Rania tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah menjadi mimpi buruk dalam sekejap. Ketika sahabatnya, Lia, ditemukan tewas mengenaskan, Rania terseret ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan—dunia vampir. Di balik bayang-bayang malam, ada sosok vampir dingin dan berbahaya bernama Louis, yang mengincar Rania untuk menjadi budaknya. Dengan ancaman maut yang menggantung di atas kepala, Rania dipaksa tunduk pada kekuatan Louis, tetapi semangat beraninya tak mudah patah.
Sembari mencari jawaban atas kematian Lia, Rania harus bertahan hidup di tengah ancaman gelap yang terus menghantuinya. Apakah dia mampu melawan pesona mematikan sang vampir, atau takdir sudah menuliskan akhir yang tak terelakkan? Intrik, pengkhianatan, dan pengorbanan membayangi setiap langkah Rania. Hanya satu yang pasti—kegelapan kini menjadi teman terdekatnya.
Jangan lupa vote, like, n komen sebelum baca yaa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soon Hwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petunjuk (part 3)
Hari semakin larut, dan Rania berada di kamar hotel yang telah ia pesan tadi. Merasa lelah dan ingin bersih-bersih, gadis itu memutuskan untuk mandi. Setelah mandi, ia mengganti bajunya dengan pakaian yang nyaman, lalu bersantai di atas ranjang.
Jam di kamar menunjukkan hampir pukul 7 malam. Perut Rania mulai keroncongan. Dia pun memesan makanan secara online melalui aplikasi. Tak lama kemudian, pesanannya tiba, pizza, burger, dan spaghetti. Rania menyambut kurir dengan senyuman, membayar, dan membawa makanannya ke dalam kamar.
Setelah meletakkan makanan di meja, Rania segera menyantapnya. Pizza yang hangat, burger yang lezat, dan spaghetti yang pedas memenuhi perutnya yang kosong. Ia makan dengan lahap, menikmati setiap gigitan. Selesai makan, Rania merasa lebih kenyang dan puas.
Ia kemudian duduk di sofa sambil bermain ponsel, menjelajahi media sosial dan membaca berita. Sesekali, dia tersenyum melihat meme lucu atau video menarik yang muncul di berandanya. Namun, kelelahan mulai terasa, matanya berat dan kantuk semakin tak tertahankan.
Sebelum tidur, Rania tidak lupa untuk mengoleskan obat di tangan kanannya yang masih merah dan sedikit bengkak. Dia membuka kantong plastik kecil yang diberikan oleh pria yang menolongnya tadi, mengeluarkan salep, dan dengan hati-hati mengoleskannya pada kulit yang terluka. Setelah itu, ia menyimpan kembali salep dan membersihkan tangan.
Rania menarik selimut, mematikan lampu, dan merebahkan diri di tempat tidur yang nyaman. Udara dingin dari AC membuatnya merasa lebih rileks. Dia memejamkan mata, berusaha untuk tidak terlalu memikirkan situasi yang sedang dihadapinya. Dalam hitungan menit, Rania pun tertidur lelap, membiarkan dirinya beristirahat dan memulihkan tenaga untuk menghadapi hari berikutnya.
.
.
.
.
Langit semakin gelap ketika Louis, Silveen, Killearn, dan Karin menyadari bahwa melanjutkan pencarian Rania pada malam hari akan sedikit sulit. Mereka memutuskan untuk mencari penginapan di kota Filyn dan melanjutkan pencarian mereka esok pagi.
Mereka menemukan sebuah hotel kecil namun nyaman di pusat kota. Setelah memesan dua kamar, mereka berkumpul di ruang duduk hotel untuk merencanakan pencarian mereka keesokan harinya.
Karin duduk di sofa, menatap peta di ponsel yang telah mereka tandai dengan lokasi-lokasi yang mungkin Rania kunjungi.
"Kita akan mulai dari ini," katanya, menunjuk pada peta yang tertera di layar ponsel. "Dan perlahan-lahan menyisir daerah tersebut. Aku sarankan besok kita berpencar saja."
Silveen mengangguk setuju. "Aku setuju. Louis dan Killearn, lalu aku dan Karin. Kita akan membagi rutenya."
Karin, yang tampak lelah namun tetap bertekad, berkata, "Aku akan mencoba melacak energinya lagi besok pagi."
Lalu Killearn menambahkan, "Bagaimana jika kau tetap tidak bisa melacaknya?"
Silveen berpikir sejenak, lalu berkata, "Jika tetap tidak bisa berarti ada sesuatu yang mengikutinya."
Silveen beralih menatap Louis lalu bertanya, "Apa kau tidak bisa merasakan energinya?"
Louis menggeleng dan berkata, "Energi kalung itu tidak begitu terasa. Aku sengaja menyembunyikan energinya hingga sulit dideteksi."
Setelah menyusun rencana, mereka memutuskan untuk beristirahat. Malam itu, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri, berharap bahwa esok hari akan membawa kabar baik dan mereka akan segera menemukan Rania.
.
.
.
.
Rania kini sudah tidur terlelap, napasnya teratur dan wajahnya tampak damai. Tanpa disadari, ada sesuatu yang hadir di kamarnya. Tampak seorang pria tampan, berkulit putih, dengan sorot mata yang penuh rahasia. Dia berdiri di sudut kamar, mengamati Rania dengan penuh perhatian.
Pria itu berjalan pelan ke samping ranjang tidur Rania, gerakannya nyaris tak bersuara. Mendekati Rania yang tengah terlelap, ia tersenyum lembut. Dengan hati-hati, pria itu mengusap kepala Rania, rambutnya yang halus tergerai di atas bantal.
Pria tersebut mendekatkan wajahnya ke wajah Rania, seolah hendak menciumnya. Namun, seketika ia menghentikan aksinya ketika Rania membalikkan posisi tidurnya tanpa terbangun. Wajah pria itu menampakkan sedikit kekecewaan, tetapi juga rasa lega. Dia menjauhkan wajahnya, tatapannya kini tertuju pada tangan Rania yang merah dan terluka.
Pria itu mengernyit melihat luka di tangan Rania. Dia merogoh kantong mantelnya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna biru kehijauan. Dengan lembut, ia membuka botol tersebut dan menuangkan sedikit cairan di jari-jarinya. Pria itu mendekatkan jarinya ke tangan Rania yang terluka dan perlahan mengoleskan cairan tersebut.
Saat cairan menyentuh kulit Rania, luka di tangannya mulai berangsur-angsur sembuh. Kemerahan menghilang, dan kulit yang sebelumnya melepuh kini tampak mulus kembali. Pria itu tersenyum puas, melihat hasil pekerjaannya. Ia menutup botol tersebut dan menyimpannya kembali ke dalam kantong mantelnya.
Setelah memastikan tangan Rania sembuh total, pria itu berdiri tegak. Tatapannya kembali ke wajah Rania yang tenang dalam tidurnya. Dengan langkah ringan dan penuh kehati-hatian, pria tersebut bergerak menjauh dari ranjang.
Sebelum menghilang dalam bayangan kamar, pria itu berbisik pelan, "Tidurlah dengan tenang, Rania. Aku akan selalu menjagamu."
Setelah itu, sosoknya lenyap dalam kegelapan, meninggalkan Rania yang masih terlelap dalam mimpi-mimpinya yang damai.
aku mampir yak
Salam kenal dari My Vampire CEO