NovelToon NovelToon
EX WIFE'S REVENGE

EX WIFE'S REVENGE

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Romansa / Tamat
Popularitas:5.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: lena linol

Zahra adalah wanita cantik yang sangat mencintai suaminya. Tapi, siapa sangka jika suaminya yang selama ini terlihat sangat mencintainya justru menghianatinya, di tambah lagi sang ibu mertua malah mendukung perbuatan suaminya yang berselingkuh.

Segala rasa sakit hati yang di terima Zahra akan segera di balaskan! Wanita itu akan memberikan pelajaran setimpal kepada suami dan ibu mertuanya yang sudah menorehkan sebuah luka yang sangat dalam di hatinya.

Tapi, siapa sangka di perjalanannya membalaskan dendam kepada suami dan ibu mertuanya, Zahra bertemu dengan seorang pria yang tak lain adalah teman masa kecilnya.

Lalu bagaimana kisah Zahra selanjutnya? Penasaran? Jangan lupa tekan SUBSCRIBE agar tidak ketinggalan update kisah ini. 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Morning Kiss

Zahra merasa senang saat mendengar kabar kalau Mbak Kokom sudah pindah ke Yayasan. Ia segera menyimpan ponselnya, lalu bergegas berangkat bekerja karena pagi ini akan ada meeting penting.

Sampai di lantai bawah, dia terkejut saat melihat Arvan menunggu dirinya di ruang tamu.

"Kok kamu ada di sini?" tanya Zahra dengan heran, karena seharusnya pemuda itu sudah tidak berani datang lagi setelah kejadian malam itu di mana mereka berdua kepergok Papi Ansel akan berciuman.

"Mau jemput kamu, memang nggak boleh?" jawab Arvan sekaligus bertanya, seraya beranjak dari duduk, menghampiri Zahra lalu menggandeng tangan wanita itu.

Zahra menatap tangan kanannya yang di gandeng  Arvan, kemudian ia berkata, "bukannya kamu di marahi sama Papi tadi malam?" tanya Zahra, ingin melepaskan tangannya akan tetapi Arvan menahannya.

"Aku di marahi? Tentu saja tidak, justru Om Ansel memberikan kita restu," jawab Arvan sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih.

"Kamu pasti bohong 'kan?!" Zahra menatap tajam pemuda tersebut.

"Nggak, kalau nggak percaya coba tanya sama Om Ansel. Ayo, berangkat sekarang, nanti kamu telat kerja." Arvan menarik lembut tangan Zahra agar mengikutinya melangkah ke halaman, di mana motor matic-nya menunggu di sana.

Zahra merasa aneh dalam hal ini, tidak mungkin papinya memberikan restu dengan begitu mudah kepada pemuda ini. Zahra menjadi curiga, jangan-jangan Arvan  memakai pelet agar papinya luluh dengan mudah.

Arvan tahu kalau saat ini pikiran Zahra sedang berkecamuk, tapi dia memilih diam sambil mengingat percakapannya dengan Ansel tadi malam.

"Pakai helmnya, Sayang, atau mau aku pakaikan," ucap Arvan seraya menyerahkan helm bogo kepada wanita dewasa yang sedang melotot ke arahnya.

"Sayang?!" Zahra menaikkan sebelah alisnya, menuntut penjelasan.

"Ya, karena kita sudah menjadi sepasang kekasih dan kemungkinan besar akan menikah, maka harus ada panggilan sayang di antara kita berdua," jelas Arvan dengan santainya sambil tersenyum manis seraya memasangkan helm ke kepala kekasihnya itu dengan telaten.

“Hah?!” Zahra tercengang mendengar penjelasan Arvan, ia ingin melayangkan protes, akan tetapi baru saja membuka mulutnya, Arvan sudah menempelkan salah satu jari telunjuk di depan bibir manisnya.

“Nggak boleh protes! Mulai sekarang kamu juga harus manggil aku dengan sebutan ‘Sayang’ kalau tidak, kamu akan mendapatkan hukuman, paham!” tegas Arvan sambil menatap wajah cantik Zahra yang selalu membuatnya tidak bisa tidur.

“Dasar pemaksa!” kesal Zahra, bibirnya komat-kamit, menyumpah serapahi pemuda yang ada di hadapannya ini.

Arvan tidak menanggapi ucapan Zahra, justru pemuda itu malah mengecup pipi wanita tersebut dengan mesra, sehingga membuat Zahra sangat terkejut bukan kepalang.

“Ar!” Zahra memukul pundak pemuda tersebut, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan, takut kalau ada orang yang melihatnya.

“Morning kiss,” bisik Arvan dengan lembut, kemudian ia menyuruh Zahra agar segera naik ke motornya.

Zahra memutar kedua matanya dengan malas seraya naik ke atas motor Arvan, kemudian diikuti oleh pemuda tersebut.

“Pegangan, Kak,” ucap Arvan sambil menarik tangan Zahra dengan paksa lalu melingkarkan ke perutnya.

“Oke!” Zahra menjawab sambil mengeratkan pelukannya, sampai membuat Arvan tidak bisa bernafas.

“Kak, bisa di longgarkan sedikit?” tanya Arvan mengurai pelukan Zahra, agar dia merasa lebih nyaman.

“Kamu bagaimana sih! Katanya sudah pegangan!” omel Zahra lalu mengeratkan pelukannya lagi.

“He he he, iya sih, tapi ...”

“Jadi nganterin aku nggak?!” omel Zahra lagi, tersenyum puas saat melihat Arvan merasa engap karena pelukannya begitu erat.

“Rasakan pembalasanku. Dasar tukang paksa!” geram Zahra sangat puas, namun hanya terlontar di dalam hati.

“Iya, jangan marah dong. Ini aku lajukan motornya.” Arvan tidak protes lagi, ia segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang sambil merasakan engap karena Zahra semakin erat memeluknya.

Di Perusahaan Holitron Grup, tepatnya di ruangan HRD.

“Pak, nggak bisa begini dong?! Kenapa kita di pecat tanpa alasan yang jelas!” protes Vania dengan penuh amarah.

“Iya! Kita nggak terima dengan keputusan Bapak! Selama ini kami bekerja dengan rajin, dan juga tidak pernah neko-neko!” sahut Wahyu sembari menatap tajam pada HRD yang berkepala plontos itu.

“Yakin nggak pernah neko-neko? Lalu video percakapan kalian di depan lift artinya apa? Apakah kalian bisa menjelaskannya?” HRD tersebut meletakkan ponselnya di atas meja yang memperlihatkan video berdurasi 15 detik di depan lift.

Kedua mata Wahyu dan Vania membulat sempurna, terkejut saat melihat video tersebut yang berisi percakapan mereka beberapa hari yang lalu.

"Yang menggodaku lebih dulu adalah kamu! Jadi jangan merasa kalau kamu paling benar di sini! Kamu juga yang menawarkan naik jabatan kepadaku!" Suara Wahyu dalam video tersebut terdengar sangat marah.

“Bagaimana? Ini benar kalian ‘kan, dan video ini di terima langsung oleh Pak Ricko, beliau juga sudah memastikan apakah video ini setingan atau asli, dan ternyata hasilnya asli! Tindakan kalian sudah tidak bisa toleransi lagi, jadi kalian di pecat dengan tidak hormat dan tidak mendapatkan pesangon sama sekali! Silahkan pergi dari sini dan bereskan barang-barang kalian!” tegas HRD tersebut seraya menatap Vania dan Wahyu bergantian.

Wahyu dan Vania hanya bisa tertunduk malu dan penuh sesal. Mereka ingin membantah pun percuma karena Bos besar mereka sudah memastikan ke-aslian video tersebut. Kini mereka harus kehilangan pekerjaan mereka, dan sudah di pastikan kalau karyawan yang membuat masalah di Holitron Grup akan masuk ke daftar hitam, dan akan kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Wahyu dan Vania kompak beranjak dari duduknya, lalu berpamitan keluar dari ruangan tersebut, kemudian menuju ruangan masing-masing.

Vania memejamkan kedua matanya dengan erat seraya mengepalkan kedua tangannya, dia baru teringat kalau beberapa hari yang lalu ada salah satu karyawan yang satu devisi dengan Wahyu mengancamnya dan akan menyebarkan video mereka di depan lift.

“Sial! Seharusnya waktu itu aku tidak meremehkannya!” geram Vania lalu menundukkan diri di kursinya untuk yang terakhir kalinya. Tapi, Vania tidak pusing memikirkan masalah pekerjaan, karena dia sudah mempunyai usaha sendiri berupa rumah makan yang ia dirikan beberapa tahun yang lalu, jadi dia berencana akan fokus pada usahanya itu.

Tapi, berbeda dengan Wahyu yang sedang pusing tujuh keliling karena pendidikannya hanya SMA, sedangkan dia masuk ke perusahaan tersebut karena keberuntungan, lalu ke mana dia harus mencari pekerjaan lagi kalau namanya sudah masuk ke daftar hitam.

“Makanya, Wahyu! Kalau orang nggak punya itu jangan kebanyakan tingkah!” ucap salah satu rekannya yang sudah merekam Wahyu dan Vania beberapa hari yang lalu.

“Sekarang kamu bingung sendiri ‘kan karena akan kesulitan mencari pekerjaan. Emh ... bagaimana kalau aku memberikanmu saran? Menurutku kamu itu pas menjadi seorang gigolo dari pada bekerja di kantoran! Ha ha ha,” lanjutnya diiringi dengan tawa renyah.

Wahyu mengepalkan kedua tangannya dengan erat, rasanya dia ingin merobek mulut pria tersebut, tapi sekuat tenaga menahan emosinya mengingat keberadaannya ini masih di perusahaan. Kemudian, ia segera membereskan semua barang-barangnya, setelah selesai, ia segera keluar dari ruangan tersebut tanpa berpamitan dengan yang rekan-rekan kerjanya.

Dia sudah malu, kesal dan menyesal. Hidupnya kini tidak tentu arah.

***

Like, dan komentarnya ya.

1
Ellya Muchdiana
Biasa
Ellya Muchdiana
Buruk
Gabriel Orlando
sederhana tapi butuh uang sebagai pendukungnya 🤭😁
Gabriel Orlando
bukan kamu yang kurang Zahra tapi suamimu yg kurang ajar dan kurang normal 🤭😁
Gabriel Orlando
benar menjijikan bibir bekas orang lain
Gabriel Orlando
makan tu cinta 🤭😁
KaylaKesya
terbaek thor🥰💪
Nida Aulia Mukhsirin
😄😄😄😄Lucu mbk kokom
Cheng Nyo
Luar biasa
Maya Sari
karya yg bagus
Rafa Pratama
👍👍👍👍
Aurell And Friends
sedang d baca.. nunggu kelanjutannya nih Thor.../Rose//Rose//Rose/
Aurell And Friends
sudah baca Thor...good..good.../Kiss//Kiss//Kiss/
Aurell And Friends
sudah baca Thor..Bagus ceritanya /Ok//Ok//Ok/
Rahma Wati
Luar biasa
Atoen Bumz Bums
A
Atoen Bumz Bums
Zahra Cemen balas dendam pake kuasa ortu
bukan dgn skill sendiri
Atoen Bumz Bums
Zahra bego
seharusnya jgn bedandan dulu buat Wahyu ilfil biar cepet proses cere nya
Yumma Proling
🤣🤣🤣🤣🤣
-the'XXI✓
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!