NovelToon NovelToon
PRIMUS ARISTOKRAT

PRIMUS ARISTOKRAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:358
Nilai: 5
Nama Author: elzio_yanuar

PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mereka Mulai Panik

Ruang rapat itu mendadak terasa seperti peti mati; sempit, kedap suara, dan mencekam.

Marcus masih mematung di dekat pintu, rahangnya mengetat seiring dengan detak jantungnya yang kian tak beraturan. Di sisi lain, Primus tetap tenang di kursinya. Jemarinya yang ramping memegang selembar foto Daniel yang tampak pucat—seolah sang subjek tahu maut sedang menjemputnya saat kamera dijepret.

Di balik foto itu, tinta merah darah membentuk kalimat yang sanggup meruntuhkan mental pria biasa:

"Berikutnya kamu."

Sebuah undangan kematian. Tanpa kiasan, tanpa basa-basi.

"Tuan Muda..." suara Marcus memecah keheningan, berat dan penuh kecemasan.

"Hm?" Primus menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari foto itu.

"Menurut saya, ini sudah melampaui batas kewajaran. Ini bukan lagi sekadar gertakan bisnis. Ini perburuan kepala."

Primus menyunggingkan senyum tipis, jenis senyuman yang membuat lawan bicaranya merasa bodoh. "Baru sadar, Marcus? Sejak Daniel menghilang, garis batas itu sudah tidak ada."

Marcus menghela napas panjang, pundaknya merosot seolah memikul beban tonan baja. "Sejujurnya, saya mulai menyesal menyeret Anda ke dalam lubang hitam ini."

Primus meletakkan foto itu dengan gerakan sangat perlahan, seolah benda itu adalah barang pecah belah yang sangat mahal. "Marcus, dengar baik-baik."

"Ya, Tuan Muda?"

"Kalau kau secara tidak sengaja menemukan sarang ular di halaman rumahmu... apakah kau akan lari dan membiarkannya berkembang biak sampai mereka masuk ke kamar tidurmu?"

Marcus terdiam sesaat, lalu menjawab lirih, "Tergantung berapa banyak ular di dalamnya."

Primus tertawa kecil—sebuah tawa elegan yang dingin. Suasana sedikit mencair, namun di balik tawa itu, Marcus tahu tuannya sedang menyiapkan strategi pemusnahan massal. Keduanya paham bahwa badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.

---

Malam merangkak semakin larut. Setelah Marcus berpamitan, Primus memilih tetap tinggal di ruang rapat. Sendirian.

Hanya ada suara desis pendingin ruangan dan cahaya biru dari layar laptop yang menyinari wajahnya. Ia memutar ulang video Daniel untuk kesekian kalinya. Matanya yang tajam menyisir setiap inci bingkai video—mencari gerakan, pantulan, atau suara latar yang mungkin terlewat oleh mata awam.

Dan di menit ke-04:12, ia menemukannya.

Sebuah pantulan cahaya yang sangat samar pada kaca jendela di belakang Daniel. Primus segera memperbesar gambar tersebut. Pikselnya pecah, namun otaknya bekerja lebih cepat dari algoritma komputer.

Ada seseorang di sana. Seorang pria bertubuh tegap dalam balutan jas hitam, berdiri beberapa meter di belakang kamera. Namun yang membuat napas Primus sedikit tertahan adalah simbol kecil di kerah jas pria itu.

Seekor singa bersayap.

Simbol yang sama dengan segel pada surat misterius tempo hari. Simbol yang juga sempat ia lihat sekilas di toko antik milik Alaric.

"Menarik," gumam Primus. Untuk pertama kalinya, benang-benang kusut dari jalur misteri yang berbeda mulai saling menjalin, membentuk satu pola yang mengerikan.

---

Tengah malam, Primus akhirnya meninggalkan gedung Cabang Timur. Mobil Rolls-Royce hitam miliknya membelah jalanan kota yang mulai sepi. Paman Robert, supir sekaligus pengawal setia keluarga, mengemudi dengan waspada.

Baru lima belas menit perjalanan, ponsel Primus bergetar. Sebuah pesan dari nomor anonim.

*"Jangan pulang malam ini."*

Singkat. Padat. Tanpa penjelasan.

Paman Robert melirik melalui kaca spion tengah, menyadari perubahan ekspresi tuannya. "Masalah lagi, Tuan Muda?"

"Mungkin hanya peringatan dari 'teman' yang tidak ingin aku mati terlalu cepat," jawab Primus santai, meski tangannya sudah merogoh saku pintu untuk memastikan senjatanya berada di tempatnya.

"Anda terlihat terlalu tenang untuk orang yang baru saja diancam," komentar Robert.

Primus tertawa kecil. "Mungkin karena aku sudah terbiasa hidup dengan belati yang mengintai di balik punggung, Robert. Justru jika keadaan tenang, aku malah curiga."

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Saat mobil memasuki jalanan rimbun menuju mansion keluarga, lampu-lampu jalan tiba-tiba padam secara berurutan. *Ceklak. Ceklak. Ceklak.* Kegelapan menelan mereka seperti rahang raksasa.

"Robert, kurangi kecepatan," perintah Primus dingin.

Instingnya berteriak. Jalanan sepanjang dua ratus meter itu kini sunyi senyap, tak ada satu pun kendaraan lain. Dan kemudian, dari arah persimpangan samping yang tersembunyi...

*BRUAKKK!!*

Sebuah truk kontainer besar menerobos tanpa lampu, melaju kencang bak banteng mengamuk langsung ke arah sisi kanan mobil.

"Pegangan, Tuan Muda!" Robert membanting setir dengan liar. Ban mobil menjerit keras saat bergesekan dengan aspal, menghasilkan kepulan asap putih. Mobil berputar 180 derajat, melewati moncong truk hanya dalam jarak hitungan sentimeter.

*BRAKKKK!!*

Truk itu gagal berbelok dan menghantam pagar pembatas jalan dengan suara logam yang mengerikan. Robert terengah-engah, tangannya gemetar di atas kemudi. Sementara itu, Primus tetap duduk tegak di kursinya. Tatapannya sedingin es.

Itu bukan kecelakaan. Itu eksekusi yang gagal.

---

Beberapa menit kemudian, petugas keamanan keluarga Aristokrat sudah mengepung lokasi. Sopir truk yang terluka ringan ditarik keluar. Namun, saat Primus mendekat untuk menginterogasi, pria itu tiba-tiba menggigit sesuatu di dalam mulutnya.

Dalam hitungan detik, tubuh pria itu kejang, matanya membelalak, lalu roboh tak bernyawa.

"Dia bunuh diri dengan kapsul sianida?" Robert terperangah.

Primus menggeleng, ia berjongkok dan melihat pupil mata mayat itu. "Bukan untuk mati, tapi untuk memastikan lidahnya tidak bisa bicara. Dia profesional yang dikirim hanya untuk satu misi."

Primus berdiri, menatap truk yang hancur dan kegelapan malam yang seolah sedang menertawakannya. Sebuah pemahaman baru muncul di benaknya: musuh kali ini tidak sedang bermain-main. Mereka tidak menginginkan negosiasi. Mereka menginginkan mayat seorang Aristokrat.

---

Satu jam kemudian, di sebuah griya tawang (penthouse) mewah yang jauh dari sana.

"Target selamat."

Seorang pria yang duduk membelakangi cahaya jendela terdiam. Ia menyesap wiski mahalnya dengan tenang. Siluetnya tampak tajam di balik pantulan lampu kota.

"Selamat? Lagi?" suaranya rendah, namun penuh otoritas.

Pria itu tersenyum tanpa sedikit pun kehangatan. "Menarik. Kupikir Primus hanyalah anak manja yang hanya tahu cara menghamburkan uang keluarga."

Ia berdiri dan berjalan menuju kaca besar, menatap kota yang seolah berada di bawah kakinya. "Hector mulai bergerak. Alaric juga mulai menampakkan taringnya. Panggung sudah siap."

"Waktunya hampir tiba," lanjutnya.

"Waktu untuk apa, Tuan?" tanya anak buahnya ragu.

Pria itu memutar gelas wiskinya, menatap pantulan cahaya di dalam cairan amber tersebut. "Waktu untuk menemukan Cincin Aristokrat. Dan siapa pun yang memegangnya, dialah yang akan menentukan siapa yang hidup dan siapa yang mati di kota ini."

---

Di balkon mansionnya, Primus berdiri sendirian. Angin malam menyapu rambutnya. Di tangannya terdapat potongan puzzle: surat misterius, foto ancaman Daniel, dan manifes kapal Ocean Crown.

Mulai besok, ia tidak boleh lagi hanya menunggu pukulan datang. Ia harus menjadi orang yang mengayunkan palu terlebih dahulu.

Karena Primus Aristokrat memiliki satu prinsip sederhana: ia tidak keberatan menjadi target, asalkan penembaknya siap untuk dikubur lebih dulu.

TO BE CONTINUED...

1
Toto Maki
sejauh ini alurnya bagus g muter" lanjut kembangkn lgi aku follow
yanuar saputra: terimakaaih kak atas saran nya, salam hangat☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!