Hanya satu hari sebelum hari pernikahan, Bayu Andarsono harus kehilangan sang mempelai dalam kecelakaan yang merenggut nyawa Annisa, belahan jiwanya. Keluarga besar dari kedua pihak tidak bisa menanggung malu, maka dengan keputusan tanpa perasaan mempelai wanita diganti, Andin, adik kandung Annisa. Bayu dan Andin menikah tanpa cinta, keduanya membuat kontrak hitam di atas putih. Andin setuju karena hatinya sudah dimiliki Bian Wijaya, kekasihnya yang setia. Bayu pun tak keberatan, sebab baginya, Andin hanyalah pengganti sementara. Namun, dibalik kehidupan pernikahan yang dingin, misteri mulai terkuak, sedikit demi sedikit. Bayu Andarsono bukanlah pria biasa. Ia adalah Alpha dari klan werewolf tertua di Tanah Jawa. Semakin lama kehidupan pernikahan antara Bayu dan Andin, semakin kuat pula ikatan gaib yang tak terlihat. Benarkah gadis yang ia anggap hanya pengganti itu sebenarnya adalah Mate sejati yang ditakdirkan oleh Bulan untuknya? Bisakah pernikahan palsu itu berubah menjadi ikatan a
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Pertanda
Andin duduk di tepi ranjang kamar utama yang megah. Tangannya saling meremas di pangkuan.
Ruangan ini terasa terlalu besar, terlalu dingin meski pemanas ruangan telah dinyalakan. Aroma Bayu masih menempel kuat di seprai. Campuran antara kayu manis, pepohonan dan feromon Alpha yang menenangkan.
Namun malam ini, aroma itu pun tak mampu menghalau kegelisahan yang perlahan merayap di dadanya.
Gadis itu memeluk lutut, fokusnya menatap keluar jendela. Dari kejauhan, lampu-lampu senter bergerak seperti kunang-kunang ganas di antara pepohonan.
Suara lolongan serigala mulai terdengar. Satu demi satu. Saling bersahutan. Memanggil anggota Pack untuk bergabung dalam perburuan.
Radit…. Bocah kecil yang bahkan tidak pernah dilihatnya itu menghilang. Walaupun dia manusia serigala yang terkenal kuat, tapi dia tetaplah bocah kecil yang masih butuh orang dewasa.
Air mata menggenag di pelupuk matanya. Lalu cepat-cepat ia usap kasar dengan punggung tangannya.
Menangis tidak akan membantu siapapun. Ia sudah terlalu sering menjadi beban. Jika ia bukan manusia lemah, mungkin Bayu tak perlu mengkhawatirkannya di saat seperti ini.
Pintu kamar berderit pelan.
Bayu masuk, masih mengenakan jaket hitamnya yang kini dipenuhi aroma hutan dan keringat. Rambutnya acak-acakan, rahangnya mengeras. Begitu melihat Andin, tatapannya langsung melunak. Dalam dua langkah lebar ia sudah sampai di depan istrinya, berlutut di lantai agar wajah mereka sejajar.
“Sayang…” suaranya rendah, hampir seperti geraman lembut. “Maaf aku tinggalkan sebentar.”
Andin menggeleng, tangannya naik menyentuh pipi Bayu yang kasar karena cambang.
“Kamu harus pergi. Radit lebih penting. Aku… aku baik-baik saja di sini.”
Bayu menangkap tangan mungil itu, mencium telapaknya lama.
“Kamu tidak pernah ‘hanya baik-baik saja’ bagiku. Kamu adalah segalanya.”
Ikatan mate mereka berdenyut. Andin bisa merasakan amarah Bayu yang mendidih, kekhawatirannya yang tajam dan dibalik semua itu— cintanya yang begitu dalam. Hingga rasanya Andin tidak sanggup menerima kelimpahannya.
“Apa yang terjadi di luar, Mas?” tanya Andin pelan.
Bayu menghela napas. Ia bangkit, duduk di samping Andin, lalu menarik istrinya ke pangkuannya. Andin langsung meringkuk di dada bidang suaminya, mendengarkan detak jantung yang kuat dan cepat.
“Kami menemukan jejak ban mobil di pinggir sungai. Tapi….. Jejak itu menghilang begitu saja setelah seratus meter. Bagai ditelan bumi. Sihir pelindung pack seharusnya tidak bisa ditembus sesederhana itu. Rafa sedang memeriksa setiap anggota pack yang punya akses ke mantra perbatasan.”
Andin mengangkat wajah. “Kamu curiga ada pengkhianat?”
Bayu mengangguk pelan, matanya menyala keemasan sesaat. “Ya. Dan aku akan menemukannya. Siapa pun dia, aku akan merobeknya dengan tanganku sendiri.”
Nada suaranya yang dingin membuat Andin merinding. Ini sisi Alpha yang sangat jarang ia lihat. Sisi kejam yang tak kenal ampun, apalagi terhadap siapapun yang mengancam pack-nya. Mengancam keluarganya.
Tiba-tiba Bayu mengerutkan kening. Ia menunduk, mencium rambut Andin lebih dalam.
“Mate…..” Bayu memanggil Andin. Nadanya rendah dan berbahaya.
“K-kenapa, mas?” Andin bertanya kiku, suaranya seperti tikus kecil yang terpojok.
“Aku mencium bau yang aneh pada tubuhmu,” gumamnya.
“Bukan bau yang familiar. Ini… lebih manis. Hampir seperti… bunga lili hitam.”
Andin mengerjap.
“Bunga apa?”
Bayu tidak menjawab langsung. Ia membalikkan tubuh Andin hingga menghadapnya, kedua tangan besarnya memegang pinggang istrinya dengan lembut tapi tegas. Matanya menyusuri wajah Andin seolah mencari sesuatu.
“Sejak kita tiba tadi, aku merasakan ada yang mengawasi kita. Bukan orang-orang pack. Namun, sesuatu yang lebih gelap.”
Sebelum Andin sempat bertanya lebih lanjut, pintu kamar diketuk keras. Suara Rafa terdengar tegang dari balik pintu.
“Alpha! Kami menemukan sesuatu! Sebuah liontin aneh!”
Bayu menggeram pelan. Ia mencium kening Andin cepat, hampir kasar karena terburu-buru.
“Kunci pintunya. Jangan buka untuk siapa pun kecuali aku. Mengerti?”
Andin mengangguk, meski hatinya memberontak. Ia tidak ingin ditinggal sendirian. Tapi ia juga tahu, saat ini Bayu harus menjadi Alpha, bukan hanya suami.
Begitu Bayu keluar dan pintu terkunci, keheningan kembali menyelimuti kamar. Andin berjalan ke jendela, memeluk dirinya sendiri. Di luar, lolongan serigala semakin dekat.
Tiba-tiba, cermin besar di sudut kamar berkabut. Andin mengerjap, mengira matanya salah. Tapi kabut itu semakin tebal, dan di tengah kabut muncul bayangan samar seorang wanita berjubah hitam. Senyumnya tipis, matanya merah menyala.
“Manusia kecil…” suara itu berbisik langsung di kepala Andin, bukan dari udara.
“Kamu membawa kutukan yang indah ke pack ini. Terima kasih sudah datang.”
Andin mundur ketakutan hingga punggungnya membentur dinding. Jantungnya berdegup kencang.
Bayangan di cermin tertawa pelan, lalu menghilang seketika. Kabut lenyap. Cermin kembali normal.
Tapi di meja rias, tepat di depan cermin, kini tergeletak sebuah bunga lili hitam yang masih segar, kelopaknya mengeluarkan tetesan darah merah pekat.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya. hanya tekan profile, terima kasih 🤭/Grin/