Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3:SIHIR PERAK DAN SUMPAH YANG TERIKAT
Pecahan pintu kayu pondok melayang ke segala arah bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Mayang refleks memekik rendah, menyembunyikan wajah cantiknya di balik punggung lebar Dion. Aroma busuk seperti belerang dan tanah basah langsung menyeruak masuk, mengalahkan kehangatan wangi kayu pinus di dalam ruangan. Bersamaan dengan hancurnya pintu, sesosok makhluk mengerikan melangkah maju dari kegelapan kabut luar.
Makhluk itu—The Stalker—memiliki tinggi hampir dua kali lipat manusia dewasa. Tubuhnya berupa manifestasi kabut hitam yang pekat, bergerak-gerak konstan seperti cairan berlendir yang padat. Sepasang matanya menyala merah darah di balik rongga wajahnya yang tak berbentuk, dan cakar-cakar panjangnya yang sehitam arang berkilat tajam di bawah sisa cahaya api perapian. Makhluk itu mengeluarkan suara geraman yang bergetar, suara yang langsung menusuk gendang telinga Mayang hingga membuat kepalanya pening.
"Tetap di belakangku, Mayang! Jangan lepaskan jubahmu!" seru Dion, suaranya menggelegar penuh otoritas, memotong keheningan malam yang koyak.
Dion tidak menunggu makhluk itu menyerang lebih dulu. Dengan kecepatan yang hampir tak kasat mata, ia melesat maju. Tangan kirinya yang telah diselimuti oleh asap keperakan dihentakkan ke depan.
"Aegis Nebulae!" geram Dion.
Seketika, asap perak dari jemari Dion meluas, membentuk sebuah dinding perisai magis yang transparan namun sekeras baja tepat di depan mereka. Cakar besar The Stalker menghantam perisai itu dengan kekuatan yang masif.
BENTAAAARRR!
Benturan dua kekuatan magis itu menciptakan gelombang kejut yang kuat, meniup sisa-sisa api di perapian hingga padam sepenuhnya. Pondok itu kini jatuh ke dalam kegelapan total, hanya diterangi oleh pendaran cahaya perak dari sihir Dion dan kilatan merah dari mata sang monster.
Mayang merosot ke lantai kayu yang dingin, memeluk lututnya sendiri dengan tubuh yang gemetar hebat. Dalam kegelapan itu, ia hanya bisa mengandalkan indranya untuk menebak apa yang sedang terjadi. Ia bisa mendengar deru napas Dion yang memburu, suara gesekan logam belati, dan lolongan kesakitan dari makhluk kabut tersebut.
Dion memanfaatkan momentum saat makhluk itu terhuyung mundur akibat hantaman perisainya. Dengan ketangkasan seorang pemburu profesional yang sudah terlatih menghadapi maut, ia melompat ke atas meja kayu yang tersisa, lalu meluncur ke arah leher makhluk itu. Belati kuno di tangan kanannya kini berkilau dengan cahaya perak yang menyilaukan.
JLEEEBBB!
Dion menusukkan belatinya tepat ke bagian yang seharusnya menjadi urat nadi makhluk tersebut. Cairan hitam kental yang mengeluarkan uap panas menyembur keluar, mengenai lantai kayu dan menimbulkan suara mendesis yang beracun. Makhluk itu melolong kesakitan, tubuh kabutnya berguncang hebat mencoba melempar Dion dari punggungnya.
Namun, peringatan Dion sebelumnya terbukti benar. Mereka tidak pernah berburu sendirian.
Dari celah pintu yang hancur, dua pasang mata merah lainnya mendadak muncul dari kegelapan malam. Dua ekor The Stalker baru telah tiba, ditarik oleh aroma darah murni Mayang dan bau kematian dari kawan mereka. Salah satu makhluk baru itu langsung mengalihkan pandangan laparnya ke sudut ruangan—tepat ke arah tempat Mayang sedang meringkuk ketakutan.
"Mayang, lari!" teriak Dion dari atas punggung makhluk pertama yang sedang sekarat. Nada suaranya yang biasanya tenang kini dipenuhi kepanikan yang nyata. Dion mencoba melepaskan belatinya untuk menolong Mayang, namun tangan makhluk pertama berhasil mencengkeram kaki Dion, menguncinya di tempat.
Makhluk kedua melangkah mendekati Mayang dengan kecepatan yang mengerikan. Air liurnya yang hitam menetes ke lantai, membakar kayu pondok hingga berlubang. Mayang terdesak hingga punggungnya membentur dinding sudut ruangan. Jarak makhluk itu kini hanya tinggal beberapa langkah lagi darinya. Cakar raksasanya terangkat tinggi, siap untuk merobek dada gadis itu.
Di ambang maut yang begitu dekat, Mayang merasakan sesuatu yang aneh bergejolak di dalam dadanya. Rasa takut yang teramat sangat mendadak berubah menjadi rasa panas yang membakar di dalam aliran darahnya. Itu bukan rasa hangat dari ramuan jahe Dion, melainkan sebuah energi kuno yang tersembunyi jauh di dalam silsilah darahnya sendiri—darah yang selama ini tidak pernah ia ketahui maknanya.
Mata Mayang yang semula jernih mendadak berkilat memancarkan cahaya keemasan yang redup namun murni. Tanpa sadar, ia mengangkat kedua tangannya ke depan untuk melindungi diri.
"Pergiii!" teriak Mayang histeris.
Sebuah ledakan gelombang energi berwarna putih keemasan yang murni mendadak keluar dari telapak tangan Mayang. Energi itu meluncur bagai ombak besar, menghantam dada The Stalker yang berada di depannya. Makhluk kabut hitam itu melolong luar biasa nyaring saat energi cahaya Mayang membakar tubuh kabutnya seolah-olah itu adalah kertas yang dilemparkan ke dalam api. Dalam hitungan detik, makhluk kedua itu hancur menjadi abu kelabu yang tak berbahaya.
Dion yang baru saja berhasil memotong tangan makhluk pertama dan menusuk jantungnya hingga musnah, tertegun menyaksikan pemandangan tersebut. Mata abu-abunya membelalak melihat sisa pendaran cahaya keemasan yang perlahan memudar dari tubuh Mayang.
"Cahaya fajar..." bisik Dion dengan nada tidak percaya. "Kau... kau bukan manusia biasa, Mayang."
Namun, pertempuran belum sepenuhnya usai. Makhluk ketiga, yang melihat kedua kawannya hancur, mendadak menjadi jauh lebih agresif. Ia tidak lagi mengincar Mayang, melainkan melompat dengan brutal ke arah Dion yang sedang lengah. Cakar makhluk itu berhasil menyayat lengan atas Dion sebelum pria itu sempat menghindar.
Dion mengerang kesakitan, darah segar mengalir dari lengannya. Namun dengan kemarahan yang membara karena melihat gadis yang dilindunginya dalam bahaya, Dion memutar tubuhnya, mengalirkan seluruh sisa tenaga magisnya ke bilah belati, lalu menebas kepala makhluk ketiga itu hingga terbelah dua dalam satu gerakan pamungkas.
Ruangan pondok itu kembali sunyi. Tiga monster kabut telah musnah, menyisakan bau hangus dan pecahan kayu yang berserakan.
Dion berlutut di lantai, memegangi lengannya yang terluka parah akibat cakaran beracun tersebut. Napasnya terengah-engah, dan keringat dingin mulai membasahi dahinya. Racun dari kabut hitam The Stalker mulai menjalar ke dalam sistem tubuhnya.
Mayang, yang energinya terkuras habis setelah ledakan misterius tadi, memaksakan diri untuk merangkak menghampiri Dion. Rasa takutnya pada monster kini telah sepenuhnya digantikan oleh rasa cemas yang mendalam melihat kondisi pria yang telah menyelamatkan nyawanya itu.
"Dion! Kau terluka..." suara Mayang bergetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang indah.
"Jangan sentuh luka ini, Mayang... racunnya bisa melukaimu," bisik Dion lemah, mencoba menjauhkan lengannya yang menghitam karena efek racun.
Namun, Mayang mengabaikan peringatan itu. Seolah dituntun oleh insting purba yang tiba-tiba bangkit, Mayang justru meraih lengan luka Dion dengan kedua tangannya. Begitu telapak tangannya yang selembut sutra menyentuh kulit Dion yang panas dan terluka, keajaiban kembali terjadi. Cahaya keemasan lembut kembali memancar dari jemari Mayang, mengalir masuk ke dalam luka Dion, membersihkan racun hitam tersebut dan perlahan menutup robokan daging di lengannya hingga mulus kembali.
Dion terengah saat rasa sakitnya lenyap seketika, digantikan oleh rasa hangat yang luar biasa nyaman dan menenangkan. Ia menatap Mayang yang kini tampak sangat lemas, wajah cantiknya pucat karena kehabisan energi spiritual. Sebelum Mayang jatuh pingsan karena kelelahan, Dion dengan sigap menangkap tubuh mungil itu dan mendekapnya erat ke dalam dadanya yang bidang.
Di tengah kegelapan pondok yang hancur dan kabut luar yang perlahan mereda karena fajar yang hampir tiba, Dion mengecup puncak kepala Mayang dengan lembut. Ada rasa kepemilikan dan keterikatan yang kini terpatri jauh di lubuk hatinya.
"Kau adalah kunci dari segalanya, Mayang," bisik Dion dengan suara rendah yang penuh janji terikat. "Dan aku bersumpah, aku tidak akan membiarkan siapa pun atau makhluk apa pun di lembah ini menyentuhmu lagi."