NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Fantasi / Bertani / Slice of Life
Popularitas:36.8k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sampah Masyarakat atau Binatang Buas?

Mendengar ucapan Melati, Banyu tak kuasa menahan tawa geli. Karena takut penyakit gadis kecil ini terlalu parah dan satu-dua tetes Cairan Ajaib tidak cukup untuk menyembuhkannya, Banyu telah mencampurkan empat tetes penuh ke dalam jus bluberi itu! Seandainya Banyu bisa menjual Cairan Ajaib itu secara langsung di pasar gelap, empat tetes itu nilainya bisa mencapai puluhan miliar Rupiah dengan sangat mudah. Untung saja Kendi Penyuling Jiwa baru saja berevolusi setelah menyerap batu zamrud sehingga kuantitas produksinya meningkat pesat. Kalau tidak, menghabiskan empat tetes sekaligus pasti akan membuat dada Banyu terasa sesak karena sayang.

Tapi lihatlah Melati sekarang, dengan polosnya ia malah bertanya kapan bisa minum "obat" rasa bluberi itu lagi. Hal ini membuat Banyu menghela napas panjang dalam hati, "Wah, membesarkan anak perempuan ternyata memang butuh modal besar, boros banget ya!"

Namun tentu saja, Banyu tidak akan tega membuat gadis kecil itu kecewa. Sambil tersenyum lembut ia membelai rambut Melati, "Melati yang pintar, istirahat dan pulihkan dirimu baik-baik di sini, ya. Beberapa hari lagi Om pasti datang bawa obat enaknya lagi, oke?"

Banyu sangat yakin, setelah menenggak empat tetes Cairan Ajaib, separah apa pun penyakit yang menggerogoti tubuh Melati pasti akan tersapu bersih tanpa sisa. Saat ia menjenguknya lagi nanti, ia cukup membawakan jus bluberi biasa. Itu saja sudah pasti cukup untuk membuat gadis kecil ini bersorak bahagia.

Mendengar janji Banyu, Melati langsung bersorak kegirangan. Dengan senyum lebar yang kembali menghiasi wajah pucatnya, ia berkata, "Asyik! Om Banyu tenang saja, Melati janji bakal jadi anak manis dan penurut!"

Banyu mengangguk sambil tersenyum hangat, lalu merendahkan suaranya menjadi nada rahasia, "Melati... soal Om memberimu minum obat ini... selain kepada Mama dan Kakek, jangan beri tahu siapa-siapa ya. Ini jadi rahasia kecil kita berdua, setuju?"

Layaknya anak kecil pada umumnya, Melati sangat antusias dengan permainan 'rahasia-rahasiaan'. Ia sama sekali tidak banyak bertanya dan langsung mengangguk penuh semangat. "Oke, oke! Ayo kita janji kelingking!"

Mengetahui betapa sakralnya arti janji kelingking bagi anak seusia Melati, Banyu tersenyum dan menyodorkan jari kelingkingnya, lalu mengaitkannya dengan jari kelingking Melati yang terasa sedikit dingin. Melihat senyum ceria yang kembali merekah di sudut bibir gadis mungil itu, Banyu merasa empat tetes Cairan Ajaibnya tadi seratus persen terbayar lunas.

Meski Banyu tahu Melati pasti sangat kesepian sendirian di ruang isolasi, ia benar-benar tidak bisa berlama-lama di sana. Karena misinya mencekoki Melati dengan Cairan Ajaib sudah tuntas, Banyu mengingatkan gadis itu sekali lagi untuk patuh beristirahat, lalu berbalik dan melangkah keluar dengan sangat pelan.

Berbaring di atas ranjangnya, Melati sebenarnya sangat berharap Om Banyu bisa menemaninya sedikit lebih lama. Namun, sebagai anak yang kelewat pengertian, ia sama sekali tidak merengek manja. Ia hanya menatap dengan raut penuh kerinduan saat sosok Banyu menghilang di balik pintu, lalu menghela napas panjang... persis seperti gaya orang dewasa yang memendam rindu.

Huft...

Setelah menutup rapat pintu kamar rawat, Banyu akhirnya bisa mengembuskan napas lega. Syukurlah rencananya berjalan mulus. Dalam beberapa hari ke depan, Melati pasti akan pulih total dan bisa kembali ke pelukan keluarganya. Beban berat yang selama ini menindih ulu hati Banyu pun akhirnya terangkat.

Banyu kini berdiri di ruang tunggu isolasi. Ia kembali memasang masker medisnya, bersiap untuk menyelinap keluar dengan cara yang sama saat ia menyusup tadi. Namun, tepat ketika jemarinya menyentuh gagang pintu, samar-samar telinganya menangkap suara Siska dari luar lorong!

Hanya dari nada bicaranya saja, Banyu bisa merasakan bahwa Siska sedang dipenuhi oleh kepanikan sekaligus amarah yang siap meledak kapan saja. Raut wajah Banyu seketika menggelap. Ia memutar kenop dan membuka pintu sedikit saja lalu mengintip keluar sambil menajamkan pendengarannya untuk menyimak apa yang sedang diucapkan wanita itu.

Siska tampak berdiri di lorong tepat di depan kamar isolasi Melati. Wajah cantiknya yang biasanya memancarkan aura dingin, elegan, dan penuh otoritas kini terlihat sangat kuyu dan rapuh. Berdiri santai tepat berhadapan dengannya adalah seorang pria... yang tak lain dan tak bukan adalah Rendi, mantan suami Siska yang dulu pernah dihajar habis-habisan oleh Banyu!

Sangat kontras dengan Siska yang terlihat nyaris gila karena panik dan tertekan, Rendi justru berdiri dengan postur santai dan raut wajah tanpa beban. Ia bahkan terlihat seolah sedang dalam suasana hati yang sangat bagus.

"Si bajingan ini, bisa-bisanya dia terlihat sesantai dan sesenang itu?!" Banyu mengutuk dengan muak di dalam hati saat mengintip mimik wajah Rendi. "Putri kandungnya sendiri sedang sekarat menunggu maut, tapi dia bertingkah seolah sedang piknik. Benar-benar definisi sampah masyarakat tingkat dewa!"

Kedua orang di lorong itu terlalu fokus pada perdebatan mereka hingga sama sekali tidak menyadari ada sepasang mata yang mengawasi dari celah pintu. Siska mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, menatap Rendi dengan tatapan penuh kebencian, dan bertanya dengan nada sedingin es.

"Kau... kau benar-benar tidak berniat melakukan tes kecocokan sumsum tulang?! Kau ini ayah kandungnya, Rendi! Saat ini kau adalah satu-satunya peluang dan harapan yang bisa membuatnya bertahan hidup!"

Mungkin karena sadar mereka sedang berada di lorong publik rumah sakit, Siska sengaja menekan volume suaranya agar tidak berteriak. Namun meski begitu, Banyu masih bisa merasakan keputusasaan dan rasa frustrasi yang luar biasa pekat dari setiap intonasi yang diucapkannya.

Tes kecocokan ini adalah protokol wajib sebelum melakukan transplantasi sumsum tulang satu-satunya rute medis yang bisa menyembuhkan Anemia Aplastik dan Leukemia. Sebagai ayah biologis, Rendi memiliki probabilitas kecocokan yang sangat tinggi dan berpotensi mutlak menyelamatkan nyawa Melati.

Di luar sana, banyak sekali sukarelawan berhati malaikat yang bersedia mendonorkan sumsum tulang mereka dengan ikhlas hanya untuk menyelamatkan nyawa orang asing. Sementara si brengsek ini? Melati adalah darah dagingnya sendiri! Fakta bahwa bajingan ini menolak keras hanya sekadar untuk diuji kecocokannya membuat Banyu semakin merasa jijik pada pria itu.

Dibandingkan dengan Siska yang sudah seperti cacing kepanasan, Rendi tampak begitu rileks dan tak tersentuh. Dengan kedua tangan tersimpan santai di saku celananya, ia memindai tubuh Siska dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. Wajahnya yang lumayan tampan itu tak memancarkan empati sedikit pun pada mantan istrinya.

Melihat wajah Siska pucat pasi menahan emosi, Rendi berlagak prihatin dan menyahut, "Aduh, Siska... sejujurnya aku juga sangat khawatir dengan kondisi Melati. Sayangnya, beberapa hari terakhir ini urusan bisnisku sangat padat dan menyita waktu. Tapi lihat buktinya, begitu jadwalku kosong, aku langsung terbang kemari menjenguknya, kan?"

Siska sudah sangat hafal hingga ke sumsum tulang bahwa Rendi adalah pria narsistik yang egois dan tak punya hati nurani. Ia tidak percaya pada seutas kata pun yang keluar dari mulut beracun itu. Faktanya, jika bukan karena nyawa Melati sedang di ujung tanduk, Siska lebih sudi menelan racun daripada harus menghubungi mantan suaminya ini lagi. Malas membuang sisa energinya untuk menguliti kebohongan Rendi, Siska langsung menembak ke intinya.

"Kalau begitu, kapan kau bersedia masuk ke lab dan melakukan tes kecocokan itu?!"

"Hei, jangan terburu-buru begitu. Ada hal yang jauh lebih krusial daripada sekadar tes kecocokan itu," Rendi membalas dengan senyum licik yang memuakkan. "Menurut pandanganku, tumbuh besar dengan kasih sayang seorang ibu saja tidak cukup untuk Melati. Dia butuh figur, perlindungan, dan perhatian dari seorang ayah yang utuh. Bahkan seandainya penyakitnya nanti bisa disembuhkan pun, kau tidak mungkin membiarkannya hidup tanpa sosok ayah untuk selamanya, kan?"

Otak Siska saat ini sedang overload dan hanya fokus pada satu hal: menyelamatkan nyawa putrinya secepat mungkin. Ia sama sekali tak punya waktu untuk bermain teka-teki makna terselubung dari ucapan Rendi. Alisnya menukik tajam menahan amarah. "Jangan berbelit-belit! Sebenarnya apa maumu?!"

Rendi menyeringai penuh kemenangan, merasa memegang kendali absolut. "Maksudku sangat sederhana, Sayang. Kita harus mengembalikan sosok ayah secara resmi untuk Melati. Bagaimana kalau... kita rujuk dan menikah lagi?"

Sepasang mata Siska terbelalak kaget. Ia menatap Rendi selama beberapa detik seolah pria itu baru saja berubah wujud menjadi monster menjijikkan, lalu tertawa sinis dan tajam. "Kau pasti sudah gila! Iblis macam apa yang berani-beraninya mengajukan syarat sekotor itu?! Jangan mimpi di siang bolong!"

Ditolak dan diolok mentah-mentah, senyum palsu di wajah Rendi seketika lenyap tak berbekas, digantikan oleh raut wajah yang luar biasa kejam, buas, dan suram. Ia maju satu langkah mendekati Siska untuk mengintimidasi wanita itu, lalu mendesis dengan nada mengancam.

"Dengar baik-baik, Siska. Kalau kau mau aku masuk ke ruangan itu dan melakukan tes kecocokan sumsum tulang... syarat mutlaknya adalah kau harus rujuk dan menikahiku kembali! Setelah kita resmi menjadi suami-istri lagi, aku akan menyumbangkan apa pun yang kau minta untuk menyelamatkannya. Tapi... kalau kau menolak syaratku, silakan berdiri di sana dan tonton saja anak itu mati membusuk perlahan! Aku sudah mencari bocoran dari dokter soal kondisinya, dan itu sangat kritis! Dia bahkan tidak akan bisa bertahan melewati akhir bulan ini tanpa donor dariku, kan?! Hehe... Aku cuma berharap kau akan terus mengingat hal ini di sisa hidupmu yang menyedihkan: anak itu MATI karena KEEGOISANMU!"

Di balik celah pintu, urat-urat di dahi Banyu bermunculan. Darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun mendengar ancaman biadab tersebut.

"Bajingan keparat! Tadi aku salah besar menilainya. Dia ini bukan sampah masyarakat, dia ini IBLIS murni yang menyamar menjadi manusia!" Banyu mengutuk dengan amarah yang siap meledak kapan saja. "Bisa-bisanya ada 'ayah' biadab yang menggunakan nyawa darah dagingnya sendiri sebagai alat pemerasan dan barter untuk memuaskan egonya?! Binatang buas yang paling ganas pun tidak akan sekejam ini pada anaknya sendiri!"

1
Noor hidayati
kayaknya authornya ini memang menyukai free sex
Sri Murtini
Sesuai takdir Siska adalah isteri pertamamu banyu ...mslh dayang lainya ikuti mengalir saja tp dgn pertimbangan istri pertama ya !!
Yusup Surya
sialan plot twist dalam plot twist
Sri Murtini
Banyu segera nikahi Siska siapa tahu ada banyu yunior yg singgah dirahim siska sblm zina berlanjut💪😍😍
wan auw
ahhh kurang bnyak thorrr
isnaini naini
stlh beratus ratus episode...akhirnys....emang author satu ini pnuh kjutan
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖺𝗇𝗒𝖺𝗄 𝗍𝗎 𝖻𝖺𝗇𝗒𝗎. 𝖽𝖺𝗁 𝖻𝖾𝗋𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝖻𝗈𝗅 𝗄𝖾𝗉𝖾𝗋𝖺𝗐𝖺𝗇𝖺𝗇 𝗌𝗂𝗌𝗄𝖺, 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌 𝗆𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝖻𝗈𝗅 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗉𝖾𝗋𝖺𝗐𝖺𝗇 𝗒𝗀 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝗅𝖺𝗀𝗂? 𝗍𝖺𝗇𝗉𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗇𝗂𝗄𝖺𝗁𝖺𝗇? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝗉𝗅𝖺𝗒𝖻𝗈𝗒 𝖼𝖺𝗉 𝗄𝖺𝗉𝖺𝗄.
Hardware Solution
akhirnyaaaa.....
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒, 𝗒𝗎𝖽𝗈 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖻𝖺𝗅𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗍𝗂𝗆𝗉𝖺𝗅
Gege
akhirnya banyu pecah prewi...dan ular kadutnya pun berevolusi bukan buat kencing ajah...🤭🤣
Cui Lan Seng
hahaha emang benar novel terjemahan berarti emang indonesia bukan asia ya
Zamo: Anjirr, aku ampe mikir apa maksudnya ini? tapi bener juga ya, dikiranya Indonesia benua sendiri🤭
total 1 replies
Endro Budi Raharjo
lalu crita ditangkep polisi gmn kelanjutannya ???
Riyanganz
seperti biasa dramanya 4 chapter ga selesai selesai😄
Was pray: biasa .... muter2 kayak gangsing, satu konflik gak kelar2.. .. 🤭
total 1 replies
Memyr 67
𝗉𝖾𝗆𝗎𝖽𝖺 𝖺𝗌𝗂𝖺. 𝗄𝖺𝗇 𝗉𝗈𝗌𝗂𝗌𝗂 𝖻𝖺𝗇𝗒𝗎 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗂 𝖺𝗌𝗂𝖺 𝗍𝗁𝗈𝗋.
asammanis
wkwk bosen hidup🤣🤣
BaksoEnak
hahahah kayaknya ini novel terjemahan Da Xia yaa ketahuan kamu🤭🤭🤭
Was pray
jadi tersangka penganiayaan itu Rendi biar banyu mikir dulu kalau mau bertindak, udah jelas menganiaya Rendi di tempat publik( rumah sakit)itu udah veruko tinggi
Gege
othor berusaha membuat konflik yang memicu emosi pembacanya, ..🤣
asammanis
wkwk kekuatan amplop emang paling top🤣
asammanis
wkwk susternya kena mental 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!