Hidup Aina seperti diselimuti kabut yang tebal saat menemukan kenyataan kalau Fatar, lelaki yang dicintainya selama 7 tahun ini meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Namun Fatar tak sendiri, ada seorang wanita bersamanya. Wanita tanpa identitas namun menggunakan anting-anting yang sama persis dengan yang diberikan Fatar padanya. Aina tak terima Fatar pergi tanpa penjelasan.
Sampai akhirnya, Bian muncul sebagai lelaki yang misterius. Yang mengejar Aina dengan sejuta pesonanya. Aina yang rapuh mencoba menerima Bian. Sampai akhirnya ia tahu siapa Bian yang sebenarnya. Aina menyesal karena Bian adalah penyebab hidupnya berada dalam kabut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Benci dan Cinta
"Pihak bank memberikan kita waktu selama satu minggu untuk pindah dari rumah kita. Bank sudah menyita rumah itu dan mama sangat terpukul. Karena rumah ini penuh kenangan antara papa dan mama." kata Aira saat Aina tiba di rumah.
"Terlalu banyak kah hutang papa? Pada hal papa orangnya sangat mempertimbangkan segala sesuatu."
Aira menunduk. Tangisnya pecah. "Andai saja aku tak membuat Hamid terluka, pasti semua ini tak akan terjadi. Akulah yang menyebabkan kemalangan terjadi dalam keluarga kita."
Aina duduk di samping kakaknya. "Bukan waktunya untuk saling mempersalahkan, kak. Sekarang kita harus mencari tempat tinggal dulu."
Aira menatap adiknya. "Kakak punya tabungan. Mungkin bisa kita gunakan untuk menyewa apartemen sederhana. Tak mungkin kita membiarkan mama tinggal di rumah susun."
"Sewa apartemen juga mahal, kak."
Aira mengusap wajahnya. "Aku bingung harus bagaimana, Ai. Papa masih koma. Biaya pengobatan papa juga tidak murah karena semuanya bayar mandiri. Besok, rencananya kakak akan mengurus asuransi kesehatan papa."
Aina mengangguk. "Aku akan mencoba mencari informasi apakah ada rumah yang bisa kita sewa."Aina pun segera ke kamarnya. Ia mengambil koper dan mulai membereskan pakaiannya. Saat Aina membuka kotak perhiasannya, ia melihat cincin berlian yang pernah Fatar berikan saat Aina lulus kuliah. Ternyata cincin itu tak dibuangnya. Aina menggenggam cincin itu. Entah mengapa, perasaan rindu pada lelaki itu tiba-tiba datang. Apakah Fatar sebenarnya tidak bersalah? Apakah Fatar juga korban dari balas dendam yang dilakukan oleh keluarga Badem karena Wilma ada hubungannya dengan keluarga itu?
**********
Sepanjang malam Aina tak bisa tidur dengan nyenyak. Akibatnya, keesokan paginya, ia terlambat pergi ke kantor.
"Bu Aina, di cari pak Radit sejak tadi." kata Anita saat Aina tiba.
"Aku sudah terlambat satu jam." ujar Aina. Ia mengeluarkan laporan yang sebenarnya sudah selesai dibuatnya. Laporan hasil rapat tentang keuangan. Aina pun segera ke ruangan wakil direktur. Radit sudah menunggunya di depan pintu.
"Bu Aina, kenapa baru datang. Bos sudah marah-marah, tuh!" Radit langsung membuka pintu ruangan Fabian. Lelaki itu nampak sedang membaca sesuatu di tabletnya.
"Pak, ibu Aina sudah datang." ujar Radit.
Fabian mengangkat wajahnya. Ia menatap tajam ke arah Aina. Lalu kemudian menatap Radit. Lelaki itu mengerti. Ia langsung meninggalkan ruangan itu dan menutupnya kembali.
"Maaf pak saya terlambat." Kata Aina sambil meletakan hasil laporannya ke atas meja Fabian.
"Sekali lagi kamu terlambat, aku akan memotongnya di gajimu." Fabian berkata tegas lalu membuka laporan itu.
"Hari ini kita akan pergi ke acara makan malam dengan investor dari Malaysia. Acaranya jam 7."
"Pak, bolehkah saya tidak ikut? Saya harus menjaga papa saya di rumah sakit karena kakak saya harus mencari kontrakan rumah."
"Mencari kontrakan rumah?" Fabian menatap Aina sambil mengerutkan dahinya.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Kalian kan yang menyebabkan perusahaan papaku hancur, membuat papaku harus berhutang pada bank sehingga rumah kami harus disita?" Aina tak bisa menahan emosinya lagi.
"Maksud kamu apa?" Fabian terlihat marah.
"Kini aku mengerti mengapa kamu mengatakan bahwa aku akan membutuhkan sapu tangan karena akan lebih banyak menangis. Namun tenang saja, aku tetap tak akan membutuhkan sapu tangan itu karena aku tak akan pernah menangis bagi orang yang tak berarti seperti kalian." Aina langsung meninggalkan ruangan Fabian tanpa memperdulikan tatapan marah lelaki itu.
Sesampai di ruangannya, Aina menumpahkan seluruh kemarahannya dengan menangis sendiri. Untungnya ruangannya dibatasi oleh dinding kaca yang menggunakan tirai sehingga tak terlihat dari luar.
Aina tiba-tiba ingat Arya. Ia langsung menelepon lelaki itu. Aina menceritakan tentang keadaan keluarganya yang membutuhkan rumah.
"Aina, tinggal saja di rumahku. Aku jarang ada di rumah dan rumahku lumayan besar. Ada 4 kamar. Kalian boleh memakai 3 kamar yang ada di lantai bawah dan aku memakai kamar yang ada di atas." kata Arya.
"Tapi kak, aku tak mau menyusahkan mu."
"Aku tak merasa begitu. Aku justru senang kalau di rumah ada orang. Orang tuaku lebih suka tinggal di Labuan Bajo."
"Tapi Kaka.....!"
"Please, Ai. Biar aku membantu mu."
"Baiklah kak. Tapi aku bicarakan dengan kakakku dulu ya?"
"Tentu saja. Kabari aku jika kamu hendak pindah. Biar aku menyuruh anak buahku menjemput kalian."
"Baik, kak."
Aina menarik napas panjang. Ia menghembuskannya perlahan lalu segera menghapus air matanya. Kamu harus kuat, Aina. Katanya sambil menyemangati dirinya sendiri.
**********
Akhirnya Aina ikut juga di acara makan malam bersama investor yang dari Malaysia. Lelaki bernama Kafni itu nampak terpesona dengan kecantikan Aina.
"Miss Aina, kamu cantik sekali. Aku sungguh terpesona padamu." kata Kafni sambil menjabat tangan Aina.
"Tuan Kafni, Miss Aina ini sudah menikah." kata Fabian membuat Aina menatap tajam ke arah Fabian.
"Oh, saya pikir nona cantik ini masih singel. Sayang sekali ya? Pada hal aku ini seorang duda. Sudah lama mencari istri untuk mendampingi saya." Kafni terlihat kecewa.
"Tenang saja, tuan Kafni. Sebentar lagi aku menjadi janda." ujar Aina lalu segera mempersilahkan Kafni untuk duduk kembali.
Fabian nampak terkejut dengan apa yang Aina katakan. Namun dia ikut duduk juga di meja yang sudah disiapkan. Radit ikut duduk di samping Fabian sedangkan Aina bersebelahan Kafni.
Acara makan malam itu berlangsung dengan lancar sampai akhirnya Kafni menandatangani perjanjian kontrak kerja.
"Aina cantik, kabari aku kalau kamu sudah resmi menjadi janda ya?" ujar Kafni sebelum ia naik ke dalam mobilnya.
"Pasti, pak. Tenang saja." ujar Aina membuat Fabian melirik tajam kepadanya.
Dalam perjalanan pulang, Aina duduk dengan Radit di depan, sedangkan Fabian di belakang.
"Aina, apakah benar kamu akan bercerai?" tanya Radit.
"Iya. Suamiku seorang pembohong, penipu dan sudah menduakan aku. Lagi pula dia hanya seorang satpam jadi wajarlah jika aku tertarik dengan tawaran tuan Kafni."
"Perempuan itu butuh taraf kehidupan yang lebih baik ya?" tanya Radit.
"Benar. Dan aku baru sadar sekarang. Tak apalah. Yang penting belum terlambat untuk menyadari kesalahan di masa lalu."
"Radit, jangan bergosip di dalam mobilku." Fabian menegurnya.
"Maaf, pak." Radit pun segera menutup mulutnya sedangkan Aina tersenyum penuh arti.
"Radit, aku berhenti di sini saja." kata Aina lalu membuka sabuk pengamannya.
"Ibu Aina, rumah mu kan malah jauh." Radit menepikan mobilnya.
"Aku sudah janjian dengan seseorang." Aina turun dari mobil. "Selamat malam pak Fabian." pamit Aina lalu segera turun. Sebenarnya Aina tak sedang janjian dengan siapapun. Ia hanya malas saja berada satu mobil dengan Fabian.
Aina pun memesan taxi online.
**********
Fabian tiba di apartemennya. Di lihatnya Terre yang sedang bekerja di ruangan kerjanya.
"Terre, mengapa Aina dan keluarganya harus kehilangan rumah mereka?"
Terre menatap suaminya. "Apa peduliku jika mereka tinggal di jalanan? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tak akan pernah berhenti sampai melihat mereka semuanya menderita tanpa punya apa-apa. Kamu kan tahu sendiri bagaimana hancurnya aku, papa, mama dan kakakku saat kak Hamid meninggal? Kamu sendiri kan yang menjaga aku saat harus masuk keluar rumah sakit karena tak mampu menahan rasa kehilangan atas kematian kak Hamid?"
Fabian meletakan tas kerjanya di atas meja. "Aku mau istirahat."
"Jangan katakan kalau kamu kasihan dengan gadis itu!" teriak Terre terdengar sangat cemburu.
Fabian menghentikan langkahnya. Perlahan ia berbalik dan menatap Terre. "Aku bukan kasihan pada Aina. Aku justru kasihan padamu karena kamu sudah sejahat ini hanya karena ingin membalas dendam."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Fabian pun meninggalkan Terre.
"Brengsek !" Terre melemparkan semua barang-barang yang ada di atas meja kerjanya. Perempuan itu merasa kalau Fabian mulai dingin padanya.
**********
Bagaimana ceritanya ini akan berlanjut?
selalu suka sama karya nya,,
dari awal emang udah sreg Aina sama Emir..
ya walaupun ternyata kaget jg waktu tau kenyataan yg sebenarnya kalo Emir itu suaminya Terre..
selama baca bab per bab, masih berharap kalo Emir itu cuma saudaranya Terre..
tapi ternyata emang beneran suaminya..
trus pas Emir dinyatakan meninggal, wah syok banget, rasanya gak percaya dan berharap mak othor cuma ngeprank..
terus baca, akhirnya sampai Aina mau nikah sama Arya..
masih berharap Emir tetap hidup, secara kan ciri khas mak othor tokoh utama prianya mesti ada bau2 bulenya..
tapi sampai Aina dan Arya melakukan penyatuan, pupus sudah harapan..
ternyata eh ternyata, emang mak othor beneran ngeprank..
Alhamdulillah Emir masih hidup walopun harus banyak drama demi mengelabui Terre waktu itu dan wajahnya jg sedikit berubah..
dan syukur alhamdulillah akhirnya semua tokoh mendapatkan kebahagiaannya masing2..
pasangan paling fenomenal benernya Putri dan Paman Bara..
dari yg gak mau berkomitmen berubah jadi bucin abis.. wkwkwk..
mak othor keren banget deh ceritanya..
alurnya bener2 gak bisa ketebak langsung..
semoga sehat selalu ya mak..
tetap semangat dan semoga sukses selalu..
💪🏻😘🥰😍🤩🙏🏻💕
Terima kasih atas suguhan karya mami yg selalu bikin emosi naik turun.... selalu bikin penasaran pembaca... sekali lg Terima kasih mami... love sekebon🥰🥰🥰🥰🥰
meski penuh misteri tapi ceritanya bagus banget.demgan tatabahasa yg epik dan 3nak dibacanya...
terus semangat berkarya thor ❤️ ❤️ ❤️
happy ending nya aina & emir beserta anak2 mereka..
karya2 mu sll end dng baik & sempurna..
sll di runggu dng cerita2 yg sngat sll menarik 🥰😘