NovelToon NovelToon
MANTAN YANG AROGAN

MANTAN YANG AROGAN

Status: tamat
Genre:CEO / Teman lama bertemu kembali / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:110.3k
Nilai: 5
Nama Author: Vira

Salsabila adalah seorang gadis berusia 21 tahun yang hidup bersama dengan kedua orang tuanya. Salsa membantu perekonomian keluarga dengan bekerja di perusahaan milik seorang CEO yang ternyata adalah mantannya sewaktu masih SMA. Salsa terkejut saat mengetahui hal tersebut dan memutuskan untuk resign dari pekerjaannya. Namun hal yang tidak terduga terjadi, Mantannya tersebut tidak membiarkannya memundurkan diri dari perusahaan, tapi ia juga sering menyulitkan pekerjaan Salsa. Apa sebenarnya yang di inginkan pria tersebut ? ikuti terus alur ceritanya ya gays.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Kini Tiara sedang berada di mansion milik ayahnya yang terletak di pinggiran kota. Jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota yang selama ini mengelilinginya. Tak ada senyum di wajah Tiara sejak kejadian kemarin di pesta pernikahan. Segalanya seperti menghantam batinnya secara tiba-tiba, menyisakan sesak dan kebingungan yang menumpuk dalam diam. Ia ingin menenangkan diri, meskipun itu bukan hal yang mudah.

“Sebaiknya jangan terlalu dipikirkan. Kita tidak tahu ke depan akan seperti apa. Mungkin ada alasan lain di balik semua kejadian ini.” Suara Dirgantara, ayahnya, terdengar pelan tapi tegas saat ia mencoba menasihati Tiara yang duduk termenung di ruang tamu.

“Tapi Pa… Tiara masih belum bisa percaya dengan semua yang terjadi. Rasanya seperti mimpi… seperti semua ini tidak nyata.” Suara Tiara lirih, namun penuh luka dan kebingungan. Tatapan matanya kosong, seolah tak mampu lagi membedakan realita dari harapan.

“Buka matamu, Tiara. Dia bukan pilihan yang terbaik untuk Edrick. Wanita yang berselingkuh tidak akan pernah bisa bersanding dengan cucuku. Edrick tahu apa yang terbaik untuk dirinya. Kamu jangan terlalu memaksakan kehendak mu sendiri. Lihat kan… semuanya jadi berantakan.” Ucapan Dirgantara terdengar tajam, namun bukan tanpa alasan.

Tiara hanya diam. Kata-kata ayahnya, sesakit apapun, memang benar. Semua kekacauan ini bermula dari niatnya sendiri, niat untuk menjodohkan Edrick dan Becca. Apalagi, Sonia dan Kevin, orang tua Becca, juga mendorong hal itu terjadi. Tapi ia tak habis pikir, bagaimana bisa Becca mengkhianati kepercayaan mereka, bahkan sehari sebelum hari pernikahan.

Tiba-tiba, ponsel Tiara berdering. Di layar tertera nama Sonia.

Tiara menatapnya sejenak, namun tidak mengangkat panggilan tersebut. Ia membiarkannya berhenti sendiri, lalu layar ponselnya menampilkan sebuah pesan masuk.

“Tiara, Becca menghilang. Tolong bujuk dia untuk kembali.”

Tiara membaca pesan itu, matanya menyipit.

“Aku tidak peduli,” balasnya singkat. Lalu, tanpa ragu, ia melempar ponsel ke atas sofa dengan kesal.

“Bisa-bisanya setelah mempermalukan keluarga, mereka memintaku membujuk Becca kembali. Biarkan saja dia kabur bersama selingkuhannya. Aku tidak peduli!” ucap Tiara geram, tangannya melipat di dada, napasnya memburu menahan amarah yang mulai naik ke ubun-ubun.

Dirgantara menatap putrinya dalam diam. Tanpa sepatah kata, ia kemudian bangkit dan berjalan menuju lemari tua yang terletak di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah bingkai foto, lalu kembali menghampiri Tiara.

“Apa kamu masih ingat dengan wanita ini? Dialah cinta pertama Edrick… dan sampai sekarang.” Ucap Dirgantara sambil menunjukkan sebuah foto berbingkai yang menampilkan sekelompok siswa SMA sedang berfoto bersama. Jemarinya menunjuk pada sosok seorang gadis muda dengan senyum menawan.

Tiara membelalakkan matanya.

“Gadis itu… dia Salsa.” ucapnya pelan, setengah bergumam. Ia tidak percaya ayahnya tahu tentang gadis itu. Apakah Edrick pernah bercerita? Kepala Tiara terasa seperti akan meledak karena terlalu banyak hal yang tak terduga.

“Aku tidak mengenalnya. Dan… aku tidak peduli, Pa.” Tiara berdiri, menggenggam tas mewahnya, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan.

“Walaupun cinta pertama anakku, aku tidak akan pernah membiarkan gadis itu kembali ke kehidupan Edrick. Tidak akan.” gumamnya sambil berjalan, wajahnya mengeras dalam ekspresi penuh penolakan.

 .

.

Setelah tujuh jam perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya Salsa dan Edrick tiba di Korea. Tanpa membuang waktu, mereka langsung menuju hotel yang sebelumnya telah dipesan. Salsa tampak lelah. Sangat lelah.

Hotel tempat mereka menginap adalah salah satu yang paling mewah di kota itu. Halamannya luas, elegan, dan mencerminkan kemewahan dari tiap sudutnya. Edrick melangkah masuk lebih dulu, disusul oleh Salsa yang menyeret dua koper besar dengan langkah berat.

“Kopernya sangat merepotkan,” gumam Salsa kesal. Ia ingin sekali menjatuhkan semua koper itu ke lantai, namun ia tahu itu hanya akan membuatnya dalam masalah baru. Terlebih, Edrick dengan sengaja tidak menyuruh sopir hotel untuk membantu membawa koper-koper itu, sebaliknya, ia menyuruh Salsa melakukannya sendiri.

Sesampainya di dalam Edrick langsung menuju resepsionis.

“Mohon maaf, Pak. Untuk kamar yang Anda pesan, kami benar-benar meminta maaf karena ternyata sudah penuh. Hanya ada satu kamar yang tersisa,” ucap resepsionis dengan suara pelan, nyaris takut-takut.

Edrick menatapnya tajam, menyipitkan mata.

“Berikan kuncinya,” ucapnya dingin.

Tanpa banyak tanya, resepsionis segera menyerahkan kunci kamar. Edrick berjalan begitu saja, tanpa melirik ke arah Salsa yang sedang duduk di kursi tunggu yang sedikit jauh. Sementara itu, Salsa hanya bisa mendengus pelan, merasa diperlakukan tidak adil. Ia menghela napas, lalu berjalan menyusul Edrick. Ia belum tahu bahwa kamar yang tersedia tinggal satu.

Di dalam lift, keheningan menyelimuti mereka. Tak ada sepatah kata pun yang terucap. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Salsa menatap pantulan mereka di cermin lift. Edrick berdiri tegap dan tenang, tubuhnya menjulang tinggi di sampingnya.

Lift terbuka. Mereka menyusuri lorong hotel yang mewah hingga berhenti di depan kamar bernomor 178. Salsa menyerahkan koper hitam kepada Edrick dan memegang koper pink miliknya sendiri.

“Silakan, Tuan Edrick yang terhormat. Ini koper Anda yang sudah saya bawa-bawa dari tadi dalam kondisi aman. Sekarang, Tuan bisa menyerahkan kunci kamar saya karena saya mau istirahat,” ucap Salsa dengan nada sarkastik, ekspresinya dibuat-buat seolah ia sedang melayani tamu penting. Ia sudah lelah, dan mencoba bersikap baik agar tak terjadi pertengkaran.

Edrick hanya diam. Ia menatap Salsa dan menyipitkan matanya.

“Bawa masuk,” ucapnya datar.

Salsa menghela napas panjang, seperti ingin menampar pria itu dari belakang. Tapi ia menahan diri. Dengan malas, ia mendorong koper Edrick masuk ke dalam kamar. Sesampainya di dalam, ia meletakkannya di samping ranjang.

“Ini kopernya,” ucapnya, lalu kembali meminta kunci kamarnya.

Namun, Edrick hanya diam. Kini ia malah tiduran di atas ranjang dengan posisi menyamping, menatap Salsa dari arah tempat tidurnya.

“Edrick, apa kamu tidak mendengar ku?” Salsa mulai kesal. Pria itu sungguh menyebalkan.

“Tidak ada kunci lain. Kamar yang tersisa hanya satu, dan kamu akan tidur di sini bersamaku,” ucap Edrick tanpa sedikit pun nada bercanda.

Salsa membulatkan matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Jangan bercanda, Edrick. Aku sudah lelah dan ingin beristirahat,” ucap Salsa dengan ekspresi datar. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang nyata.

“Aku serius. Kalau memang ada kamar lain, sudah kuberikan padamu tadi,” balas Edrick.

Raut wajahnya benar-benar serius. Tidak ada candaan dalam ucapannya, dan itu membuat Salsa mulai panik.

“A… aku tidak bisa tidur berdua… denganmu,” ucapnya lirih, menatap Edrick dengan wajah bingung dan panik.

“Sebaiknya kita pindah hotel saja,” ucap Salsa mencoba memberi solusi.

“Di jam selarut ini?” Edrick mengerutkan kening.

“Ya… kita bisa pindah, kan?” Salsa mencoba meyakinkannya.

“Tidak. Aku sudah lelah dan ingin beristirahat,” Edrick bangkit dan berjalan ke arah Salsa.

“Bawa kopermu masuk,” ucapnya datar.

Salsa semakin tegang sekarang. Edrick terlihat sangat serius. Tak ada celah untuk kompromi.

Beberapa menit kemudian, Edrick masuk ke kamar mandi. Salsa kemudian menyeret kopernya masuk ke dalam. Rasanya begitu tidak nyaman satu kamar dengan pria itu. Tapi salsa kembali terpojok dan tak bisa berbuat apa apa.

Tak lama, Edrick keluar hanya mengenakan handuk putih yang menggantung sampai setengah lutut, dada bidangnya terlihat jelas. Salsa buru-buru menutup matanya dengan tangan.

“Buka matamu,” ucap Edrick santai.

Salsa buru-buru masuk ke kamar mandi. Ia membersihkan diri. Perasaannya bercampur aduk, gugup, lelah, dan cemas. Haruskah ia benar-benar tidur satu kamar dengan pria itu?

Setelah selesai mandi, ia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit basah. Ia mendapati Edrick sudah terlelap di atas ranjang. Hening.

Salsa berjalan perlahan, lalu mengambil satu bantal dari sisi ranjang dengan sangat hati-hati. Setelah berhasil, ia melangkah menuju sofa dan membaringkan diri di sana.

Salsa akhirnya terlelap. Tanpa ia sadari tubuhnya diselimuti Edrick.

“Tidurlah. Kamu sudah bekerja keras,” bisik Edrick pelan, menatap koper besar yang diletakkan di sudut ruangan

1
Eliyawati
nggak seru akhirnya
Jumasan Rusuh
orang tua yg egois membuat mala petaka untuk anaknya sendiri dan org tua yg keras kepala membuat neraka sendiri di keluarganya,hati nya sudah jadi batu🙏🏼
Yana Phung
terima kasih kak utk ceritanya
sukses dan sehat selalu utk kak authornya
vira: terimakasih kembali❤️
total 1 replies
Yana Phung
sad ending utk edrick
tapi kadang hidup memang spt itu

ya sudahlah anggap saja kesempatan utk edrick sudah habis
Yana Phung
mau salah balikan sama edrick tapi........
Jumiati Umi
ceritanya muter2 wae thor... ditunggu endingnya yaa
Yana Phung
penasaran dg endingnya
udah part 80an belum bisa menebak endingnya
Yana Phung
bikin geram ya bacanya
kadang kalo pemeran prianya udah terlalu nyakitin aku lebih suka sad ending 🤭🤭🤭
Ongki Teriyando Saputra
lanjut kak ceritanya.
Cahaya
Luar biasa
Aisyah Suyuti
menarik
Vien Habib
Luar biasa
Indah Onyell17
knpa salsa g ngmg aja blak blakan ya
falea sezi
salsa goblok
Indah Onyell17
edrik kok ga liat cctv pdhal wktu salsa masak aja bisa liat cctv
Infinix hotdelapan
ditunggu lanjutannya 😊
vira: sudah up ya 🥰🥰
total 1 replies
Dewi Anggraeni
kenpa salsa gak jujur ajh . apa yg terjadi
Dewi Anggraeni
dan pada saat it terbongkar .. d saat bersamaan . merekaa nikah
vira: terima kasih kakak atas sarannya 🥰
total 1 replies
Theresia Sri
Bahasanya bagus, enak dibacanya
vira: terimakasih kakak 🥰
total 1 replies
partini
punya anak buah tapi ko ya bisa di goblok in ma calon Weh Weh
kenapa semua CEO otaknya ga sat set sih
partini: saya esmosi Thor 😁😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!