NovelToon NovelToon
AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Duda / Komedi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.

Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.

Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.

Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.

Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. TUYUL DAN LELE

Kegelapan yang semula menekan, perlahan memudar--digantikan memori lama yang pahit-manis seperti cokelat dan menjelma bunga tidur di antara luka yang masih menganga, masih menggenang dalam fisik maupun jiwa.

Alvin seakan kembali menjadi dirinya sendiri kala berusia tujuh tahun. Bocah kecil, tampan, namun badung setengah mati. Saking badungnya, untuk kesekian kalinya, ia kembali melompat keluar dari penjagaan ketat rumahnya yang seperti istana, dan berlari menembus jalanan asing tanpa berpikir bahwa kelakuannya kali itu justru menjadi mimpi buruk yang tak akan dilupakannya seumur hidup.

Pelariannya kali ini awalnya seperti permainan petak umpet yang menyenangkan. Ia memaksa para penjaga dan pengasuhnya bersembunyi sementara ia menghitung sampai seratus sebelum mencari mereka ke seluruh penjuru mansion--tetapi alih-alih mencari, ia justru menyelinap keluar gerbang dengan membawa ransel berisi biskuit, botol minuman, mainan gameboard kesukaannya, dan dompet berisi uang yang semalam diambil dari celengan ayamnya yang dipecahkannya diam-diam.

Bukan tanpa alasan Alvin kabur. Ia bosan hanya menghabiskan hari di mansion yang penuh aturan. Ia bosan tak punya teman sepermainan karena dilarang keluar mansion. Urusan sekolah pun dilakukan di kediaman mewahnya itu alias home schooling--orangtuanya entah mengapa menganggap dunia luar seperti sumber penyakit dan penuh ledakan berbahaya yang harus dijauhi, dan Alvin masih terlalu muda untuk memahami itu, kata mereka.

Tetapi seiring bertambahnya usia, Alvin tak bisa lagi sepenuhnya percaya pada orangtuanya. Baginya, dunia luar itu menarik dan menyenangkan. Ia bisa melihat banyak hal. Juga banyak anak-anak seusianya yang bisa diajak bermain bersama di luar sana. Dunia yang dianggap kuman berbahaya bagi orangtuanya, justru merupakan surga di matanya.

Alvin pertama kali "tersesat" di dunia luar saat terlepas dari pengawasan semua orang di pesta ulang tahun anak kolega bisnis orangtuanya, yang dirayakan di sebuah taman bermain yang direservasi khusus dan ditutup untuk umum hanya untuk acara itu. Ia tanpa sadar menyelinap keluar gara-gara mengejar seekor kucing, dan ketika ia bisa berkelana di jalan dan pertokoan tak jauh dari taman bermain itu, rasanya sungguh menakjubkan dan menyenangkan.

Tetapi, bagian yang paling menyenangkan adalah ketika melihat orangtuanya cemas dan mencarinya mati-matian. Itu pertama kalinya ia merasa diperhatikan, sebab kedua orangtuanya biasanya sibuk mengurus pekerjaan dan hanya pengasuh dan penjaga yang benar-benar memperhatikannya. Ibunya bahkan memeluknya sambil menangis saat menemukannya--tak henti minta maaf dan menghiburnya karena ia mengira Alvin ketakutan saat berkeliaran tanpa arah di tempat asing seperti itu.

Sejak saat itu, Alvin jadi makin sering kabur dan "tersesat", hanya untuk bersenang-senang dan diperhatikan orangtuanya. Lucunya, orangtua Alvin sampai memanggil psikolog anak untuk memeriksa Alvin, mengira ia mengidap sindrom tertentu yang membuatnya hilang orientasi dan mudah kesasar. Namun setelah tahu itu hanya ulah iseng, Alvin pun dimarahi dan dihukum berat, terutama oleh ibunya.

Dari situlah, julukan "Titisan Dewi Durga" alias Dewi Penghukum itu muncul, dan terus melekat pada sosok Andini sampai kiamat.

Tetapi Alvin tak jera. Ia justru menganggap hukuman itu adalah momen paling penuh perhatian dan cinta dari ibunya. Tak peduli Andini jadi mengidap penyakit darah tinggi, Alvin terus berusaha melarikan diri hanya untuk bisa melihat dunia dan "dicintai" lebih dan lebih lagi.

Dan kaburnya kali ini lebih nekat, bahkan lebih jauh lagi. Ia asal saja naik bus yang berhenti di pinggir jalan--sampai tak sadar terbawa hingga luar kota. Saat berkeliaran di terminal dan mengagumi deretan bus warna-warni, tasnya tiba-tiba dijambret orang--dan tak ada yang menolongnya.

Tak punya bekal dan uang, tak bisa naik bus untuk pulang, tak paham di mana ia berada, Alvin menangis sampai air matanya terasa habis. Ia berkeliaran tak tentu arah sampai malam, sampai ia berpapasan dengan beberapa preman yang menatapnya seakan ia setumpuk uang yang jatuh dari langit.

"Kamu tersesat, Nak?" tanya salah satu lelaki bertubuh besar, dengan gaya rambut dan berewok paling liar, dan tato paling banyak di kedua lengannya yang kekar.

"Eng-enggak...," cicit Alvin gugup.

"Siapa namamu? Di mana rumahmu?"

Alvin hampir menangis lagi.

"Nggak tahu..."

"Itu namanya nyasar, anak ganteng. Ya sudah, ikut Om, yuk!"

Lelaki itu dengan mudah meraup tubuh kecil Alvin dan menggendongnya pergi.

"Om... lepasin! Om mau bawa aku ke mana...?"

"Ssst, diam! Jangan berisik dan ikut saja! Kalau kamu macam-macam, Om patahin tangan dan kaki kamu--mau?!"

"Jangan, Om...!"

"Makanya nurut dan diam kalau nggak mau jadi cacat! Ngerti?!"

Alvin hanya bisa menangis dalam diam saat dibawa pergi keluar terminal, menyusuri jalanan sempit dan perkampungan kumuh, dan berhenti di sebuah rumah petakan berdinding triplek yang kondisinya lebih mirip kandang daripada rumah.

"Mau kamu apakan anak itu?" tanya salah satu rekan preman itu usai Alvin dimasukkan ke dalam sebuah bilik sempit dan dikunci dari luar.

"Jual. Pasti laku mahal. Ayo cari pembelinya!"

"Jual utuh? Atau jual organnya?"

"Hmm, mana yang laku lebih mahal?"

"Organ. Bisa milyaran tuh harganya, apalagi paket lengkap dari jantung, hati, ginjal."

"Woh... boleh tuh. Kamu tahu siapa yang mau tampung dan beli?"

"Kayaknya si Komar kenal orang yang mau beli organ dalam."

"Komar yang tinggal di Kampung Rambutan itu? Ya udah, gas kita ke sana!"

"Anak itu ditinggal di sini?"

"Ya. Nggak masalah. Nggak bakal bisa kabur dia. Yul! Tuyul! Kamu jagain bocah itu, jangan sampai ke mana-mana! Kalau sampai dia kabur, kamu yang kujual ke tukang tampung organ--paham?!"

Langkah-langkah berat itu pun menjauh.

Alvin meringkuk dalam bilik sempit yang hanya berisi sehelai kasur medan tipis dan kipas angin rusak karena putaran baling-balingnya lebih lambat dari kupu-kupu lewat. Ingusnya kembali melelehi baju saat ia meratapi nasibnya yang sebentar lagi akan menjadi mayat.

Mama... Papa... tolong Alvin... Alvin takut... Alvin nyesel udah kabur... Alvin masih mau hidup, masih pengen main Harvest Moon, masih pengen makan cheeseburger, masih pengen dimarahi Mama... tolong...

Letih menangis, Alvin pun jatuh tertidur. Ia pun bermimpi buruk--dikejar-kejar raksasa berkolor hijau yang ingin memotongnya dan memakan jantungnya.

"Jangan... tolooong...!"

"Heh, berisik! Bangun!"

Alvin terbangun dengan tubuh gemetar dan bersimbah keringat. Ia tersentak dan makin keras menjerit saat melihat yang membangunkannya adalah penampakan hantu.

"Aaaaaaaaa! Tuyul!"

"Mulutmu!"

Sosok tuyul itu menjejalkan roti ke mulut Alvin, membungkamnya seketika.

"Daripada jerit-jerit nggak jelas gitu, mending makan dulu! Belum makan, kan?"

Alvin menurunkan roti dari mulutnya dan terperangah. Sosok yang dikiranya tuyul ternyata adalah anak perempuan kurus dan botak yang mengenakan kaus kumal dan celana selutut kedodoran, usianya sekitar sepuluh tahun.

"Kamu... siapa?" tanya Alvin bingung.

"Tuyul," jawab anak perempuan itu sekenanya.

"Hah...?" Alvin melongo. Diamatinya kaki anak itu--menapak lantai.

"Iya itu namaku. Tuyul. Kamu sendiri... siapa namamu?"

Alvin merasa anak itu tak menjawab jujur, entah apa alasannya. Ia pun memutuskan bertingkah sama.

"Lele."

"Hah...?" Giliran Tuyul melongo.

"Iya. Namaku Lele."

Tuyul mengamati Alvin lekat, tahu Alvin tak menjawab jujur.

"Haish, terserahlah," gerutunya. "Nama nggak penting. Apalagi kalau sebentar lagi kamu bakal mati..."

"Jangan! Aku belum mau mati!" Alvin menangis lagi.

"Terus maumu apa?"

"Pulang... ketemu Mama, Papa, Kakak..."

"Kamu masih punya keluarga?"

Alvin mengangguk dan menggosok hidungnya yang berair.

"Enak, ya...," tatapan Tuyul tiba-tiba menerawang jauh, ekspresinya pedih. "Kamu jelas lebih beruntung dari aku..."

"Kamu... nggak punya keluarga?"

Tuyul tersenyum getir.

"Aku Tuyul. Keluargaku setan semua--jadi ya nggak bisa dianggap keluarga juga..."

Alvin benar-benar tak tahu lagi harus menanggapi apa--jawaban Tuyul sungguh di luar jangkauan nalarnya.

"Kamu bisa tolongin aku nggak?" pinta Alvin, nyaris merengek.

"Tolongin apa?"

"Keluarin aku dari sini. Bantu aku pulang... kalau kamu bisa tolong aku, aku janji bakal kasih kamu hadiah...!"

Tuyul mengangkat alisnya.

"Hadiah apa?"

"Tiket gratis ke Disneyland!"

"Haish, ngibul!"

"Aku nggak ngibul! Aku serius! Orangtuaku sering bawa aku ke sana buat liburan... aku bisa minta mereka bawa kamu juga!"

"Kamu sering ke sana? Berarti kamu anak orang kaya?"

Alvin mengangguk. "Kaya banget. Makanya kalau kamu bantu aku bebas dan ketemu orangtuaku lagi, aku bisa minta mereka kasih apa aja yang kamu mau..."

"Sumpah? Demi apa?"

"Demi Allah!"

Tuyul tiba-tiba tersenyum, kali ini lembut dan hangat--membuat wajah tirusnya terlihat cantik, meski tak berhias rambut.

"Terima kasih... baru kali ini ada yang mau kasih aku hadiah, bahkan apa aja yang aku mau..."

"Jadi, kamu mau apa?"

"Nanti deh--akan kukasih tahu kalau kamu sudah lolos dari sini. Habiskan dulu rotimu. Kamu akan butuh tenaga untuk kabur dari sini."

Alvin dengan cepat melahap rotinya, sampai tersedak.

"Pelan-pelan. Minum ini," Tuyul memberi segelas air dan menepuk punggung Alvin.

"Trims," Alvin mengelap mulutnya dan menarik napas lega. "Kenapa kamu baik banget sama aku...?"

"Amal."

Alvin mengerjap.

"Hah?"

"Iya, amal. Tabungan pahala. Jadi kalau aku mati nanti, aku masuk surga jalur nolong orang."

Alvin menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Tuyul meletakkan gelas air yang sudah kosong dan sejenak mengintip situasi di luar sebelum kembali ke sisi Alvin.

"Udah selesai makannya? Udah siap buat kabur?"

Alvin menahan napas dan mengangguk.

Tuyul menggandeng tangan kecil Alvin dan membawanya berjalan cepat meninggalkan rumah petakan itu. Mereka menyusuri jalanan sempit, gelap, dan sepi, hingga kemudian--

"HEH, BERHENTI! BOCAH SIALAN--MAU KABUR KE MANA KALIAN?!"

Entah bagaimana, lelaki berewok itu mendadak muncul di tikungan dan meneriaki mereka.

"Lari!"

Tuyul menjerit dan menarik Alvin berlari secepat yang ia bisa. Adegan kejar-kejaran di gang sempit itu pun tak terhindarkan.

"Awas ular!"

Tuyul asal saja menyambar gulungan selang dari keran di depan musholla kecil dan melemparnya ke pengejar mereka.

"Aaaaaaa!"

Lelaki yang sudah menculik Alvin dari terminal itu menjerit dan melompat seperti orang gila saat selang itu menghantam tubuhnya--disangkanya ular sungguhan.

Begitu tiba di jalan raya, Tuyul melihat sebuah angkot mangkal di dekat trotoar. Tanpa ragu, ia menarik Alvin masuk ke dalam.

"Pak, jalan! Ke kantor polisi! Kami kabur dari penculik--CEPAT!"

"Hah...?"

Supir angkot itu, seorang lelaki berperawakan sedang dengan kulit terbakar matahari, rambut keriting, dan tahi lalat besar menghiasi dagu, terkejut dan menatap bingung dua anak kecil yang tiba-tiba masuk dan duduk di kursi belakang.

"OI!" Lelaki berewok itu sudah muncul di ujung gang dan mengacungkan tinjunya ke arah Tuyul dan Alvin.

"CEPAT, PAK, CEPAT!"

Dasim, supir angkot itu, tanpa ragu langsung tancap gas, meninggalkan lelaki berewok itu mengumpat sendiri di jalan.

"Kalian serius diculik...?" Dasim memandang para penumpang kecilnya melalui spion tengah, netranya melebar seakan sukar percaya.

"Iya... kami mau dijual ke tukang tampung organ dalam," sahut Tuyul muram. "Tolong antar kami ke kantor polisi, Pak, kami mau pulang ke orangtua kami... mereka pasti sedih dan bingung mencari kami..."

Dasim mengangguk dan mengantar dua anak itu ke kantor polisi terdekat.

Setibanya di kantor polisi, Dasim membeberkan yang terjadi pada para polisi yang bertugas malam itu. Alvin langsung bercucuran air mata dan ingus lagi begitu ditanyai polisi.

"Siapa namamu, Nak?"

"Alvin Hermawan," isak Alvin.

"Nama orangtuamu?"

"Alan Hermawan dan Andini Hermawan..."

Polisi itu terkejut.

"Kamu... anak pengusaha Hermawan, pemilik Harmoni Group itu?"

Alvin mengangguk.

"Bagaimana ceritanya kamu bisa diculik, Nak?"

"Aku... kabur dari rumah... terus dijambret... terus nggak bisa pulang... terus nyasar... terus ketemu dan dibawa paksa preman, katanya organku mau dijual... huaaaaaa!"

"Tenanglah, Nak, kamu sudah aman di sini... jangan menangis lagi. Kami akan antar kamu kembali ke orangtuamu..."

Alvin mengucek wajahnya dan mengangguk.

"Tapi bagaimana ceritanya kamu bisa kabur dari penculik itu, Nak?" tanya polisi itu penasaran.

"Ditolong Tuyul."

Para polisi mengerjap.

"Apa, Nak?"

"Ditolong Tuyul," ulang Alvin serak. "Eh... lho, mana dia? Pak Supir, mana dia?"

Dasim ikut celingukan, bingung.

"Maksudmu anak perempuan botak yang bersamamu tadi? Iya juga... ke mana dia?"

Semua orang mencari, namun nihil.

Tuyul sudah tak ada--menghilang tanpa jejak, entah ke mana.

***

1
Shamira Zee
Emaknya absurd,anaknya pun ikutan absurd 😭🤣
Shamira Zee
Udahlah Ga terima aja Alvin jadi papamu /Grin/
Shamira Zee
Lho Saga putus sekolah? Duh kasihan... tapi ketemu calon papa, pasti ditolong lah /Proud/
Shamira Zee
Ya ketawa, ya kasihan... Erina plis bisa sembuh yaa
Nyonya Billy
Di balik cerita yang lucu sebenarnya tersimpan banyak makna yang dalam... kasihan Erina, semoga dia bisa sembuh...
Nyonya Billy
Cinta dan perjuangan seorang ibu sangat besar....
Nyonya Billy
Duh jangan sampai...
Nyonya Billy
Sepertinya ini analogi kankernya makin ganas ya... duh...
Nyonya Billy
Iya, sel tumor atau kanker memang begitu...
Nyonya Billy
Nggak sekalian Jungkook ketemu Harry Potter dan Erina di Hogwarts 😂
Nyonya Billy
Sempet-sempetnya vin 😂
Nyonya Billy
Erina dan Alvin sudah pernah bertemu ya saat kecil? Lucu sih ceritanya, ditolong tuyul, ya ampun 😂
Nyonya Billy
😂😂😂😂
Shamira Zee
🤣🤣🤣🤣🤣
Shamira Zee
Kapan sih Erin gak ngelawak? 🤣
Shamira Zee
Riii 😅😭🤣
Shamira Zee
Istrinya Glioma yang ganas 😅
Shamira Zee
Ada ya tumor balik demi kolor 😭🤣
Shamira Zee
Lah glioma lagi? 🤣🤣🤣
Shamira Zee
Buatan klinik mana tuh thor? 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!