Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.
Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.
Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.
Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pingsan
Savira menatap pantulan wajahnya dalam kaca wastafel scrub. 6 jam berdiri di OK, sebenarnya sudah biasa. Dia biasa begadang 24 jam pas jaga. Biasa pegang syringe 100× sehari. Biasa bau darah dan antiseptik.
Tapi hari ini ada yang tidak biasa. Karena ia tidak bersama Devan.
Entah kemana perginya sang konsulen, tiba-tiba saja di gantikan oleh dokter Anggara. Savira mendesah pelan, lelah di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Bahunya turun 2 cm. Mata jernihnya yang biasanya tajam ngawasin monitor. Sekarang kosong.
Apalagi mengingat perkataan dokter Anggara tadi sebelum masuk OK. Mereka bertemu di scrub ini. Savira kaget melihat dokter Anggara datang. Karena seharusnya dokter Devan.
"Dokter Devan makan siang dengan keluarga Pratama. Kata pak Ronald, mereka bahas tentang pertunangan." itu kata dokter Anggara, melihat keterkejutan Savira. Padahal Savira belum tanya apa-apa, tapi dokter Anggara seakan tahu apa yang ada di kepala dokter muda itu.
Savira memejamkan mata. Tangannya meremas tissu hingga menjadi bulatan kecil. Remasannya kuat. Buku-buku jarinya memutih. Kata-kata dokter Anggara terus berputar di telinganya seperti kaset rusak.
"Pertunangan... pertunangan... pertunangan..."
Setiap kata pertunangan, terasa seperti pisau kecil yang menusuk jantungnya.
6 jam dia profesional. Jawab 'Siap, Dok' ke dokter Anggara. Atur obat. Liatin EKG. BP pasien stabil. Semua sempurna.
Tapi di kepalanya? Kacau.
"Jadi dia mau nikah?" Bisiknya ke kaca. Pantulan di kaca mulai buram "Lalu kenapa dia minta aku percaya?" Suaranya parau, sudut matanya basah. Kata percaya retak seperti kaca.
Savira menggelengkan kepalanya. Membuang tissu ke kotak sampah. Tisu yang sudah menjadi bulatan kecil. Basah. Bukti ia kalah sama dirinya sendiri. Membuka keran dan membasuh wajahnya berkali-kali. Air dingin. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Berharap air bisa menghapus kata pertunangan dari kepalanya.
"Aku kenapa sih?" bisiknya menatap ke kaca. Matanya terasa semakin panas, hingga cairan bening itu mengalir tanpa permisi, menyatu dengan bulir air dingin yang membasahi wajahnya.
Savira tidak menolak lagi, ia membiarkan air matanya jatuh yang sejak tadi ia tahan sat mendengar kata 'pertunangan'. Isakan kecil mulai keluar, ia menutup mulutnya pakai tangan.
Selama hidupnya. Yang Savira tahu hanya belajar, belajar, dan menjadi yang terbaik. Makan sekenanya. Pacar? Buang waktu. Apa itu jatuh cinta? Itu hanya untuk orang-orang yang punya waktu luang. Savira tidak tahu. Hatinya terlalu lama kosong dan asing untuk sebuah kata cinta.
Dan kemarin. Saat dokter Devan memintanya untuk percaya, Savira tanpa ragu mengiyakan. Ia tidak tahu kenapa, padahal ia selalu berpikir logis. Setelah mendapat kenyamanan tingkat dewa yang di berikan dokter Devan. Kekosongan hatinya mulai terisi dengan satu nama. Dokter Devan. Bukan Devan Adiguna Handaru.
Savira masih ingat, tangan hangat Devan di bahunya. "Saya tahu ini tidak mudah. Tapi kepercayaan kamu. Itu kekuatan saya." kata Devan beberapa hari yang lalu.
Tangis Savira semakin menjadi. Kata-kata Devan membuatnya berharap tinggi. Tapi semua hanya harapan semu, yang bahkan kini layu sebelum tumbuh.
Baru saja ia menemukan sosok yang bisa di jadikan sandaran. Orang yang bisa mengerti, memberikan bahu dan telinga untuk mendengar tangisannya. Tapi hari ini, ia di tampar oleh kenyataan yang paling menyakitkan.
Savira lupa jika Devan adalah seorang Handaru. Yang hidupnya sudah pasti diatur dengan sempurna oleh keluarganya. Jodoh. Karir. Dan masa depan cemerlang. Tidak ada yang boleh cacat.
Sedangkan dirinya? Hanya residen anestesi, yang bahkan tidak tahu siapa nama ayahnya.
Savira masih menangis, hingga kepalanya berdenyut. Banyak tekanan dan pikirannya kacau.
Tes...
Tes...
Tes....
Darah segar menetes dari rongga hidungnya. Hangat. Rasa asin bersarang di tenggorokan.
Savira nunduk ke depan, melihat darahnya jatuh di atas stainless wastafel. Beberapa tetes darah menetes di bajunya.
Ia mengambil tisu, tekan ke hidung. Jepit kuat, sambil menghitung dalam hati. "1...2...3..." Berusaha tetap tenang, napas lewat mulut.
Setelah cukup lama, darah itu akhirnya berhenti. Savira kembali mencuci wajahnya, membersihkan noda darah di sekitar hidung. Ia kembali menatap kaca, wajahnya lebih pucat. Mata merah. Sembab.
.....
Devan menyandarkan tubuh tingginya di dinding koridor. Jas hitamnya sudah di ganti jas snelli kebesarannya. Sudah hampir 30 menit operasi yang di pimpin dokter Anggara selesai. Tapi Savira tidak kunjung keluar.
Seharusnya, mencuci tangan tidak membutuhkan waktu selama itu. Scrub room ke OK cuma 15 detik jalan. Cuci tangan 3 menit. Ganti baju 5 menit. Total 10 menit maksimal.
Berkali-kali Devan membuang napas kasar. Melirik jam di pergelangan tangannya, kakinya mengetuk-ngetuk lantai epoxy. Mengusir rasa jenuh karena menunggu. Menerka-nerka apa yang dilakukan Savira di dalam ruang scrub.
"Ini terlalu lama." Bisiknya hendak menerobos masuk. Tangannya sudah di sensor pintu, urat lehernya naik. Tapi pintu otomatis itu kebuka lebih dulu.
'Sring'
Terlihat Savira melangkah pelan. Lesu. Bahunya turun. Menunduk. Scrub birunya kusut, ada beberapa noda hitam di dadanya. Bekas tetesan darah yang kering.
Langkahnya terhenti saat ujung sneakers putihnya menempel ujung sepatu kulit hitam. Perlahan Savira mengangkat kepala. Melihat Devan tepat berada di depannya. Jarak wajah mereka hanya sejengkal. Napas hangat Devan menyentuh wajahnya.
Hening.
Tangan Savira gemetar. Kata pertunangan kembali menggema di telinganya. Pandangannya kabur. Tubuhnya limbung dalam dekapan Devan.
"Savira!" Devan langsung memeluk erat tubuh mungil itu. Dua tangannya mengurung Savira. Satu di punggung, satu di bawah lutut. Reflek. Cepat.
Di lihatnya wajah gadis itu pucat. Ada sedikit bau anyir darah saat ia mendekatkan wajahnya. Devan langsung mengangkat tubuh Savira ala bridal style. Menuju lift. Tenang. Meski dalam hatinya panik.
Untungnya sepanjang koridor, ia tidak bertemu siapapun. Hal itu membuat Devan sedikit lega membawa Savira ke ruang kerjanya.
Begitu masuk ruangannya, Devan membaringkan tubuh Savira di sofa bed. Setelah memastikan posisinya nyaman, ia mengambil stetoskop di atas meja. Memeriksa Savira dengan tenang dan teliti.
Devan membuang napas lega setelah memeriksa Savira. Gadis itu baik-baik saja. Hanya gula darahnya yang drop.
Savira membuka mata. Menatap Devan dengan tatapan sayu. Pria itu tampak telaten.
Menuang air putih ke gelas, lalu nyari permen jahe di laci meja. Nggak ada. Yang ada cuma cokelat batang sisa meeting tadi siang.
"Gapapa, yang manis-manis aja dulu," gumamnya pelan.
Devan duduk di pinggir sofa bed, nyenderin punggung Savira ke dadanya pelan-pelan biar kepalanya nggak kejeduk. Ia patahin cokelat itu, nyuapin kecil-kecil ke bibir Savira yang pucat.
"Telan, Ra... dikit aja," bisiknya.
Savira nggak sadar penuh. Tapi instingnya masih jalan. Bibirnya ngikut ngunyah pelan. Tangan Devan refleks ngusap rambutnya yang dingin karena keringat.
Sepanjang koridor tadi nggak ada orang. Di ruangan ini juga cuma mereka berdua. Sunyi. Yang kedengeran cuma detak jam dinding sama napas Savira yang mulai teratur lagi.
Devan nggak berani lepasin. Bukan karena takut Savira jatuh. Tapi karena ini pertama kalinya dalam 3 tahun... ada orang yang bikin dia panik setengah mati cuma gara-gara pingsan.
*
*
*
*
*
To be continued