Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ketukan maut
lWaktu terus berlalu.
Tanpa terasa, matahari mulai condong ke barat, menandakan sore telah tiba.
Sejak kejadian siang tadi, Felisyah memilih mengurung diri di dalam kamar. Ia sama sekali tidak berani keluar.
Rasa takut dan canggung masih menguasai hatinya.
Rumah yang begitu megah itu justru membuatnya merasa semakin asing.
Felisyah terus mondar-mandir di dalam kamar, menggigit bibir bawahnya gelisah.
"Aku harus bagaimana?" gumamnya pelan.
"Kalau aku keluar... bagaimana kalau bertemu keluarga Garendra? Tapi... bagaimana kalau mereka justru sedang tidak ada di rumah?"
Ia mengacak pelan rambutnya sendiri.
"Ya Allah... sebenarnya apa yang harus aku lakukan?"
Langkahnya akhirnya terhenti.
Tatapannya kembali mengarah ke pintu kamar yang masih tertutup rapat.
Sejak tadi ia berkali-kali ingin keluar.
Namun, setiap kali tangannya hendak meraih gagang pintu, keberaniannya kembali menghilang.
"Andai saja aku tidak pulang ke sini..." bisiknya lirih.
"Mungkin aku nggak akan sebingung ini."
Tepat saat itu...
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan di balik pintu membuat tubuh Felisyah menegang.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Napasnya tercekat.
Ia menatap pintu itu tanpa berkedip, sementara berbagai kemungkinan buruk mulai memenuhi pikirannya.
"Apa itu Garendra... atau..."
Kalimat itu menggantung di dalam benaknya.
Berbagai kemungkinan buruk langsung memenuhi pikirannya.
Perlahan Felisyah merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Ya Allah... kuatkan hamba. Hamba sadar siapa diri hamba. Tolong beri hamba kekuatan untuk menghadapi apa pun yang ada di balik pintu itu," bisiknya lirih.
Dengan langkah yang terasa begitu berat, ia mulai berjalan mendekati pintu.
Namun...
Tok... Tok... Tok...
Ketukan itu kembali terdengar.
Tubuh Felisyah kembali menegang.
Jantungnya berdetak begitu keras hingga seolah ingin lepas dari dadanya.
Ia memejamkan mata sejenak.
"Aku nggak mungkin terus bersembunyi di dalam kamar. Cepat atau lambat, aku memang harus menghadapi semuanya." batinnya mencoba mengumpulkan keberanian.
Perlahan tangannya meraih gagang pintu.
Tepat saat itu...
"Nyonya..."
Suara seorang wanita terdengar dari balik pintu.
Felisyah sontak membeku.
Ia mengenali suara itu.
"Mbak Lala...?"
Tanpa sadar ia mengembuskan napas panjang.
Rasa takut yang sejak tadi menghimpit dadanya perlahan mengendur.
Klik...
Pintu pun terbuka.
Di hadapannya, Mbak Lala berdiri sambil tersenyum hangat.
Seketika Felisyah ikut tersenyum kecil.
Baru kali ini ia menyadari betapa tegangnya dirinya.
Hampir saja jantungnya benar-benar copot karena mengira yang datang adalah keluarga Garendra.
"Maaf, Mbak... saya lama membukanya. Saya kira... yang datang orang lain," ucapnya gugup.
Mbak Lala menggeleng sambil tetap tersenyum ramah.
"Tidak apa-apa, Nyonya."
"Tadi Tuan sedang keluar. Sebelum pergi, beliau berpesan agar saya melihat keadaan Nyonya. Tuan juga meminta agar Nyonya segera mandi. Kalau Nyonya berkenan, saya akan menyiapkan air hangatnya."
Felisyah terdiam beberapa saat.
Di dalam hatinya kembali muncul rasa bersalah.
"Bahkan setelah aku mengusirnya... dia masih sempat memikirkan keadaanku." batinnya lirih.
Felisyah mengembuskan napas pelan.
Entah mengapa, ia kembali merasa malu mengingat kejadian siang tadi.
Memang, Garendra telah masuk ke kamarnya tanpa sepengetahuannya. Namun, mengusir pemilik rumah itu dengan kata-kata yang dingin juga membuat hatinya dipenuhi rasa bersalah.
"Biar saya saja, Mbak. Nggak enak kalau harus merepotkan Mbak," ucap Felisyah pelan.
Mbak Lala tersenyum hangat.
"Tidak, Nyonya. Justru ini memang pekerjaan saya. Saya sama sekali tidak merasa direpotkan."
Felisyah menggeleng pelan.
"Tapi saya bisa sendiri, kok. Nggak apa-apa. Terima kasih ya, Mbak... Mbak baik sekali sama saya."
Senyumnya terlihat canggung.
Ia benar-benar tidak terbiasa dilayani seperti ini.
Melihat sikap Felisyah, Mbak Lala akhirnya mengangguk mengerti.
"Baiklah, Nyonya. Kalau begitu saya tidak akan memaksa. Tapi kalau Nyonya membutuhkan apa pun, jangan sungkan memanggil saya."
"Baik, Mbak. Terima kasih."
Mbak Lala terkekeh pelan.
"Nyonya tidak perlu terus-terusan mengucapkan terima kasih. Saya justru senang bisa membantu."
Wanita paruh baya itu memberi senyum hangat sebelum berbalik meninggalkan kamar.
Felisyah hanya mampu menganggukkan kepala.
Tatapannya mengikuti punggung Mbak Lala hingga menghilang di balik pintu.
Perlahan ia menutup pintu kembali.
Ruangan itu kembali sunyi.
"Benar juga kata Mbak Lala..." gumamnya lirih.
"Aku memang harus mandi. Badanku sudah terasa lengket."
Ia pun melangkah menuju kamar mandi.
Begitu pintu dibuka...
Kedua matanya langsung membulat.
"Masya Allah..."
Kamar mandi itu hampir sebesar kamar tidur di rumah lamanya.
Lantainya terbuat dari marmer yang mengilap. Di salah satu sudut terdapat bathtub berwarna putih bersih, sementara shower berukuran besar berdiri megah di sisi lainnya.
Dengan ragu, Felisyah mengulurkan tangan menyentuh permukaan bathtub itu.
Tatapannya dipenuhi rasa takjub.
"Aku cuma pernah melihat yang seperti ini di film..." bisiknya pelan.
"Nggak nyangka sekarang aku bisa melihatnya secara langsung."
Ia kembali memandang sekeliling.
Bahkan...
Kamar mandi ini saja terasa lebih mewah daripada rumah yang pernah ia tinggali.
Untuk beberapa saat, Felisyah hanya terdiam.
Semakin ia melihat kemewahan rumah itu, semakin ia merasa dirinya tidak pantas berada di sana.
...----------------...
Di sisi lain...
Garendra masih duduk di ruang kerjanya.
Sudut bibirnya tak henti-hentinya terangkat membentuk senyum tipis.
Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja, lalu melipat kedua tangan di depan dada. Tatapannya mengarah ke langit-langit ruangan, namun pikirannya sepenuhnya tertuju pada satu orang.
Felisyah.
Sejak tadi, ia diam-diam memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu melalui layar CCTV di laptopnya.
Ia melihat Felisyah terus mondar-mandir di dalam kamar, beberapa kali berjalan mendekati pintu, lalu kembali mengurungkan niatnya untuk keluar.
Rasa takut itu masih begitu jelas terlihat.
Tak ingin Felisyah terus diliputi kecemasan, Garendra akhirnya menghubungi Mbak Lala.
Ia meminta kepala pelayan itu mengetuk pintu kamar Felisyah dan mengatakan bahwa dirinya sedang keluar rumah.
Setelah melihat Felisyah akhirnya sedikit lebih tenang, Garendra mematikan layar laptopnya.
Ia sengaja tidak ingin melihat lebih jauh.
Ia tahu...
Sebentar lagi Felisyah akan mandi.
Dan ia tidak ingin melanggar privasi wanita yang begitu ingin ia lindungi.
Senyum tipis kembali terukir di wajahnya.
"Lucu sekali kamu, Felisyah..." gumamnya pelan.
Tatapannya berubah lembut.
"Aku tahu kamu masih takut."
"Aku juga tahu... kamu belum bisa mempercayaiku."
"Tapi aku akan selalu menunggumu."
"Selama apa pun itu."
Ia mengembuskan napas perlahan.
"Kamu tidak perlu takut menghadapi keluargaku."
"Aku akan selalu berdiri di sampingmu."
"Aku akan melindungimu."
"Dan selama kamu berada di rumah ini..."
"...kamulah nyonya di rumah ini."
"Tidak akan kubiarkan siapa pun menyakitimu."
Tatapan Garendra semakin mantap.
Baginya...
Mendapatkan cinta Felisyah bukanlah tentang memaksa.
Melainkan tentang membuktikan, hari demi hari, bahwa ia adalah tempat paling aman untuk pulang.
semangat✍️😉