NovelToon NovelToon
Koh, Ini Salah

Koh, Ini Salah

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.

Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."

Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.

Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.

Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.

Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.

Empat tahun kemudian, badai datang lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Bunga Melati

Bunga melati di halaman Jalan Kenanga mulai mekar hampir bersamaan.

Pagi itu, ketika Erlyn turun untuk sarapan, wangi manisnya sudah masuk sampai ruang makan. Tidak tajam, hanya pelan-pelan memenuhi udara, menempel pada tirai, pada piring, pada rambut Mama ketika Jing keluar dari dapur membawa bubur ayam.

"Harum sekali," kata Jing.

Om Changli melihat ke arah jendela. "Pohon itu sudah tua. Setiap musim begini, seluruh rumah jadi wangi."

Erlyn menatap halaman melalui kaca. Bunga-bunga putih kecil itu bergerombol di dekat teras, sederhana tetapi keras kepala, seperti ingin membuktikan bahwa sesuatu yang kecil tetap bisa menguasai rumah sebesar ini.

Ia menyukai pikiran itu.

Di sekolah, hidupnya juga mulai punya musim yang lebih tenang.

Gosip tentang mobil hitam benar-benar memudar setelah dua minggu tanpa kejadian baru. Beberapa murid masih sesekali menyindir, tetapi tidak ada yang cukup berani melakukannya saat Angie berada di dekat Erlyn. Nilai fisikanya juga membaik. Guru mulai memanggilnya untuk menjawab soal. Teman sekelompok praktikum tidak lagi memandangnya sebagai beban pindahan.

Pada hari Kamis, seorang murid laki-laki dari kelas paralel menghampirinya di perpustakaan sekolah.

"Tan Erlyn?"

Erlyn mengangkat kepala dari buku.

Anak itu memakai seragam yang sama, rambutnya rapi, wajahnya cerah dengan senyum yang mudah. Di tangannya ada buku latihan fisika.

"Aku Lu Kevin," katanya. "Kemarin aku lihat laporan praktikum kelompokmu. Kamu yang hitung bagian percepatan?"

Erlyn mengangguk, sedikit bingung. "Iya."

"Boleh tanya? Kelompokku salah terus di bagian itu."

Ia duduk setelah Erlyn memberi isyarat boleh. Tidak terlalu dekat, tidak sok akrab. Hanya membuka buku, menunjuk bagian yang salah, lalu mendengarkan saat Erlyn menjelaskan. Kevin cepat mengerti. Ia tidak memotong. Tidak membuat lelucon yang merendahkan. Untuk ukuran murid laki-laki yang baru ia kenal, itu sudah kemajuan besar.

Angie datang sepuluh menit kemudian dan langsung mengamati mereka seperti detektif.

"Oh," katanya panjang. "Belajar."

Kevin tertawa. "Memangnya kelihatan seperti apa?"

"Di sekolah ini? Segalanya bisa kelihatan seperti gosip."

Erlyn menyikut Angie pelan. "Dia tanya soal."

"Aku tidak bilang apa-apa."

Wajah Angie jelas mengatakan banyak hal.

Setelah penjelasan selesai, Kevin menutup bukunya. "Terima kasih. Kamu jelas sekali kalau menjelaskan."

"Aku cuma ulang yang gurunya bilang."

"Tidak. Versimu lebih masuk akal."

Pujian itu sederhana, tetapi Erlyn tetap merasa telinganya hangat. Mungkin karena selama ini yang paling sering mengoreksi cara belajarnya adalah Chisen, dan Chisen punya alergi berat terhadap pujian.

Kevin berdiri. "Kalau nanti aku bingung lagi, boleh tanya?"

Erlyn belum sempat menjawab, Angie sudah berkata, "Boleh, selama bawa upeti."

"Upeti apa?"

"Roti cokelat kantin."

Kevin tertawa lagi. "Deal."

Keesokan harinya, Kevin benar-benar meletakkan satu roti cokelat di meja Angie sebelum pelajaran dimulai.

"Upeti," katanya.

Angie menatap roti itu, lalu menatap Erlyn dengan wajah penuh kemenangan. "Lihat. Murid baik."

Erlyn memutar mata. "Itu karena kamu memalak."

"Negosiasi."

Kevin hanya tertawa dan menyerahkan buku latihannya pada Erlyn. Hari itu ia tidak meminta penjelasan panjang. Hanya menunjukkan satu soal, menerima koreksi, lalu berterima kasih. Cara Kevin menjaga jarak membuat Erlyn lebih mudah bersikap biasa. Ia tidak menekan, tidak membuatnya merasa harus membalas sesuatu, tetapi kehadirannya cukup sering untuk mulai diperhatikan orang.

Saat pulang, Kevin kebetulan berjalan ke arah gerbang yang sama. Ia tidak banyak bicara, hanya bertanya Erlyn tinggal jauh atau tidak. Erlyn menjawab, "Lumayan," lalu berhenti di dekat mobil keluarga yang menjemputnya. Kevin melambaikan tangan sebelum pergi ke parkiran motor.

Tidak ada yang aneh.

Setidaknya menurut Erlyn.

Sore itu, setelah les privat selesai lebih cepat, Jing meminta Erlyn mengambil beberapa tangkai melati untuk diletakkan di meja makan. Erlyn turun ke halaman dengan gunting kecil. Udara setelah hujan terasa lebih sejuk. Tanah di bawah sandal rumahnya sedikit lembap.

Chisen ada di teras, duduk di kursi rotan dengan buku sketsa di pangkuan.

Erlyn sudah tidak lagi kaget melihatnya di tempat-tempat tak terduga. Kadang ia muncul di dapur tengah malam. Kadang di ruang keluarga saat semua orang tidur. Kadang di teras, seperti sekarang, menggambar tanpa terlihat benar-benar melihat kertas.

"Koh gambar apa?"

"Bukan urusan anak kecil."

"Aku sudah SMA."

"Masih kecil."

Erlyn memotong satu tangkai melati lebih keras. "Kalau begitu jangan suruh anak kecil mengerjakan soal jam sepuluh malam."

Chisen mengangkat mata dari sketsa. "Itu latihan mental."

"Itu penyiksaan."

"Nilaimu naik."

"Penyiksaan efektif tetap penyiksaan."

Untuk sesaat, mata Chisen tampak lebih ringan. Erlyn hampir yakin ia akan tersenyum, tetapi Chisen menunduk lagi ke buku sketsa.

Erlyn mengumpulkan beberapa bunga ke mangkuk kecil. Wangi melati menempel di jarinya. Ia duduk di anak tangga teras, tidak terlalu dekat dengan Chisen, tetapi cukup dekat untuk melihat garis pensil di kertasnya. Bukan wajah. Bukan pemandangan. Hanya tangan, jendela, dan beberapa bayangan yang belum selesai.

"Yang tadi di gerbang," kata Chisen tiba-tiba.

Erlyn menoleh. "Siapa?"

"Cowok itu."

"Kevin?"

"Namanya Kevin?"

"Lu Kevin. Dia tanya soal fisika."

Pensil Chisen berhenti sebentar.

"Kelihatannya banyak tanya."

Erlyn menatapnya. "Koh lihat dari mana?"

"Dari mobil."

"Koh memperhatikan?"

"Aku menunggu sopir jalan."

"Itu bukan jawaban."

Chisen menutup buku sketsanya. Wajahnya kembali datar, tetapi suara berikutnya lebih rendah.

"Jangan terlalu dekat dengan cowok itu."

1
May Maya
baru mampir Thor semoga cerita nya bgus n GK berhenti d tngh jln
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!