Arunika Safana terpaksa menurut ketika kedua orang tua angkatnya memintanya untuk menikahi Bratasena Arka Sadajiwa, karena kakak angkatnya -Bianca- kabur tepat di hari pernikahannya dengan Sena. Demi menjaga nama baik kedua keluarga, Aruni menyetujui permintaan kedua orang tuanya meskipun Aruni dan Sena terpaut usia yang cukup jauh yaitu 12 tahun.
Sena; "Semua orang kek anj*ng! semua gara-gara Lo, Bii! kenapa Lo harus kabur di hari pernikahan kita! dan gue harus menikah dengan bocah ini?!"
Arunika; "Astaga kayak mimpi! Nggak ada yang tau, kalau selama ini aku memang suka sama Mas Sena. I have loved him since the first time we met, 2 tahun yang lalu. Dan sekarang aku harus menggantikan Kak Bi jadi pengantin Mas Sena? absolutely I do!"
Gimana ya, keseruan Arunika untuk mendapatkan hati Sena? berhasilkah dia? yuk ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malu sendiri.
"Wah, Ni! Lihat ini!" Vivi memegang gaun merah menyala dengan potongan rendah di bagian dada. "Ini! Aku mau ini!"
Aruni menggeleng. "Vi, itu terlalu seksi."
"Ya iyalah! Namanya juga pesta!" Vivi memegang gaun itu di depan tubuhnya. Setelah berkeliling beebrapa kali, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk masuk ke butik yang terlihat sangat mewah itu. Butik ini dengan gaun-gaun indah berderet. Lampu kristal berkilauan di langit-langit. Vivi langsung berdecak kagum.
"Aku mau tampil beda. Biar cowok-cowok pada melongo." Bisik Vivi.
"Tapi… nanti jadi ambigu dong, Vi. Cowok-cowok itu deketin kamu karena suka sama kamu atau sama body kamu. Gara-gara gaun seksi ini. Yak an?" ingat Aruni.
Vivi mencibir. “Trus aku harus beli gaun yang kayak apa? Kayak yang kamu pilih itu?” Vivi melirik sinis pada guan warna biru langit yang tengah dipegang Aruni.
Aruni tersenyum keci, memandang gaun yang sedang dia pegang. Dia sempat memilih satu gaun berwarna biru langit dengan potongan simpel, panjang selutut, tanpa bagian dada yang rendah, lengan sepanjang siku model lonceng. Gaun berbahan lembut dan jatuh, sangat indah –bagi Aruni.
"Ini," kata Aruni. "Aku suka ini."
Vivi memicingkan mata. "Itu terlalu sopan, Runi... kita itu mau ke pesta! Pesta! Jadi nggak masalah kan berpenampilan sedikit seksi?” Vivi memperhatikan kembali gaun yang akan dia beli, dan menggut-manggut puas. Selain itu harganya pun pas sekali dengan badgetnya. Untunglah celengan ayam jagonya benar-benar menjadi penolong di saat genting seperti ini.
"Aku nggak mau seksi. Mas Sena bilang jangan." Desis Aruni. “Tapi-“ Aruni bicara cepat menghentikan Vivi yang mulai membuka mulut. “Walaupun Mas Sena nggak melarang, aku tetap nggak mau pakai baju seksi. Titik nggak pake koma!”
Vivi terkekeh, “mas Sena mu itu memang beruntung bisa mendapatkan istri yang suci putih seputih salju seperti ini… ck, ck, ck..”
Aruni tergelak, “aku anggap itu pujian.”
“Padahal aku ini sedang mengejek, bukan memuji-“ timpal vivi sambil mencibir.
“Nggak masalah aku tetap anggap itu pujian-“
Vivi memutar bola matanya jengah.
Saat mereka berdua sedang asyik mengobrol, suara familiar terdengar dari belakang.
"Aruni? Vivi? Kalian di sini?"
Vivi dan Aruni sontak menoleh. Seorang gadis dengan rambut panjang bergelombang, berdandan sempurna, berdiri dengan senyum manis tapi matanya menyindir. Itu Julia, sahabat Valerie—dan musuh bebuyutan Vivi di kampus.
"Julia," sapa Vivi datar.
Julia mendekat, matanya mengamati gaun di tangan Vivi. "Wah, Vivi, kamu mau beli gaun itu? Itu mahal lho. Merek desainer. Harganya mungkin tiga kali uang saku bulananmu."
Vivi tersenyum sinis. "Kamu tahu harga semua barang di sini, Jul? Kayak karyawan butik aja."
Julia tertawa kecil. "Aku hanya mau mengingatkan. Takutnya waktu bayar uangnya nggak cukup, kan, malu."
Dia menoleh ke Aruni, melihat gaun biru simpel di tangannya. "Dan kamu, Aruni? Gaun itu... terlalu murah untuk pesta Valerie. Bukankah kamu akan malu? Semua orang akan berpakaian mewah. Kamu akan kelihatan seperti... pembantu."
Aruni menaikkan sebelah alisnya, “kenalkan aku dengan pembantu yang memakai gaun kayak gini. Aku mau jadi temannya,” jawab Aruni cuek.
Vivi tergelak, “Julia memang suka berhayal. Mending nggak usah diladeni, Run..”
Julia mencibir. “Susah memang bicara sama rakyat jelata-“ sindirnya sambil berjalan sombong melewati Vivi dan Aruni.
“Idih! Pede gila! Kami rakyat jelata trus lu apa? Budak sahaya?”
Mendengar celotehan Vivi, Aruni terkikik dan berusaha menutupi mulutnya. Sahabatnya ini memang mulutnya paling tajam kalau menyindir.
Julia mendengus. "Whatever! Aku mau beli gaun paling mahal di sini. Kalian lihat saja."
“Dih! Sorry ya! ngapain kita ngeliatin elu! Memangnya kami nggak ada kerjaan! Pih!” kesal Vivi.
Julia cuek dan terus berjalan ke bagian gaun premium, memilih gaun merah marun dengan payet Swarovski.
Di Kasir – 15 Menit Kemudian
Vivi dan Aruni sudah selesai, setelah berputar sekali lagi untuk memastikan, pilihan mereka berdua tetap pada gaun yang ada di tangan mereka. Vivi tetap dengan gaun merahnya. Aruni dengan gaun biru langit.
“Kamu bayar pakai apa?” tanya Vivi sambil mengeluarkan dompetnya.
Aruni menunjukkan kartu kredit pemberian Sena sambil tersenyum.
“Wuidiih.. dasar istri kesayangan…” ledek Vivi dan Aruni langsung merona karenanya.
Saat sedang menunggu antrian di kasir, tiba-tiba ponsel Aruni berdering, buru-buru dia mengangkatnya setelah melihat nama yang tertera di layar.
“Mas Sena menelpon, aku angkat dulu, ya?” bisik Aruni, dan Vivi membalasnya dengan anggukkan singkat.
“Halo, Mas?”
“Kamu jadi beli gaun?” tanya Sena dari sebrang.
“Iya mas, ini lagi antri di kasir- Mas..”
“Hmm?”
“Harga gaunnya satu jutaan… kemahalan ya?”
“Gaun apa harga satu juta?!” kaget Sena.
“Ma-maaf Mas.. aku bingung mau pilih yang-“
“Aruni! Jangan malu-maluin aku! Cari gaun yang lebih bagus! Harga satu juta dapat gaun kayak apa?”
Aruni terdiam. Awalnya dia takut Sena marah karena gaun yang dibelinya terlalu mahal, ternyata Sena marah karena gaunnya terlalu murah.
“Bianca kalau beli gaun, nggak pernah dibawah sepuluh juta, Aruni. Kamu beli apa harga segitu?”
“Tapi ini bagus mas, beneran.” Aruni berusaha meyakinkan.
“Ck! Gaun nya warna apa?”
“Hmm, biru langit…”
“ya sudah lah, nanti kita ngobrol lagi di rumah.” Lalu Sena menutup panggilan telponnya. Dan Aruni pun buru-buru ke meja kasir –mendekati Vivi.
“Kenapa? Kok mukamu ditekuk?”
“Aku dimarahi Mas Sena gara-gara gaun ini…” ucap Aruni.
“kenapa memangnya? Kemahalan?”
“Katanya kemurahan! Dia bilang aku harus cari yang lebih bagus. Tapi aku sudah rasa ini paling bagus.”
Vivi terkekeh, “wah.. Aruni.. aku sempat kasihan karena kamu dipaksa menikah, tapi sekarang aku iri. Kapan ya aku dipaksa menikah sama pengusaha sukses, biar tau rasanya jadi kamu.”
Aruni mencibir sambil mencubiti pelan lengan Vivi.
Tak lama kemudian, Julia datang dengan gaun premiumnya, wajah penuh kemenangan.
Di kasir, Vivi membayar lebih dulu. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.
Setelah transaksi selesai, giliran Julia. Gadis itu menyodorkan kartu kreditnya dengan percaya diri. "Kartu kredit, Mbak. Limitnya tinggi." Ucapnya sombong.
Kasir memproses. Lalu wajah kasir berubah sedikit canggung.
"Maaf, Mbak. Kartu ini ... limitnya tidak mencukupi untuk transaksi ini."
Julia terkejut. "Apa? Tidak mungkin! Coba lagi!"
Kasir mencoba lagi. Hasilnya sama. "Maaf, Mbak. Limitnya kurang sekitar Rp 3.000.000."
Vivi tersenyum lebar. "Wah, Julia. Katanya kartu kredit limit tinggi? Kok gak cukup buat bayar satu gaun?"
Julia merah padam. "Itu pasti sistem error!"
"Atau kartumu memang gak sekuat yang kamu kira?"
Julia menggigit bibir, matanya melotot ke Vivi. Tapi dia tidak bisa membalas.
Lalu Aruni melangkah maju. Dia mengeluarkan kartu kredit Sena—kartu hitam premium yang bahkan Julia belum pernah lihat.
"Bisakah Saya bayar dulu? Saya nggak punya banyak waktu,” ucap Aruni.
“Tentu saja,” ucap si kasir sopan.
Lalu setelah selesai membayar, Aruni pun pergi bersama Vivi. Meninggalkan Julia yang masih tertunduk malu dan bingung di sana.
pantes kalo malem suka kluyuran 🤭🤣🤣🤣
tak tunggu bgt ms brot bucin akut sama runi kk tam
emang mas brot ngeri juga vi kalo mode posesip .....
sampe ngaku kalo do'i jelose kalo perlu🤭🤣🤣🤣
kayake adit sama vivi satu frekuensi dah kk
..... asbun 🤭🤣🤣🤣🤣
kpn lagi numpak mobil mahal .......
trik mu emang siiip lah...👍
dalam benak mas broot ....
mbok yo kira kira lah vi . mosok macak cantik . mbahenol secara lo kan milih dress merah menyala ada belahanya dandan cetar membahana kok naik motor awut awutan loh nanti pas turun 🤭
padamu
bnyak tiponya
berasa godaan setan yang terkutuk itu run 🤭🤣🤣🤣
ternyata diam " jutek" ada rasa yang mulai menjalar tumbuh di hati mas brot..... gass lah mas brot runi kan hallal🤭
mungkikah.. mas brot jatuh cinta dgn runi ....?????
kk tam iki pie .......?
🤭🤭