Tidak mengetahui siapa orang tuanya dan ditinggalkan selamanya oleh sang kakak tercinta membuat Shanum harus hidup terlunta-lunta. Tiada belas kasihan apalagi sebuah pelukan yang mampu menguatkan hatinya yang remuk redam karena diporakporandakan oleh keadaan.
Kesedihan Shanum tidak hanya berhenti sampai di situ. Ia yang dipungut, justru dipaksa menjadi pengemis. Shanum merasa lelah, tetapi ia tidak bisa pergi karena wanita licik itu memiliki ribuan cara untuk membuat Shanum tetap bertahan.
"Tuhan ... aku lelah. Beri aku satu pelukan saja agar bisa kuat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Tatha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HMP-31
"Kau mau ke mana setelah ini?" tanya Haris saat mereka sudah duduk bersama di sebuah restoran yang dekat dengan rumah sakit.
"Entah. Aku terbiasa hidup dan tinggal tanpa tujuan. Jadi, kau tidak perlu khawatir, Tuan." Shanum mengulas senyumnya. Mencipta denyutan rasa sakit di hati Haris.
"Apakah kau ...."
"Tuan, terima kasih banyak sudah mengajakku menikmati makanan di restoran mewah." Shanum menyela ucapan Haris.
"Apakah istriku menceritakan tentang putri kami yang sudah meninggal dunia?" tanya Haris lagi. Sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut Haris begitu saja.
Shanum mengangguk cepat. "Aku tahu kehilangan itu sakit, Tuan. Aku pernah merasakan itu dan bukan hanya sekali dua kali. Memang benar, kalau aku ini adalah anak pembawa sial." Shanum mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Serasa ada beban berat yang menghimpit dada.
Namun, baru saja obrolan mereka berlangsung, Shanum sudah bangkit berdiri dan berpamitan pergi.
"Maafkan aku, Tuan. Selama ini sudah merepotkanmu dan Bu Rosita. Terima kasih juga atas kebaikan kalian sudah memperbolehkan aku menumpang. Aku pamit, Tuan." Shanum menangkup kedua tangan di depan dada lalu pergi meninggalkan Haris.
"Apa kau tidak ingin tinggal denganku?" tanya Haris lirih. Namun, masih bisa didengar oleh Shanum.
Anak perempuan itu pun berbalik dan menggeleng sambil tersenyum simpul. Kemudian, pergi begitu saja tanpa menoleh lagi. Ketika bayangan Shanum sudah tidak terlihat lagi, Haris menghirup napas secara dalam sambil memejamkan mata.
Akan tetapi, tiba-tiba ia dikejutkan oleh dering ponselnya. Haris pun segera menerima panggilan tersebut dan bergegas ke rumah sakit karena Rosita sudah sadar.
***
"Sayang, kau sudah bangun?" tanya Haris. Menggenggam tangan Rosita dan mencium kening wanita itu dengan sangat lembut. Hatinya merasa lega ketika melihat Rosita sudah sadar.
Rosita menjawab lirih karena tubuhnya masih lemah. "Di mana Shanum, Mas?"
Haris terdiam ketika mendengar pertanyaan itu. Tidak tahu harus menjawab apa karena Haris khawatir Rosita akan menangis jika tahu Shanum sudah pergi.
"Untuk apa kau bertanya soal anak kecil itu?" tanya Haris dengan nada yang dibuat ketus.
"Mas, aku tidak mau kalau sampai Shanum pergi. Aku yakin bukan dia yang sudah mengambil gelangku." Rosita masih tetap bersikukuh.
"Sayang ...."
"Kau melupakan satu hal, Mas. Kau tidak mengecek CCTV untuk melihat semuanya."
Haris terdiam mendengar ucapan Rosita. Entah apa yang merasuki pikirannya sampai ia melupakan semua itu. Haris pun segera duduk dan mengecek seluruh CCTV di rumahnya.
Jantungnya berdebar menunggu kepastian. Menunggu saat Shanum mengambil gelang di kamarnya. Namun, tangan Haris terkepal erat ketika melihat rekaman layar bahwa yang masuk ke kamarnya bukanlah Shanum melainkan Ijah. Haris pun terus mengamati rekaman itu dan melihat Ijah masuk ke kamar Shanum.
Ternyata Shanum hanyalah di fitnah. Haris belum merasa puas, ia pun melihat CCTV di gudang saat ia meminta Shanum tinggal di sana. Bola mata Haris terlihat melebar setelahnya. Sungguh, ia tidak menduga dengan semua yang dilihatnya saat ini.
"Brengsek!" umpat Haris marah. Mengejutkan Rosita yang masih terbaring tak berdaya.
"Kau kenapa, Mas?" tanya Rosita bingung. Haris pun memperlihatkan rekaman itu kepada Rosita. "Kau harus melaporkannya ke polisi, Mas."
"Pasti. Aku akan memberi rekaman ini sebagai bukti." Haris pun menjeda ucapannya.
"Kau harus mencari Shanum, Mas. Kasihan dia sudah tidak punya siapa pun lagi." Rosita merengek dengan tidak sabar. Haris pun mengiyakan lalu menghubungi anak buahnya.
"Datanglah ke rumah sakit karena aku akan memberi perintah untuk kalian. Jangan lupa ajak Sky juga."