Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Pengorbanan.
DUG!!
Suara tendangan keras menghantam bodi mobil, membuat logam itu berdentang nyaring. Zayn menendangnya dengan penuh amarah, kakinya terangkat kuat dan mendarat dengan ganas. Napasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan.
Baru saja ia merasa bahagia, akhirnya bisa melihat wajah Aruna lagi setelah sekian lama menunggu dan merencanakan segalanya. Tapi harapan itu seketika berubah menjadi api yang membakar habis kesabarannya saat melihat sosok Axel berdiri di sana, begitu dekat dengan wanita yang ia incar.
"Brengsek!!" umpatnya keras, kepalan tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya menancap dalam ke telapak tangan, menorehkan rasa sakit yang justru semakin memicu amarahnya.
Dengan langkah lebar dan penuh emosi, Zayn membuka pintu mobil dan masuk dengan kasar. Pintu ditutup dengan bunyi BAM!! yang bergema.
Tanpa menunggu sedetik pun, kunci kontak diputar, mesin menderu keras seperti seekor binatang buas yang siap menerkam. Zayn menginjak pedal gas hingga mentok. Mobil melesat dengan kecepatan yang sangat gila, membelah jalanan seolah ingin melenyapkan semua rasa frustrasi di dadanya.
Angin berdesir kencang menerpa kaca jendela, tapi tidak ada yang bisa mendinginkan kepala Zayn yang sedang panas membara. Matanya tajam menatap lurus ke depan, namun bayangan wajah Aruna dan sikap protektif Axel terus berputar di pelupuk matanya.
"Aruna..." desisnya pelan, suaranya rendah namun penuh dendam. Tangannya mencengkeram setir mobil begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Siapa sangka... kamu malah punya hubungan dengan musuhku sendiri..."
Pikirannya melayang kembali ke masa lalu, mengingat semua usaha yang sudah ia lakukan. Semua pengorbanan, semua rencana licik yang ia susun rapi hanya untuk satu tujuan, yaitu memiliki Aruna.
Sejak pertama kali melihatnya, di sebuah rumah sakit. Zayn tahu gadis itu harus menjadi miliknya. Kecantikan dan kelembutan Aruna bagaikan magnet yang menarik jiwanya yang gelap. Zayn tidak peduli caranya bagaimana, tidak peduli siapa yang harus terluka atau dikorbankan. Baginya, hasil adalah segalanya.
Zayn ingat betul bagaimana ia nekat menyiksa, seekor kucing jalanan yang tak bersalah. Ia mematahkan kedua kaki mungil hewan itu perlahan, menikmati rasa kekuasaan, sambil tersenyum licik, mengetahui bahwa Aruna adalah tipe wanita yang mudah tersentuh dan sangat menyayangi hewan.
Rencananya berhasil sempurna.
Saat Aruna menemukan kucing malang itu dan membawanya dengan panik ke klinik, Zayn sudah siap di sana. Ia berpura-pura menjadi dokter hewan yang baik hati dan penuh dedikasi. Ia memang pernah menempuh pendidikan kedokteran, jadi ia tahu persis apa yang harus dilakukan untuk terlihat ahli dan meyakinkan.
Di hadapan Aruna, Zayn berperan sebagai pahlawan. Ia merawat kucing itu dengan penuh perhatian, menunjukkan sisi lembut yang sebenarnya tidak pernah ia miliki. Aruna pun terperangkap. Ia merasa berterima kasih, merasa aman, dan perlahan mulai membuka hati.
Mereka semakin dekat. Suasana yang diciptakan Zayn begitu manis hingga Aruna terbawa perasaan. Beberapa kali, di momen-momen yang diciptakan Zayn, bibir mereka bersentuhan. Ciuman yang membuat Aruna berdebar, namun, ketika Zayn merasa waktunya tepat dan mengajak Aruna untuk menjalin hubungan resmi...
Aruna malah menolak.
Penolakan itu bagaikan tamparan keras bagi ego Zayn yang besar. Dan bukan hanya menolak, Aruna malah mulai menjauh, seolah merasakan ada sesuatu yang aneh dan gelap dari diri Zayn.
Rasa ditolak itu membuat akal sehat Zayn hilang sepenuhnya. Obsesinya berubah menjadi kegilaan. Untuk menarik Aruna kembali, Zayn melakukan hal yang jauh lebih kejam. Ia meracuni kucing yang dulu ia sakiti dan kemudian ia "selamatkan" itu.
Kucing itu mati dengan menyakitkan.
Dan seperti yang diduga, berita kematian hewan kesayangan itu membuat Aruna hancur. Gadis itu kembali mencari Zayn, Zayn tersenyum puas di dalam hati. Rencananya berhasil lagi. Aruna kembali pada genggamannya.
Tapi sekarang... melihat Axel di sana...
"Kau pikir kau bisa mengambilnya dariku, Axel?" gumam Zayn, senyum miring terbentuk di bibirnya, senyum yang penuh ancaman dan kekejaman. "Kau salah besar. Aruna adalah milikku. Dan siapa pun yang menghalangi jalan... akan aku hancurkan."
Mobil terus melaju kencang, membawa pria itu menjauh, namun pikiran jahat dan rencana baru sudah mulai terbentuk di kepalanya, jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.
Di dalam mobil yang sunyi, hanya terdengar suara napas mereka yang saling bersahutan. Axel memeluk Aruna erat-erat, berusaha menyalurkan hangat tubuhnya ke tubuh gadis yang terus menggigil kedinginan.
"Aruna... tolong bicara sesuatu," suaranya terdengar cemas, tangannya mengusap punggung Aruna dengan lembut namun penuh kekhawatiran. "Ayo kita ke rumah sakit ya? Aku tidak tenang melihatmu begini."
"Ah... tidak... aku tidak mau..." Aruna menggeleng lemah, malah semakin membenamkan wajahnya ke dada bidang Axel, mencari kehangatan yang lebih banyak. Tubuhnya gemetar hebat, seolah-olah dingin itu merasuk sampai ke tulang sumsum.
"Tapi Sayang, lihat dirimu... kamu menggigil seperti ini," Axel menunduk, menatap wajah pucat Aruna dengan mata yang penuh rasa bersalah. "Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu."
"Ini... hal biasa..." Aruna berbicara dengan suara parau, napasnya terdengar berat. "Sama seperti... waktu di restoran itu... aku... aku akan baik-baik saja..."
Axel terdiam, kata-kata Aruna membuatnya tak bisa memaksakan kehendak. Ia hanya bisa menghela napas panjang, semakin menguatkan pelukannya. Mereka duduk begitu, Aruna bersandar nyaman di pangkuan Axel, berpegangan pada satu-satunya sumber kehangatan yang ia miliki saat ini.
"Maafkan aku..." bisik Axel pelan, bibirnya menyentuh puncak kepala Aruna. "Maaf aku membuatmu harus mengalami hal seperti ini. Aku hanya... sangat khawatir."
"Jangan bicara lagi..." Aruna mendongak perlahan, matanya yang biasanya jernih kini tampak sayu namun menyimpan sebuah permintaan yang tak terbantahkan. "Cium aku saja..."
"Cium?" Axel terkejut, matanya membelalak sedikit. "Kenapa? Apa kamu—"
Belum sempat Axel menyelesaikan kalimatnya, tangan dingin Aruna sudah bergerak cepat. Ia mencengkeram kedua pipi Axel, menarik wajah pria itu mendekat, dan langsung menyambungkan bibir mereka dengan penuh gairah dan keinginan yang mendesak.
Ciuman itu bukan sekadar lembut, melainkan penuh rasa lapar akan kehangatan. Aruna tahu persis apa yang ia lakukan. Ia ingat betul, setiap kali bibir mereka bersentuhan, ada semacam energi aneh yang mengalir. Tubuhnya yang biasanya dingin dan kaku akan seketika terasa terbakar, hangat, dan hidup kembali.
Dan saat ini, itulah satu-satunya obat yang ia butuhkan.
Dan Axel tidak butuh waktu lama untuk merespons. Segera setelah bibir mereka bersentuhan, ia langsung membalas ciuman itu dengan gairah yang sama besarnya, namun jauh lebih mendominasi dan menguasai.
Tangan besarnya bergerak cepat, mencekal pinggang ramping Aruna, dan menarik tubuh mungil itu semakin erat hingga nyaris tak ada celah udara di antara mereka. Ia ingin menyatu, ingin mengalirkan seluruh panas tubuhnya masuk ke dalam diri gadis itu, ingin menghangatkannya dengan caranya sendiri.
Ciuman itu dalam, intens, dan penuh rasa memiliki. Axel menuntut, menjelajahi, dan membiarkan hasrat yang tertahan meledak seketika. Di dalam pelukan hangat itu, perlahan tapi pasti, getaran dingin yang mengguncang tubuh Aruna mulai mereda, berganti dengan rasa hangat yang menjalar hingga ke ujung kaki, membuat mereka berdua tenggelam dalam momen yang hanya milik mereka berdua.
Perlahan mereka melepaskan ciuman panjang itu. Suasana begitu romantis, hening, dan penuh cinta. Aruna menatap Axel dalam-dalam, tangannya memegang wajah pria itu dengan lembut.
"Axel..." panggilnya lirih.
"Ya, Kenapa sayang? Kamu butuh sesuatu? Katakan saja." jawab Axel lembut, matanya menatap penuh cinta.
"Karena tadi aku udah hampir mati ketakutan dan kedinginan... Axel, kamu harus ganti rugi dong!"
"Ganti rugi? Mau apa, sayang? Tas baru? Mobil baru? Atau liburan ke Eropa?" tanya Axel siap melayani.
Aruna menggeleng cepat, lalu menempelkan wajahnya ke dada Axel sambil berbisik memohon:
"Enggak... Aku mau yang paling awet, paling berat, dan paling kinclong... Aku mau emas batangan... Beliin yang banyak ya, biar kalau aku jatuh-in bisa bunyi 'kringg' pas kena lantai... Hehe..."
"..."
Axel diam terpaku. Otaknya seakan loading lama mencerna permintaan yang sangat out of the box ini. Lalu ia menghela napas panjang sambil terkekeh tak percaya.
"Ya Tuhan, Aruna... Kamu ini bener-bener cewek paling aneh yang pernah aku kenal..." Axel menggeleng-geleng tak habis pikir tapi wajahnya penuh kasih sayang. "Oke deal! Besok gudang emas aku kosong-in semua buat kamu! Puas?"
"Makasih sayang.." Aruna langsung mencolek pipi Axel gemas, senangnya bukan main. Gadis manja satu ini, memang paling suka dengan benda-benda yang berkilau, dan mahal harganya. Seperti buruk gagak.