NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4.Perdebatan ayah dan anak.

Langkah kaki Ivy terasa berat namun tetap mantap saat ia melangkah menuju ujung koridor menuju ruang kerja ayahnya. Di atas kepalanya, angka 29 hari masih tergantung nyata, berdetak perlahan seolah mengingatkan bahwa setiap detik yang berlalu adalah bagian dari waktu yang semakin menyempit. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdebar kencang. Hari ini, ia bertekad untuk bicara jujur setidaknya satu kali, meskipun ia tahu bahwa apa pun jawabannya, ia harus siap menerima kenyataan pahit apa pun yang akan datang.

Sesampainya di depan pintu kayu besar yang kokoh dan berukir indah itu, Ivy mengangkat tangannya perlahan. Ia mengetuk pintu tiga kali dengan suara yang cukup jelas namun tetap sopan. Suasana di depan ruangan itu terasa hening, hanya terdengar detak jam dinding yang berirama teratur.

“Masuklah,” terdengar suara berat dan dalam dari balik pintu, suara yang sudah sangat dikenalnya namun terasa selalu jauh dan dingin.

Ivy mendorong gagang pintu perlahan, lalu melangkah masuk dan menutup kembali pintu itu hingga tertutup rapat. Di dalam ruangan yang luas dan penuh dengan tumpukan dokumen serta rak buku tinggi itu, Tuan Dermawan duduk tegak di balik meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati terbaik. Punggungnya lurus, wajahnya serius, dan matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan tajam seolah sedang menghakimi siapa pun yang berdiri di hadapannya. Udara di ruangan itu terasa dingin dan kaku, mencerminkan sikap tuan rumahnya sendiri.

“Ada keperluan apa menghadapku di jam kerja seperti ini?” tanya Tuan Dermawan tanpa mengubah posisi duduknya, suaranya datar dan tanpa ekspresi.

Ivy berdiri tegak beberapa langkah di depan meja besar itu, menundukkan kepalanya sejenak sebelum mengangkat wajahnya kembali menatap ayahnya. “Ayah, maaf mengganggu waktumu. Aku datang untuk meminta maaf terlebih dahulu atas ketidakhadiranku dalam pertemuan dan kencan buta yang sudah Ayah atur dengan Tuan Brian kemarin. Aku tahu ini sudah merusak rencana yang sudah Ayah susun dengan matang.”

Ia berhenti sejenak, mencoba menyusun kata-kata agar bisa menjelaskan keadaan yang sebenarnya. “Sebenarnya saat itu aku tidak sengaja mengabaikan janji itu. Tiba-tiba saja tubuhku terasa sangat lemas, kepalaku berputar hebat, dan akhirnya aku pingsan tanpa sadar. Jika aku bisa memilih, tentu aku tidak ingin melanggar janji yang sudah Ayah tentukan…”

Namun, belum sempat Ivy menyelesaikan kalimatnya, suara dentuman keras memecah keheningan ruangan.

Brak!

Tuan Dermawan memukul meja kerjanya dengan telapak tangan, membuat pulpen dan kertas di atas meja itu bergeser. Ia segera berdiri dari kursinya dengan wajah yang memerah menahan amarah, tatapannya semakin tajam menusuk hati Ivy.

“Cukup! Aku tidak ingin mendengar alasan apa pun lagi!” bentaknya dengan suara meninggi yang menggema di seluruh ruangan. “Selalu saja ada alasan, selalu saja ada halangan. Aku sudah mengatur segalanya dengan sangat baik. Keluarga Cahya adalah keluarga paling berpengaruh di kota ini. Menjadi pasangan Brian adalah kesempatan emas yang jarang didapatkan orang lain. Tapi apa balasanmu? Kau malah mengabaikannya seolah itu bukan hal penting!”

Ivy terdiam mematung. Ia sudah tahu betul watak ayahnya sejak dulu. Bagi Tuan Dermawan, rencana yang sudah disusun harus berjalan sempurna, dan siapa pun yang mengacaukannya dianggap telah mengecewakannya. Ia menunduk dalam, menahan rasa sesak yang mulai menyumbat tenggorokannya.

Tuan Dermawan berjalan perlahan menjauhi mejanya, melangkah menuju jendela kaca besar yang menghadap ke halaman belakang rumah. Ia berdiri membelakangi Ivy, tangannya digenggam erat di belakang punggung. Suaranya terdengar lebih rendah namun tetap menusuk.

“Kau adalah putri kandungku, Ivy. Darah dagingku sendiri. Karena itu aku berusaha memberikan yang terbaik untuk masa depanmu. Tapi apa yang kau lakukan? Kau malah menyerahkan kesempatan itu begitu saja ke tangan Oliv. Apa kau tidak mengerti betapa berharganya kesempatan itu?”

Hati Ivy terasa teriris mendengar ucapan itu. Ia ingin sekali berteriak, ingin membuka rahasia yang selama ini dipendamnya. Ayah, aku tidak sengaja! Aku sakit! Waktuku tidak banyak lagi! Apa gunanya aku menikah jika nyawaku akan segera berakhir? Teriakan itu berkumandang keras di dalam pikirannya, namun entah mengapa mulutnya terasa terkunci rapat. Ia takut melihat reaksi ayahnya, takut kenyataan itu justru membuat ayahnya semakin menjauh dan menganggapnya sebagai beban.

Dengan mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa, Ivy mengangkat kepalanya. Ia menatap punggung kokoh ayahnya itu dengan pandangan yang mantap, lalu berbicara dengan suara yang jelas dan tegas meski sedikit bergetar.

“Ayah, dengarkan aku. Mulai hari ini, ini hidupku, jodohku, dan masa depanku. Aku yang akan menentukannya sendiri. Aku tidak ingin Ayah terus-menerus ikut campur dalam setiap langkah yang aku ambil.”

Mendengar ucapan itu, tubuh Tuan Dermawan berhenti bergerak. Ia perlahan memutar badannya, menatap Ivy dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara keterkejutan, kemarahan, dan rasa tidak percaya.

“Kau bilang apa?” tanyanya dengan nada mengancam, suaranya berat menekan.

Ivy tidak menunduk kali ini. Ia membalas tatapan ayahnya dengan lurus, meluapkan segala rasa yang selama ini terpendam di dalam hatinya.

“Aku bilang, biarkan aku menentukan jalanku sendiri. Aku ingin diperlakukan sebagai putri kandung Ayah, bukan sekadar boneka cantik yang harus selalu patuh dan bergerak sesuai perintah Ayah. Aku butuh kasih sayang, bukan sekadar perintah dan pengaturan.”

Ia melangkah selangkah lebih dekat, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang mulai meluap. “Ayah tahu tidak? Selama aku tinggal di desa itu, setiap hari aku memandang anak-anak lain yang bisa dipeluk, dimanja, dan diajak bercanda oleh ayah mereka. Aku sangat iri melihatnya. Aku selalu membayangkan bagaimana rasanya berada dalam dekapan ayah sendiri. Tapi sejak aku kembali ke rumah ini, apakah Ayah pernah memperlakukanku seperti itu? Yang ada hanya perintah, penilaian, dan rasa kecewa ketika aku tidak sesuai harapan Ayah.”

Wajah Tuan Dermawan terlihat semakin memerah, tanda bahwa ia semakin kesal mendengar kata-kata yang dianggapnya tidak pantas keluar dari mulut putrinya. Ia memalingkan wajah kembali ke arah jendela, lalu mengucapkan kalimat yang terasa bagaikan belati tajam yang menusuk tepat ke jantung Ivy.

“Jika kau tidak suka cara hidup di rumah ini dan tidak mau mematuhi aturanku, maka pergilah! Keluar dari sini dan carilah ayah yang bisa memberikan kasih sayang yang kau inginkan itu. Aku tidak mau memiliki putri yang tidak tahu diri, tidak patuh, dan tidak berguna seperti dirimu.”

Kata-kata itu menghantam dada Ivy sekuat gelombang besar. Matanya yang sejak tadi berusaha menahan air mata akhirnya tak mampu lagi membendungnya. Butiran bening mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Ia tahu, tempat ini adalah satu-satunya rumah yang ia miliki, namun ia juga sadar bahwa ia tidak memiliki apa-apa lagi untuk dipertahankan selain kebenaran perasaannya.

Dengan suara yang tercekat oleh tangisan, Ivy membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda pamit, lalu berbisik dengan nada yang sangat lirih namun cukup terdengar oleh ayahnya.

“Baiklah, jika itu keinginan Ayah… Tapi sebelum aku pergi, bolehkah aku bertanya satu hal saja? Bisakah Ayah memberikan sedikit saja kasih sayang yang aku harapkan itu, setidaknya di saat-saat terakhir hidupku ini?”

Tuan Dermawan tertegun sesaat, namun ia tetap membelakangi putrinya dan tidak menjawab sepatah kata pun. Hening yang tercipta terasa lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.

Ivy mengangguk pelan seolah menerima takdirnya, lalu berbalik perlahan. Ia mengusap kasar air matanya dengan punggung tangan, berusaha meneguhkan hatinya yang hancur berkeping-keping. Ia melangkah menuju pintu, membukanya, dan keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi. Di balik punggungnya, ayahnya tetap berdiri diam, memandang ke luar jendela dengan perasaan yang entah apa yang sedang berkecamuk di dalam hatinya.

Di luar ruangan, Ivy berjalan menyusuri koridor yang sepi. Air matanya terus mengalir, namun langkah kakinya tetap berjalan lurus. Ia tahu, ucapan ayahnya tidak akan berubah, dan masa lalunya yang pahit pun takkan bisa diperbaiki. Namun, di atas kepalanya, angka 29 hari itu masih terlihat jelas, mengingatkannya bahwa sisa waktu ini harus ia gunakan bukan untuk menangisi kekecewaan, melainkan untuk hidup dengan jujur sesuai apa yang ia inginkan, selagi ia masih memiliki kesempatan untuk bernapas.

1
𝒁𝒆𝒍𝒊𝒏𝒆
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!