⚠️⚠️
Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.
⚠️⚠️
~•~
Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -
Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Permisi Nona."
Maid bernama Risma masuk ke dalam kamar Aurel yang tengah duduk di depan cermin dengan wajah yang kelihatan bahagia.
Dress indah berwarna blue denim itu membuat dirinya semakin terlihat lebih anggun.
"Kenapa Bi?" Aurel menatap kepala pelayan di rumah besar ini.
"Nona, Tuan Javeno sudah ada di teras," kata Risma memberitahu.
Mendengar nama Javeno membuat senyum Aurel semakin melebar dengan binar matanya yang tidak bisa di tutupi.
"Ternyata dia beneran jemput aku," batinnya senang.
"Bersama dengan seorang gadis cantik," lanjut Risma memberitahu kebenaran lainnya lagi.
Baru saja Aurel berdiri, belum sempat melangkah. Menatap Risma dengan mimik wajah yang tidak percaya. Senyum di wajah cantiknya hilang.
"Gadis?" ulangnya.
Risma menunduk dengan anggukan pelan.
Mengikuti langkah Aurel dari belakang yang berjalan terburu-buru hendak melihat siapa yang Javeno bawa untuk menjemputnya juga.
Saat pintu terbuka, yang Aurel lihat adalah Disty yang segera berdiri.
Tatapan bersalah milik Disty berpadu dengan tatapan bingung milik Aurel.
"Disty?" beo Aurel.
"Ayo," kata Javeno tidak ingin membuang waktunya lagi. Berdiri dari duduknya, merangkul pinggang Disty tepat di depan mata Aurel yang menegang.
Aurel melihat bagaimana perlakuan lembut Javeno kepada Disty yang pintu mobil pun di bukakan oleh Javeno.
"Gue nggak suka nunggu!"
Suara Javeno memecah keheningan.
Aurel segera menghapus air matanya, berjalan pelan kearah mobil. Duduk di kursi belakang seorang diri, memperhatikan Javeno yang menggenggam tangan Disty, membawa keatas paha pemuda itu.
"Jav." Disty merasakan ketidaknyamanan ini. Kalau hanya berdua tanpa adanya Aurel, ia masih bisa diam tanpa protes, namun sekarang?
Aurel adalah calon istri Javeno setelah lulus sekolah. Gadis pilihan langsung orang tua Javeno.
"Kamu nggak nyaman?" Javeno bertanya dingin, tapi terdengar lebih lembut di telinga Aurel di bandingkan saat Javeno berbicara dengan dirinya.
Disty tidak menjawab, ia menatap pantulan wajah Aurel dari kaca kecil di atas. Hendak menarik tangannya ia juga tidak berani.
Mobil berhenti di halaman luas milik keluarga Javeno.
Ya, Javeno membawa dua gadis ini ke mansion utama.
Semalam, Javeno meminta Robert untuk mengadakan makan malam perjamuan dan membawa nama Aurel juga agar Daddynya setuju.
Di dalam mansion, sudah ada Gaveno dan Anggun yang tentunya di bawa oleh kembarannya itu.
Aurel menunggu di dalam mobil. Menunggu Javeno membukakan pintu mobil untuknya. Tetapi Javeno malah membukakan pintu untuk Disty.
Disty yang sudah berada di rangkulan posesif Javeno.
"Jav, bukain juga untuk Aurel," ucap Disty pelan, bisa merasakan apa yang sedang Aurel rasakan saat ini.
"Mencoba mengatur dan mengajariku?" tanya Javeno dengan alis terangkat.
Disty segera menggeleng. "Bukan itu maksud aku, tapi dinner...."
"Dia masih memiliki tangan yang utuh untuk buka pintu itu," kata Javeno sembari menendang body mobilnya tanpa takut itu akan lecet.
Memberi peringatan pada Aurel untuk segera keluar dari dalam sana.
"Apa sebenarnya ini," batin Aurel memejamkan mata sebelum keluar dari mobil.
Aurel masih bisa menunjukkan senyum yang anggun di depan keduanya.
Javeno enggan melirik, segera membawa Disty melangkah masuk ke dalam mansion utama ini.
Aurel mengikuti di belakang, tidak mau mengambil langkah yang sejajar. Sedangkan Disty hanya bisa diam tanpa bisa berbuat lebih.
Robert yang menunggu dengan senyuman, seketika senyumnya memudar saat putranya ini malah membawa dua gadis sekaligus.
Gaveno tersenyum miring dan menggeleng pelan, lalu mencium Anggun yang tampak bingung dengan kehadiran Aurel juga.
"Dia siapa?" tanya Anggun berbisik pelan.
"Aku akan beri jawaban setelah kamu kasih aku dua ronde selesai makan malam nanti," ucap Gaveno berbisik sensual di telinga Anggun yang mendengus.
"Apa-apaan ini Javeno?! Kamu mengatakan ingin makan malam bersama di mansion, membawa calon istrimu!" Robert berkata tegas dengan kemarahan.
"Aku membawanya," jawab Javeno dingin dan santai.
Robert melangkah menghampiri Aurel.
"Lalu kenapa kamu membawa gadis itu? Bahkan bukannya Aurel yang kamu gandeng, kamu malah menggandeng gadis lain di hadapan calon istrimu!" hardik Robert marah.
Javeno berbalik, menatap dingin Robert tanpa melepaskan rangkulannya.
"Kalau aku menggandeng gadis lain di depan calon istriku, bukankah dia akan merasa cemburu Dad?" tanya Javeno menaikkan sebelah alisnya.
"Itu kamu tau, terus kenapa kamu masih melakukannya?"
Javeno terkekeh sebentar. "Aku melakukan apa? Yang aku lakukan sudah benar. Aku_ merangkul gadisku. Calon istriku."
Javeno semakin mencengkram rangkulan di pinggang Disty yang sekarang menatapnya.
"Jav?"
Javeno mengalihkan perhatiannya, menatap Disty.
"Aku nggak kasih kamu izin untuk bicara, jadi diam hm?"
Disty mengunci mulutnya dengan kepala tertunduk lagi sekarang.
Javeno menatap datar Robert dan Aurel.
"Calon istri pilihan ku hanya gadis yang sudah bersamaku selama setahun ini, yang sudah ku sentuh selama setahun ini."
"Dia_"
Javeno menatap Aurel yang juga menatapnya.
"Bukankah dia Daddy yang memilih? Jadi kenapa tidak Daddy jadikan sebagai calon istri Daddy sendiri?" tanya Javeno yang membuat hati Aurel sakit mendengarnya.
"Memiliki Mommy yang lebih muda dan seumuran, kita nggak keberatan kan, Gav?"
"Tentu saja," sahut Gaveno menjawab dengan riang.
"Gaveno!!" sentak Robert.
"Apa? Aku hanya menjawab pertanyaan dari abangku sendiri, di mana letak kesalahannya?" Gaveno adalah orang tersantai di dalam ruangan ini.
"Sebelumnya Daddy memanggilku ke rumah untuk membicarakan kebebasan Disty bukan? Daddy mengatakan padaku agar tidak terlalu keras pada gadis ini, beri dia sedikit kebebasan. Dan saat aku diam tanpa mendengarkan, tiba-tiba saja ada perjodohan konyol ini? Apa Daddy pikir aku tidak tau apa alasan Daddy sebenarnya?" tanya Javeno dingin.
"Apa?" Aurel akhirnya bersuara.
"Daddy hanya menggunakan dirimu agar aku bisa melepaskan Disty, menggunakan putri sahabat sendiri dalam kata perjodohan," jawab Javeno.
Aurel menatap Robert yang menghela napas itu.
"Om?" Aurel tidak menyangka hal ini.
"Aurel_ Om minta maaf," ujar Robert menyesal.
Aurel menghapus air matanya, menatap Javeno dan Disty yang masih diam.
Tidak ingin berlama-lama di dalam ruangan yang menyesakkan ini, Aurel segera pergi. Tanpa ada yang mengejar.
"Javen, kamu bisa menghancurkan persahabatan Daddy dengan Victor," geram Robert.
"Itu karena kesalahan Daddy sendiri," ucap Javeno acuh dan membawa Disty keluar dari mansion.
Begitu juga dengan Gaveno yang membawa Anggun keluar dan mengikuti mobil kembarannya.
"Kita nggak jadi makan malam?" tanya Anggun menatap Gaveno.
"Jadi sayang, kita akan berhenti di mana Javeno berhenti nantinya," ucap Gaveno menjawab.
Anggun dapat melihat Aurel yang melangkah seorang diri di pinggir jalan.
"Kita nggak kasih dia tumpangan? Kasihan Gav," ujar Anggun menatap lirih Aurel.
"Javeno aja nggak berhenti untuk kasih tumpangan, kenapa kita harus berhenti? Biarkan aja," jawab Gaveno acuh.
"Aku masih belum bisa paham sama yang barusan. Perjodohan antara Tuan Javen dan Aurel?"
"Nggak perlu paham sayang," kata Gaveno.