Liburan seharusnya menjadi pelarian bagi Cassandra Evans setelah dipecat secara tidak adil dari pekerjaannya. Ia hanya ingin menjauh dari masalah, melupakan tuntutan keluarganya yang terus mendesaknya untuk segera menikah, dan menikmati sedikit kebebasan di Roma, Italia. Namun, siapa sangka? Satu kesalahan kecil justru menyeretnya ke dalam dunia yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan—dunia mafia. Rafael “Rafe” Montenegro bukan sekadar pria kaya dan berpengaruh. Di balik ketampanannya yang dingin, ia menyimpan rahasia gelap. Duda dengan seorang putra kecil ini menjalankan bisnisnya dengan tangan besi, menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Tidak ada tempat untuk kelemahan dalam hidupnya—terutama setelah dikhianati oleh istri dan sahabatnya sendiri. Ketika Cassandra tanpa sengaja masuk ke dalam kehidupannya, Rafe tidak punya pilihan selain menahannya di sisinya. Awalnya, hanya untuk mengasuh putranya. Namun, semakin lama, Cassandra bukan sekadar pengasuh biasa. Ia menantang, membangkang, dan menghadirkan sesuatu yang sudah lama hilang dalam hidup Rafe—kehangatan. Tapi dunia Rafe bukan dunia yang aman. Dan Cassandra? Ia terlalu polos untuk terjebak dalam kekacauan ini. Namun, semakin ia mencoba melepaskan diri, semakin dalam ia jatuh ke dalam genggaman sang mafia. Di antara bahaya, rahasia, dan batas-batas yang tak boleh dilanggar, Cassandra harus memilih: tetap berjuang untuk keluar, atau menyerahkan hati pada pria yang bisa menghancurkannya kapan saja. Karena ketika mafia menginginkan sesuatu, mereka tidak akan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
"Tapi sayangnya..." suaranya rendah dan bergetar menahan emosi. "Makhluk dajjal itu telah kuhabisi begitu saja di tempat sial!!!"
Tangan Rafael mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia memukul dinding ruangan dokter, suara benturan keras menggema di ruangan sempit itu.
"Seharusnya aku menyiksanya dulu sebelum menembak jantungnya!"
Ed dan Franco yang berdiri di sisi pintu hanya bisa menelan ludah. Mereka sudah terbiasa melihat Rafael marah, tapi ini... ini lebih dari sekadar kemarahan. Ini adalah kemarahan seorang pria yang kehilangan kendali atas segalanya.
Dokter yang masih duduk di kursinya hanya bisa menatap Rafael dengan ekspresi hati-hati. Ia tidak berani mengeluarkan satu kata pun.
"Bajingan itu tidak pantas mati dengan cara yang cepat," Rafael menggeram, suaranya penuh kebencian. "Aku seharusnya meremukkan setiap tulangnya, membiarkannya memohon ampun sebelum aku mencabut nyawanya."
Ia mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba mengendalikan amarah yang membara di dadanya. Tapi itu percuma.
Franco akhirnya memberanikan diri untuk berbicara. "Tuan... bagaimanapun juga, dia sudah mati. Kita masih punya urusan yang lebih penting sekarang."
Rafael menoleh tajam, sorot matanya hampir membuat Franco mundur selangkah. Tapi Franco tetap bertahan.
"Cassandra masih di rumah sakit, dan dia membutuhkan Anda," lanjut Franco dengan suara mantap.
Mendengar itu, Rafael terdiam. Napasnya masih berat, tapi sedikit demi sedikit, fokusnya kembali pada hal yang lebih penting.
"Tapi Tuan, bagaimana kondisinya? Apa yang dokter bicarakan sampai anda berkata seperti itu? " tanya Ed dengan nada hati-hati.
Rafael menghela napas dalam, menatap kosong ke arah pintu ruangan rawat Cassandra.
suaranya terdengar datar, tetapi jelas ada kemarahan dan frustasi yang terpendam di baliknya. "Dokter bilang kondisinya stabil, tapi tubuhnya mengalami banyak luka dalam. Butuh waktu untuk pulih sepenuhnya."
Franco dan Ed saling bertukar pandang. Mereka tahu, meskipun Rafael berusaha terdengar tenang, nyatanya pria itu berada di ambang kehancuran.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Rafael melangkah menuju kamar Cassandra. Begitu memasuki ruangan, pandangannya langsung tertuju pada sosok mungil yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Cassandra tampak begitu rapuh. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit membiru, dan beberapa perban melilit tubuhnya. Mesin pemantau detak jantung di sebelah ranjang berbunyi pelan, menandakan bahwa nyawanya masih bertahan.
Rafael mendekat, menarik kursi di sisi ranjang, lalu duduk dengan ekspresi yang sulit ditebak
Rafael menatap Cassandra yang masih terbaring tak sadarkan diri, wajahnya begitu pucat di bawah cahaya lampu rumah sakit. Jemari mungil perempuan itu masih berada dalam genggamannya, tetapi dingin—tidak ada tekanan balik, tidak ada reaksi.
Entah perasaan apa yang menggelayuti benaknya saat ini. Amarah? Frustasi? Rasa bersalah? Atau... sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kepedulian?
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Rafael Montenegro merasa lemah.
Jika bisa, ia ingin menukar tempat dengan Cassandra. Membiarkan dirinya yang terluka, dirinya yang terbaring di ranjang ini, bukan perempuan keras kepala yang kini tampak begitu tak berdaya.
Apa ini cinta?
Atau hanya sekadar tanggung jawabnya sebagai pria yang sudah menyeret Cassandra ke dalam kehidupannya yang kelam?
Ah... tanggung jawab?
Matanya mengerjap, tiba-tiba teringat sesuatu. Kedua anaknya.
Bagaimana kabar mereka?
Apakah mereka baik-baik saja tanpa kehadiran Cassandra?
Selama ini, anak-anaknya memang selalu baik-baik saja. Mereka tumbuh dengan segala fasilitas terbaik yang bisa ia berikan, diasuh oleh para pengasuh profesional, dilindungi dengan pengamanan tingkat tinggi.
Tapi...
Rafael menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak.
Anak-anaknya sudah mulai nyaman dengan kehadiran Cassandra.
Mereka menyukai gadis itu, lebih dari yang pernah Rafael perkirakan. Ada sesuatu yang Cassandra bawa ke dalam hidup mereka—sesuatu yang selama ini tidak pernah ada di dalam rumah itu.
Kehangatan.
Kasih sayang.
Sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tidak bisa berikan sebagai seorang ayah.
Sial.
Pikiran itu semakin menyesakkan dadanya.
Tanpa sadar, genggamannya pada tangan Cassandra semakin erat. "Cepat sadar, Cassandra..." suaranya nyaris seperti bisikan, tetapi penuh dengan keteguhan. "Anak-anak ku menunggu mu. Dan aku..."
Ia menggantungkan kalimatnya.
Tidak, ia belum siap mengakuinya.
Belum sekarang.
...➰➰➰➰...
Rafael Montenegro melangkah keluar dari ruang rawat dengan napas berat. Setelah berjam-jam duduk di sana, menatap Cassandra yang terbaring tak sadarkan diri, akhirnya ia memutuskan untuk mengambil udara segar. Rasa frustrasi dan lelah bergelayut di pundaknya. Cassandra masih belum menunjukkan tanda-tanda sadar, dan itu mengganggunya lebih dari yang ingin ia akui.
Ia mengeluarkan ponselnya, menekan nomor salah satu pelayan di rumahnya di Italia. Panggilan hanya berdering dua kali sebelum seseorang mengangkat.
"Tuan Montenegro," suara seorang perempuan di seberang terdengar hormat. "Apa ada kabar dari nona Cassandra?"
Rafael menutup matanya sejenak, meredam emosi yang bergolak dalam dadanya. "Belum. Tapi aku ingin tahu keadaan di rumah. Bagaimana anak-anak?"
"Mereka baik-baik saja, Tuan. Den Nathan memang sempat menanyakan Cassandra beberapa kali, tetapi kami berhasil mengalihkan perhatiannya. Dia banyak bermain dengan Den Sean hari ini."
Rafael mengembuskan napas pelan. Sejujurnya, ia sudah membayangkan skenario terburuk—Nathan menangis meraung-raung, tak mau makan, terus bertanya di mana Cassandra. Tapi ternyata tidak seburuk itu.
"Dia tidak rewel?" tanyanya memastikan.
"Tidak, Tuan. Kami memberi tahu bahwa Nona Cassandra sedang beristirahat karena kelelahan, dan dia menerimanya. Bibi Merry juga sangat membantu. Dia membacakan dongeng untuk Nathan sebelum tidur tadi."
Sebuah senyum tipis hampir muncul di wajah Rafael. "Baik. Pastikan mereka tidak kekurangan apa pun. Aku akan segera kembali."
Ada jeda singkat sebelum pelayan itu bertanya dengan hati-hati, "Tuan... kapan Anda akan kembali ke Italia?"
Rafael memandang ke arah rumah sakit di belakangnya, lalu ke langit malam yang membentang luas di atas kota Meksiko. Angin dingin menerpa wajahnya, namun tidak mampu mendinginkan gejolak dalam pikirannya.
"Dalam beberapa hari ke depan. Aku akan membawa Cassandra pulang, sadar atau tidak."
Di seberang telepon, pelayan itu tampak ragu. "Apakah dokter mengizinkan?"
Mata Rafael menyipit tajam. "Saya lebih tenang jika dia berada di Italia. Pengawasanku lebih luas di sana dibandingkan di sini, di mana beberapa kota masih berada dalam bayang-bayang terorisme." Ia menghela napas berat sebelum melanjutkan dengan nada lebih tegas, "Aku tidak mau ada lagi hal yang tak diinginkan terjadi untuk kedua kalinya. Dia akan pulang bersamaku, sadar atau tidak."
"Saya mengerti, Tuan."
"Pastikan semuanya sudah siap untuk kepulangannya."
"Baik, Tuan. Akan kami persiapkan segalanya."
Rafael mengakhiri panggilan dan menatap langit yang dipenuhi bintang. Rasanya aneh. Dulu, ia tak pernah membayangkan akan merasa semarah dan secemas ini hanya karena seorang perempuan. Tapi Cassandra berbeda.
Ia menekan ponselnya kembali, kali ini menelepon seseorang yang bisa mengatur transportasi medis pribadi ke Italia. Jika Cassandra tidak sadar dalam waktu dekat, maka ia akan memastikan perempuan itu tetap berada di sisinya—dalam keadaan apa pun.
Mari kita berdoa berjamaah semoga dapat suami yg kaya, gagah, setia dan mencintai kita selamanya. Amin🤔🤗🥰👏