Azka yang biasanya duduk di bangku cadangan saat pertandingan basket, tiba-tiba ada yang merasuki tubuhnya dan memberinya kekuatan. Dia menjelma menjadi pemain basket profesional.
Raga Azka kini dikuasai oleh jiwa lain. Bagaimana jika jiwa itu adalah mantan dari mamanya yang telah meninggal dua puluh tahun lalu?
Masalah apa yang belum dia selesaikan di dunia ini hingga membuat jiwanya menetap di dunia? Apa dia memang diutus untuk menjaga Azka dan meraih impiannya melalui raga Azka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Azka berdiri menatap pusara yang telah mengering siang hari itu. Dia menabur bunga di empat pusara itu. Kedua orang tuanya, kakak, dan tubuhnya sendiri. Kemudian dia duduk di dekat makam dengan nisan yang bertuliskan Azka Wahyudi sambil menyiram air di atasnya.
"Ragaku sudah terkubur selama 20 tahun, tapi jiwaku masih saja berkelana di dunia ini." Kemudian dia bergeser dan berjongkok di antara kedua makam orang tuanya. "Ayah, Ibu, semoga kalian tenang di sana. Aku di sini baik-baik saja. Hanya menunggu waktu agar aku bisa bertemu kalian semua." Azka juga membasahi makan itu dengan air dan membersihkan rumput liar yang mulai tumbuh.
Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang mendekati makam Azka. "Hai, bro. Apa kabar hari ini?"
Mendengar suara itu, seketika Azka mendongak. Meski wajah itu terlihat sedikit menua tapi Azka masih ingat betul jika dia adalah Tomi.
"Tomi!" Tanpa sadar Azka justru memanggil nama Tomi dengan keras. Sudah 20 tahun dia tidak bertemu sahabatnya, tentu saja dia sangat merindukan sahabatnya itu, dan yang lebih membuatnya terharu, ternyata Tomi masih mengingatnya sebagai sahabat meskipun raganya sudah lama terkubur.
Tomi menatap Azka bingung. "Siapa?"
Azka berdiri dan menepuk kepalanya sesaat. Jelas saja Tomi tak mengenalnya. Meskipun pernah bertemu dengan putra Airin, pasti Tomi tidak mengingat wajahnya. "Maaf, maksud aku, Om Tomi. Aku pernah melihat Om Tomi di tv."
Tomi kembali meluruskan pandangannya. Dia juga menabur bunga di atas pusara yang telah basah itu. Dia mengerutkan alisnya lalu menoleh Azka lagi. "Kamu keluarganya Azka?"
Azka menggelengkan kepalanya. "Bukan, aku anak pertama Revan dan Airin."
"Astaga, Azka?" Tomi mendekat dan menepuk bahu Azka. "Kamu sudah besar sekarang. Kamu ke sini sama kedua orang tua kamu?"
"Tidak, aku sendirian. Kebetulan aku lewat sini. Sekalian ke makam nenek dan mampir ke makam sahabat Mama."
Tomi kini duduk di dekat makam Azka sambil menatap pusara itu. "Kamu tahu kenapa nama kamu sama dengan nama ini?"
Azka menganggukkan kepalanya. Dia kini duduk di sebelah Tomi. "Karena Azka sahabat baik Mama dan Papa."
"Iya, selain itu, kedua orang tua kamu ingin cita-cita Azka terwujud lewat kamu. Seandainya Azka masih hidup, pasti dia sekarang sudah menjadi pemain basket yang hebat, melebihiku. Aku menjadi pemain basket sampai sekarang juga berkat semangat dari Azka. Aku pernah menyerah dan ingin berhenti meneruskan impianku tapi Azka terus menyemangatiku, hingga akhirnya aku terus berjuang dan berhasil masuk di klub luar negeri meskipun gagal masuk timnas Indonesia."
"Om Tomi sering ke sini?" tanya Azka.
"Kalau ada waktu pasti aku ke sini. Aku tetap bercerita banyak hal pada Azka, meskipun Azka sama sekali tidak menjawabnya. Aku kangen sekali dengan canda tawa Azka. Dia juga sahabat yang sangat baik, tapi dia justru pergi dengan cepat. Aku benar-benar kehilangan Azka."
Azka yang mendengar hal itu, hatinya menjadi berkabut. Kedua matanya terasa panas dan memerah. Dia benar-benar terharu dengan sahabat karibnya yang sampai sekarang masih mengingatnya.
Tomi melihat Azka yang sedang menekan kedua ujung matanya. "Kamu terharu?" Kemudian dia merengkuh bahu Azka. "Kata Revan, kamu mau berlatih sama aku. Ayo, mumpung dalam bulan ini aku tidak punya banyak jadwal."
"Kebetulan sekali hari ini ada jadwal latihan di sekolah. Om Tomi hari ini tidak ada jadwal kan?" tanya Azka lagi.
"Iya, hari ini aku free."
Kemudian mereka berdua berdiri dan berjalan keluar dari pemakaman itu.
"Om Tomi bawa mobil? Soalnya aku bawa sepeda motor."
"Aku bawa mobil. Aku ikuti motor kamu saja dari belakang. Pelatih di sekolah kamu sekarang Zaki kan?"
"Iya, Om."
"Ya sudah, sekalian mau reuni sama Zaki. Zaki dulu adik tingkat aku."
Azka hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dia menaiki motornya dan melajukan motornya menuju sekolahnya. Beberapa saat kemudian, dia sampai di sekolahnya. Kebetulan sekali tim Ezra juga berlatih hari itu.
Azka mengajak Tomi ke tempat latihan basket. Dia sangat penasaran, bagaimana ekspresi Ezra saat bertemu dengan Tomi. Apakah Tomi juga mengenal Ezra?
Setelah sampai di dekat lapangan basket, Azka dan Tomi melihat tim Ezra yang sedang latihan basket.
"Itu tim kamu?"
"Bukan, itu timnya Ezra." Azka melepas jaketnya lalu mengajak teman-temannya ke lapangan. "Ezra, kita tanding!"
Ezra menghentikan gerakannya. Dia kini menatap Azka. Lengannya masih sakit, dia belum bisa leluasa untuk bergerak. Sedetik kemudian, pandangan Ezra menatap Tomi yang berdiri jauh di belakang Azka. Seketika bola basket itu terlepas dari tangannya. "Lengan gue masih sakit. Gue mau pulang."
Ezra membalikkan badannya dan berlari keluar dari lapangan itu. Dia sudah tidak peduli dengan teriakan dari teman-temannya.
"Ezra, tadi ajak latihan, sekarang malah pulang! Gak niat lo! Udahlah, bubar aja sekalian tim kita!" Tim Ezra akhirnya bubar dari lapangan.
Azka menatap punggung Ezra yang kian menjauh lalu menoleh Tomi yang masih berdiri di pinggir lapangan. Sepertinya memang ada sesuatu di antara mereka berdua.
💞💞💞
Like dan komen ya...