Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.
Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.
Sampai Rayhan Liem kembali.
Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.
Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.
Dan Yola memang berlari. Dua kali.
Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.
Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?
Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?
⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 017
Jendela di Lantai Dua
Keesokan paginya, Yola berdiri di depan shophouse kecil di Kemang dan untuk pertama kalinya merasa takut pada sesuatu yang tidak mengancamnya.
Bangunan itu tidak besar. Dua lantai, cat putih agak kusam, pintu kaca lebar, dan balkon sempit di lantai dua. Di sebelah kiri ada toko bunga kecil, di sebelah kanan kafe yang belum buka. Pohon ketapang kencana di depan bangunan memberi bayangan tipis di trotoar.
Sari berdiri di samping Yola sambil membawa tas berisi buku catatan dan botol air. Rizal menunggu di mobil yang diparkir agak jauh, cukup dekat untuk melihat, cukup jauh agar tidak terasa mengawal seperti tahanan.
Daniel sudah menunggu di depan pintu bersama seorang perempuan berusia sekitar tiga puluhan.
"Kak Yola," sapa Daniel. "Ini Dewi. Dia dulu mengelola counter fragrance di salah satu department store. Sekarang sedang mencari pekerjaan yang lebih kecil tapi lebih serius."
Dewi tersenyum sopan. "Senang bertemu, Nona Yola."
Yola membalas senyum. "Panggil Yola saja kalau nanti kita benar-benar bekerja sama."
Dewi tampak sedikit terkejut, lalu senyumnya menjadi lebih hangat. "Baik."
Daniel membuka pintu kaca. "Silakan."
Aroma ruangan kosong menyambut mereka: debu tipis, cat lama, kayu, dan sisa wangi kopi dari penyewa sebelumnya. Lantai bawah berbentuk persegi panjang dengan cahaya cukup dari depan. Dindingnya polos. Tidak ada kemewahan. Tidak ada pilar. Tidak ada foto keluarga yang mengawasi.
Yola melangkah masuk pelan.
Sari berbisik, "Nona?"
"Aku baik-baik saja."
Yola tidak sepenuhnya berbohong. Dadanya memang berdebar, tetapi bukan karena takut seperti saat Rayhan berdiri terlalu dekat atau Celine tersenyum terlalu manis. Ini rasa takut lain. Rasa takut ketika pintu terbuka dan seseorang harus memutuskan apakah ia berani masuk.
"Area depan bisa untuk display," kata Daniel. "Rak kaca di sisi kanan. Meja kecil di tengah. Kalau Kak Yola belum mau buka untuk umum, tirai bisa dipasang agar lebih privat."
Dewi menambahkan, "Kalau untuk parfum artisan, pengunjung biasanya suka melihat proses sedikit. Tidak semua, tapi cukup untuk percaya bahwa produknya personal."
Yola menatap dinding kanan. Dalam pikirannya, botol-botol antik dari Papa Hartono sudah tersusun di sana. Label kecil. Bunga kering. Mungkin satu aroma pertama: Pear Blossom.
Namun ia tidak ingin aroma itu hanya menjadi bayangan Kevin.
"Kalau saya membuat Pear Blossom," katanya pelan, "saya ingin aromanya tidak terlalu sedih."
Daniel menoleh. "Pear Blossom?"
Yola baru sadar ia mengatakannya keras-keras.
"Campuran lama. Bunga pir, teh putih, sedikit musk bersih. Dulu saya buat untuk kamar Kevin."
Dewi mengangguk, serius. "Itu bisa jadi signature. Tapi kalau Nona Yola ingin tidak terlalu sedih, mungkin tambahkan citrus tipis atau green note. Biar ada kesan pagi."
Kesan pagi.
Yola menyukai frasa itu.
"Kita lihat lantai atas?" tanya Daniel.
Tangga kayunya sempit tetapi kokoh. Di lantai dua, ruangan lebih kecil, dengan jendela besar menghadap jalan. Cahaya masuk lebih bebas di sini. Ada bekas rak di dinding dan satu wastafel kecil di sudut belakang.
Yola berjalan ke jendela.
Dari atas, ia bisa melihat mobil Rizal, toko bunga, orang lewat membawa helm, dan Daniel yang berdiri sedikit di belakang tanpa mendesak. Jalan Kemang ramai, tetapi dari balik kaca, keramaian itu terasa seperti hidup yang bisa dipilih, bukan kebisingan yang memaksa.
"Ruang racik di sini," kata Dewi. "Ventilasinya perlu diperbaiki. Rak bahan harus jauh dari matahari langsung. Tapi bisa."
"Bisa," ulang Yola.
Kata itu kecil.
Namun di ruangan kosong itu, kata tersebut terdengar seperti janji.
Daniel membuka map. "Pemilik bersedia kontrak satu tahun dulu. Kalau Kak Yola ragu, kita bisa mulai sebagai studio tertutup. Tidak perlu langsung toko."
"Saya tidak ingin memakai uang keluarga Liem."
Daniel tidak terlihat tersinggung. "Saya mengerti."
"Saya punya tabungan pribadi dari pemberian Kevin dan beberapa hadiah masa lalu. Tidak banyak, tapi cukup untuk awal kecil. Kalau kurang, saya ingin skema pinjaman yang jelas. Bukan bantuan tanpa batas."
Dewi menatap Yola dengan hormat baru.
Daniel mengangguk pelan. "Saya bisa bantu susun hitungan. Semua tertulis. Kak Yola yang pegang keputusan."
Yola menatapnya. "Terima kasih."
"Kevin akan senang."
Nama itu membuat ruangan hening sebentar, tetapi tidak menyakitkan seperti biasanya.
Yola menatap jendela lagi. "Untuk pertama kalinya, saya ingin membuat sesuatu bukan supaya Kevin senang."
Daniel diam.
Sari menatap Yola dengan mata berkaca-kaca.
Yola melanjutkan lebih pelan, "Saya ingin membuatnya karena saya masih hidup."
Di bawah, suara motor lewat memecah hening.
Daniel menunduk sedikit, seperti menerima kalimat itu dengan hormat. "Kalau begitu, kita mulai dari hidup."
Dewi tersenyum. "Saya bisa bantu daftar kebutuhan dasar. Timbangan presisi, alkohol kosmetik, pipet, strip tester, lemari bahan, izin usaha kecil..."
"Izin usaha?" Yola langsung mengambil buku catatan dari Sari.
Dewi tertawa pelan. "Tenang, Nona. Pelan-pelan."
"Tidak. Saya ingin tahu dari awal."
Mereka menghabiskan hampir satu jam mencatat kebutuhan. Yola bertanya banyak. Daniel menjawab bagian kontrak dan biaya. Dewi menjawab bagian operasional dan produk. Sari menulis cadangan karena Yola terlalu cepat berpindah topik.
Ketika mereka turun lagi ke lantai bawah, Yola berhenti di tengah ruangan kosong.
"Atelier Yola," kata Daniel tiba-tiba.
Yola menoleh. "Apa?"
"Nama tempatnya. Sederhana. Personal."
"Terlalu langsung."
"Justru itu bagus," kata Dewi. "Orang membeli parfum personal karena percaya pembuatnya."
Yola menatap pintu kaca.
Atelier Yola.
Nama itu terasa asing. Sedikit menakutkan. Tetapi tidak menyakitkan.
Di luar, Rizal mengangkat ponsel dan memotret bangunan dari dalam mobil. Ia mengirimkannya kepada Ardi dengan pesan singkat.
`Lokasi cocok untuk studio. Daniel Wijaya ikut. Nona Yola terlihat serius.`
Beberapa detik kemudian, balasan Ardi masuk.
`Tetap pantau. Pak Rayhan minta laporan langsung.`
up lagi, Author. banyak-banyak!😅