Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Bayangan Masa Lalu
...----------------...
Setelah sambungan telepon diputus sepihak oleh Astrid, aku masih mematung di kursi kafe tepi pantai Ancol. Ponsel di genggamanku terasa dingin. Benakku dipenuhi oleh rasa penasaran yang teramat sangat. Apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Astrid? Nada suaranya yang bergetar dan penuh kepasrahan tadi terus terngiang-ngiang di telingaku, menolak untuk pergi.
Duduk sendirian di bawah langit malam, ingatan lama yang terkubur rapat mendadak berputar kembali di kepalaku. Aku teringat pertemuan awal kami di klub malam beberapa bulan lalu malam yang kacau, penuh emosi, dan berakhir dengan keputusan impulsif yang merubah segalanya.
Mengingat hal itu, perasaanku malam ini mendadak menjadi campur aduk. Ada secercah rasa bahagia yang aneh karena akhirnya mendengar kabar dari perempuan itu setelah dia menghilang pasca pemakaman Ibunya. Namun di sisi lain, rasa penasaran dan ketakutan yang tak beralasan mulai merayap di dadaku. Firasatku mengatakan, apa pun yang akan dikatakan Astrid nanti, itu bukan hal yang sepele.
Tak ingin tenggelam terlalu dalam oleh pikiran yang makin liar, aku memutuskan untuk beranjak Pulang, menyalakan mesin motor sport-ku, dan segera berkendara pulang menembus dinginnya angin malam Jakarta.
...****************...
Keesokan harinya, matahari bersinar cerah. Kehidupan kampusku berjalan seperti biasa, dan siang itu aku menghadiri jadwal kuliah Teknik Informatika yang cukup padat. Namun, penatnya materi kuliah hari ini rasanya langsung menguap begitu aku melangkah keluar dari gedung fakultas. Di sana, seorang gadis dengan jas laboratorium yang tersampir di lengannya sedang berdiri menungguku sambil melambaikan tangan dengan senyuman manis.
Dia adalah Liona Kinara, pacar baruku.
Liona adalah sosok gadis yang sangat humble. Dia memiliki kepribadian yang hangat, ceria, dan sangat mudah berteman dengan siapa saja. Jika harus dibandingkan dengan Sania, sifat Liona berada di level yang jauh lebih baik. Dia berada di satu kampus yang sama denganku, hanya saja dia mengambil Jurusan Kedokteran yang terkenal sangat sibuk. Liona juga berasal dari keluarga yang kaya raya, namun kekayaan tidak membuatnya menjadi gadis yang sombong atau pamer gengsi.
Aku kenal dengan Liona 2 bulan yang lalu saat aku sedang ke kampus untuk mengambil almamater., Kami baru mulai berpacaran sekitar sebulan yang lalu. Bahkan baru dua hari yang lalu, aku dan Liona merayakan hari jadian kami yang menginjak usia satu bulan dengan jalan jalan dan makan sushi bersama di sebuah restoran Jepang premium. Momen itu sederhana, tapi sangat membahagiakan bagiku.
Liona berjalan mendekat, lalu dengan manja merangkul lengan jaketku. "Arka... pulang kuliah ini kita mampir ke kafe dulu, yuk? Kepala aku rasanya mau pecah nih gara gara materi tadi siang," ucap Liona sambil mengerucutkan bibirnya lelah.
Aku menoleh, menatap wajahnya yang tampak penat namun tetap terlihat cantik. Aku tersentum tipis, mengacak rambutnya pelan. "Hmm... boleh aja, ayo. Kebetulan aku juga lagi pengen refreshing dari tugas."
Kami berdua pergi menuju sebuah kafe sederhana yang terletak tidak jauh dari area kampus menggunakan mobilku. Kami sengaja memilih tempat yang tidak terlalu ramai agar bisa mengobrol dengan tenang. Di sana, kami memesan banyak makanan ringan dan minuman dingin.
Begitu pesanan datang, Liona langsung meminum es cokelatnya dengan wajah yang luar biasa lega. "Aaah... seger banget! Akhirnya otak aku bisa dapet asupan gula setelah disiksa dosen berjam jam," serunya tertawa.
"Segitunya banget ya kuliah kedokteran?" tanyaku sambil memperhatikan ekspresi lucunya. "Emang tadi belajarin apa aja sih sampai mukanya kusut gitu?" tanya ku kepada Liona
Liona meletakkan gelasnya, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan, menatapku lekat-lekat. "Bukan kusut lagi, Arka! Tadi itu hafalan nama nama tulang sama otot manusia. Banyak banget pake bahasa Latin. Kamu tahu gak, ada otot yang namanya Sternocleidomastoideus." Ucap Liona sambil menaik turunkan alisnya dengan jahil.
Aku mengernyitkan dahi, mencoba meniru ucapannya. "Sterna... sterno... ah, ribet amat. Mendingan aku makan daripada belajar nama otot."
Liona tertawa lepas mendengarnya, suara tawanya terdengar sangat renyah di telingaku. "Tuh kan! Makanya, besok besok kalau aku lagi pusing, kamu harus siap sedia puk-puk kepala aku ya. Jangan malah ditinggal main game."
"Iya, iya, Tuan Putri Kedokteran. Nanti tiap kamu pusing, langsung gue beliin es cokelat seember," balasku sambil mencubit pelan hidungnya, membuat Liona mendengus gemas.
Kami mengobrol asik selama berjam jam, membahas hal hal acak dari mulai dosen yang menyebalkan, teman-teman kampus kami yang unik, sampai rencana liburan kami berikutnya. Di tengah obrolan, Liona tiba tiba menatapku dengan tatapan yang lebih lembut. Dia meraih tanganku yang ada di atas meja, lalu menggenggamnya pelan.
"Arka... makasih ya," ucapnya tiba-tiba.
"Makasih buat apa?" tanya ku yang bingung.
"Ya... makasih karena kamu selalu mau dengerin cerita aku, selalu ada waktu buat nemenin aku di kafe biasa kayak gini, padahal aku tahu kamu sibuk dan seberada apa keluarga kamu. Aku senang... karena di depan aku, kamu jadi diri kamu sendiri. Bukan Arka si anak konglomerat, tapi Arka pacar aku," tutur Liona dengan ketulusan yang terpancar jelas dari sepasang matanya.
Mendengar kalimat itu, jantungku berdesir aneh. Di bandingkan dengan Sania dulu yang selalu menuntutku untuk membawanya ke tempat tempat mahal demi pamer di media sosial, aku jauh lebih mencintai Liona. Perasaan ini terasa jauh lebih nyata dan sehat. Bagi ku, dia wanita pertama yang memandangku bukan karena uang atau nama besar Albian. Dia memandangku murni karena aku adalah Arka.
...****************...
Waktu berputar dengan cepat ketika kita menikmatinya bersama orang yang tepat. Kami baru kembali dan tiba di rumah masing masing sekitar pukul sepuluh malam. Rasa rindu yang masih tersisa membuatku langsung menelpon nomor Liona begitu aku selesai membersihkan diri di kamar.
Kami telponan selama hampir satu jam. Suasana malam itu terasa begitu hangat dan romantis. Kami saling bercanda, menceritakan rencana kencan kami berikutnya, hingga saling melontarkan kata kata cinta yang manis.
"Aku sayang banget sama kamu, Arka. Jangan bosan-bosan ya dengerin aku ngeluh soal tugas kedokteran," ucap Liona di seberang telepon dengan nada manja.
Aku terkekeh pelan, bersandar di kepala ranjang kamarku yang luas. "Gak bakal bosen, Liona. Aku malah suka"
Bzzz... Bzzz...
Kalimatku terputus saat ponselku bergetar pendek, menandakan sebuah notifikasi pesan teks masuk. Aku menjauhkan sedikit layar ponsel dari telingaku untuk melirik bilah notifikasi di bagian atas. Sebuah pesan dari nomor asing yang kutahu adalah milik Astrid muncul di sana.
> Astrid: Arka, Sabtu ini tanggal 23 September bisa ketemu? Kalau bisa, nanti gw kirim lokasinya ke lu ya. Tolong luangkan waktu lu yaa.
Membaca barisan kalimat singkat itu, senyuman di wajahku mendadak membeku seketika. Dadaku terasa sesak secara tiba tiba, dan fokusku langsung terpecah total. Tanggal 23 September. Itu adalah hari Sabtu minggu ini.
"Arka? Halo? Kamu masih di sana, kan?" suara Liona di telepon membuyarkan lamunan singkatku.
Aku berdeham pelan, mencoba menetralkan suaraku yang mendadak berubah kaku agar Liona tidak menaruh curiga. "Eh... iya, Liona. Aku masih di sini kok. Sori, tadi ada notifikasi tugas kuliah masuk sebentar."
"Oh, kirain ketiduran," sahut Liona lembut. "Ya udah, kamu istirahat ya, jangan kemalaman tidurnya. Love you, Arka."
"Iya, love you too, Liona" jawabku pelan sebelum menutup sambungan telepon.
Setelah telepon terputus, aku kembali menatap layar pesan dari Astrid dengan tatapan kosong. Hatiku yang tadinya tenang kini kembali bergejolak hebat. Kebahagiaan yang baru saja kubangun bersama Liona mendadak dihantam oleh rasa cemas yang tak menentu akibat pesan dari masa laluku. Hari Sabtu esok... badai apa lagi yang akan mendatangi hidupku?