Zaid, anak seorang petani miskin pergi ke hutan bersama pamannya, ia jatuh ke jurang. Beruntungnya ia selamat karena di dasar jurang terdapat aliran air. Ia tak tahu harus ke mana karena di kanan kirinya hanya ada dinding tebing. Jadi ia hanya terus berenang mengikuti aliran air hingga ia tak sanggup lagi untuk berenang dan perlahan ia tenggelam.
Tetapi anehnya ia selamat. Ternyata di dalam air tempatnya tenggelam, ia tak sengaja masuk ke portal yang memindahkannya ke planet Imub. Planet yang sangat mirip dengan Bumi. Planet berisi orang-orang yang mempunyai kekuatan sihir alami.
Ketika ia sadar, ia sudah berada di kamar, berbaring di atas ranjang kayu sederhana. Ia diselamatkan salah satu perempuan remaja yang ada di planet Imub. Chiara.
Chiara mengatakan Zaid tak mungkin kembali ke bumi. Tetapi, bukan itu masalahnya, planet Imub sedang dalam kekacauan dan membutuhkan bantuan Zaid.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Saefulloh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Brosur Festival
Hari semakin sore. Mentari sudah lelah mengudara, ia seolah hendak pulang mengisi tenaga untuk esok harinya.
Zaid, Ryan, Rezz Eiria, dan Faris yang memiliki rambut panjang sampai dada hampir tiba di sebuah desa kecil. Di sana hanya ada 1 menara pengawas yang diisi oleh 2 orang penyihir berjubah ungu.
Faris memainkan harmonikanya.
"Sepertinya Tuan Zhang menyuruh kita di waktu yang kurang tepat," kata Rezz.
Sebenarnya keempatnya sudah tahu bahwa Zhang Xiao seharusnya tidak menyuruh mereka mencari bambu untuk Cihcih (si kaktus) di waktu sore seperti ini, namun di antara keempatnya tidak ada yang berani untuk mengatakannya langsung.
"Ya, kau benar," timpal Faris, lalu ia memainkan harmonikanya lagi.
"Hei, bisakah kau berhenti memainkan alat itu?" Tanya Ryan.
"Bisakah kau berhenti membaca komik saat pulang nanti?" Tanya Faris setelah melepas harmonikanya.
"A-apa? Tentu saja tidak!"
"Ya, aku juga tidak berhenti." Faris lalu memainkan harmonikanya lagi tanpa memedulikan Ryan yang mulai jengkel.
"Kita sudah sampai!" Seru Zaid.
"Cihcih!" Cihcih menyembul dari saku Zaid, namun kali ini ia juga melompat turun. Mungkin ia gerah.
Desa itu tak jauh berbeda dengan desa tempat Chiara tinggal; rumah-rumah dari papan dan batu yang saling berhadapan, juga terdapat toko obat dan toko keperluan harian. Seorang pandai besi juga tampak bekerja; sedang menempa pedang. Hanya perbedaannya adalah, desa itu terbilang kecil. Mungkin hanya terdapat 30 sampai 40 kepala keluarga.
"Aku beli minum dulu, ya. Kalian pasti haus," kata Rezz. Ia lalu melompat jauh dibantu kekuatan angin, mendarat di salah satu warung, membeli minuman kaleng di sana.
"Mungkin setelah kita mencari bambu untuk Cihcih, kita menginap di sini saja dulu," saran Faris, "jika Tuan Zhang menjemput, kita pulang, jika tidak, terpaksa kita pulang besok pagi."
"Maksudmu, kita menginap di desa ini? Memangnya kita punya uang yang cukup?" Tanya Ryan.
"Aku punya," kata Faris.
"Kalian, tangkap!" Seru Rezz dari kejauhan. Ia melempar 3 minuman kaleng sekaligus dengan satu tangan.
Zaid menangkapnya; Faris menangkapnya dengan santai seperti tidak ada kesulitan sama sekali. Namun Ryan kena timpuk oleh minuman kaleng di pelipisnya.
"Haduh, lempar yang benar, dong!" Ryan memegangi pelipisnya.
Rezz sudah berjalan mendekat, lalu ia membuka minumannya dan meneguknya. "Kau sendiri yang payah," kata Rezz.
"Apa katamu?" Tanya Ryan.
"Hei, sudahlah, teman-teman, jangan berkelahi," kata Zaid.
Tong! Tong! Tong! Tong!
Zaid dan yang lain dapat mendengar suara itu. Suara itu berasal dari lonceng menara pengawas yang ditabuh.
"Tidak ada tanda bahaya, tapi..." kata Zaid. Ia lalu berpikir.
"Sepertinya memang bukan tanda bahaya, mungkin ada pengumuman," tebak Rezz.
Keempatnya dapat melihat dari kejauhan, 2 orang pria yang menunggangi kuda coklat dengan hiasan yang tampak meriah (bukan megah/elegan, lebih ke warna-warni) salah satu dari mereka berseru, "Semuanya, merapat! Merapat!"
Semua orang desa laki laki dan perempuan dari berbagai usia langsung mengerumuni pria itu.
Pria itu bicara lagi, "Kalian semestinya sudah mengetahui bahwa besok akan diadakan festival di gunung Oru untuk memperingati hari Menyayangi Hewan, bukan?
"Namun di festival kali ini sedikit berbeda, selain mempertunjukkan tari adat, makan-makan dan lain-lain, juga akan ada turnamen adu kekuatan, siapa saja boleh mengikutinya termasuk anak-anak.
"Dan tenang saja, demi pertandingan yang adil, kami akan membagi turnamen menjadi 3; untuk anak-anak, remaja dan dewasa. Itu semua dilakukan agar pertarungan menjadi seimbang."
"Maaf, kalau boleh tahu, hadiahnya apa?" Tanya salah seorang pria yang mengerumuni keduanya.
"Hadiahnya akan diumumkan saat festival dimulai besok malam pukul tujuh. Dan untuk ketentuan lengkapnya, ada di brosur ini," kata orang itu sambil menunjuk brosur yang dipegang oleh pria berkuda yang satunya.
"Silakan masing-masing ambil satu," kata pria berkuda lantas membagikan brosur.
Zaid dan yang lain yang baru tiba dikerumunan memutuskan untuk ikut mengambil 1 brosur, namun hanya Zaid yang kebagian karena brosur itu sudah habis.
"Maaf, Nak. Brosurnya sudah habis, namun kalian bisa berbagi, melihatnya bergantian," jelas pria yang membagikan brosur.
"Ya, tidak apa-apa," ucap Faris.
Kedua pria penunggang kuda dengan hiasan meriah itu langsung pamit pergi.
Zaid yang memegang brosur dikelilingi oleh Rezz, Ryan dan Faris. Keempatnya memerhatikan brosur itu.
Ryan menghela napas. "Sayangnya, mungkin kita tidak akan pergi ke sana."
"Ya, kau benar," timpal Rezz. Ia lalu menghela napas. "Kalaupun kita bisa mengunjungi festival itu diam-diam, Tuan Zhang pasti akan cepat menduga kalau kita berada di festival, dan ia akan langsung menyeret kita di depan umum."
"Sayang sekali, padahal kudengar di sana nantinya banyak cosplayer animasi dan komik favoritku," jelas Ryan.
"Komik lagi, komik lagi," kata Faris datar lantas memainkan harmonikanya yang seolah menyiratkan keinginannya terhadap festival itu.
"Harmonika lagi, harmonika lagi," balas Ryan.
Zaid tidak banyak bicara, sedari tadi mukanya tampak serius memerhatikan brosur. Apakah Kak Chiara dan anak itu akan mengajakku nantinya? Aku juga ingin, pikir Zaid.
Zaid lalu teringat kata-kata Elena yang tidak sopan:
"'Zaid'? Haha, nama yang aneh!" Kata Elena.
"Oh, Kakak Chiara menemukanmu hanyut di sungai saat mencuci pakaian, lalu ia membawamu ke sini," jelas Elena. "Sebaiknya kau istirahat saja. Kau tak perlu bergerak lagi untuk berkenalan dengan Kak Chiara, aku sudah memberitahumu namanya. Astaga, aku tak menyangka hanya dengan menggerakkan tangan kau bisa pusing, apalagi kalau kau dijadikan pembantu di sini, mungkin kau sudah pingsan, atau bahkan mati."
Kalau aku ke festival dengan mereka berdua pun, sepertinya aku tidak akan benar-benar menikmatinya, pikir Zaid, apalagi jika ikut turnamen adu kekuatan. Zaid lalu membayangkan akan seperti apa saat dia berada di festival bersama Chiara dan Elena.
Ini bayangan Zaid:
"Kak Chiara, hebat sekali," kata Elena, "Kak Chiara berhasil masuk babak final dengan hanya menggunakan elemen tumbuhan."
"Ah, tidak, kok, aku hanya beruntung bisa masuk babak final," kata Chiara sambil mengelus kepala Elena.
"Dia (Zaid) payah sekali," kata Elena, "baru juga mulai sudah terlempar keluar arena. Padahal lawannya setahun lebih muda juga perempuan," kata Elena pada Zaid.
Zaid menatap tidak suka pada Elena. "Aku baru latihan sehari, tahu! Aku belum bisa menggunakan kekuatanku dengan baik!" Bentak Zaid.
"Yah... Kalau tahu begitu, kenapa kau memaksakan ikut? Bodoh!" Balas Elena.
______________________________________________
Tidak, pikir Zaid, kalaupun Kak Chiara datang ke sini dan mengajakku ke festival, walaupun Tuan Zhang mengizinkan, lebih baik aku tidak ikut saja.
"Hei, hei, Zaid, jangan melamun," kata Ryan.
"Yah... Sepertinya dia masih malu-malu," kata Rezz. "Hei, kawan, meski kau masih anak baru, tidak akan ada yang membully-mu di panti asuhan Tuan Zhang. Karena Tuan Zhang berhasil mendidik kami menjadi orang yang beradab. Jadi, santai saja, tidak akan ada yang melarangmu untuk bicara kecuali kalau itu kehendakmu sendiri," kata Rezz bijak sambil menepuk pelan bahu Zaid.
"Oh, e, ya, baiklah, aku tidak akan terlalu banyak diam kali ini," kata Zaid mencoba tersenyum. Meski sebenarnya bukan karena aku pemalu, batin Zaid, namun karena aku sedang malas mengobrol saja.
"Kau benar, Rezz. Memang Tuan Zhang berhasil mendidik kita menjadi orang yang beradab, tapi ia gagal dalam dua hal: anak-anak didikannya tidak semuanya berbakat dan pintar," kata Ryan.
"Kulaporkan pada Tuan Zhang, kata Faris sambil menatap datar pada Ryan.
"Eh, jangan, dong. Maksudku-" Kalimat Ryan terpotong.
Faris menutup kedua telinganya. "Ah, tidak! Akh tidak mau dengar omong kosongmu."
Zaid tertawa kecil. "Sepertinya Ryan masih harus belajar adab pada Tuan Zhang."
"Cicicicicicicih!" (Cihcih tertawa).
"Sudahlah, mari kita cari penginapan di sini," kata Rezz.
"Mari," timpal Zaid.
Faris melangkahkan kaki, mengikuti Zaid dan Rezz.
"Eh, hei! Tunggu!" Ryan menyusul.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
lanjutkan 👍👍
kalo bagus lanjut
hai kak, Zed mampir ya🙏