Menjalin kasih selama 2 tahun lamanya, bahkan sudah tinggal satu atap dengan segala tujuan cerita dan mimpi di masa depan. Semuanya sudah di rancang sejak awal.
Namun apa jadinya ketika salah satu dari mereka malah jatuh cinta pada orang lain dan memilih untuk berkhianat?
Semua mimpi dan cerita yang sudah di rangkai kini harus hancur seketika dan tidak bisa di perjuangkan lagi. Mungkin satu hal yang membuat Fadil rela menghancurkan hubungan yang sudah terjalin lama ini, hanya karena Yara yang memiliki tubuh berisi dan jauh dari kata cantik dan ideal. Seperti wanita di luaran sana.
Lalu, apa Yara akan mampu memeprtahankan hubungan ini di saat sudah ada wanita lain yang hadir di kehidupan Fadil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemukanmu!
Dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, Putri Ajeng langsung bangun dan berjalan mengikuti suaminya yang sudah pergi keluar kamar.
"Sialan kalian semua sudah membuat aku tertipu dengan semuanya"
Fadil memukul sebuah kaca besar di lorong dengan amarahnya yang benar-benar memuncak. Suara pecahan kaca membuat pengisi rumah terganggu dan langsung keluar dari kamar.
"Ada apa ini?" Bimo keluar dari kamar dan menghampiri Fadil dengan wajah yang masih terlihat mengantuk.
Fadil menatap Bimo, Ajeng dan Sarah dengan tatapannya yang nyalang. Tangannya terangkat untuk menunjuk mereka semua.
"Kalian semua yang sudah membuat Yara pergi! Aku baru sadar sekarang jika kalian memang tidak pernah menerima aku dengan tulus di keluarga ini"
Fadil terkekeh lucu, tapi dengan air matanya yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Menertawakan dirinya sendiri dengan kebodohan yang telah dia lakukan.
Fadil ingin berteriak dan menangis saat ini, saat dia menyadari apa yang dia lakukan telah menyakiti Yara dan sekarang dirinya sendiri lebih terluka ketika dia sudah menyadari penyesalan yang dia rasakan ketika Yara benar-benar pergi dari kehidupannya.
"Ya, aku memang terlalu bodoh karena bisa terjebak dan terlalu percaya pada kalian semua. Ternyata benar jika orang kaya seperti kalian hanya bisa memanfaatkan orang seperti aku"
"Honey, kamu kenapa sebenarnya? Kenapa kamu berbicara seperti itu?"
Fadil menatap Putri Ajeng dengan tajam, rasa simpati dan resfecknya pada Putri Ajeng yang pernah ada, kini telah sirna seketika.
"Dengan cara kamu yang selalu meminta bantuan dari Ayah kamu ini untuk mendapatkan apapun yang kamu inginkan. Hingga sekarang Yara pergi hanya karena Ayah kamu menyuruhnya untuk pergi dengan segala ancaman yang dia berikan"
Bimo menghela nafas pelan, sekarang dia mengerti apa yang di maksud oleh Fadil. Kemarahan Fadil ini karena dia mengetahui semua yang Bimo lakukan pada Yara hingga membuat gadis itu pergi dari kota ini.
"Lalu kenapa kamu harus marah? Maksud Papi melakukan itu hanya untuk menjaga rumah tangga kamu dan Ajeng. Papi tahu jika selama ini kamu selalu menemui gadis itu tanpa sepengetahuan istrimu"
Tangan Fadil mengepal erat mendengar itu, dia tahu bagaimana Yara yang tidak pernah bisa melawan jika ada seseorang yang menindasnya. Wanitanya itu memang terlalu lemah, selama ini Yara hanya terus berlindung di balik dirinya. Selama ini hanya Fadil yang menjadi sosok pelindung bagi Yara. Namun bodohnya Fadil yang malah meninggalkan Yara, gadis manisnya yang selalu dia lindungi harus berjuang sendiri.
"Aku memang masih mencintai Yara, karena aku sadar hanya dia yang bisa memiliki hati aku dan cintaku"
Fadil berlalu pergi dari hadapan mereka semua, dia mengusap wajah kasar. Fadil tidak akan pernah bisa melupakan Yara sampai kapan pun. Apalagi ketika sekarang dia sadar jika Yara telah tertekan dengan mertuanya itu.
Maafkan aku, Yara karena aku sudah membuat kamu tertekan selama ini.
Di ruang tengah, Putri Ajeng terlihat sangat gelisah. Dia terus menekan Ayah dan Kakaknya untuk tetap bisa mempertahankan pernikahannya dengan Fadil.
"Pokoknya Ajeng tidak mau kalau harus menjadi seorang janda"
Bimo mengusap wajah kasar, dia juga tidak mau anaknya menjadi seorang janda. Apalagi ketika Putri Ajeng yang nantinya sudah mempunyai anak. Tapi saat ini Bimo juga tidak bisa terus menekan Fadil, karena menantunya itu sudah mulai berontak dan tidak akan pernah bisa dia kendalikan lagi.
"Lagian salah kamu sendiri, kenapa kamu harus hamil dengan pria itu. Sekarang aku juga harus ikut pusing. Bahkan Keanu harus terpancing pesona Yara. Padahal kamu sendiri tahu kalau selama ini aku mencintainya"
Sarah malah ikut marah dan kesal pada adiknya itu. Dia juga merasa di rugikan dengan apa yang di lakukan oleh adiknya itu. Sarah mulai tidak bisa terus bersabar pada kelakuan adiknya itu.
"Udah Sar, jangan marah sama adik kamu.Kasihan dia sedang hamil"
Sarah berdiri dari duduknya dan menatap Ayahnya dengan kesal. "Ini memang kesalahan Papi, karena selama ini Papi selalu memanjakan Ajeng. Jadi dia besar menjadi gadis yang tidak tahu diri dan mempermalukan keluarganya sendiri"
Sarah berlalu dari ruangan itu dengan perasaan yang sangat kesal.
######
Fadil masuk ke dalam kamar dengan menutup pintu kasar. Dia mengusap wajah kasar ketika mengingat tentang apa yang baru saja dia ketahui ini. Tentang Bimo yang menjadi dalang di balik kepergian Yara. Fadil terdiam saat dia teringat jika dia belum membaca seluruh pesan yang di kirim oleh orang suruhannya itu. Ketika dia membuka kembali pesan itu, disana juga tertera nama kota dan alamat Yara tinggal saat ini.
Aku menemukanmu, Sayang.
Seolah mendapatkan angin segar, akhirnya Fadil bisa menemukan dimana Yara berada. Dia bisa segera kembali pada gadis yang hampir membuatnya gila karena kepergiannya itu.
"Aku akan datang kesana besok dan segera menemui Yara disana"
"Tidak! Kamu tidak boleh pergi dan menemui gadis gendut itu"
Suara teriakan Ajeng yang begitu nyaring terdengar saat wanita itu membuka pintu kamar dan dia mendengar denganjelas apa yang di katakan oleh suaminya barusan. Jelas Putri Ajeng tidak akan membiarkan Fadil pergi hanya untuk menemui mantan pacarnya itu.
Fadil duduk di atas sofa, dia mengacuhkan keberadaan istrinya dan juga ucapannya. Saat Fadil sudah mengetahui apa yang terjadi di balik kepergian Yara, maka dia juga yakin jika Putri Ajeng juga terlibat dalam hal ini. Hanya saja istrinya itu yang masih mencoba untuk menutupi semuanya.
"Fadil, sebenarnya apa kurangnya aku sampai kamu tidak bisa melupakan gadis itu?"
Pertanyaan yang sebenarnya sangat mudah untuk di jawab, bahkan sebenarnya Putri Ajeng juga tidak memerlukan jawaban. Karena dia sendiri tahu apa jawaban dari pertanyaannya itu. Namun dia sedang mendramatis kisah ini dengan tangisan di depan Fadil, berubah menjadi wanita yang lemah dengan pertanyaan yang dia berikan itu. Beharap Fadil akan bersimpati padanya.
"Sebenarnya kamu tidak ada kurangnya, kamu cantik dan baik. Mempunyai segalanya, hanya saja aku merasa jika diriku yang memang tidak akan pernah pantas untuk bersamamu. Ajeng, kita tidak mempunyai tujuan yang sama. Sekarang aku sadar jika diantara kita memang tidak ada kecocokan"
Bukan sudah tidak ada kecocokan, tapi memang dari awal keduanya tidak mempunyai kecocokan. Namun bodohnya Fadil baru menyadarinya saat ini. Ketika dia sadar jika hanya Yara yang bisa membuatnya nyaman.
"Fadil, sebenarnya apa kurangnya aku sampai kamu tidak bisa melupakan gadis itu?"
Pertanyaan yang sebenarnya sangat mudah untuk di jawab, bahkan sebenarnya Putri Ajeng juga tidak memerlukan jawaban. Karena dia sendiri tahu apa jawaban dari pertanyaannya itu. Namun dia sedang mendramatis kisah ini dengan tangisan di depan Fadil, berubah menjadi wanita yang lemah dengan pertanyaan yang dia berikan itu. Beharap Fadil akan bersimpati padanya.
Bersambung