"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.
"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.
"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.14 Usaha kuliner milik Elsa hampir bangkrut
Kedai kuliner modern yang dikelola oleh keluarga Elsa terancam bangkrut atau butuh ekspansi besar tapi kekurangan modal.
Ayah Elsa atau Elsa sendiri menyadari bahwa satu-satunya penyelamat mereka adalah suntikan dana investasi dari perusahaan Wijaya Group yang kini dipimpin Daren. Elsa berjanji pada keluarganya bahwa dia bisa dengan mudah mendapatkan uang itu dari Daren memanfaatkan statusnya sebagai kekasih kesayangan.
"Papi tenang saja, Daren pasti akan membantu dana untuk usaha kuliner kita ini," ucap Elsa yakin.
"Kamu harus bisa membuat Daren mengeluarkan uangnya untuk membantu usaha kuliner kita ini, Elsa," ucap papinya Elsa memberikan dorongan pada Elsa.
"Itu sangat mudah sekali Papi...., Papi kan tahu Daren cinta mati sama aku, jadi...apapun yang aku minta pasti akan dia kabulkan," Elsa tersenyum sombong.
"Bagus Elsa, Kamu benar-benar bisa di andalkan," Elsa mendapat apresiasi dari Papinya.
"Lantas bagaimana dengan gadis kampung itu yang sekarang sudah resmi menjadi istri Daren," ucap Maminya Elsa sedikit khawatir.
"Aduh Mami....Daren itu tidak cinta sama perempuan kampung itu, Dia malah jijik sama Nadia dan saat ini Daren berusaha untuk membuat gadis kampung itu tidak betah tinggal di rumahnya dan berharap dia akan hengkang dari keluarga Wijaya," Elsa tersenyum mengejek.
"Tapi Dia kan gadis kesayangan Nenek Lusi?" tanya Maminya Elsa masih dengan nada khawatir.
"Ah itu soal kecil Mami, nanti bisa diatur," Elsa mengangkat dagunya dengan angkuh.
"Kalau begitu kita semua pasrah sama kamu Elsa dan menunggu hasil kerja kamu merayu Daren," ucap Maminya Elsa kemudian.
"Papi dan Mami tenang saja, Biar aku yang melakukan pekerjaanku sekarang."
Kemudian Elsa pun pergi meninggalkan Papi dan Maminya untuk menemui Daren di kantornya.
...----------------...
Elsa mendatangi kantor Daren dengan membawa proposal bisnis kedai kulinernya. Dia sengaja bersikap sangat manja, memijat bahu Daren yang lelah, dan merayu Daren agar segera menandatangani persetujuan investasi tersebut tanpa melalui audit ketat.
"Sayang.... aku pijitin ya, pasti kamu capek kan tadi habis meeting di luar," tangan Elsa mulai menyentuh bahu Daren dan kemudian memijitnya perlahan-lahan.
Daren yang memang kecapekan dari tadi merasakan nyaman saat Elsa mulai memijit bahunya.
"Sayang....usaha kuliner milik Papi kan sekarang lagi gak stabil, bisa di bilang hampir mengalami kebangkrutan, Dan satu-satunya orang yang bisa membantu usaha Papi hanyalah kamu sayang...," Elsa mulai merayu Daren sambil terus memijit bahu Daren.
"Berapa uang yang Papi butuhkan sayang?" tanya Daren sambil memejamkan matanya merasakan enaknya pijatan Elsa.
Elsa tersenyum puas lalu dia pun menyebutkan nilai nominal yang di butuhkan untuk mengembalikan usaha kedai kuliner milik Papinya "Yang Papi butuhkan kira-kira dua milyar rupiah."
Daren yang memang bucin dan ingin pamer kuasa di depan Elsa langsung menyetujui suntikan dana itu. Daren merasa bangga bisa menjadi "pahlawan" bagi Elsa, sekaligus merasa bahwa ini adalah bukti cintanya yang jauh lebih besar daripada status pernikahan formalnya dengan Nadia.
"Oke, aku akan langsung transfer uangnya ke rekening Papi sekarang juga," kata Daren dan tanpa pikir panjang lagi Daren segera meraih handphone nya yang dia letakkan di atas meja kerjanya kemudian Daren membuka menu internet banking nya dan mulai melakukan transfer uang sebesar dua milyar rupiah ke nomor rekening Papinya Elsa.
Elsa yang masih tetap memijat bahu Daren diam-diam menyaksikan Daren saat melakukan transaksi internet banking ke nomor rekening Papinya dan saat muncul tulisan berhasil, Elsa langsung melonjak kegirangan.
"Sayang, kamu benar-benar baik deh, aku makin sayang dan cinta sama kamu Daren..." ucap Elsa sambil mencium bibir Daren sebagai bentuk rayuan mautnya.
...----------------...
Malam harinya, dengan alasan merayakan keberhasilan investasi tersebut, Daren sengaja membawa Elsa pulang ke rumah pribadinya tempat Nadia tinggal. Ini adalah pelanggaran telak terhadap perasaan Nadia sebagai istri sah.
Saat makan malam, Elsa dengan sengaja memamerkan dokumen kerja sama yang sudah ditandatangani Daren di depan Nadia. Elsa berkata dengan nada merendahkan, "Nadia, lihat ini. Daren baru saja menginvestasikan miliaran rupiah untuk bisnis kuliner ku. Memang ya, status istri di atas kertas itu gak ada apa-apanya dibanding wanita yang benar-benar bisa mendukung masa depan bisnis Daren," ucap Elsa dengan sombong nya.
Nadia yang sedang menuangkan air putih tetap bersikap tenang. Dia membaca sekilas nama perusahaan kuliner milik keluarga Elsa yang tertera di dokumen, lalu meletakkan teko dengan anggun.
Nadia tersenyum tipis dan berkata, "Selamat atas investasinya, Nona Elsa. Tapi setahu saya dari membaca berita bisnis, perusahaan kuliner Anda sedang mengalami defisit kuartal ini. Semoga suntikan dana dari suami saya tidak berakhir menjadi investasi bodong yang merugikan Wijaya Group. Karena jika itu terjadi, Nenek Lusi pasti akan sangat kecewa pada Tuan Daren."
Mendengar kata "investasi bodong" dan ancaman soal Nenek Lusi, wajah Daren langsung menegang, sementara Elsa meradang karena sindiran tajam Nadia tepat sasaran. Malam itu, rencana Elsa untuk memanas-manasi Nadia justru berbalik merusak suasana hatinya sendiri.
Apa kamu bilang?! Investasi bodong?!" pekik Elsa dengan suara melengking, wajahnya yang semula penuh kemenangan kini memerah padam karena murka. Dia menggebrak meja makan hingga sendok dan garpu berdenting nyaring. "Jaga bicaramu, Nadia! Kamu itu cuma gadis kampung yang tidak tahu apa-apa soal bisnis! Berani-beraninya kamu mengutuk usaha keluargaku!"
Nadia tidak gentar sedikit pun. Dia menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain dengan gerakan yang sangat anggun, seolah gebrakan meja Elsa barusan hanyalah angin lalu. "Saya tidak mengutuk, Nona Elsa. Saya hanya mengingatkan fakta yang tertulis di koran bisnis pagi ini. Bukankah mencegah kerugian itu juga bagian dari tugas seorang istri yang peduli pada nama baik suaminya?" Ucap Nadia, sengaja menekankan kata istri dan suaminya untuk menusuk ego Elsa.
Daren yang sedari tadi diam, kini merasakan pelipisnya berdenyut tegang. Kata-kata Nadia tentang Nenek Lusi benar-benar menghantam titik kelemahannya. Jika Nenek Lusi sampai tahu dia memberikan uang dua milyar rupiah secara cuma-cuma tanpa audit kepada keluarga Elsa di hari pertama pernikahannya, posisinya sebagai ahli waris bisa terancam.
"Cukup, Nadia! Jangan bawa-bawa nama Nenek untuk menakut-nakuti aku!" bentak Daren, mencoba mengembalikan wibawanya yang runtuh. "Uang itu uangku, dan aku bebas memberikannya pada siapa saja. Kamu tidak punya hak untuk mengatur keuangan Wijaya Group!"
Nadia menatap Daren dengan tatapan tenang, namun sedalam lautan. "Tentu saja, Tuan Daren. Saya tidak berhak. Tapi dinding rumah ini tidak punya telinga, sementara laporan keuangan perusahaan selalu punya mata. Saya permisi ke kamar dulu, selamat menikmati makan malam kalian."
Tanpa menunggu jawaban, Nadia berdiri, memberikan anggukan sopan yang formal, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan kepala tegak.
Suasana meja makan seketika berubah mencekam. Makanan mewah yang tersaji tiba-tiba terasa hambar. Elsa yang berniat membuat Nadia menangis, kini justru merengek frustrasi sambil mengguncang lengan Daren. "Sayang! Kamu lihat kan betapa kurang ajarnya dia? Kamu harus beri dia pelajaran, Daren!"
Namun, fokus Daren sudah pecah. Seringai sombongnya hilang total, digantikan oleh rasa was was yang mulai menjalar di dadanya. Sindiran tajam Nadia malam itu tidak hanya merusak makan malam mereka, tapi juga berhasil menanamkan benih ketakutan di kepala Daren. Untuk pertama kalinya, Daren menyadari bahwa istri kampungnya ini bukanlah lawan yang mudah untuk ditundukkan.
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang