NovelToon NovelToon
Mahkota Kegelapan: Pewaris Dewa Hades

Mahkota Kegelapan: Pewaris Dewa Hades

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:763
Nilai: 5
Nama Author: Vedyta Hyuk

Arkanendra adalah seorang jaksa penuntut yang berdinas di kejaksaan agung, sepak terjangnya sebagai jaksa yang dingin dan tegas juga sering memenangkan kasus besar dan sulit, membuat Arka menjadi populer di kalangan penjahat. karena profesinya itu Arkanendra menghadapi bahaya yang sangat fatal, dia nyaris saja mati di racun oleh musuh nya.

sebuah pertolongan datang dari underworld, dia bisa tertolong namun dewa Hades memberikan syarat mutlak, Arkanendra harus menghisap energi hidup dari dewi Athena sebelum 40 hari, jika tidak maka dia akan mati dan binasa.

Dewi Athena yang tak pernah tertarik dengan pria, Dewi Athena yang lebih memilih menjadi Perawan seumur hidupnya, lalu apa yang terjadi ketika bagian dari kepingan jiwanya jatuh cinta pada Arkanendra yang notebene adalah kepingan jiwa dari Dewa Hades.

Apa sejarah akan berubah, atau jeratan cinta itu membuat Dewi perawan tak berdaya, cinta memang memiliki keajaiban luar biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Akting Arka yang hebat.

Arka terkekeh sambil membaca isi kertas perjanjian itu, dia masih menunggu berkas tersimpan sempurna ke dalam laptop kepolisian. Kacamata yang dipakai Arka sebenarnya alat perekam mirip kamera genggam, tulisan di kertas tadi langsung terekam dan terkirim ke komputer tim di dalam mobil van hitam yang terparkir tak jauh dari tempat Arka dan Jaksa Marcus berada.

"Cepatlah Henry, ayo cepat… lama sekali prosesnya!" Bisik Arka dalam komunikasi rahasia.

"Aku sangat cemas soal Arka, semoga dia baik‑baik saja," Gumam petugas kepolisian dan jaksa yang terlibat dalam misi berat ini, mereka menunggu dengan hati berdebar.

"Akhirnya tersimpan juga!" Seru Herman lega saat layar laptop bertuliskan berhasil.

"Hebat, dia anak yang cerdik. Ayo bersiap bergerak!" Brigjen Rangga tersenyum puas, lalu kembali berkomunikasi dengan Arka setelah mendapatkan bukti penting itu.

"Laksanakan rencana A. Sekarang kamu harus segera ke lantai lima, temui orang yang dicari itu," Perintah Rangga pada jaksa itu.

"Baik pak, aku mengerti," Jawab Arka singkat.

Arka memeluk Nayyara dan berbisik pelan tepat di telinga gadis itu.

"Mendesah lah… ikuti saja apa yang kamu rasakan Sayang."

"Di mana Tuan Ta Xhelin? Aku sudah setuju dengan seluruh syaratnya, apakah dia masih sibuk?" Tanya Arka lantang pada si pria itu.

Dia sengaja menyentuh belahan tubuh Nayyara dengan gerakan menggoda, hingga gadis itu tak kuasa menahan diri dan tubuhnya perlahan terasa panas

"Jika Tuan berkenan, silakan naik ke lantai lima. Tuan kami sedang bersenang‑senang di sana. Sepertinya wanita anda pun tak sabar ingin ikut bersenang‑senang, hahaha…" ujar pria botak tadi sambil tertawa sinis.

Arka tersenyum puas; dalam hati dia bersyukur semua berjalan mulus sejauh ini. Tanpa aba‑aba dia langsung mencium Nayyara dengan penuh gairah, membuat desahan halus terdengar dari mulut gadis itu. Wajah Nayyara merah padam karena ciuman panas itu, apalagi itu mereka lakukan di depan pria botak yang kini melongo tak percaya.

"Baiklah, aku naik dulu. Ayo Sayang, kita ke atas bersenang‑senang," Ujar Arka sambil merapikan gaun Nayyara yang sedikit berantakan. Dia tak rela banyak mata pria asing menatap lekuk tubuh gadis itu.

Saat berjalan menuju lift, Arka melepas kacamata canggihnya; rekaman dari lokasi sudah cukup jelas. Terdengar suara Marcus lewat alat komunikasi, "Aku sedang menemani orang kepercayaan penjahat itu minum‑minum. Rencana A kita lanjutkan setelah ini, tapi jika ini gagal, kita gunakan rencana B."

"Siap Marc, beri aku waktu lima belas menit untuk melacak buronan utama," Jawab Arka menyeringai.

Nayyara ikut masuk ke dalam lift yang membawa mereka ke lantai lima. Arka tahu ada kamera pengawas di sana, jadi dia kembali mencium Nayyara dengan penuh nafsu demi menyempurnakan akting mereka. Begitu pintu lift terbuka, mereka pun melangkah keluar.

Mata Nayyara terbelalak nyaris lepas, suasana di sini jauh lebih gila dan panas daripada di lantai bawah. Bukan hanya pasangan yang saling berpelukan atau menari di lantai dansa, tapi di ruangan remang itu pesta liar benar‑benar sedang berlangsung. Terlihat tiga wanita asing dan seorang wanita bermata sipit menari seksi di tengah ruangan, bahkan ada yang menari di atas meja dengan tubuh telanjang bulat. Arka menelan ludah, dia sama sekali tak menyangka akan masuk ke tempat seperti ini. Nayyara makin erat menempel di tubuhnya, bukan karena tergoda, melainkan karena dia ketakutan luar biasa.

"Sialan, seharusnya orang lain saja yang ditugaskan ke sini," Gerutu Arka pelan. Suaranya terdengar jelas oleh seluruh tim yang berada di jarak aman. Herman tertawa terbahak‑bahak, sementara Brigjen Rangga berteriak panik lewat komunikasi.

"Hei Pak Arka, jangan mundur! Selesaikan tugas sampai tuntas! Kumpulkan bukti sebanyak‑banyaknya, tangkap buronan itu, dan kita segera bergerak sekarang!"

"Aduh Pak Brigjen, tak lihat aku merinding begini? Ini benar‑benar gila! Kalau aku sampai tergoda di sini, kalian yang tanggung jawab!" Seru Arka tak tahan.

Marcus terkekeh mendengarnya, dia yakin rekannya itu pasti kepanasan berada di lantai lima, apalagi Nayyara terus menempel erat seperti ular bulu seolah tak mau berpisah sedikit pun. Terpaksa Arka menguatkan hati dan melangkah makin jauh masuk ke tengah pesta liar itu.

Wajah Rangga dan Henry memerah bukan sekadar malu, tapi juga kaget berat melihat tayangan langsung dari kacamata Arka di layar laptop. Pemandangan yang terekam sangat menggoda bagi kaum pria, membuat misi malam ini terasa makin berat. Kacamata canggih itu membuat para petugas berpengalaman itu menggigit bibir dan menelan ludah susah payah, fisik mereka pun bereaksi tak terduga. Jika bukan karena tugas berat dari negara, takkan sudi mereka berurusan dengan pemandangan semacam ini.

"Sungguh gila tempat ini!" Keluh Arka kesal.

"Pantas saja Arka tak betah lama‑lama di sana," Gumam Herman sambil menggeleng tak percaya. Padahal dia sudah beristri dan punya dua anak, tapi tetap terkejut melihat pemandangan itu.

"Pak Arka, apakah target sudah terlihat? Lebih waspada sekarang, jangan sampai dia lolos lagi," Pesan Rangga cemas. Dia terus berkomunikasi sambil meremas jari, takut jika buronan tak muncul malam ini, seluruh rencana penangkapan akan gagal.

"Jika dia tak muncul, kita laksanakan rencana B. Kita akan menangkap anak buahnya saja dulu. Siapkan pasukan kepolisian dan segera bergerak ke sini," Perintah Arka.

"Baik pak Arka, mereka sudah siap siaga," Jawab Rangga mantap. Dia segera memberi kode pada Jenar dan timnya untuk mulai bergerak mendekati lokasi klub malam itu.

"Aduh, aku tak tahan lagi di sini," Gerutu Arka dalam hati. Dia rasanya ingin saja membawa Nayyara ke sudut sepi, melepas seluruh gaun gadis itu, dan melupakan tugas penting malam ini. "Kapan kita pulang, mas? Aku takut sekali di sini," Rintih Nayyara hampir menangis. Ia merasa tak nyaman diperhatikan banyak mata nakal, meski Arka sudah berusaha mengusir mereka dengan tatapan tajam.

"Bang, sial ada masalah besar," Terdengar suara Marcus lewat komunikasi darurat. "Ta Xhelin tak ada di lantai lima, dia berada di lantai bawah! Argh sial!"

"Yak apa katamu?!" Arka hampir berteriak. Rasanya ingin sekali menjejalkan senjatanya ke mulut buronan licik itu. Jika tahu begini, dia tak perlu repot naik ke lantai lima membawa Nayyara, dan menyaksikan pemandangan tak pantas itu.

"Di mana posisimu sekarang,  Marcus? Sialan buronan itu" Desis Arka kesal. Dia berbalik cepat, Nayyara sampai tersandung berusaha mengikuti langkah panjangnya menuju lift. Mereka hampir frustasi karena pintu lift tak kunjung terbuka.

"Sial! Inspektur, apakah AKBP Syarif dan pasukannya sudah sampai? Kalau dia lolos malam ini, aku akan habisin kalian semua!" Ancam Arka.

Karena tak sabar, dia menarik Nayyara bergegas ke tangga darurat, lebih baik lewat tangga daripada menunggu lift bergerak lambat bagaikan kura‑kura peliharaan Brigjen Rangga.

Langkah cepatnya terdengar berirama, tep… tep… tep… 

Mereka berlari turun setingkat demi setingkat, tangan Arka menggenggam tangan Nayyara erat sekali. Harus segera sampai ke bawah sebelum buronan menghilang.

"Kami sudah tepat di posisi pengepungan," lapor AKBP Syarif dari luar gedung. Dia bergerak mendekat bersama dua puluh anggota pasukan khusus kepolisian.

"Pak Marcus, tahan dia! Jangan biarkan kabur! Dia saksi sekaligus pelaku utama!" Seru Rangga. Dia segera meraih pistolnya, berlari keluar mobil van bersama Herman dan Wahyudha menuju pintu utama gedung.

Dorr… dorr… dorr…

Tiga kali suara tembakan keras memecah suasana malam. Arka langsung mendekap tubuh mungil Nayyara yang gemetar ketakutan, mereka saat ini bersembunyi di balik pintu tangga darurat.

"Sial, dia ternyata tahu rencana kita," Bisik Arka lirih pada rekan‑rekan tim. Dia melihat suasana di lantai bawah berubah menjadi kacau balau; pengunjung panik berebut keluar, perkelahian pecah antara anak buah Ta Xhelin dan petugas kepolisian yang menyerbu masuk.

 

1
Ananda Boy
next kak 😍
Vedyta: siap kak😍
total 1 replies
Ananda Boy
ketahuan istri kan 😭🤣
Ananda Boy
weess wes 😭😭
Ananda Boy
lhoo ternyata 🤭😄
Ananda Boy
ketinggalan 🤭
Ananda Boy
knp next
Ananda Boy
ini Henry yg tmen nya Dimas ka?
Vedyta: iya bener ka
total 1 replies
Ananda Boy
lanjut ka 😍
Ananda Boy
keren 👍
Ananda Boy
next kak
Ananda Boy
seru banget 😍
Ananda Boy
seruuu banget 🤭
Ananda Boy
next thor
Ananda Boy
kak kasian Naya🥹
Ananda Boy
lanjut ka author 😘🥰 buku ini bagus banget genre ini aku sukaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!