NovelToon NovelToon
MENIKAH KARENA HAMIL

MENIKAH KARENA HAMIL

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:394.5k
Nilai: 5
Nama Author: Irhen Dirga

Harus menikah namun tak aku cintai, lelaki itu adalah kesalahan yang pertama dan terakhir dalam hidupku, kami terbangun di saat sudah saling tak mengenakan pakaian. Kami terjebak di kamar hotel dalam keadaan mabuk dan berakhir dengan kehamilanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhen Dirga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjenguk

Devan terbangun dari tidurnya, ia mengerjapkan mata beberapa kali ketika melihat cahaya matahari masuk ke kamar, Devan membuka pejaman matanya dan mengingat jika ia sedang di kost Lestari.

Devan banyak pikiran saat ini, dan ia menganggap hanya tempat Lestari yang bisa membuat pikirannya tenang.

"Sayang, ayo bangun, aku sudah siapkan sarapan," kata Lestari.

"Hem." Devan mengelus kepalanya dan memposisikan dirinya untuk duduk. "Aku nggak sarapan, aku harus ke kantor."

"Sarapan dulu, Sayang, kalau nggak sarapan, kamu nggak bisa ke kantor." Lestari mengancam.

"Baiklah." Devan beranjak dari duduknya dan menghampiri Lestari yang kini sedang menata makanan di atas meja.

Devan terus mengingat Nesa, namun ia harus kuat, sepertinya kehadirannya pun, akan membuat Nesa terluka.

Lestari bersikap layaknya istri, memuat lauk di piring Devan.

"Aku bisa sendiri, Les," kata Devan, membuat Lestari menggelengkan kepala.

Lestari menatap wajah kekasihnya dengan senyuman. Bahagia sekali rasanya melihat Devan ada di kostnya, meski tak terjadi apa-apa antara mereka, namun bahagia sekali berdampingan tidur dengan lelaki yang dicintai.

"Kenapa nggak makan?" tanya Devan.

"Hem? Aku senang, Dev."

"Karena apa?"

"Karena kamu ada di sini," jawab Lestari. "Aku berharap ini terus terjadi, kamu bisa tinggal bersamaku."

"Aku kemari karena sedang membutuhkan waktu untuk tenang."

"Kamu bisa kemari jika membutuhkan ketenangan."

Devan mengangukkan kepala. "Kalau begitu aku pergi dulu."

"Kamu nggak mandi?"

"Nggak usah. Aku harus ke kantor, mandi bisa di kantor kok."

Lestari menganggukkan kepala.

"Maaf nggak bisa mengantarmu ke kantor."

"Iya nggak apa-apa. Seperti ini pun aku bahagia." Lestari tersenyum, lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri Devan.

Lestari memeluk kekasihnya dan berkata, "Mulai sekarang ... aku akan lebih mengerti dirimu."

"Hem. Aku pergi dulu," kata Devan, melepaskan pelukan Lestari.

Lestari menganggukkan kepala. "Baiklah. Kamu hati-hati dijalan."

Devan lalu keluar dari kamar kost Lestari, lalu memutari mobilnya menuju kursi pemudi, setelah itu ia melaju pergi.

Lestari sangat bahagia.

"Les, itu pacar lo?" tanya sebuah suara.

Lestari menoleh dan melihat tetangga kostnya yang kepo akan urusan orang lain.

"Ya."

"Sombong amat. Denger-denger, dia suami orang."

"Lalu? Kenapa?"

"Lo nggak takut kena azab? Lo itu pinter cantik, tapi kok lo mau sama suami orang."

"Lo nggak tahu apa-apa, jadi lo nggak usah ikut campur urusan orang." Lestari lalu melangkah masuk ke kamarnya.

Di dalam perjalanan Devan terus melihat jam dipergelangan tangannya, ia belum terlalu terlambat ke kantor, jadi ia akan mampir ke rumah sakit menengok putranya juga istrinya.

Sampainya di rumah sakit, Devan langsung masuk ke dalam gedung, dan naik ke lantai atas.

Devan meregangkan ototnya, anehnya ia seperti tak ada rasa lagi pada Lestari, meski mereka semalaman tidur di kamar yang sama.

"Hei, Kak Dev," sapa Kinan, membuat Devan terkejut, ia tak tahu jika adik dari istrinya itu di Jakarta.

"Kamu—"

"Iya, Kak, aku adiknya Nesa," seru Kinan.

"Kenapa kamu di Jakarta?"

"Ayah sama Ibu udah pulang ke Banjarmasin, jadi aku di sini gantiin mereka untuk jagain Nesa."

"Oh oke."

"Ayo masuk," ajak Kinan.

"Nesa lagi ngapain?" tanya Devan, ia ragu menjenguk Nesa, takutnya Nesa akan kembali marah padanya.

"Dia sedang tidur, nanti aku bangunin," kata Kinan.

"Nggak usah dibangunin, aku lihat saja sejenak lalu ke kantor." Devan melangkah menuju kamar inap istrinya.

Ranti melihat Devan dan membungkukkan badannya.

"Kamu—"

"Iya. Saya sahabatnya Nesa." Ranti menganggukkan kepala.

"Jadi, kalian datang bersamaan?"

Ranti dan Kinan menganggukkan kepala.

"Kalian kapan sampai?"

"Baru kemarin sore."

"Kalian menginap dimana?"

"Kami menginap di sini," jawab Ranti.

"Aku akan menjaga Nesa mulai malam ini, jadi kalian bisa pulang ke rumah kami."

"Tapi—"

"Jangan sungkan, kalian juga nggak ada tempat tujuan di Jakarta, 'kan?"

Kinan dan Ranti menganggukkan kepala.

"Ya sudah." Devan lalu mengintip dari luar kamar, dan melihat istrinya itu sedang tertidur. "Apa Nesa baik-baik saja?"

"Iya. Dia baik-baik saja. Kata dokter pekan ini Nesa diperbolehkan pulang."

"Baiklah. Aku mau jenguk Zain dulu."

"Oh nama anak Kak Devan ... Zain?"

"Iya. Namanya Arzain Ibnu Geovandra," jawab Devan.

"Wah. Namanya bagus ya," kata Kinan.

"Ya sudah. Aku ke sana dulu."

Kinan dan Ranti menganggukkan kepala. Devan pun melangkah meninggalkan keduanya.

"Aku sempat iri pada Nesa karena bisa menikah dengan lelaki tampan dan kaya seperti Kak Devan," kata Kinan.

"Sekarang kamu masih iri?"

"Tentu saja. Nesa tak terlalu cantik, bahkan antara aku dengan dia, aku lebih cantik, dan dia malah yang menikmati semua ini."

"Kinan, apa yang kamu lihat belum tentu hal itu yang terjadi. Yang membahagiakan didepan matamu belum tentu membahagiakan bagi orang yang menjalaninya."

Kinan menoleh menatap Ranti, alisnya nyaris bertaut. "Apa maksudmu?"

"Nggak apa-apa. Ayo kita masuk," ajak Ranti membuat Kinan mengangguk.

***

"Kelihatannya lo bahagia banget, Les," kata Dena, ketika melihat sahabatnya itu terus saja tersenyum.

"Gue emang lagi bahagia, Na."

"Ceritain ke gue donk, jangan hanya masalah sedih aja lo ceritanya."

"Iya iya. Ini baru mau cerita."

"Ya ceritalah cepat."

"Semalam itu ... Devan datang ke kostsan gue."

"Lalu? Nginap?"

"Nggak sabar banget sih lo, Na," kekeh Lestari.

"Lalu?"

"Dia menginap."

"Ha? Beneran? Jadi kalian ...."

"Pikiran lo itu, Na, nggak terjadi apa-apa kok, dia tidur di sofa dan gue tidur di ranjang."

"Sofa mana?"

"Sofa kamar."

"Sama aja kalian tidur berdampingan."

"Tapi nggak terjadi apa-apa di antara gue dan Devan kok."

"Meski lo mengharapkan itu?"

"Ish. Apaan sih."

"Gue tahu lo mengharapkan lebih dari sekedar tidur berdampingan."

"Manusiawi kok jika gue mengharapkan itu."

"Lalu?"

"Paginya gue siapin sarapan, dan kita makan bareng. Gue layanin dia seperti istri pada umumnya, pokoknya gue bahagia banget."

"Hal gituan aja lo bahagianya kayak apa."

"Apalagi nantinya Devan nikahin gue. Iya nggak?"

"Iya. Tapi lo jangan terlalu berharap deh."

"Lestari!" panggil sebuah suara. Membuat Lestari dan Dena menoleh mencari sumber suara itu.

Lestari menghela napas ketika melihat lelaki yang tidak dia harapkan kedatangannya, yang selalu mengganggunya dan membuat dirinya di dalam penyesalan, siapa lagi jika bukan Andi, sang Kakak dari istri ayahnya.

"Duh. Brengsek itu ngapain lagi kemari sih," gumam Lestari.

"Itu Andi, 'kan?" tanya Dena.

"Siapa lagi jika bukan Andi."

"Bahaya loh, Les, kalau dia didekat lo terus. Apalagi kalau Devan tahu, makin runyam deh."

"Iya. Gue tahu, tapi si brengsek itu datang mulu minta duit." Lestari menghela napas panjang.

.

.

Bersambung.

1
Shifa Burhan
thor jika ada wanita lain yang baik dan perhatian pada suami mu dan dia enteng nya mendekati suami dan mengatakan suka dan cinta pada suami, bagaimana tanggapan mu thor

pakai hatimu untuk merasakannya thor, jika jawabanmu itu bukan masalah, berarti kau bersikap adil

tapi jika jawaban mu, melaknat wanita itu, maka simple kau wanita egois karena kau membenarkan perbuatan juno

kalau aku simple wanita mana pun yang sok baik dan perhatian pada suamiku maka aku akan melaknat wanita itu dan harus adil aku juga melaknat siapapun lelaki yang sok baik dan perhatian padaku, itu baru namanya wanita dan istri sejati tidak egois
rya
karya imajinasi yg menghibur, jadi selalu nunggu up nya
rya
nunggu bucinya Devan sama nesa dan baby boy...
rya
semangat selalu Kaka, semoga lancar dan di beri kesehatan...
Irnawati wati
maaf thoor tdk usah di beri gambar visual, yang penting alur cerita nya masuk sesuai dengan judulnya. okee thorr semangat berkarya terima kasih
Christiani Natalia Yani
lanjut dong Thor jangan d gantung🙏
Dessy Flashin
ayo donk kk please lanjutin ceritanya jgn menggantung gini, ditungguin trus update nya ya kk 🙏🙏🙏 semangat kk 💪💪👍👌
Dessy Flashin
iiiissshhhhh Gedeg sm Devan, udah Thor klo emg besar hrs pisah sm Devan nnti klo udah pisah buat Nesa sm Juno ajalah, biar tau tuh si Devan sok kegantengan, dikira Nesa gk ada orang yg mau apa
Dessy Flashin
hadeeuuhhh ini kyk sinetron di ikan terbang nih, bikin keseeeeeeelllll....
rusidah siti
semangat buat nulisnya
kris tianti
lanjut dunk
Rosdiana Diana
lanjuttt
wili o
up
_kooky00
😭😭😭😭😭😭😭,,tau tk
...masa baca part ni aku sakit hati tau,, pstu bila dia menangis aku pun rasa mcm nk ikut menangis😤
Zhafirafira 225
fighting author
Ema Sofia
Keturunan turkey tapi mirip cina, canda turkey 🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤔🤔🤔🤔🤭🤭🤔🤔
Suti Habdayani
ini di lanjutin gk ya ceritanya
샤샤
hai kak author, semangat selalu ya kak
semoga ide ceritanya mengalir terus, aku paham nyati ide cerita itu sulit, semoga kakak selalu lancar yaa
샤샤
hai author, semangat selalu buat novel nya
aku paham gimana lelahnya seorang author nyari ide untuk cerita yg ditulisnya, semangat selalu ya thor ☺️
Irhen Dirga: Wah terima kasih banyak❤
total 3 replies
샤샤
hai aurhor, semangat selalu yaa
aku pembaca baru nih ☺️✌🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!