Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.
Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.
Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!
Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?
#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern
#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa
#ZeroToHero #BenciJadiCinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
:Gerbang Gaib Parangtritis dan Turun ke Palung
Mobil sedan hitam legam yang membawa Dika dan Sari akhirnya sampai juga di bibir Pantai Parangtritis setelah menempuh perjalanan darat yang melelahkan lewat tol Trans-Jawa. Jam di dasbor mobil menunjukkan pukul lima sore. Sinar matahari senja yang berwarna jingga kemerahan mulai tenggelam di cakrawala, membuat permukaan ombak Laut Selatan kelihatan kayak hamparan logam cair yang berkilau. Indah, tapi sekaligus menyimpan aura magis yang bikin bulu kuduk merinding.
"Kita sudah sampai, Dika. Silakan bersiap-siap," ucap Sari sambil merapikan gaun biru dongkernya. Dia memakai kembali kacamata hitamnya, meskipun hari sudah mulai remang-remang.
Dika yang dari tadi cuma diam sambil meluk tas laptop Asus-nya langsung membetulkan posisi kacamata minusnya. Dia melirik ke arah luar jendela. Alih-alih berhenti di area parkir wisata yang penuh sama tukang asongan dan motor sewaan, si sopir berleher sisik itu malah mengarahkan mobil langsung menembus gumuk pasir, melaju kencang menuju area tebing karang terlarang yang dipasang plang rambu "Dilarang Berenang - Ombak Ganas".
"Mbak Sari, ini kita mau langsung nyemplung pakai mobil?" tanya Dika, suaranya tetep lempeng tanpa ekspresi panik sedikit pun, padahal mobilnya sekarang udah berjarak kurang dari sepuluh meter dari empasan ombak raksasa.
Sari cuma tersenyum tipis, senyuman khas CEO yang tahu kalau dia punya segalanya. "Mobil ini punya fasilitas corporate privilege khusus dari istana laut, Dika. Kamu tidak usah khawatir bakal basah atau kehabisan napas."
Tepat saat moncong mobil menyentuh air laut, sopir bersisik itu menekan sebuah tombol merah di setir. Seketika, terdengar bunyi klik yang berat dari seluruh bodi mobil. Air laut yang tadinya mau mengempas kaca depan mendadak terbelah secara magis, membentuk terowongan air berbentuk silinder transparan yang melapisi mobil. Pemandangan di luar langsung berubah total. Mobil mereka gak tenggelam atau melayang, tapi meluncur mulus di atas jalanan aspal gaib yang tak kasat mata, menukik tajam langsung menuju dasar samudra.
Dika senior kalau ada di sini pasti sudah nangis-nangis sambil baca ayat kursi, tapi Dika magang cuma manggut-manggut pelan. Dia mengeluarkan pulpen dua ribu rupiah dari sakunya. Begitu mobil masuk lebih dalam ke zona kedap udara bawah air, inti energi emas di dalam pulpennya langsung bergetar hebat, merespons tekanan energi spiritual laut selatan yang luar biasa pekat.
"Tekanan hidrostatik gaibnya sekitar lima ratus bar ya, Mbak," gumam Dika sambil melihat ke luar jendela, di mana gerombolan ikan hiu siluman berbadan besar dengan mata menyala biru sedang berenang beriringan di samping mobil, bertindak kayak kawalan polisi patwal.
Sari menoleh, sedikit terkejut dengan ketenangan Dika. "Kamu bisa mengukur tekanan energi laut kami cuma lewat firasat?"
"Bukan firasat, Mbak. Ini laptop saya mendadak kipasnya muter kencang banget karena mendeteksi ada interferensi gelombang elektromagnetik dari luar. Berarti ada benturan dua sistem hukum di sini," jawab Dika sambil menunjuk laptopnya yang layarnya kedip-kedip menampilkan tabel Excel yang rumit.
Mobil terus meluncur ke bawah, menembus zona kegelapan abadi di mana sinar matahari sudah gak bisa masuk lagi. Tapi anehnya, di depan mereka mendadak muncul pendar cahaya biru neon yang sangat terang. Begitu mobil melewati sebuah celah tebing karang purba, pemandangan di depan mereka bikin mata siapa pun bakal melongo.
Di dalam Palung Jawa yang terkenal paling dalam itu, berdiri sebuah kompleks kota metropolitan bawah laut yang super megah. Gedung-gedungnya dibangun dari susunan batu karang hitam jaladara dan kristal mutiara laut yang berkilau. Di tengah kompleks tersebut, ada satu gedung pencakar langit paling tinggi yang arsitektur bangunannya mirip kayak gabungan antara kantor modern SCBD Jakarta dengan istana Jawa kuno lengkap dengan atap joglo dari emas murni. Di bagian depan gedung, ada papan nama hologram raksasa yang menyala terang: HEAD OFFICE - PT PESUGIHAN PANTAI SELATAN TBK.
"Selamat datang di kantor pusat kami, Dika," ucap Sari dengan nada bangga saat mobil mereka akhirnya berhenti di area drop-off lobby utama yang kedap air.
Begitu pintu mobil terbuka, Dika langsung turun sambil menenteng koper hitam dan tas laptopnya. Hawa di dalam lobby kantor bawah laut itu ternyata mirip banget sama kantor pusat di Jakarta: wangi pengharum ruangan aroma teh hijau, AC-nya dingin menusuk tulang, dan ada suara musik instrumental gamelan yang diputar pelan lewat speaker plafon. Yang beda cuma staf-stafnya aja. Resepsionisnya adalah sepasang wanita cantik yang kalau senyum giginya kelihatan taring kecilnya, dan para sekuriti yang jaga di depan pintu lift semuanya berbadan kekar dengan kepala berbentuk ikan martil yang memakai seragam safari hitam.
"Mari langsung ke ruang rapat direksi di lantai 77. Para jajaran Komisaris Gaib sudah menunggu laporan penyesuaian darimu," kata Sari sambil berjalan anggun di depan Dika, membuat seluruh staf martil yang berpapasan langsung menunduk hormat setengah tiang.
Mereka naik menggunakan lift kristal transparan yang melesat cepat ke atas. Dari dalam lift, Dika bisa melihat ribuan kubikal kerja di lantai-lantai bawah yang isinya ribuan siluman dan manusia kontrak sedang sibuk mengetik di depan komputer. Bedanya, yang mereka input bukan data jualan baju atau makanan, melainkan data grafik penurunan jatah umur, kontrak tumbal proyek pembangunan, sampai skema bagi hasil pesugihan ruko kelontong di seluruh Indonesia.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai 77. Suasana di lantai ini jauh lebih mencekam. Pintu ruang rapat utamanya terbuat dari kayu jati kuno raksasa yang dilapisi rantai besi hitam berkarat. Begitu Sari mendorong pintu tersebut, Dika langsung disambut oleh tatapan dingin dari lima orang pria paruh baya yang duduk di kursi melingkar. Mereka semua memakai beskap hitam mewah dengan blangkon, tapi aura di sekitar mereka diselimuti asap hitam pekat dan bau kemenyan yang sangat menyengat. Mereka adalah Dewan Komisaris Gaib perwakilan dari berbagai sektor mistis laut selatan.
"Sari! Kenapa kamu membawa manusia darat yang baunya seperti minyak angin murah ini ke ruang suci kita?" bentak salah satu komisaris yang jenggotnya panjang sampai ke meja, matanya merah menyala kayak bara api. "Laporan keuangan kita sudah disetujui oleh dukun agung keraton bawah laut! Kenapa harus dirombak lagi oleh anak magang gila ini?!"
Sari langsung duduk di kursi utama ketua direksi, wajah cantiknya berubah jadi dingin dan berwibawa. "Jaga bicaramu, Mbah Buyut Raksa. Dika ini adalah auditor eksternal yang saya tunjuk langsung. Laporan dari dukun agung kalian itu kemarin hampir saja membuat perusahaan kita kena write-off massal oleh sistem akuntansi langit karena ketahuan menyembunyikan selisih dana dua triliun. Kalian mau seluruh aset laut kita disita paksa seperti The Seven Actuaries di Gunung Lawu kemarin?!"
Mendengar nama The Seven Actuaries disebut, kelima komisaris gaib itu langsung terdiam, ekspresi wajah mereka mendadak agak ciut. Berita tentang hancurnya tujuh dukun sakti dalam semalam akibat ulah seorang akuntan langit ternyata sudah sampai ke telinga para penguasa laut.
Dika gak pakai lama langsung maju ke depan meja rapat. Dia menaruh koper hitamnya, membukanya dengan santai, lalu mengeluarkan isinya satu per satu: tiga botol air zam-zam, dua bungkus garam kasar, dan terakhir—lima belas saset kopi hitam tanpa gula serta tiga buah kelapa muda.
Melihat barang-barang itu, kelima komisaris gaib itu langsung melotot tersinggung. "Kurang ajar! Kamu mau menantang kami dengan membawa air suci dan garam penangkal di dalam ruang rapat direksi?!"
Dika tetep lempeng, malah langsung menyobek satu saset kopi hitam dan menuangkannya ke dalam cangkir kosong di meja tanpa air panas. "Bukan menantang, Mbah. Ini namanya biaya representasi. Saya tahu kalian sudah ribuan tahun gak dapet asupan kopi pahit yang bener karena dukun-dukun zaman sekarang kalau ngasih sesajen seringnya pakai kopi sasetan murahan yang banyakan gulanya. Ini saya bawakan kopi murni dari darat."
Dika lalu menepuk salah satu kelapa muda yang dia bawa. "Kelapa muda ini juga fungsinya buat meredam suhu server spiritual kalian yang dari tadi saya deteksi sudah overheat gara-gara kebanyakan nampung dana pencucian uang berkedok tumbal. Silakan dinikmati dulu biar rapatnya bisa santai."
Kelima komisaris itu saling pandang, hidung mereka kembang kembis menghirup aroma kopi hitam murni bawaan Dika yang emang beda kelas. Salah satu komisaris yang paling tua perlahan mengambil satu kelapa muda, lalu meminumnya pakai sedotan gaib. "Hmm... segar sekali. Energi murninya langsung membersihkan paru-paru spiritual saya." Suasana rapat yang tadinya tegang mendadak jadi agak mencair kayak suasana bapak-bapak pos ronda.
Sari yang melihat itu cuma bisa menahan senyum di kursinya, makin kagum sama taktik diplomasi absurd anak buah barunya ini.
"Nah, sekarang mari kita bahas baris 452 di laporan konsolidasian kalian," Dika membuka laptop Asus-nya, lalu menghubungkannya ke layar proyektor kristal di dinding ruangan. "Di sini tertulis ada biaya operasional sebesar dua triliun rupiah untuk 'Sewa Kampar Gaib Istana'. Setelah saya telusuri pakai rumus INDEX-MATCH, ternyata ini bukan biaya sewa, melainkan dana talangan untuk menutupi utang performa dari para pengusaha darat yang gagal bayar tumbal karena rukonya bangkrut duluan akibat kalah saing sama e-commerce."
Dika menatap kelima komisaris itu satu per satu dengan mata minusnya yang tajam di balik kacamata. "Dalam standar akuntansi langit, kalian gak bisa membebankan kerugian macet para pengusaha itu ke dalam akun aset perusahaan, Mbah. Itu namanya penipuan publikasi laporan keuangan. Kalau ini dibiarkan sampai audit penutupan akhir tahun depan, saldo takdir PT Pesugihan Pantai Selatan bakal langsung minus besar, dan jatah umur Mbak Sari sebagai CEO... bakal didebet paksa sampai nol sebagai jaminan utama."
Mendengar kata 'jatah umur CEO bakal didebet sampai nol', Sari langsung menegakkan posisi duduknya, wajahnya kembali serius. Sementara kelima komisaris gaib mulai kasak-kusuk panik.
"Lalu... lalu bagaimana solusinya, anak muda?" tanya komisaris berjenggot panjang, suaranya gak lagi membentak, melainkan sudah berubah jadi nada memelas khas klien yang ketahuan salah input data pajak.
Dika mengambil pulpen dua ribu rupiah dari sakunya, lalu mengetukkannya tiga kali ke permukaan meja rapat kristal tersebut. Ting! Ting! Ting!
"Solusinya gampang. Kita lakukan restrukturisasi utang takdir massal. Seluruh pengusaha darat yang gagal bayar itu kontrak pesugihannya kita putus, lalu aset ruko mereka kita sita secara gaib untuk dilelang ke sistem pasar modal langit. Dana hasil lelangnya langsung kita pakai buat nutupin selisih dua triliun tadi, sehingga neraca perusahaan Mbak Sari kembali balance sempurna tanpa perlu mengorbankan jatah umur siapa pun," jelas Dika dengan sangat taktis dan dingin.
Kelima komisaris gaib langsung manggut-manggut serentak seperti pajangan dasbor mobil. "Setuju! Kami setuju! Strategi ini sangat bersih dan aman untuk kelangsungan bisnis jangka panjang kita!"
Sari tersenyum puas, matanya menatap Dika dengan pandangan penuh kemenangan. "Urus dokumen penyesuaiannya sekarang juga, Dika. Saya yang akan tanda tangan langsung sebagai otoritas tertinggi."
Dika mulai menggerakkan jarinya di atas keyboard laptop bututnya dengan kecepatan tinggi. Tak-tok-tak-tok bunyi berisik tombol keyboard-nya menggema di seluruh ruang rapat lantai 77 kantor pusat bawah laut tersebut, membelah keheningan samudra, siap menyusun ulang takdir keuangan dua alam agar kembali seimbang.