*DI BARENGI PERBAIKAN*
Serena adalah seorang gadis yatim piatu tomboy yang pintar beladiri. saat bekerja ia tak sengaja melihat novel diatas meja. karna tertarik Serena pun membacanya
Namun saat bangun dari tidurnya dipagi hari dirinya berada ditempat yang sangat asing untuk dirinya.
apa yang sebenarnya terjadi pada Serena?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Agustina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Serena dan Rebecca sampai di depan gedung tempat tinggal selir Ghou. Rebecca berbicara sebentar pada penjaga di depan pintu gerbang.
"Rena ayo masuk."
Serena sempat menyapa para penjaga yang tentu saja di balas oleh para penjaga. Serena hanya mengikuti Rebecca dari belakang karena sama sekali tak mengenali tempat ini.
"Kak apakah Selir tinggal sendiri di sini?"
"Tidak. Aku juga tinggal di sini menemani ibu."
"Apa kakak tidak merasa kesepian. Di sini memang sangat indah dan sejuk hanya saja ini sangat tenang dan sepi."
"Kau benar Rena. Ibu memang menyukai keindahan, ketenangan dan keselarasan. Tapi tenang saja ibu ku sangat pengertian.
Aku juga tidak pernah merasa kesepian. Ibu dan pelayan selalu menemaniku bermain. Yang mulia kaisar dan kak Alex juga kadang-kadang berkunjung untuk bertemu ibu dan menemaniku bermain."
"Kakak sangat beruntung"
"Ya, kakak merasa menjadi orang paling beruntung dengan mempunyai mereka dan sekarang ditambah Rena kakak sangat bahagia."
"Emm boleh aku bertanya satu hal kak?"
"Tentu saja."
"Aku tau ini tidak sopan tapi apakah kakak akur dengan para saudaramu kak?"
"Tidak semua sih. Tapi tak apalah aku masih memiliki mereka yang menyayangi ku. Ah! Itu ibu."
Serena mengikuti arah pandang Rebecca. Seorang wanita cantik sedang duduk di sebuah pondok di atas sebuah kolam dengan banyak bunga Lotus mengapung. Wanita itu sangat menawan dengan rambut disanggul berwarna serupa dengan Rebecca gaun pink dengan taburan permata di gaun dan perhiasannya.
Sapuan make up yang sederhana memperlihatkan sisi cantik, anggun dan berwibawa wanita itu. Jika dia berjalan di kota tanpa pengawal mungkin orang tidak akan menyangka ia sudah memiliki putri berusia tiga belas tahun. Jika didampingi pengawal penduduk pasti tau dia selir kekaisaran.
"Rebecca memberi salam pada ibu."
"Rebecca. Siapa gadis cantik yang kau bawa ini?"
"Nama saya Serena Lexus putri bungsu keluarga Lexus memberi salam pada yang mulia selir Ghou."
"Oo jadi ini yang namanya Serena. Kau tunangannya Dean bukan?"
"Benar ibu, dia cantikan?"
"Iya sangat cantik sangat cocok dengan Dean."
"Terimakasih atas pujiannya yang..."
"Tidak usah terlalu formal. Dean juga putraku. Kau bisa memanggilmu ibu."
"Tapi..."
"Ayolah Rena kau kan memanggilku kakak kalau kau memanggil ibuku juga ibu maka kita resmi saudara ya...ya...."
"Ba... baiklah."
"Yey!!!"
Mereka tertawa bersama sama. Mereka memakan makanan yang dibawa Serena juga Teh yang dibawa Rebecca. Karna tehnya dingin Rebecca membuatkan yang baru untuk mereka.
"Ibu."
"Iya, Ada apa Rebecca?"
"Sebenarnya aku mengajak Serena kesini ingin bermain salju dengan ibu."
"Benarkah itu Serena?"
"Ka... kalau ibu tidak bisa tidak mengapa kok," ucap Serena sedikit gugup.
"Tidak perlu gugup begitu. Ibu pasti mau, Kalian kemari."
Medea menepuk tempat di kedua sisinya menyuruh Rebecca dan Serena duduk disisinya. Rebecca di kiri dan Serena di kanan. Di rangkulnya pundak Rebecca dan Serena.
"Apapun untuk putri-putri ku tersayang."
Medea mengecup kepala Rebecca dan Serena bergantian. Serena merasa sebuah perasaan hangat mengalir di tubuhnya. Apa dia benar-benar dianggap anak oleh sang Selir?
Tentu saja iya. Medea sangat baik, sabar dan penyayang. Hanya saja dia bisa jadi beringas ketika putrinya atau orang terdekatnya dilukai. Dulunya Medea adalah jendral kerajaan seperti Berlin.
Medea termasuk salah satu pendekar pedang wanita terhebat di Mediteran. Hanya satu wanita yang bisa mengalahkannya. Yaitu sahabatnya sendiri mendiang permaisuri terdahulu Batric Phanes.
"Apa aku benar benar di perbolehkan menganggap anda seperti ibu saya?"
"Tentu saja Serena."
"Usy bisa bawakan kami mantel kami akan bermain salju?"
"Baik nyonya."
Medea menyuruh seorang pelayan mengambilkan mantel. Serena memandang Rebecca yang dibalas cengiran oleh Rebecca.
"Kalian ayo kita ke sana."
Medea menunjuk tempat di sebrang kolam. Rebecca dan Serena hanya mengangguk dan mengikuti Medea dari belakang. Mereka berbincang sambil sesekali tertawa rendah. Medea tersenyum melihat interaksi kedua 'putrinya' itu.
"Rebecca kenapa kau tidak bermain salju sendiri dengan Serena?"
"Pengendalian ku masih buruk lebih baik bersama ibu saja."
"Benarkah karna itu?"
"Te...tentu saja."
"Kakak wajahmu merah."
"I...ini karena panas. Iya benar karena panas."
Medea tertawa kecil melihat Rebecca salah tingkah. Sebenarnya Medea paham akan alasan putrinya membawa Serena. Jelas karena ingin memperkenalkan Serena pada dirinya secara tidak langsung dan menunjukkan betapa manisnya Serena. Ia sebenarnya hanya menggoda putrinya saja.
"Kalian siap?"
"SIAP!!!" Rebecca dan Serena sangat antusias.
Sring
Salju turun dari awan buatan Medea. Wajah Serena amat berseri. Rebecca ikut berseri melihatnya. Mereka melupakan bahwa mereka belum memakai mantel.
Medea tak sengaja melihat bayangan Serena yang tidak sesuai gerakan Serena. Seakan akan bayangan itu juga menikmati sajunya sendiri.
'Aku tau Lexus kebanyakan pemilik sihir kegelapan tapi aku tak menyangka diusia yang masih begitu muda.'
☆☆☆
Dean dan Herlis sedang dalam perjalanan ke tempat tinggal Selir Ghou. Beberapa saat lalu mereka bertemu Berlin. Dean mendengar beberapa pelayan mengatakan tentang Serena.
Untuk memastikan Dean bertanya pada Berlin langsung. Berlin mengatakan Serena dibawa Rebecca. Kebetulan seorang prajurit melihat kemana mereka pergi.
"Aku tak menyangka Serena datang dan tidak menemui mu."
"Kalau kau hanya mau menghina jangan ikuti aku."
"Aish kau ini. Aku hanya bercanda. Lagian yang membawa Serena itu kak Rebecca. Sulit untuk menolak ajakannya. Kau saja tak pernah menolak permintaannya."
"Ya karna dia jarang meminta tidak seperti adikku."
"Hey! Perhatikan bicaramu jika Laura mendengar kau membandingkannya dia akan marah."
"Aku tidak peduli."
Mereka melewati beberapa bangunan tanpa memperhatikannya. Mereka asyik berbincang? Mungkin. Tak sadar sosok serba hitam dengan mata merah duduk di atas atap sebuah bangunan.
"Apa sebegitu menariknya sampai calon putra mahkota rela mendatanginya. Aku semakin penasaran."
Dia adalah Lucretius atau yang sekarang di kenal dengan Lucas. Seringai manis tercetak di bibirnya seperti biasa. Dia menjatuhkan dirinya ke belakang membuat dirinya terjatuh dari atas atap.
Namun sebelum tubuhnya menyentuh tanah tubuhnya menghilang menyisakan kelopak mawar hitam yang kemudian ditiup angin. Kelopak itu mendarat tepat di sebelah kaki seorang gadis yang tak lain adalah Ru Ai.
"Tuan apa yang harus ku lakukan?"
susah di mengerti....
SEMOGAAA AJAAA CUMA KARENA HIATUS 1 TAHUN
selalu di nanti nih ceritanya.
bingung sumpah banyak teka-tekinya