Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 — Suami yang Tidak Terbaca
Malam di mansion itu selalu datang dengan cara yang sama: pelan, dingin, dan tanpa tanda-tanda kehidupan yang benar-benar hangat.
Diara duduk di ruang tamu kecil di lantai dua, menunggu sesuatu yang sebenarnya tidak ia yakini akan terjadi—kepulangan Jifan.
Jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam.
Rumah besar itu tetap sunyi.
Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar, seperti napas mesin yang tidak pernah berhenti bekerja.
Diara menarik napas pelan.
Sudah beberapa hari sejak ia tinggal di rumah ini, dan pola itu tidak pernah berubah.
Jifan pergi pagi.
Jifan pulang larut.
Jifan tidak pernah benar-benar hadir lebih lama dari yang diperlukan.
Sekitar pukul sebelas lewat dua puluh, suara pintu utama akhirnya terdengar.
Klik.
Langkah kaki masuk.
Diara tidak langsung turun.
Ia menunggu.
Beberapa detik kemudian, suara langkah itu terdengar naik tangga.
Stabil.
Teratur.
Tidak terburu-buru.
Seperti seseorang yang tidak membawa beban apa pun selain rutinitas.
Jifan muncul di ujung lorong.
Jasnya masih rapi, meskipun sedikit kusut di bagian bahu. Wajahnya tetap tenang, tidak menunjukkan kelelahan atau emosi yang bisa dibaca.
Mata mereka bertemu sekilas.
Dan seperti biasa, tidak ada perubahan apa pun.
Diara berdiri.
“Assalamualaikum,” ucapnya pelan.
Jifan berhenti sepersekian detik.
“Waalaikumsalam,” jawabnya singkat.
Lalu ia berjalan melewati Diara menuju kamarnya.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada percakapan lanjutan.
Hanya jarak yang tetap terjaga dengan disiplin.
Diara menatap punggungnya yang menjauh.
Ia sudah mulai terbiasa dengan itu.
Atau setidaknya mencoba terbiasa.
Namun malam ini ada sesuatu yang ingin ia katakan.
Ia berbalik.
“Jifan.”
Langkah itu berhenti.
Pria itu tidak menoleh, hanya berdiri diam.
Diara menarik napas pelan sebelum melanjutkan.
“Besok aku mulai kerja.”
Hening.
Tidak ada reaksi langsung.
Beberapa detik berlalu.
“Di mana?” suara Jifan akhirnya terdengar, datar seperti biasa.
“Proyek interior di Kemang,” jawab Diara.
“Jam berapa.”
“Pagi.”
Jifan mengangguk kecil, meskipun Diara tidak bisa melihat jelas dari belakang.
“Driver akan disiapkan.”
“Tidak perlu,” jawab Diara cepat.
Kali ini Jifan menoleh sedikit.
Bukan penuh perhatian.
Hanya secukupnya.
“Kenapa.”
Diara ragu sepersekian detik.
“Tidak perlu terlalu diatur. Aku bisa mandiri.”
Jifan menatapnya beberapa detik.
Tatapan itu tidak hangat, tidak juga tajam.
Hanya… kosong.
“Baik,” jawabnya akhirnya.
Lalu ia masuk kamar.
Percakapan selesai.
Seperti biasa.
Diara berdiri di lorong beberapa saat setelahnya.
Tidak ada perasaan menang atau kalah.
Hanya kesadaran bahwa setiap interaksi dengan Jifan selalu berakhir di titik yang sama: singkat, datar, dan tidak meninggalkan ruang untuk kelanjutan.
Hari berikutnya, Diara benar-benar mulai bekerja.
Ia mengenakan outfit sederhana namun rapi: abaya kerja berwarna abu lembut dengan hijab syar’i yang disesuaikan agar tetap profesional. Tas desainnya ia bawa sendiri.
Ia berangkat tanpa driver.
Tanpa banyak percakapan.
Rumah itu tetap sunyi saat ia keluar.
Dan tidak ada satu pun suara dari lantai atas yang mengantar kepergiannya.
Di sisi lain kota, mansion itu kembali menjadi tempat yang sama.
Jifan duduk di meja makan pagi, sendirian.
Tidak ada Diara.
Tidak ada percakapan.
Hanya kopi hitam dan layar laptop yang sudah menyala sejak subuh.
Arkan, sekretarisnya, datang lebih pagi dari biasanya.
“Meeting jam sepuluh dipindah ke jam sembilan,” ucap Arkan.
“Sudah saya lihat,” jawab Jifan tanpa menoleh.
Arkan mengamati sekilas.
Ada sesuatu yang tidak berubah dari Jifan.
Tapi juga ada sesuatu yang… sedikit lebih kosong.
Namun ia tidak bertanya.
Sudah terlalu lama bekerja dengan Jifan untuk tahu: beberapa hal tidak perlu ditanyakan.
🪻🪻🪻🪻
Sore hari, Diara pulang lebih awal.
Proyeknya berjalan baik, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana.
Saat ia memasuki rumah, ia menemukan sesuatu yang berbeda.
Suara.
Lembut.
Ada seseorang di ruang tamu.
Diara melangkah pelan.
Dan di sana ia melihatnya.
Seorang wanita paruh baya dengan wajah lembut sedang duduk bersama pembantu rumah, berbicara pelan sambil tersenyum.
Aishani.
Bunda Jifan.
Wanita itu langsung menoleh saat melihat Diara.
Senyumnya hangat.
“Diara…”
Suara itu berbeda dari atmosfer rumah ini.
Hangat.
Tanpa jarak.
Diara sedikit membungkuk sopan.
“Assalamualaikum, Bunda.”
Aishani berdiri, mendekat, lalu memegang tangan Diara dengan lembut.
“Waalaikumsalam, nak. Kamu baru pulang kerja?”
Diara mengangguk.
“Iya, Bun.”
Aishani memperhatikan wajah Diara sejenak.
Bukan dengan menilai.
Tapi dengan empati.
“Kamu pasti capek ya tinggal di rumah ini sendirian.”
Kalimat itu membuat Diara sedikit terdiam.
“Tidak apa-apa, Bunda,” jawabnya pelan.
Aishani tersenyum kecil, tapi ada kehangatan yang sulit dijelaskan.
“Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.”
Diara tidak tahu harus menjawab apa.
Sudah lama tidak ada orang yang bertanya seperti itu padanya di rumah ini.
Mereka duduk di ruang tamu.
Aishani berbicara tentang hal-hal ringan: makanan, pekerjaan Diara, keseharian.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada formalitas berlebihan.
Semua mengalir seperti percakapan keluarga yang benar-benar hidup.
Diara perlahan merasa sesuatu yang asing muncul di dalam dirinya.
Hangat.
Nyata.
Tidak seperti rumah ini yang biasanya.
Namun suasana itu tidak bertahan lama.
Pintu depan terbuka.
Langkah kaki masuk.
Stabil.
Dingin.
Diara sudah tahu siapa itu bahkan sebelum melihatnya.
Jifan.
Pria itu muncul di ruang tamu, masih dengan jas kerja, wajah tenang seperti biasa.
Tatapannya hanya sekilas pada Diara.
Lalu berpindah ke ibunya.
“Bynda disini,” ucapnya singkat.
Aishani tersenyum.
“Jifan, ibu datang sebentar.”
“Sudah makan?” tanya Aishani.
“Sudah.”
Jawaban singkat.
Tidak ada tambahan.
Tidak ada pertanyaan balik.
Aishani menatapnya sebentar, lalu menghela napas kecil.
“Kamu terlalu sibuk.”
Jifan tidak menjawab.
Ia hanya berdiri sebentar, lalu berkata,
“Aku ke atas dulu.”
Dan pergi.
Diara menatap ke arah tangga.
Tidak ada perubahan ekspresi di wajah Jifan.
Tidak ada tanda ia memperhatikan keberadaan
Diara di ruangan yang sama.
Seolah ia hanya melewati ruang, bukan orang.
Aishani menghela napas pelan.
“Dia memang begitu sejak dulu,” katanya lirih.
Diara menoleh.
“Sejak dulu?”
Aishani mengangguk.
“Dia jarang menunjukkan apa yang dia rasakan. Tapi bukan berarti dia tidak peduli.”
Diara tidak langsung menjawab.
Namun di dalam pikirannya, kalimat itu terasa jauh dari apa yang ia lihat setiap hari.
🪻🪻🪻🪻🪻
Malam tiba lagi.
Diara duduk di kamarnya.
Dari jendela, ia bisa melihat cahaya kamar
Jifan di lantai atas.
Masih menyala.
Seperti biasa.
Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan pria itu.
Dan mungkin itu memang tidak pernah menjadi urusannya.
Namun satu hal mulai terasa jelas bagi Diara:
Di rumah ini, ia mulai mengenal sisi lain keluarga Syahrezan—hangat, manusiawi, dan penuh perhatian.
Tapi satu-satunya orang yang seharusnya paling dekat dengannya…
tetap menjadi yang paling jauh.
Dan semakin hari, Jifan Artha Syahrezan terasa bukan hanya dingin.
Tapi tidak terbaca sama sekali.