Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Keesokan harinya, dunia media sosial seolah meledak.
Foto-foto pernikahan Jati dan Gayuh terpampang di berbagai portal berita dengan tajuk utama yang menggemparkan.
Sementara Jati kembali ke kantornya untuk menyelesaikan urusan bisnis yang sempat tertunda, Gayuh memilih untuk kembali ke dunianya: menulis.
Ia memutuskan untuk mengadakan sesi live di akun media sosialnya dari ruang kerja pribadinya di mansion.
Di sana, ia tidak hanya berbagi tentang perasaannya setelah konferensi pers semalam, tetapi juga membuka peluang bagi para penulis muda yang ingin mengembangkan bakat mereka.
"Halo semuanya," sapa Gayuh dengan senyuman ramah.
"Aku ingin mengundang teman-teman yang punya passion besar dalam menulis novel untuk bergabung denganku. Kita bisa belajar dan berkarya bersama."
Respon yang masuk sangat beragam. Banyak yang menyambut antusias, namun tak sedikit pula yang melontarkan komentar sinis.
Salah satu komentar yang paling mencolok muncul di layar live:
"Memang kurang ya nafkah dari seorang Jati, sampai harus cari kesibukan sendiri?"
Gayuh tidak tampak marah. Ia justru tersenyum tenang, membalasnya dengan sangat elegan.
"Menulis bukan tentang cukup atau tidaknya nafkah, karena bagi saya, menulis adalah napas. Menjadi istri dari seseorang bukan berarti saya harus berhenti menjadi diri sendiri. Justru dengan dukungan Mas Jati, saya ingin membagikan kesempatan yang saya miliki untuk orang lain yang mungkin belum mendapatkan akses serupa."
Gayuh melanjutkan dengan mengumumkan sesuatu yang membuat kolom komentar kembali ramai.
Ia memberikan alamat rumah khusus untuk para penulis yang ia dedikasikan bagi siapa saja yang ingin belajar menulis secara langsung.
"Bagi yang benar-benar ingin serius belajar dan berkarya di tempat saya, silakan datang. Semuanya gratis, ya. Tidak usah membayar sepeser pun. Saya hanya ingin melihat lebih banyak karya hebat lahir dari tangan-tangan kreatif kalian," ucap Gayuh dengan tulus.
Sikap rendah hati dan elegan Gayuh dalam merespon komentar negatif, ditambah dengan niat baiknya untuk berbagi ilmu, berhasil membuat mayoritas netizen berbalik mendukungnya.
Banyak yang akhirnya memuji bahwa Jati memang tidak salah memilih pasangan hidup.
Kurang dari satu jam setelah sesi live berakhir, suasana di area rumah menulis yang disediakan Gayuh mulai ramai didatangi oleh orang-orang yang antusias.
Beberapa dari mereka adalah penulis pemula, mahasiswi, hingga ibu rumah tangga yang ingin menyalurkan bakat menulis mereka.
Gayuh menyambut kedatangan mereka dengan senyuman hangat di depan pintu.
"Selamat datang semuanya, mari silakan masuk. Cari posisi duduk yang paling nyaman untuk kalian, ya," ujar Gayuh mempersilakan mereka dengan ramah.
Area tersebut segera dipenuhi oleh suara jemari yang lincah mengetik di laptop dan coretan pena di atas kertas.
Gayuh sendiri tidak tinggal diam. Ia berjalan berkeliling dari satu meja ke meja lain untuk memberikan bimbingan secara langsung kepada mereka yang sedang menyusun draf cerita.
Salah seorang peserta perempuan mengangkat tangannya dengan ragu-ragu sambil menunjukkan layar laptopnya.
"Mbak Gayuh, apa struktur paragraf dan dialog seperti ini sudah benar?" tanya wanita tersebut.
Gayuh membaca dengan teliti baris demi baris tulisan itu, lalu menganggukkan kepalanya dengan senyum menyemangati.
"Iya, pengenalan karakternya sudah bagus sekali dan mengalir. Tapi, tanda baca diperhatikan lagi ya. Penggunaan tanda petik untuk dialog, koma, dan titiknya harus tepat agar pembaca tidak bingung dan bisa merasakan emosi ceritanya."
Mendengar penjelasan detail dari sang mentor, peserta tersebut beserta beberapa orang di sekitarnya langsung menganggukkan kepala mereka tanda mengerti.
"Baik, Mbak Gayuh. Terima kasih banyak, kami perbaiki sekarang," jawab mereka dengan penuh semangat.
Melihat antusiasme yang begitu besar hingga waktu berlalu tanpa terasa, Gayuh kemudian menunjuk ke arah meja panjang di sudut ruangan yang telah ditata rapi oleh para pelayan mansion.
Di atas meja tersebut, sudah tersedia berbagai macam camilan tradisional seperti martabak manis, kue-kue pasar, serta pilihan minuman hangat dan dingin.
"Bagi yang lapar atau haus, langsung ambil di meja pojok sana saja ya. Jangan sungkan-sungkan, anggap saja seperti di rumah sendiri supaya menulisnya bisa lebih santai dan fokus," ucap Gayuh dengan tulus.
Perhatian dan keramahan Gayuh membuat suasana rumah menulis itu menjadi sangat nyaman dan penuh kehangatan, membuktikan bahwa ia benar-benar tulus ingin membantu tanpa mengharapkan imbalan apa pun.
Di tengah keasyikan proses belajar-mengajar itu, suasana rumah menulis mendadak menjadi riuh dan penuh kejutan.
Pintu depan terbuka, menampilkan sosok Jati Aditama yang melangkah masuk.
Alih-alih berpenampilan kaku seperti seorang CEO di televisi, Jati datang dengan senyuman hangat, membawa buket bunga mawar cantik di tangan kanan dan dua kantong besar berisi mie ayam gerobakan lengkap dengan pangsit di tangan kirinya.
Melihat kedatangan sang pemilik mansion yang begitu merakyat demi menyenangkan istrinya, semua orang yang ada di dalam ruangan langsung spontan berdiri dan bertepuk tangan riuh.
"Wah, Pak Jati romantis banget!" seru salah satu peserta.
Mereka semua serempak mendoakan Jati dan Gayuh agar pernikahan mereka selalu diliputi kebahagiaan, kelanggengan, dan berkah yang melimpah.
Gayuh yang melihat kedatangan suaminya hanya bisa tersenyum malu-malu dengan wajah yang merona merah.
Jati membungkuk kecil sebagai tanda terima kasih atas doa-doa tulus mereka.
Ia kemudian mendekati Gayuh, merangkul pinggang istrinya dengan posesif namun lembut, lalu menatap para peserta kelas menulis dengan tatapan jenaka.
"Saya culik sebentar ya penulis kalian," ucap Jati dengan nada bercanda yang langsung disambut sorak-sorai godaan dan tawa renyah dari seluruh ruangan.
Jati kemudian menuntun Gayuh meninggalkan area belajar menuju ke lantai atas, tempat ruang santai pribadi mereka berada.
Sesampainya di atas, Jati menyerahkan buket bunga tersebut dan meletakkan mie ayam yang masih mengepulkan aroma gurih di atas meja.
"Aku tahu kamu pasti lelah setelah mengajar seharian, jadi aku belikan makanan kesukaanmu," bisik Jati sambil mengecup kening Gayuh dengan penuh kasih sayang, menikmati momen berdua yang tenang di sela kesibukan mereka.
Jati menatap wajah Gayuh dengan lekat, lalu menggenggam kedua tangan istrinya dengan erat.
Sorot matanya mendadak berubah menjadi sangat serius, membuat atmosfer di ruangan itu sedikit menegang.
"Sayang, ada sesuatu yang ingin aku katakan," ucap Jati dengan nada suara yang terdengar berat.
Gayuh yang melihat perubahan ekspresi suaminya seketika merasa deg-degan.
Firasatnya mendadak liar memikirkan kemungkinan terburuk, entah itu tentang masalah hukum Tryas yang belum selesai atau gangguan dari pihak luar lagi.
"Ada apa? Jangan menakuti aku seperti itu, Mas," sahut Gayuh, matanya menatap Jati dengan cemas.
Melihat kepanikan di wajah istrinya, Jati langsung tersenyum tipis dan mengusap punggung tangan Gayuh untuk menenangkannya.
"Nanti aku harus pergi ke Surabaya selama dua hari untuk urusan bisnis yang tidak bisa ditunda," jelas Jati dengan nada lembut
"Dan selama aku tidak ada di rumah, kamu jangan capek-capek ya. Jangan terlalu diforsir kelas menulisnya. Kalau bisa, ajak Nenek jalan-jalan atau belanja agar kamu tidak bosan di rumah."
Mendengar penjelasan itu, Gayuh seketika mengembuskan napas panjang yang tertahan di dadanya.
Rasa tegang yang sempat menyelimutinya langsung menguap begitu saja.
Ia menepuk pelan dada bidang Jati dengan gemas.
"Aku kira ada apa, Mas," ujar Gayuh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bikin jantungan saja. Aku pikir ada masalah besar lagi."
Jati tertawa renyah, lalu menarik Gayuh ke dalam pelukannya.
"Bagi aku, meninggalkan kamu sendirian di rumah selama dua hari itu sudah termasuk masalah besar, Sayang. Makanya aku harus memastikan kamu baik-baik saja dan ada Nenek yang menemanimu." ucap Jati