TAMAT
Rara bersembunyi sebisa mungkin agar tak terlihat oleh pria yang sudah dilihatnya sedang menghajar seorang wanita yang sudah terkapar berlumuran darah, membuatnya terpaksa harus bersembunyi agar tak menjadi korban berikutnya. Namun sayang persembunyian Rara pun diketahui oleh lelaki itu dan Rara pun menjerit ketakutan saat sebuah tangan mengcengkram bahunya dengan sangat kuat.
" Aaaa sakit, Aku minta maaf, aku tak sengaja melihatmu, aku hanya sedang lewat dan mendengar sebuah teriakan dari gadis itu. aku benar-benar tak bermaksud untuk ikut campur, aku hanya sedang lewat saja. Aku mohon ampuni aku, jangan sakiti aku, aku berjanji akan tutup mulut, aku tak akan menceritakan pada siapapun. Aku mohon lepaskan aku" Ucap Rara dengan tangis lirih. Rasa takut yang amat sangat, membuatnya pingsan dihadapan lelaki itu. Namun bukan meninggalkan Rara, lelaki tersebut malah menggendongnya ala bridal, membawanya menuju kediaman seorang Pria Psychopath.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Rubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Samuel
Pagi ini Ferdy dan Daffa tiba di sebuah Hotel yang sudah dipesan oleh Ferdy sebelum mereka berangkat, ada sesuatu yang ingin Ferdy tunjukan pada Daffa, namun Ia tak ingin memberitahu dengan cepat, biarkan menjadi sebuah kejutan untuknya.
" udah bangun ?". Tanya Ferdy sambil sibuk menekan-nekan tombol pada ponselnya.
" Lo pikir gue lagi ngigo sambil jalan, pakai tanya ". Sahut Daffa ketus, dia terus memijit-mijit dahinya yang masih terasa pusing.
" Yaudah sono mandi, gue mau ngajak lo ke sesuatu tempat. Buruan ". Titah Ferdy yang masih sibuk dengan ponselnya
" Lo gue udah mandi, Udah rapi. Sialan Lo ". jawab Daffa melempar bantal di sofa kearah Ferdy.
Ferdy pun hanya tertawa dan meminta maaf. lalu Ferdy keluar dari kamar hotelnya, diikuti Daffa yang masih terus memegangi kepalanya.
" Jadi tempat ini yang mau lo tunjukin ke gue " Tanya Daffa heran.
" Santai aja si Daffa, ini masih pagi. Sebelum gue ngajak lo seneng-seneng, pastinya kita harus ngisi perut dulu kan ". ucapnya santai, Daffa pun menggeleng dan menghempas nafasnya kasar. mencoba tetap sabar, menghadapi sahabat nya yang selalu berani bikin dia kesal.
tiba di ruangan khusus para tamu hotel menyantap makanan pagi mereka, Ferdy mengambil piring dan beberapa lauk pauk yang di simpan dalam piringnya. Namun Daffa hanya mengambil beberapa makanan ringan saja, tidak seperti sahabat nya.
" Lo sarapan ini doang ". Tanya Ferdy mengerutkan dahinya heran.
" Kenapa ". Jawab Daffa yang sudah memakan sarapan nya.
" Lo harus banyak energi hari ini, kita hari akan bersenang-senang, jangan sampai di tengah jalan lo ngeluh lemes karena belum makan. Ini gue tambahin". Sahut Ferdy lalu menuangkan sedikit makanannya kepiting Daffa.
Daffa hanya bisa pasrah saja, karena dia sedang malam berdebat.
" Sebenarnya lo mau ajak gue kemana si, Sampai jauh-jauh kesini". Tanya Daffa.
" Gue gak mau ngasih tau lo, sebelum gue buktiin dulu sampai lo berterima kasih sama gue. Udah makan dulu aja, gak udah banyak nanya. Selesai makan kita cabut. " Sahut Ferdy.
Daffa kembali diam dan menuruti ucapan Ferdy, Ia menghabiskan semua makanan nya, untuk bukti bahwa nanti di tengah perjalanan Ia tak akan mengeluh kelelahan. Mereka pun selesai sarapan pagi lalu bergegas menuju tempat yang sudah diatur oleh Ferdy.
**********************
Di dalam kamar Samuel, terlihat Rara meronta-ronta mencoba melepaskan ikatan pada kedua tangannya. ya, Sejak pergi meninggalkan teman nya yaitu Dita. Samuel membawa Rara ke dalam kamarnya, laku mengikat tangan Rara di tepi ranjang. Karena Ia selalu mencoba kabur.
Rara masih saja menangis, bukan menangis karena kondisi nya saat ini, tapi ia menangisi keadaan teman nya. Ia harap Samuel tak melakukan apapun padanya.
Samuel pun terbangun dari tidurnya, karena mendengar suara isak tangis Rara yang begitu menganggu nya.
" Kau berisik sekali sayang, sampai membangunkan ku di jam segini. " Ucap Samuel dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Rara sudah sekuat tenaga, mencoba melepaskan ikatannya, tapi tetap saja tidak bisa. Ia benar-benar sudah sangat khawatir tentang Dita, Ia ingin sekali melihat keadaannya. Namun ikatan yang dibuat Samuel begitu kencang, hingga melukai pergelangan tangannya.
" Segar sekali pagi ini, Melihat mu berada disamping ku, membuatku semakin bersemangat untuk segera menikahi mu". Ucap Samuel yang sudah duduk menghadap Rara.
Ia Memandangi wanita yang sangat yang cintai itu, ia mengelus pipi mulus Rara, membelai rambutnya seolah merapikannya agar terlihat cantik.
" Aku ingin kamu tahu Ra, Aku tidak pernah berniat untuk melukaimu, menyakiti, bahkan mencintaimu. Dulu saat aku mencoba mengancam mu, Aku hanya merasa sangat marah kepada Daffa, karena Ia bisa mencintaimu sebegitu besarnya." Ucap Ferdy.
" Sejak dulu yang aku tau, Dia tidak pernah bisa mencintai seorang wanita kecuali Ibu ku. Tante Tiara itu Ibu ku, Bukan Ibu dari Pria sialan sekaligus pembunuh seperti Daffa ".
" Daffa hanya seorang anak pungut, yang diambil oleh Ibuku dipinggir jalan. Ibu ku hanya merasa kasihan padanya, lalu mengangkat nya menjadi anak dari keluarga Anderlecht. Namun Ayah ku keberatan, Ia mengira Ibu ku berselingkuh dan menghasilkan anak dari perselingkuhan nya ". lanjut Samuel.
" Sejak Daffa masuk kedalam keluarga Anderlecht, yang tadi nya begitu Harmonis dan Bahagia, kehadiran Daffa mengubah kebahagiaan kami menjadi malapetaka. Ayah ku yang penyayang berubah menjadi seorang iblis. Ia selalu pulang membawa wanita lain dan tidur bersamanya, ayah ku menjadi mudah marah, bahkan tak segan memukuli ibuku ".
" Aku yang saat itu masih berusia 10 tahun, hanya bisa melihat ibuku dipukuli terus-menerus. Aku pun bingung saat itu, aku marah dan sangat kesal, karena Ibuku tiba-tiba menghadirkan Daffa yang hanya seorang anak Pungut dan sangat menyayangi nya. Aku pun berfikir, bahwa Daffa adalah anak hasil perselingkuhan ibuku ".
" Karena Ayah selalu memperlakukan ibuku sangat Kasar, Daffa pun akhirnya membunuh ayahku. Ia benar-benar seorang pembunuh, Ia sudah membunuh kebahagiaan keluarga ku dan juga membunuh ayahku". ucap Samuel kesal.
Rara hanya dapat mendengarkan ucapan demi ucapan yang Samuel katakan, apakah Ia bisa mempercayainya atau Samuel hanya sedang bersandiwara saja.
Rara bingung harus bagaimana. Yang Ia lihat dulu, Daffa memang pernah sampai tega memukuli seorang wanita, pasti Ia pun sanggup membunuh. tapi yang dilakukan Daffa pasti hanya ingin menyelamatkan tante tiara.
" Enggak kak, Kak Daffa pasti gak sengaja melakukan itu ". Tiba-tiba Rara membalas ucapan Samuel, membuat Samuel menengok kearahnya dan menarik rambut Rara lalu mencekiknya.
" Aargh!!! ". Teriak Rara
" Aku pikir kau akan mempercayai ucapan ku, aku sudah berusaha berkata Jujur padamu, tapi kau masih saja membela pembunuh itu. Apa kau sangat mencintai nya, sampai kau dibutakan oleh sikap manisnya ". Tukas Samuel
" Kau belum mengenal Daffa yang sebenernya, Jika kau tau dia seperti apa. Kau pasti akan menyesal ". Samuel melepaskan cengkraman dileher Rara, Rara terbatuk-batuk mencoba mencari udara untuk ia masukan ke tenggorokannya yang sudah kering akibat cekikan Samuel.
" Tidak !! kau salah kak. Kenapa aku bisa mencintai Kak Daffa. Karena aku tau dia adalah orang baik ". Sahut Rara yang sudah merasa membaik setelah menghirup beberapa udara
Rara pun menceritakan semuanya, dari awal dia bertemu dengan Daffa, sampai ia mulai jatuh cinta padanya. tak ada yang ia tutupi dan ia tambahkan sebagai pembelaan bahwa Daffa memang orang baik.
Samuel yang mendengar dengan penuh perhatian, tak habis pikir Daffa bisa bersikap seperti itu.
" Aku juga bisa bersikap sepertinya, bahkan lebih baik dari darinya. Tapi hatimu sudah terisi penuh tentang Daffa, sampai aku tidak dapat memilikinya ". Ucap Samuel yang tertunduk merasa dirinya telah kalah, karena Daffa selalu saja bisa memikat orang-orang yang ia sayangi.
Namun Samuel tak mau sampai kalah lagi, atau pun kehilangan untuk kesekian kalinya karena Daffa, Ia akan melakukan apapun untuk merebut Rara dari Daffa, dan membuat Rara hanya mencintai nya.
" Tidak bisa kah kau hanya mencintai ku, hanya aku Ra, hanya aku. " Teriak Samuel namun perlahan menangis dipangkuan Rara.
" Aku ingin dicintai, aku juga ingin disayangi. Tapi mereka selalu berpaling dari ku, setelah mereka bertemu dengan Daffa ". Ucapnya yang masih terisak.
Rara pun yang melihat Samuel menangis di hadapannya, merasa kasihan, ia tak pernah menyangka Pria Kejam dan menakutkan sepertinya bisa menangis seperti anak kecil yang merindukan kasih sayang.