NovelToon NovelToon
Marlangen

Marlangen

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Supernatural / Indigo / Tamat
Popularitas:249.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: EliaAndri

Hidup Marlangen berubah ketika Bapaknya meninggal dengan tragis dan tidak wajar.
Ia pun berencana mencari tahu penyebab kematian Bapaknya.

Tapi teror demi teror dari para makhluk tak kasat mata membuat hidup Marlangen bertambah gelap.
Ditambah dengan sosok wanita setengah ular yang selalu mengusikanya.


Akankah Maralangen bisa menguak misteri tentang kematian Bapaknya ataukah Marlangen akan bernasib sama dengan Bapaknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EliaAndri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

"ANAK IBILIISS."

Ibuku terus-terusan mengatakan kata-kata itu sambil terus mengacungkan pisaunya ke arahku, aku begitu takut dan sedih. Luka tusuk di punggungku membuatku kehilangan banyak darah yang menyebabkan aku lemas. Ibu masih saja berusaha melukaiku. Kali ini beliau hampir menusuk mataku, untungnya aku bisa menghindar. Tapi ibu tidak berhenti disitu, Ibu menyabet lenganku menggunakan pisaunya yang membuat darahku kembali mengucur dari luka baru itu. Aku meringis kesakitan.

"Buu sadar bu, Langen anak Ibu," ucapku parau.

Jujur aku sudah sangat kepayahan, tenagaku hampir habis setelah bergelut dengan Ibu yang seperti orang kesetanan.

"Dari dulu harusnya kamu mati!!" ujar Ibuku.

Tidak sengaja aku melihat wajahnya yang dihiasi air mata seakan ia melakukan semua ini bukan atas keinginannya. Apakah aku harus menyerah saja, menyerah pada keadaan ini. Mungkin dengan aku mati tidak akan ada lagi yang terluka karena aku. Aku melirik Sella yang masih terkapar, bahkan Sella harus terluka demi aku.

Akhirnya aku berhenti melawan dan mencoba pasrah.

"Bu, kalau memang dengan membunuh Langen Ibu jadi bahagia. Langen rela," lirihku putus asa.

Aku melihat wajah Ibu yang begitu sedih, tapi ibu tetap mengacungkan pisaunya dan bersiap menancapkannya ke tubuhku, aku sudah menutup mataku. Tapi Ibu tak kunjung melakukannya. Akhirnya aku memberanikan diri membuka mataku, alangkah kagetnya aku saat melihat Ibu sudah melayang dengan posisi berdiri.

Ibupun seperti terkejut sekali, tangannya yang memegang pisau mulai bergerak menuju bagian wajahnya. Ibu menggores gores wajahnya dengan pisau sampai wajah cantik itu menjadi berdarah-darah. Aku menjerit menyaksikan semua itu, aku berusaha menolong Ibu. Tapi tubuhku seakan terpaku ditempat, aku tidak bisa bergerak.

Aku menjerit meminta tolong saat Ibu membuka baju bagian atasnya dan mulai mengiris iris perlahan payudaranya, tidak sampai disitu saja. Ibu juga menggorok lehernya sendiri hingga darahnya bermuncratan kemana-mana.

Rasanya suaraku sudah habis untuk berteriak meminta tolong, tapi tidak ada satupun tetangga yang datang menolong.

"Ibuu berhentii bu, Langen mohon!" teriakku histeris.

Tapi ibu tetap melakukam kegiatan abnormalnya itu, seperti tidak merasa kesakitan. Kini pisau itu berpindah pada perutnya. Ibu membelah perutnya sendiri dan mengeluarkan ususnya. Aku sudah tidak sanggup lagi melihatnya dan ditambah dengan luka-luka ditubuhku yang membuatku kehilangan banyak darah akhirnya akupun pingsan.

******

Aku mendengar sayup-sayup orang sedang berbicara, saat akhirnya aku bisa membuka mataku. Aku melihat ruangan yang semuanya berwarna putih. Aku pikir kini aku sedang berada di kamarku, sampai wajah Sella terlihat di sebrang ranjang.

"Lo udah bangun, Langen?" tanya Sella sembari berpindah ke sampingku.

"Aku ada dimana, Sel?" tanyaku lemas.

"Lo ada dirumah sakit," ucapnya dengan wajah murung.

Lalu ingatan tentang malam itu menyeruak kembali.

"Dimana Ibu?" tanyaku histeris.

Sella hanya diam saja, akhirnya aku mencoba bangun meskipun badanku rasanya sangat sakit.

"Lo jangan bangun dulu, Langen," ujar Sella panik.

Karena teriakan histeris Sella, Om Bagas dan Adit yang ternyata berada diluar kamarpun masuk dan ikut mencoba menenangkan aku.

"Om, Ibu dimana?" tanyaku yang sudah mulai tenang.

"Langen, kamu sabar ya. Ibu kamu sudah tidak ada," jawab Om Bagas dengan suara parau.

Aku yang tadi sudah mulai tenangoun menjadi histeris lagi mendengar kabar itu. Rasanya aku benar-benar hanncur harus kehilangan lagi sosok orang tua dengan cara tragis.

"Ibuu, maafin Langen," ucapku berkali-kali dengan air mata yang terus saja menetes tanpa bisa aku bendung.

Sella memelukku dan ikut menangis bersamaku. Dia juga pasti sangat tahu rasanya kehilangan Ibu.

Adit hanya diam membisu sambil menatapku dengan tatapan sedih sekali.

*****

1
Oky Diana
kenapa jd bab 1 lagi ya thor? bab 2 nya mna
Oky Diana
knp dr awal sampe akhir babnya itu2 aja ya ???
Jama Sari
knpa ya d hp Sy cerita tiap bab nya SM dgn cerita prolog,smpai ta buka e pirang² bab ttp ae,tp klw BCA komentr² org² ky x gak keulang² deh bab x.bingung Sy padahal pnasaran
Jama Sari
ko d ulang² bab nya
senja
hiatus ya
Dena Denna
up thorr...
nurvi kekopo
lekk..lekkk ta enteni lekkk
Anonim
apakah ganti judul?udh lama nungguin up author nih
Novrii Gischaa Randana
kapan up thor
Umi Nur Aini
lanjut thoorr....banyak yg nungguin ini semangaatt berkarya 💪💪
NURYANTI
apakah cerita ini udah ga berlanjut ya
udah lama nungguin nya
udah hampir setahun
Yaz Q
Di lanjut boss
Lina Link
kok ga up lagi thor...jgn putus di sini dong..sayang cerita nya bagus thor..di tggu lanjutan nya
Yanti Yul
ayoo dong thorr .. cerita yg ini jg d lanjuut 😢 jgn kecewakan yg slalu ngintip 😅😁

d tunggu ya up nya 👍😃
Yaz Q
Lanjut
Novrii Gischaa Randana
kapan up ka?
Nureti
sukses kak
sudah mampir
Ai Emy Ningrum
misiiii ..pakeet...
Lintang Maharani
kok gak up lgi kak
Ciezwaty
thor ,semanat up ny , jangan lama" ,
q jd ngulang lg baca ny soal ny sedikit lupa 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!