"Bukan karena aku sudah bahagia, hanya saja aku sangat pandai dalam menyembunyikan luka"
Anisa Rahmawati
Tidak ada yang indah dari sebuah pernikahan tanpa cinta, begitulah yang di rasakan oleh Dimas Prasetyo hingga dia memilih menghadirakan kembali kekasihnya sebagai istri kedua di tengah - tengah pernikahannya dengan Anisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Cinta dan luka akan selalu berjalan dengan beriringan. Seharusnya sebelum menikah bukan berjanji untuk tidak saling menyakiti namun saling berjanji untuk tidak saling meninggalkan. Namun kembali lagi, kalimat ini berlaku jika pernikahan yang terjadi punya banyak cinta di dalamnya, dan pada kenyataannya pernikahan yang di jalani oleh Anisa Rahmawati dan Dimas Prasetyo, semua hanya tentang pernikahan di atas dua buku yang di sahkan oleh negara dan hukum agama. Pernikahan di lakukan hanyalah sebagi bentuk bakti kepada kedua orang tua mereka.
Tidak ada cinta yang menggebu di dalamnya, hanya ada dua orang asing dengan tujuan yang berbeda. Bukan, bukan tujuan mereka yang berbeda, namun Anisa hanya terdiam di tempat tanpa tujuan berharap laki-laki yang di amanahkan untuk menjaganya bisa berbalik menuju kearahnya tapi sangat di sayangkan, Dimas terus mengayunkan langkahnya menuju wanita lain yang selalu menjadi tujuannya saat itu.
Hingga saat itu Dimas melupakan jika Allah maha pembolak balik hati manusia, dan akhirnya Anisa memilih beranjak dari hidupnya, mulai menjauh dengan goresan luka yang begitu dalam, meninggalkan sebongkah penyesalan yang sampai saat ini masih menyelimuti Dimas.
Saat itu Dimas menjadi orang yang takabur, dia lupa jika takdir setiap manusia berada dalam genggaman sang pencipta, hingga dia begitu percaya diri saat itu, dan terlalu sibuk memperjuangkan cinta yang dia inginkan dengan cara melukai cinta lain yang Allah titipkan untuknya.
Dan kini dia ingin kembali meraih tangan yang dulu dia lepaskan, memohon untuk di beri kesempatan kedua, namun Anisa masih terdiam dengan linangan air mata di pipinya.
"Berikan aku satu kesempatan untuk memperbaiki segalanya" Ucap Dimas lagi. Dia terus menatap ke arah mantan istrinya yamg masih bungkam dengan buliran-buliran air mata yang mulai menetes di pipi hingga membasahi hijab wanita itu.
Namun Anisa masih saja bungkam laku kembali membalik tubuhnya menatap ke arah dinding kaca yang menampakkan kota jakarta sambil menyapu butiran bening yang membasahi pipinya.
"Katakan apa yang kamu inginkan, aku akan melakukan semuanya Nis." Ujar Dimas lagi. Anisa belum menolak permintaanya, wanita yang menjadi ibu dari putrinya ini hanya terus saja bungkam.
"Tidak perlu melakukan apapun mas, aku hanya belum berani kembali pada masa lalu yang penuh dengan luka. Aku tidak ingin kembali menggali derita yang sudah bersusah payah aku kubur dalam-dalam" Jawab Anisa.
Dimas mencelos mendengar penuturan Anisa, kini dia mulai merasakan seberapa dalam luka yang dia torehkan pada wanita di hadapannya ini.
"Aku juga tidak ingin lagi kembali pada masa kebodohanku dulu Nis, aku ingin memulai semuanya dari awal di masa sekarang, lalu menikamtinya di masa depan nanti bersamamu dan Zia." Ucap Dimas dan Anisa kembali terdiam. "Kita bahas nanti, seperti kata Ibu semalam. Kami tidak akan memaksamu, namun memberimu waktu untuk berfikir. Ini bukan hanya tentang kita berdua namun juga tentang Zia." Sambung Dimas lagi.
Gadis kecil yang mendengar namanya disebut, segera mendekat kearah ayahnya lalu menatap lekat dengan mata polosnya. Dimas segera berjongkok mensejajarkan tinggi dengan gadis kecilnya yang sudah berdiri di dekat kakinya, kemudian mengecup pipi gembul putrinya dengan gemas.
"Dan sekarang ayah harus segera menyelesaikan pekerjaan agar kita bisa segera pergi ketempat kesukaan Zia." Ujar Dimas pada putrinya.
Anisa segera berbalik menatap kearah Dimas yang kini sudah berdiri sambil membawa Zia kedalam pelukannya. Dimas tersenyum ke arah Anisa yang kini sedang menatap kearahnya, lalu menyerahkan tunuh kecil Zia pada ibunya itu.
"Kalian duduk manis disana," Ucap Dimas sambil menujuk sofa yang ada di dalam ruangannya. "Ini tidak akan lama" Sambungnya lagi. Anisa mengangguk lalu melangkah menuju sofa yang berada di dalam ruangan.
Zia masih terus berceloteh riang, gadis kecil yang tidak tahu apa-apa itu terus saja bersikap menggemaskan membuat Dimas sesekali tidak bisa menahan pandangannya untuk tidak mengarah pada du perempuan yang berbeda usia yang ada di dalam ruangannya ini.
"Permisi pak, saha mengantarkan minuman dan cemilan yang bapak pesan." Ucap Laura dari balik pintu yang sedikit tebuka.
Dimas menoleh ke arah pintu, begitupun dengan Anisa.
"Terimakasih Laura." Ucap Anisa saat sekertaris mantan suaminya ini meletakkan minuman di meja sofa.
"Sama-sama mbak Anisa, dan silahkan di nikmati." Jawab Laura sambil tersenyum pada Anisa lalu meminta izin untuk keluar dari dalam ruangan.
Braakkk...
Pintu yang di dorong dengan keras dari luar ruangan hampir saja menghantam tubuh Laura.
"Dimas apa benar..." Pertanyaan Tio tidak erhenti saat melihat wanita yang ingin dia tanyakan kini sedang berada di dalan ruangan Dimas.
"Bagus kamu sudah disini. Selesaikan ini sebelum aku kembali siang nanti." Ucap Dimas santai lalu beranjak dari kursi kewbsarannya menuju putri dan mantan iatrinya berada. Dengan cepat Dimas meraih tubuh mungil Zia kedalan pelukannya lalu menggenggam tangan Anisa kemudian leluar dati dalam ruangan menuju lift.
Tukuan mereka adalah tempat wisata aquarium yang berada di sebuah mall.
***
Anisa masih terus berjalan menyusuri Aquarium yang ada di dalam sebuah mall dan Dimas masih terus mengikuti celotehan riang dari mulut kecil milik Ziane, rasa ingin tahu gadis kecil yang baru berusia tiga tahun itu semakin tinggi. Semua objek yang tertangkap oleh netra polosnya, akan menjadi sebuah pertanyaan yang meluncur di bibir mungilnya dan sang Ayah harus selalu siap sedia untuk menjawab dengan baik.
"Ayah takut.." Ucap Zia sudah bersembunyi di ceruk leher sang Ayah. Dimas terkekeh, ada penyelam disana dan membuat putrinya takut.
Benar saja, sejak tadi mereka hanya melihat berbagai jenis ikan dan hewan laut lainnya, dan kini ada manuasia denga peralatan selam disana membuat putrinya takut.
Dimas menenangkan putrinya, menjelaskan perlahan jika yang sedang ikut berenang bersama ikan-ikan itu adalah penjaga kolam. Manusia sama seperti mereka hanya saja menggunakan alat agar tetap bisa bernafas di dalam air.
"Apa semua baik-baik saja ?" Tanya Anisa ketika melihat putrinya yang sudah bersembunyi di ceruk leher Dimas.
"Dia takut pada penyelam itu."Jawab Dimas sambil menujuk kearah manusia yang sudah berenang menjauh.
Anisa tersenyum lucu.
"Penyelamnya sudah pergi, ayo sini sama ibu." Ucap Anisa sambil mengulurkan tangannya.
Zia sudah mengeluarkan wajahnya dari tempat persembunyian lalu meraih tangan Anisa.
"Mommy tidul." Ucap Zia.
"Ngantuk sayang ?" Tanya Anisa dan gadis kecil yang sudah berpindah kedekapannya itu mengangguk.
"Kita makan siang dulu ya, lalu kita pulang dan tidur di rumah." Ajak Dimas. Anisa mengangguk namun Zia kembali membenamkan wajahnya di bahu sang ibu.
"Apa dia baik-baik saja ?" Tanya Dimas khawatir karena putrinya tidak lagi berceloteh seperti saat mereka baru sampai di tempat ini.
"Dia baik-baik saja, jangan terlalu khawatir. Jika sudah bosan dengan sesuatu dia akan memilih diam dari pada merengek." Jawab Anisa sambil menatap ke arah Dimas lalu tersenyum kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
Dimas menatap punggung wanita yang baru saja tersenyum manis kearahnya, senyuman yang tidak pernah dia dapati selama pernikahan mereka itu membuat jantungnya semakin berdebar.
Meskipun hanya untuk hari ini, namun begitu sangat berkesan. Dengan langkah cepat Dimas menyusul Anisa yang sedang berjalan di depannya menuju pintu keluar dengan beriringan.