Suami yang pamit bekerja ke luar pulau Jawa ternyata malah menikah lagi dengan orang terdekatnya karena permintaan ibunya yang tak pernah menerima Marissa jadi menantunya, dunia seakan hancur berkeping-keping saat mengetahui hal itu.
"Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?" doaku pada suatu malam dengan bersimbah air mata.
Dalam pencarian suaminya yang menghilang, Marissa menemukan kenyataan ternyata suaminya anak dari penjahat yang telah membunuh ibu dan memisahkannya dengan ayah kandungnya selama 20 tahun.
Apakah Marissa harus mempertahankan pernikahannya ataukah mengikuti keinginan ayah kandungnya untuk bercerai dan menikahi pria yang dia pilih? Simak kisah mereka di novel terbaru Author.
Mohon dukungannya ya, readerku sayang dengan like, favorit dan komen. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur hapidoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
"Mah, kemana Papah? Ko sudah lama tidak menemui aku?" tanya Faqih pada malam itu.
Marissa merasa terhiris hatinya. Dia sedih karena tidak mampu memberikan apa yang diinginkan oleh putranya. 'Maafkan, Mama.' Marissa hanya bisa meneteskan air mata kesedihan.
Tujuannya keluar dari rumah untuk mencari suaminya tapi ternyata semuanya sia-sia malah terkesan begitu menggelikan. Dalam perjalanannya dia harus menerima kenyataan suaminya menikahi wanita lain, bahkan punya anak bersama wanita itu.
"Nanti kalau Papa sudah tidak sibuk, dia pasti akan menemui Faqih dan Kita bisa berjalan-jalan bersama dengan gembira," air mata Marissa sulit untuk di bendung. Karena dia tahu apa yang dia janjikan pada anaknya adalah hal yang mustahil.
Besok adalah sidang perceraiannya dengan Damar. Dia sudah diwanti-wanti oleh Bara untuk mempercepat prosesnya agar tidak berlarut-larut. Apalagi sekarang Marisa sudah mengetahui siapa Damar yang sesungguhnya. Sakit hati dan rasa kecewa di hati Marissa pada Damar tidak akan terobati. Bagaimana mungkin, Damar menginginkan kematian ayahnya dan tidak mau menolongnya?
"Sekarang tidur ya? Besok bukankah Faqih mau sekolah?" tanya Marissa dengan lembut.
Seberapa sakit hatinya tetap dia berusaha untuk tersenyum di hadapan putranya. Faqih adalah segalanya bagi Marissa. Marissa bisa kehilangan apapun kecuali Faqih.
"Baiklah, Mama juga tidur ya. Mama pasti kangen juga sama papa, ya, kan? Mama sampe menangis begitu." Faqih menghapus air mata Marissa yang menetes tanpa permisi.
Marissa sontak memeluk Faqih dengan erat. "Mama baik-baik saja, sayang. Mama hanya kelilipan. Gak menangis. Ayo kamu tidur sekarang, ya?" Marissa kemudian menyelimuti Faqih agar bisa tidur dengan lap tanpa merasa kedinginan.
Setelah Faqih terlelap, Marissa menatap wajah putranya yang begitu mirip dengan Damar. Hatinya perih laksana di hiris sembilu.
"Ya Allah! Aku mohon padamu. Berikan aku kekuatan untuk melewati semua cobaan ini dan teguhkan hatiku dengan keputusan yang sudah aku ambil." Marissa berdoa dalam kepedihan hatinya.
Tanpa Marissa sadari, sejak tadi Bara terus melihat apapun yang dilakukan Marissa. Hatinya merasa bersalah karena sudah mengantarkan rumah tangga Marisa pada titik saat ini.
"Maafkan aku Marissa kalau sudah merusak kebahagiaanmu bersama keluarga kecilmu. Aku hanya menginginkan kebahagiaan untuk Papa kita sebelum ajalnya tiba. Dia sudah begitu baik padaku. Papa kita yang meminta aku melalukan semua ini, dia tidak menginginkanmu bersama dengan Damar. Maafkan aku!" Bara kemudian pergi menuju ruang kerjanya untuk menghubungi seseorang.
Besok adalah hari besar yang ditunggu-tunggu olehnya dan dia ingin memastikan bahwa rencananya tidak boleh gagal sedikitpun. Mengingat sudah banyak usaha yang sudah dia lakukan.
"Kamu harus memastikan Damar setuju dengan percaya itu. Aku ga akan memaafkan kamu kalau sampai tugas kamu gagal! Semua rahasia keluarga kamu ada di tanganku!" ancam Bara pada seseorang yang ada di sebrang telpon.
"Katakan padaku bonus apa yang akan kau berikan kalau aku berhasil membuat mereka bercerai?" tanya Arimbi dengan penuh semangat.
"Aku bisa mengembalikan kejayaan perusahaan keluargamu dan memberikan semua hal yang pernah hilang karena perbuatan keluarganya Damar." janji Bara pada Arimbi yang tentu saja merasa sangat senang karena kehidupannya akan kembali seperti dulu menjadi Nona besar yang dihormati oleh banyak orang.
Setelah panggilan telepon ditutup oleh Bara terlihat Arimbi yang mendekati kedua orang tuanya.
"Aku saat ini sedang bekerja sama dengan orang hebat yang bisa mengembalikan perusahaan kita ke tangan kita lagi. Kalian berdua harus membantuku agar tugasku berjalan dengan lancar." pinta Arimbi pada kedua orang tuanya.
Mereka bertiga pun kemudian mulai menyusun rencana untuk memuluskan tujuan mereka agar berjalan dengan lancar.
Janji yang diberikan oleh Bara benar-benar sangat menggiurkan dan membuat mereka begitu bersemangat untuk bisa mewujudkannya.
"Kau benar-benar sangat beruntung, anakku! Kalau kau bisa membuat Damar dan Marisa bercerai, kau bisa kembali rujuk dengannya dan menjadi seorang istri konglilomerat. Pasti Damar akan mewarisi setengah dari harta milik keluarga Rudi Anggoro. Sukma sekarang ada di Korea. Tampaknya dia tidak terlalu tertarik untuk mengurus bisnis keluarganya.
"Kalian pastikan untuk membantuku dan jangan biarkan kedua orang tuanya Damar datang ke pengadilan dan mempengaruhinya dalam mengambil keputusan. Aku akan terus di samping Damar sehingga membuat Marissa cemburu dan tanpa ragu melepaskan mantan suamiku." perintah Arimbi pada kedua orang tuanya.
Sifat Nona besar Arimbi sekarang sudah mulai kumat lagi dan dia memperlakukan kedua orang tuanya seenak jidatnya. Dia merasa hebat karena sudah menanggung kehidupan kedua orang tuanya sejak keluarga mereka bangkrut.
Arimbi masuk ke dalam kamarnya. Dia hendak menghubungi Damar untuk membuat janji temu. Dia harus memastikan bahwa lelaki itu akan melakukan apa yang dia minta.
"Apa? Kenapa malam-malam begini menelpon aku? Aku sedang pusing, Arimbi! Jangan ganggu aku!" Damar terlihat begitu frustasi memikirkan hari esok yang akan menjadi akhir dari pernikahannya bersama Marissa.
Sejak pertemuan mereka yang terakhir kali. Damar sudah tahu, bahwa tidak ada lagi harapan yang bisa dia pegang untuk mempertahankan rumah tangga mereka yang benar-benar sudah diambang kehancuran. Damar sudah pasrah dan putus asa.
"Ayolah, sayang. Kamu di mana? Aku akan datang kesana dan menghiburmu agar kau tidak stress lagi. Bagaimana?" tanya Arimbi yang mulai menebar jaring untuk menjerat Damar ke dalam pelukannya.
Arimbi sudah bertekad untuk menjalankan tugas itu dengan baik. Semuanya sudah dipersiapkan. Hanya tinggal membawa Damar ke tempat yang sudah di siapkan oleh Bara. Maka semua rencana mereka bisa di pastikan 100% berhasil.
"Aku tidak tertarik untuk pergi ke manapun. Sudahlah Jangan menggangguku lagi! Aku mau tidur saja!" Damar langsung menutup panggilan telepon tersebut membuat Arimbi benar-benar murka.
Arimbi yang tidak mau rencananya gagal terus berusaha untuk mencari keberadaan Damar agar bisa dia datangi.
"Kurang ajar! Apa dia pikir bisa lepas dariku? Jangan harap!" Arimbi mengepalkan kedua tangannya karena emosi yang mulai memuncak di hatinya.
Arimbi selalu berhasil membangkitkan amarah dihatinya, setiap kali memikirkan perbuatan keluarga nya Damar yang sudah membuat mereka bangkrut. Penderitaan kedua orang tuanya dan usaha kerasnya dalam bertahan hidup benar-benar harus dibayar mahal oleh keluarga mereka dengan gagalnya rencana besar mereka untuk bisa menguasai harta keluarga Atmaja.
Arimbi segera keluar dari kamarnya setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya Bara tentang keberadaan Damar yang saat ini masih berada di kantornya.
"Aku akan menangkapmu dalam pelukanku dan memastikan kau berpisah dengan Marissa. Aku gak akan menyerah untuk kembali mendapatkan perusahaan orang tuaku!" Arimbi rupanya benar-benar sudah bertekad untuk mensukseskan rencana besarnya bersama Bara.
lanjut thor
lanjut thor