NovelToon NovelToon
Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Kepercayaan Yang Mulai Tumbuh

Beberapa minggu berlalu, perubahan perlahan namun pasti mulai terasa nyata. Awalnya warga masih menunduk dan berjalan menjauh setiap melihat sosok Arya. Namun perlahan, senyum ragu mulai terbalas, sapaan pelan mulai terdengar menyapa namanya.

Sore itu, Nayara mengajak Arya ke pasar tradisional yang dulu selalu menjadi tempat pemerasan paling kejam. Arya berjalan dengan tangan kosong, tanpa pengawal yang mengelilingi, hanya berjalan berdampingan dengan Nayara. Penjual sayur yang dulu pernah diminta uang jaminan sepuluh kali lipat dari biasanya, kini menatapnya ragu, lalu perlahan menyodorkan segenggam tomat merah segar.

"Ini... ambillah, Tuan Arya. Sebagai tanda terima kasih," ucapnya pelan. "Kemarin saya dengar Anda yang mengganti kerugian kios saya yang dirusak anak buah Arga."

Arya menolak dengan halus. "Saya yang seharusnya meminta maaf karena membiarkan hal itu terjadi selama ini. Silakan jual seperti biasa. Saya tidak akan mengambil apa pun tanpa membayar yang pantas."

Mata pedagang itu berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat sosok yang mengancam, melainkan seseorang yang sadar akan kesalahannya dan berusaha memperbaikinya.

Di sisi lain, Bima melaporkan perkembangan yang menggembirakan. Sebagian besar wilayah yang dulu dikuasai dengan kekerasan kini sudah kembali dikelola oleh pemilik sah. Dana yang terkumpul selama bertahun-tahun untuk keperluan rahasia dialihkan menjadi bantuan modal usaha dan pembangunan sekolah yang rusak.

Namun di tengah kemajuan itu, masih ada sisa-sisa masa lalu yang menghantui. Satu sore, saat mereka sedang merapikan taman depan rumah, sebuah batu dilemparkan hingga menghantam jendela ruang tamu. Di atas batu itu terikat secarik kertas bertuliskan ancaman: "Kau bisa mengubah wajahmu, tapi kau tak akan pernah bisa mengubah siapa dirimu sebenarnya."

Nayara melangkah maju hendak mengambilnya, namun Arya lebih dulu menahannya. Ia membaca tulisan itu dengan tenang, lalu meremas kertas itu perlahan.

"Mereka takut," ucap Arya pelan. "Mereka takut jika aku benar-benar berubah, tak ada lagi alasan bagi mereka untuk membenarkan kejahatan yang mereka lakukan. Mereka ingin aku marah, ingin aku kembali menggunakan kekerasan agar mereka bisa bilang bahwa aku tak pernah berubah."

"Lalu apa yang akan Anda lakukan?" tanya Nayara cemas.

Arya menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Saya akan membuktikan mereka salah. Kepercayaan yang mulai tumbuh ini tak akan saya biarkan hancur hanya karena ancaman kertas. Saya akan tetap berjalan di jalan ini, meski batu terus dilempari ke arah kita."

Malam harinya, mereka duduk di ruang lukis bersama. Arya mulai menggoreskan kuasnya di atas kanvas besar. Bukan lagi lukisan kesedihan atau dendam, melainkan lukisan pemandangan kota Semarang yang hidup, dengan orang-orang yang saling menyapa, anak-anak yang bermain, dan langit yang cerah tanpa awan gelap.

"Kau tahu," bisik Arya saat Nayara memperhatikan hasil goresannya. "Dulu saya pikir kepercayaan adalah hal yang paling bodoh untuk dimiliki di dunia ini. Tapi kau mengajarkanku bahwa kepercayaan adalah satu-satunya jembatan yang bisa menghubungkan kita dari kegelapan menuju cahaya."

Nayara menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. "Kepercayaan itu butuh waktu untuk tumbuh, Arya. Seperti benih yang kau tanam. Kadang dihujani, kadang diterpa angin. Tapi jika kau rajin merawatnya, ia akan tumbuh menjadi pohon besar yang meneduhkan banyak orang."

Dan malam itu, di bawah cahaya lampu ruangan yang hangat, benih kepercayaan itu mulai berakar kuat. Bukan hanya di hati masyarakat, tapi juga di hati Arya sendiri—bahwa ia berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk menjadi manusia yang baik.

 

Lanjut ke Bab 25: Keraguan Yang Sempat Datang? 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!