NovelToon NovelToon
Bukan Dia

Bukan Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:290.1k
Nilai: 5
Nama Author: RirinRohman

2 bulan? 1 Tahun? Atau selamanya.
Siapa yang akan menang?
Amer? Buna Ibunya? Elena atau Alexa?

Amer Gunawijaya yang sudah punya tambatan hati Alexa, namun dijodohkan orang tuanya, Buna, dengan teman masa kecilnya yang tomboy karena kecelakaan, Elena.

Amer bertaruh dengan dirinya sendiri, bahwa akan membuat Elena menyesal dan Ibunya menyadari pernikahan ini adalah kesalahan. Namun Ibunya pun bertaruh kalau mereka akan jatuh cinta dan pernikahan mereka bahagia.

Lalu siapa yang akan menang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RirinRohman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sambal Cumi

Amer meradang, dunianya yang terasa gelap semakin terasa sesak. Rupanya ada orang yang berani masuk ke ranah privasinya. Amer semakin merasa terhina, hatinya yang baru saja sedikit redam karena sholat kini jadi membara lagi. Emosi yang meletup - letup ingin cepat dia lampiaskan.

Tidak peduli alur ceritanya darimana, entah siapa yang memegang ponselnya dia pokoknya ingin marah ke Elen. Otaknya jadi dipenuhi Elen.

Bukanya cepat- cepat menelpon pacarnya, hatinya malah dipenuhi wajah Elen yang ingin dia marahi. Pokoknya semua kesialan kesesakan dan hal buruk yang menimpanya karena Elen.

Amer sampai lupa mau beli makan, dia langsung bergegas ke kamar Elen lagi.

"Brak!" Amer membuka pintu kamar Elen lagi dengan kasar. Dan selalu saja Elen yang sedang istirahat berjingkat kaget.

"Heran banget. Udah dewasa hobby banget mainan pintu," cibir Elen malah mengatai Amer, untung lirih jadi Amer tidak dengar.

Amer mendekat dan dengan gemas menyentuh kaki Elen yang terbungkus gips.

"Ak auh. Sakit Pak!" keluh Elen lagi benar- benar sakit dan tidak menyangka Amer seperti orang kesetanan yang tiba- tiba menggeser kakinya.

"Mau kutambah sakit lagi!" ucap Amer malah menantang.

"Pak. Sakit beneran!" jawab Elen.

"Oh ya?" tanya Amer memencet kaki Elen.

"Aak. Aak. Pak Sakiiit!" lirih Elen benar- benar kesakitan, bahkan hampir menangis.

Amer, mengeratkan rahangnya dan matanya merah. Seperti menahan sesuatu, ya sebenarnya yang Amer lakukan juga bertentangan dengan isi hatinya tapi entah kenapa Amer sangat benci melihat Elen. Pokoknya ingin melampiaskan semuanya ke Elen.

"Sakitmu belum seberapa dibanding sakit hatiku!" ucap Amer kemudian.

Elen ikut gemetaran, gemetaran menahan sakit juga kali ini takut saat melihat Amer begitu nekad.

"Apa salah saya?" lirih Elen bertanya.

"Seharusnya aku tidak mempekerjakanmu di nikahan Ikun, seharusnya kamu tidak perlu bertemu ibuku. Seharusnya kamu tidak menemuiku. Seharusnya kamu tidak perlu kecelakaan. Hargh! Semuanya jadi sulit!" omel Amer lagi tidak jelas

Elen yang mendengarnya jadi tambah gelagapan. Elen sama sekali tidak mengerti.

"Ya. Keenapa Bapak salahin aku. Aku kan hanya diundang. Itu takdir Tuhan!" jawab Elen.

"Perniakahan ini tidak akan terjadi kalau tidak ada itu semua. Semuanya jadi kacau. Siaal?" umpat Amer lagi marah- marah tidak jelas.

Elen jadi sakit mendengarnya, tapi Bukan Elen namanya kalau cengeng.

"Bukankah kata Pak Amer. Bapak juga menikahiku agar bisa dapatkan dana dari Pak Ardi. Kita sudah sepakat kan? Kita sama- sama menjalani pernikahan ini dengan saling menguntungkan? Semua syarat dari bapak juga saya setujui? Apa salah saya? Kenapa Pak Amer terus marah ke saya?" jawab Elen kemudian dengan sangat tenang.

Amer pun tersentak, benar juga, Elen kan memang sedari tadi tidur dan tidak melakukan apapun. Dia bahkan membantunya, tapi entah kenapa pokoknya Amer kesal ke Elen. Amee kan menikahinya juga dengan sadar dan sepakat.

"Ya. Tapi kenapa nomorku sampai bisa memblokir nomor pacarku? Siapa yang berani menyentuh ponselku!" bentak Amer akhirnya cerita.

"Hooh...," Elen langsung menghela nafas lega. Dia selamat.

Kini Elen pun menatap Amer, malah sedikit tersenyum. Amer jadi mengernyit seakan senyuman Elen seperti pisau yang menusuk hatinya, mengejek. Amer jadi malu, padahal Elen belum berucap.

"Ponsel itu kan hal yang paling privasi dan seharusnya bapak genggam terus. Coba tanyakan pada Pak Amer sendiri. Selain Pak Amer ada nggak yang berani memegang ponsel Bapak. Bapak merasa pernah meninggalkan ponsel Bapak nggak? Terus kan seharusnya ponsel itu ada kuncinya. Saya mana tahu dan mana berani utak utik ponsel Bapak. Jangan tanya saya. Saya urus diri saya sendiri saja begini!" jawab Elen malah menasehati Amer.

Ya. Amer yang berniat marah malah terserang balik dan menjadi terpojok, terlihat betapa Amer ceroboh.

"Nggak usah ceramah!" jawab Amer ketus dan membuang muka.

"Ya tapi nggak usah kaki saya yang jadi sasaran. Bapak mau saya nggak ngrepotin Pak Amer kan? Kalau mau gitu harusnya Pak Amer bantu saya cepet sembuh. Bukan sebaliknya bikin saya sakit, semakin lama saya sembuh, Pak Amer sendiri yang repot!" jawab Elen lagi.

"Berisik banget sih!" jawab Amer lagi. Walau kata Elen benar tapi dia tidak suka terlihat salah. Dalam hati Amer sebenarnya juga heran kenapa Elen pandai sekali menjawab.

"Ya udah jangan marah. Tinggal buka blokiranya. Sok ditelepon pacarnya!" ucap Elen lagi malah mengingatkan Amer untuk menelpon pacarnya

"Gleg!"

Kali ini Amer menelan ludahnya, entah kenapa kali ini ada rasa iba yang datang ke hatinya akan Elen. Ternyata Elen baik.

Amer tak menjawab dia hanya berfikir benar kata Elen, kenapa dia malah marah dan menyakiti Elen harusnya dia cepat- cepat telepoon Lexa.

Amer pun mencair, dia kemudian duduk dan menghubungi Lexa.

Dengan mata kepala Elen sendiri. Elen pun menyaksikan suaminya menghubungi pacaranya.

Sebenarnya Elen tahu dan dengar yang melakukan itu semua adalah Buna Alya. Tapi Elen kan tidak mungkin mengadukan ibu mertuanya. Apalagi membuat ibu dan anak jadi bertengkar. Elen hanya bisa menghela nafas dan menguatkan hatinya.

"Ini pernikahan karena kesepakatan. Memang tidak ada cinta di hatinya, tapi entah kenapa jauh di lubuk hati Elen tetap ada yang berbisik, berharap pernikahan ini akan menjadi pernikahan yang utuh nyata dan kuat," Elen pun memilih membuang muka lalu memejamkan matanya tidak ingin lihat atau dengar.

"Ya. Sayang...," terdengar suara Amer begitu lembut pada seseorang di balik teleponya itu, beda sekali dengan suaranya saat berbicara denganya.

Elen sadar diri. Tapi entah kenapa ada rasa sakit. Apa bisa kelak kata dan nada itu terucap untuknya?

"Mas juga nggak tahu kalau nomer kamu terblokir sungguh. Maafin Mas ya?" ucap Amer lagi sangat lembut.

Elen pun semakin menempelkan kupingnya ke bantal tidak ingin dengar. Ingin Elen mengusir Amer agar teleponan di luar saja. Tapi tak kuasa.

"Apa? Bunaku? Jadi kamu semalam telepon terus Buna yang angkat?" terdengar lagi Amer memekik. Sepertinya Alexa mengadukan Bunanya.

Ya. Elen dengar semuanya. Setelah itu Amer terdengar meminta maaf lagi pada Lexa. Sayangnya tiba- tiba suara pintu kamar Elen terdengar di ketuk.

Amer tampak gelagapan dan mematikan ponselnya.

"Assalamu'alaikum..." terdengar suara lembut dari luar.

Elen pun membuka matanya.

"Waalaikumslam," jawab Amer tergagap.

"Walaikumslam," sementara Elen tersenyum sangat lega, saking leganya sampai ingin menangis. Seulas senyum hangat dan meneduhkan yang selalu bisa membuatnya kuat kini datang.

Perempuan separuh baya dengan mata teduh dan hijab panjangnya tampak membuka pintu tersenyum dan ijin masuk, diikuti gadis kecil nan manis dengan rambutnya yang diikat seperti ekor kuda. Dia adalah Bu Arumi dan Nadin keluarga Elen.

"Maaf Ibu telat datangnya. Gimana Nak? Sudah baikan?" tanya Bu Arumi mendekat.

Sementara Nadin tampak canggung apalagi saat melihat Amer. Dia sempat melongo tertegun dan kaget, tapi setelah itu dia menunduk membuntuti ibunya.

Amer hanya tersenyum masam, sementara Elen langsung menyibak selimutnya senang.

"Alhamdulillah Bu. Biusnya udah ilang. Elen udah bisa duduk!" jawab Elen selalu saja ingin menyenangkan ibunya.

"Alhamdulillah!" jawab Bu Arumi lalu melirik Amer tersenyum

"Terima kasih ya Nak Amer. Sudah menunggu dan menjaga Elen anak saya!" tutur Bu Arumi sangat ramah dan lembut mengira Amer sudah sangat baik pada Elen.

"Ehm...," Elen pun hanya berdehem dalam hati merutuki itu semua.Baik darimana Elen hanya menjadi bahan omelan.

Amer pun hanya menyeringai.

"Oh ya. Nadin. Nak Amer. Kenalkan ini Nadin adiknya Elen. Nadin. Ini Kak Amer pria yang sudah menikahi Kakakmu. Dia sekarang kakakmu!" tutur Bu Arumi lagi.

Elen dan Amer sempat saling tatap dan sama- sama menegang. Elen dan Amer saling bergumam dalam hati dan mereka utarakan lewat sorot mata. Elen berharap Amer berbaik hati menyambut baik ibu dan adiknya.

Walau canggung dan kaku. Amer pun menganggukan kepala tanda menerima perkenalanya pada Nadin.Elen pun bernafas lega.

Nadin si gadis kecil pun sangat sopan dan mendekat ke kakaknya yang terbaring lemas. Begitu mendekat ke Elen, Nadin langsung menangis.

"Kenapa Kakak bisa kaya gini? Siapa yang anter Nadin lagi? Siapa yang ajarin PR Nadin lagi. Hiks..., cepet sembuh Kak.." lirih Nadin ternyata sangat sayang pada Elen..

Elen dan Bu Arumi pun tersenyum dan kemudian mengelus kepala Nadin.

"Kakak baik- baik aja kok!" jawab Elen.

Amer melihat itu hanya mengeratkan rahangnya merasa risih. Amer merasa menjadi orang asing. Bu Arumi kemudian peka.

"Nak Amer sudah makan?" tanya Bu Arumi ramah dan mendekat ke Amer.

"Ehm...," Amer jadi gelagapan.

"Ini. Ibu masakin nasi uduk. Ada tempe goreng. Ada sambal cuminya juga. Terus ini ada perkedel kentang kesukaan Elen. Makan yuk!" tutur Bu Arumi membuka bekalnya.

"Makasih Bu. Elen lapar! Ibu tahu aja!" sahut Elen senang.

Amer masih canggung tidak menjawab, dan Bu Arumi tetap saja membukakan bekalnya.

"Ibu waktu masih sehat, dulu jualan sambal cumi ini. Bu Alya ibumu dulu juga sering beli. Katanya anak laki- lakinya suka sekali. Itu kamu kan? Ayok dimakan!" lanjut Bu Arumi lagi.

Amer reflek mengangguk tanpa dia sadari.

Bahkan seketika itu seperti ada angin yang menelusup ke hati Amer, hatinya bergetar, ada yang membawa Amer tiba ke masa kecilnya.

Ya. Amer ingat, saat itu Amer pulang sekolah lapar dan Buna pulang dari kegiatanya membawa hampers beberapa pouch masakan. Amer berebut dengan Ikun, lalu mereka meminta Buna untuk selalu sedia masakan itu.

Dengan penuh kasih Buna mengiyakan. Di atas meja makan setiap hari senin selalu ada masakan itu. Dua hari habis, dan untuk bisa makan itu lagi mereka harus menunggu dua minggu setelahnya, karena kata Buna penjualnya tidak bisa membuat setiap hari.

Senin yang menyenangkan itu pun mereka nantikan dan selalu datang. Sayangnya, senin yang ia nantikan itu berakhir dan tak Amer rasakan lagi di suatu hari, hingga Amer merantau ikut Oma Rita. Amer tidak tahu itu masakan Ibunya Elen.

"Lhoh kok ngelamun. Ayok dimakan!" ucap Bu Arumi lagi mengambilkan piring yang terbuat dari seng dari tas besar yang dia bawa.

Amer pun menerimanya, Bu Arumi pun melayani Amer seperti anak kandungnya, mengambilkan nasi dan juga lauknya. Karena Amer memang belum makan, Amer pun menerimanya dan makan masakan Bu Arumi lagi.

Setelah itu, Bu Arumi mengambilkan untuk Elen dan menyuapi Elen.

Elen tersenyum lega. Dia senang karena ada ibu dan adiknya, tidak terus dimarahi. Terlebih, walau dia tahu Amer terpaksa dan hanya bersandiwara, Elen senang, setidaknya Amer tidak menyakiti Ibu dan Adiknya.

1
Umi
sudah ganti tahun Thor,kapan up nya?/Angry/
Nanik Arifin
kelamaan Hiatus readers jd lupa jalan ceritanya Thor....
kita nunggu up smp reinkarnasi ini 😄😄
Umi
tiap hari ku tengok tiap hari ku buka biar selalu diatas di rak buku ,tapi kenapa yang ditunggu belum muncul juga😭😭
qeeraira
iya gapapa ka @Ririn Rohman N kita tetap sabar menunggu up nya 🥰🥰🥰
semangat ka @Ririn Rohman N 🥰🥰🥰

ditunggu lanjutannya Amer elena
Naning Naning
lanjut kak
Naning Naning
alhamdulilah akhirnya up.juga.... lama nunggunya
Nanik Arifin
Alhamdulillah kamu baik" aj Thor
lanjut.......
4_amiraa_ Tadzkiyaa_
yeay.. makasih sdh Up ka... semangat Ka💪💪💪
Ida Nur Hidayati
alhamdulillah ups lagi terima kasih ya kakak....
Ida Nur Hidayati
oma seneng bersama cucu mantunya...jafi penyemangat juga
Tysa Nuarista
aamiin ... sehat" semua nya....
Nanik Arifin
sudah lebih dari sepekan blm update Thor...
buka mendadak tamatkan ?? 🤔
Umi
semoga selalu sehat-sehat Thor,biar segera bisa update
sudah lamaaaa banget nggak up,tiap hari dibuka,tidak up2😭
Umi
semoga selalu sehat-sehat Thor
lamaaaaa banget up nya😭
Bul Bul
lanjut🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Asrini Zafarani
Alhamdulillah, akhirnya up juga si KA Ririn ini, bang ADIP memang bisa di andalkan di segala suasana, ingat Mer kata oma🤣
Nanik Arifin
kambuh lagi egoisnya Amer... ingat Mer, dh mau jd ayah, belajar ngalah sama keinginan. masak besok" bayi kamu yg hrs ngalah 😩 🤦🏻‍♀️
qeeraira
Amer oh Amer 😅😅😅
akhirnya ka @Ririn Rohman N up juga,, happy nya para pembaca menahan rindu seperti Amer yang sudah ketemu elena setelah menahan rindu ga ketemu 😁😁 makasih ya ka @Ririn Rohman N up nya 🙏🥰🥰 ditunggu kelanjutannya Amer elena🙏🙏
bagaimana selanjutnya pulang dari RS elena pulang kemana🙄🤔 kalo pulang ke rumah Buna baba otomatis Amer ga bebas apalagi pasti direcokin omah yang menerapkan aturan tunggu trimester 2 nunggu kandungan kuat 😁😁 pening ga tuh kepala amer 🤣🤣🤣
Ida Nur Hidayati
dasar Amer gak sabaran...untung Adipnya pengertian. bikin malu aja
Tysa Nuarista
untung bang adip pengertian... tp kebayang gak sih malunya elena KLO besok" ketemu bang adip 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!