banyak biar cepat selesai",
"Jalan di jalur memutar, selama ini penuh dari pagi sampai malam tanpa putus semenjak jalan raya utama ditutup",
"Macet parah",
"Aku dengar-dengar target jalan baru ini harus rampung dalam kurun waktu beberapa bulan saja",
"Apakah mungkin?",
"Rencana awalnya supaya bisa segera dibuka dulu tanpa aspal atau batu kerikil",
"Supaya jalur baru ini bisa segera digunakan",
Para pekerja yang datang dari tempat yang jauh membuat gubuk di dekat jalan mereka mengerjakan proyek.
Sementara bagi Oscar dan teman-temannya yang berasal dari desa yang dekat. Bisa setiap hari bolak-balik pulang pergi melewati jalan liar di dalam hutan.
Asal jangan sampai pulangnya kemaleman karena di dalam hutan sangatlah gelap.
Oscar, Betok, Patin dan Belang berjalan pulang berkelompok sendiri.
Mereka menjadi rombongan terakhir yang pulang ke kampung karena tempat mereka bekerja adalah jalan yang paling jauh garapannya.
Perjalanan pulang sore hari di hari pertama pembuatan jalan baru
"Syukur alhamdulillah sekarang kita sudah tidak perlu berlama-lama menganggur",
"Eh, tadi kalian lihat ada orang yang bawa seserahan tidak?",
"Itu bukan seserahan",
"Namanya sesajen",
"Orang-orang yang berpakaian hitam-hitam tadi?",
"Memang mereka bawa apa saja?",
"Macam-macam",
"Ada kepala hewan, bunga-bunga, buah-buahan",
"Mereka taruh mana?",
"Aku lihat mereka masuk ke dalam hutan dan baru lama kemudian mereka keluar",
"Sudahlah kita tidak usah ikut-ikut",
"Kita fokus saja untuk bekerja sampai proyeknya rampung",
"Kenapa kamu Patin?",
"Mau apa kamu Patin?",
"Kalian duluan saja aku mau buang air",
Tidak ada satu orang pun yang berhasrat merencanakan buang air besar di tengah hutan.
Apalagi pada saat perjalanan pulang di waktu yang sebentar lagi gelap.
Patin berak di dalam hutan di antara semak belukar yang rimbun.
Patin pikir paling hanya sebentar.
Kenyataannya perut Patin tidak kunjung berhenti mengeluarkan kotoran yang bertekstur sedikit encer.
"Kebanyakan makan sambal ini", keluh Patin.
"Aduh",
Bokong Patin mulai dicium-cium oleh nyamuk-nyamuk nakal.
"Huft... ",
Akhirnya selesai juga. Benar-benar lega.
Sekarang lanjut pulang ke rumah sebelum hari menjadi gelap gulita.
"Kenapa ini?",
Tiba-tiba saja tubuh Patin tidak bisa digerakkan.
Kaki-kakinya menolak untuk diajak berjalan.
Badannya menjadi berat seperti ada yang menindih.
Lalu ada suara tua yang bertanya.
"Mau kemana kamu?",
Suara yang muncul dari belakang itu terdengar seperti suara nenek-nenek.
Patin tidak bisa menoleh untuk memastikan wujudnya.
"Aku mau pulang Mbah",
"Kalau mau pulang bersihkan dulu tai mu itu",
"Baik Mbah, maafkan aku",
"Aku terburu-buru",
Begitu kembali bisa bergerak bebas, Patin mengubur tai nya dengan urukan tanah.
"Hihi... Hihihi.... ",
"Hihi... Hihihi.... ",
Berikutnya terdengar suara tawa perempuan mengilukan yang membuat bulu kuduk yang mendengarkannya langsung merinding.
Patin pulang dengan berlari tunggang langgang.
Sesekali jatuh karena saking ketakutan.